Skip to main content
Iklan

Asia

AS tidak mencari konflik, Kepala Pentagon Hegseth beritahu China dalam panggilan telepon pertama

Namun, Hegseth mengungkapkan bahwa AS akan melindungi kepentingan vitalnya di kawasan Asia-Pasifik. 

AS tidak mencari konflik, Kepala Pentagon Hegseth beritahu China dalam panggilan telepon pertama

Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) berbaris dalam latihan menjelang parade militer untuk memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II, di Beijing, China, 3 September 2025. [REUTERS/Tingshu Wang]

WASHINGTON: Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth mengadakan percakapan pertama dengan mitranya dari China dan menekankan bahwa AS tidak mencari konflik dengan China, tetapi akan melindungi kepentingan vitalnya di kawasan Asia-Pasifik, ungkap Pentagon pada Rabu (10/9). 

China adalah rival geopolitik utama Washington, dan Hegseth membuat Beijing marah pada bulan Mei ketika ia mendesak sekutu regionalnya untuk meningkatkan anggaran pertahanan setelah memperingatkan ancaman "nyata dan berpotensi segera" dari China.

Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, mengatakan bahwa Hegseth dan Menteri Pertahanan China, Laksamana Dong Jun, telah melakukan panggilan telepon yang "terus terang dan konstruktif" pada hari Selasa.

"Menteri Hegseth menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak mencari konflik dengan China, juga tidak mengupayakan perubahan rezim atau pencekikan RRT (Republik Rakyat China)," ujarnya.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth di Pentagon,  Washington, D.C., AS, 9 September 2025. [REUTERS/Annabelle Gordon/Foto Arsip]

"Namun, pada saat yang sama, ia dengan terus terang menyampaikan bahwa AS memiliki kepentingan vital di Asia-Pasifik, wilayah prioritas, dan akan dengan tegas melindungi kepentingan tersebut."

Parnell mengatakan keduanya sepakat untuk melakukan diskusi tambahan.

Presiden AS Donald Trump telah memerintahkan Departemen Pertahanan untuk mengganti namanya menjadi Departemen Perang, sebuah perubahan yang akan membutuhkan tindakan dari Kongres. Nama baru tersebut juga akan berlaku untuk Hegseth, yang mengubah gelarnya menjadi "Menteri Perang".

Perundingan tersebut menyusul parade militer besar pekan lalu di mana pemimpin China Xi Jinping menjamu Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, yang memicu kekhawatiran di antara beberapa pemimpin dunia bahwa mereka menyaksikan pergeseran geopolitik yang penting, meskipun beberapa pakar mempertanyakan hal ini.

Trump menanggapi dengan mengatakan bahwa Xi, Putin, dan Kim berkonspirasi melawannya. Seorang pejabat AS mengatakan Trump "kecewa melihat beberapa negara berpihak pada China" dan bahwa "Amerika akan mengevaluasi kembali" situasi tersebut.

Menteri Pertahanan China Dong Jun mengunjungi aula pertemuan tempat KTT SCO 2018 diselenggarakan, pada Pertemuan Menteri Pertahanan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Qingdao, Provinsi Shandong, China, 26 Juni 2025. [REUTERS/Florence Lo/Foto Arsip]

PANGGILAN ATAS PERMINTAAN AS 

Kantor berita pemerintah China, Xinhua, mengatakan panggilan video hari Selasa itu dilakukan atas permintaan Hegseth. Disebutkan bahwa Dong mendesak Hegseth untuk menjaga komunikasi dan bersikap terbuka, serta membina hubungan militer yang stabil dan positif berdasarkan "rasa hormat yang setara, koeksistensi damai, dan saling menghormati."

Xinhua juga mengutip pernyataan Dong yang menyatakan bahwa China berkomitmen untuk bekerja sama dengan negara-negara di kawasan guna menjaga perdamaian dan stabilitas di Laut Cina Selatan, jalur perairan strategis di mana China dan negara-negara lain memiliki klaim yang saling bertentangan, dan menentang "pelanggaran dan provokasi oleh negara-negara tertentu serta hasutan yang disengaja oleh negara-negara yang tidak berada di kawasan tersebut".

Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga berbicara pada hari Rabu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi sebagai tindak lanjut dari pertemuan mereka di Malaysia pada bulan Juli. 

Dalam pembicaran itu Rubio "menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka dan konstruktif mengenai berbagai isu bilateral".

Pertemuan pada bulan Juli tersebut digambarkan oleh kedua belah pihak pada saat itu sebagai sesuatu yang positif dan konstruktif, meskipun terdapat ketegangan atas serangan tarif global Trump, yang mana China telah menjadi target utama.

Pada bulan Agustus, Washington dan Beijing memperpanjang gencatan senjata sebagian selama 90 hari, mencegah bea masuk yang lebih tinggi, tetapi pada hari Selasa Trump mendesak pejabat Uni Eropa untuk memukul Cina dengan tarif hingga 100 persen.

Ia sebagai bagian dari strategi untuk menekan Putin atas perang di Ukraina, menurut seorang pejabat AS dan seorang diplomat Uni Eropa.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: AGENCIES/ih

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan