Skip to main content
Iklan

Asia

Petahana diproyeksi menangi pemilu Thailand, PM Anutin tegaskan siap bekerja sama dengan partai lain

"Kemenangan kami adalah kemenangan seluruh rakyat," kata Anutin Charnvirakul setelah partainya mengungguli para pesaing utamanya dalam pemilu Thailand pada Minggu (8/2).

Petahana diproyeksi menangi pemilu Thailand, PM Anutin tegaskan siap bekerja sama dengan partai lain

Anutin Charnvirakul, pemimpin Partai Bhumjaithai, tiba di markas partai di Bangkok pada malam hari tanggal 6 Februari 2026. (Foto: CNA/Jarupat Karunyaprasit)

BANGKOK: Partai Bhumjaithai pimpinan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul meraih kemenangan besar setelah unggul dari para pesaingnya dalam pemilihan umum Thailand pada Minggu (8/2).

Hasil penghitungan tidak resmi hingga pukul 23.45 pada Minggu waktu setempat menunjukkan Bhumjaithai diproyeksi meraih 175 kursi daerah pemilihan dari total 400 kursi yang diperebutkan.

Dengan sekutu potensialnya, Partai Klatham, yang diperkirakan memenangkan 56 kursi, Anutin berada di posisi terdepan untuk memimpin pemerintahan berikutnya.

Di posisi kedua setelah Bhumjaithai adalah Partai Rakyat dengan 85 kursi, disusul Pheu Thai yang dikenal sebagai mesin politik keluarga Shinawatra dengan 60 kursi.

Sekitar 89 persen suara telah dihitung hingga waktu tersebut.

Partai Bhumjaithai diperkirakan akan memperoleh tambahan kursi setelah alokasi anggota parlemen dari daftar partai—yang dihitung berdasarkan proporsi total suara—dirampungkan. Proses tersebut dapat memakan waktu setidaknya dua pekan untuk difinalisasi.

Capaian ini sangat kontras dengan hasil pemilu 2023 dan 2019, ketika Bhumjaithai tidak terlalu diperhitungkan dan hanya meraih total masing-masing 71 dan 51 kursi.

Dewan Perwakilan Rakyat Thailand yang beranggotakan 500 kursi ditentukan melalui sistem campuran.

Sebanyak 400 kursi daerah pemilihan ditentukan melalui sistem pemenang suara terbanyak, sementara 100 kursi daftar partai dialokasikan berdasarkan porsi suara nasional masing-masing partai.

Komisi Pemilihan Umum Thailand diwajibkan mengesahkan penghitungan suara dan mengumumkan hasil resmi dalam waktu 60 hari setelah hari pemungutan suara, yakni paling lambat 9 April.

Setelah disahkan, parlemen yang baru terpilih harus bersidang dalam waktu 15 hari untuk memilih ketua dan wakil ketua DPR.

Parlemen kemudian akan melakukan pemungutan suara untuk memilih perdana menteri baru, yang harus memperoleh dukungan lebih dari setengah jumlah anggota parlemen, atau sedikitnya 251 suara.

BAGAIMANA ANUTIN BISA MENANG

Ketika hujan deras menghambat proses penghitungan suara di Bangkok sekitar pukul 21.00 waktu setempat, Anutin melangkah keluar di bawah guyuran hujan dan memasuki markas besar partainya dengan senyum lebar. Hasil penghitungan awal menunjukkan ia kemungkinan besar akan mengamankan kemenangan dan bisa membentuk pemerintahan mayoritas tanpa harus berkoalisi dengan para rival utamanya.

“Belum resmi, tetapi dari apa yang kami lihat, tampaknya kami akan meraih kursi terbanyak,” ujarnya sekitar satu jam kemudian saat menyampaikan pernyataan kepada media, seraya mengucapkan terima kasih kepada para pemilih atas kepercayaan mereka.

“Kemenangan kami adalah kemenangan seluruh rakyat.”

Ia menambahkan bahwa Bhumjaithai telah menerima “sinyal yang jelas” untuk mengelola negara, dan bahwa partai tersebut menerima tugas itu dalam kerangka sistem demokrasi dengan raja sebagai kepala negara.

“Kemenangan Bhumjaithai adalah kemenangan rakyat—semua rakyat, baik yang memilih kami maupun tidak,” katanya.

“Pada saat ini rakyat telah memberi kami lebih dari yang kami perkirakan. Karena itu kami berutang besar kepada para pemilih, dan satu-satunya cara membalasnya adalah bekerja sekuat tenaga untuk menghadirkan segala hal baik bagi mereka dan negara kami.”

Anutin menegaskan Bhumjaithai akan menunggu hasil resmi pemilu sebelum mengajak pihak lain bergabung dalam pemerintahan koalisi.

“Satu-satunya hal yang bisa kami sampaikan sekarang, kami akan melakukannya demi kepentingan negara sebagai prioritas tertinggi,” ujarnya.

Anutin juga mengucapkan selamat kepada seluruh partai lain yang berhasil meraih kursi. Ia berharap semua pihak dapat bekerja bersama, serta menantikan langkah ke depan dengan kabinet dan pemerintahan yang lebih kuat.

“Nasionalisme ada di jantung Bhumjaithai,” tambahnya.

Kemenangan Bhumjaithai diraih setelah "membirukan" Bangkok - warna partai tersebut - serta mengusung kampanye yang bertumpu pada dukungan kuat dari daerah.

Alih-alih menonjolkan gagasan besar atau ideologi politik yang menyeluruh, partai ini secara perlahan membangun fondasi yang solid di wilayah-wilayah kunci, memanfaatkan pengaruh keluarga dan klan politik yang kuat, serta pada akhirnya menguasai basis gerakan konservatif Thailand.

Banyak wilayah yang selama bertahun-tahun didominasi berbagai partai bentukan mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra beralih dari merah — warna Pheu Thai — menjadi biru.

Menjelang pemungutan suara, para pimpinan senior Bhumjaithai menegaskan identitas partai sebagai kekuatan politik kanan yang sangat patriotik. Partai ini memosisikan diri sebagai opsi yang menekankan stabilitas dan pragmatisme, berhadapan dengan rival-rival reformis dari Partai Rakyat.

Rombongan besar media di markas besar Partai Bhumjaithai di Bangkok pada malam tanggal 8 Februari 2026. (Foto: CNA/Jack Board)

Ke depan, Anutin dan Bhumjaithai diperkirakan akan bersekutu erat dengan kekuatan konservatif berpengaruh di Thailand. Kondisi ini diperkirakan tidak akan melahirkan perubahan kebijakan besar dalam waktu dekat, dengan arah tetap menjaga status quo di bidang hubungan internasional dan ekonomi.

Janji kampanye Bhumjaithai juga mencakup perluasan skema subsidi populer untuk mendorong belanja dan pertumbuhan, usulan penurunan tarif listrik, serta investasi besar di bidang keamanan nasional.

Dalam suasana ketidakpastian dan kebangkitan nasionalisme, sikap Anutin yang menonjolkan proyeksi kekuatan Thailand, perlindungan perbatasan, serta penguatan peran dan kekuasaan militer menjadi bagian kunci strategi partai untuk meraih suara, kata para analis.

Perdana Menteri Anutin Charnvirakul (kedua dari kiri) bersama para pemimpin Partai Bhumjaithai lainnya dalam kampanye pemilu terakhir di Bangkok pada 6 Februari 2026. (Foto: CNA/Zamzahuri Abas)

Pemilu yang digelar kurang dari 100 hari sejak Anutin menjabat itu memberinya peluang memanfaatkan sentimen nasionalisme yang menguat akibat bentrokan selama berbulan-bulan di perbatasan Thailand–Kamboja, ujar mereka.

Berbicara kepada Asia Tonight CNA pada Minggu malam, Termsak Chalermpalanupap, peneliti senior tamu di Program Studi Thailand, ISEAS – Yusof Ishak Institute, mengatakan bahwa meskipun tekanan ekonomi tetap menjadi perhatian utama pemilih, isu keamanan perbatasan kini memiliki urgensi yang lebih tinggi.

“Keamanan perbatasan lebih mendesak, dan itulah sebabnya Anutin bisa memanfaatkan sentimen nasionalisme. Sentimen nasionalisme akan memenangkan suara,” ujarnya.

“Ia bekerja dengan baik bersama militer Thailand dalam konflik perbatasan dan sejauh ini masyarakat di wilayah perbatasan cukup puas dengan sikap kerasnya terhadap Kamboja.”

Sebaliknya, reformasi konstitusi berada di peringkat rendah dalam daftar prioritas pemilih, kata Termsak.

Anutin, mantan menteri kesehatan dan menteri dalam negeri, menjadikan kunjungan ke Isan, wilayah luas dengan 20 provinsi dengan pedesaan-pedesaan miskin, sebagai prioritas utama sejak diangkat perdana menteri dan sepanjang masa kampanye pemilu.

Sebaliknya, para rivalnya melemah akibat dampak politik dari konflik dengan Kamboja.

Penanganan konflik tersebut oleh Partai Pheu Thai memicu reaksi keras yang berujung pencopotan Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra karena pelanggaran etika. Sementara Partai Rakyat menghadapi penolakan atas upaya-upaya sebelumnya untuk menantang posisi militer dalam kehidupan nasional.

Perolehan kursi Anutin di parlemen diperkirakan akan diperkuat oleh partai konservatif sehaluan, Klatham, yang dipimpin Thamanat Prompow, politisi senior yang pernah divonis terkait kasus penyelundupan heroin dan dijatuhi hukuman enam tahun penjara di Australia pada 1990-an.

Klatham juga banyak berinvestasi dalam politik lokal dan para pemimpin akar rumput, dengan kebijakan yang berfokus pada pertanian, hak atas tanah, dan kesejahteraan sosial.

Pengaruhnya tumbuh cepat setelah merekrut anggota parlemen dari partai lain; sebanyak 20 anggota parlemen dari Partai Palang Pracharath secara resmi bergabung dengan Klatham setelah dikeluarkan dari partai lama mereka pada akhir 2024, sehingga memberi Klatham blok parlemen yang besar menjelang siklus pemilu 2026.

Partai itu meraih kursi di berbagai wilayah, terutama di selatan dan utara.

Partai Pheu Thai, yang mengalokasikan banyak sumber daya untuk membangun basis kuat di wilayah utara — khususnya di provinsi-provinsi penting seperti Chiang Mai dan Chiang Rai — melihat dukungan untuk mereka telah menyusut.

Sementara itu, Partai Rakyat diperkirakan akan memenangkan sebagian besar kursi perkotaan di kawasan tersebut, sedangkan Klatham mendominasi wilayah pedesaan.

Kondisi ini menyisakan Pheu Thai hanya dengan beberapa kantong kekuatan, yakni Nakhon Ratchasima di timur laut serta sejumlah wilayah lain di Isan, termasuk di provinsi Loei dan Kalasin.

Sebelum pemungutan suara, para analis mengatakan kepada CNA bahwa jika Pheu Thai—yang sejak lama didominasi keluarga Shinawatra—gagal membangun pengaruh di wilayah utara, masa depannya sebagai pemain utama dalam politik Thailand bisa berakhir.

Perolehan 60 kursi daerah pemilihan yang diproyeksikan diraih Pheu Thai secara nasional menandai penurunan tajam dari 112 kursi yang dimenangkannya pada 2023, ditambah 29 kursi daftar partai saat itu.

Ketua Pheu Thai Julapun Amornvivat mengatakan dalam konferensi pers pada Minggu malam bahwa partainya harus menghormati “suara rakyat”.

“Kami harus menghormati hasilnya.”

Namun, calon perdana menteri Pheu Thai, Yodchanan Wongsawat—keponakan Thaksin—menyebut dukungan yang diterimanya tetap memberi semangat.

PARTAI RAKYAT MEREDUP SETELAH PUNCAK 2023

Sementara Bhumjaithai diproyeksi menang dan memimpin pemerintahan, rival utamanya, Partai Rakyat, tampil di bawah ekspektasi dan mengalami penurunan signifikan dalam perolehan kursi dibandingkan pemilu 2023.

Partai Rakyat, yang sebelumnya bernama Partai Move Forward, meraih suara terbanyak pada pemilu legislatif terakhir Thailand pada 2023 dengan total 151 kursi.

Meski Partai Rakyat mempertahankan dominasinya di Bangkok dengan menyapu bersih seluruh 33 daerah pemilihan, partai tersebut kehilangan pijakan di kota-kota besar lain seperti Chonburi, Phuket, dan Nonthaburi.

Di Chonburi, sebelah timur Bangkok, Partai Rakyat memenangkan tujuh dari 10 kursi pada 2023, namun dalam pemilu kali ini diproyeksikan hanya meraih dua kursi, dengan Bhumjaithai difavoritkan merebut tujuh kursi.

Hasil keseluruhan ini menjadi pukulan telak bagi partai yang banyak didukung kalangan muda tersebut.

Pada pemilu sebelumnya, sebagian besar wilayah Thailand disapu gelombang progresif berwarna oranye yang dipimpin politisi pendatang baru sekaligus ketua Partai Move Forward, Pita Limjaroenrat.

Pita sejak itu tersingkir dan dilarang berpolitik selama satu dekade.

Kini, partai tersebut dipimpin Natthaphong Ruengpanyawut, seorang pengusaha berusia 38 tahun.

Berbicara kepada wartawan di markas partai di distrik Bang Kapi, Bangkok, sekitar pukul 22.00 waktu setempat pada Minggu, Natthaphong tampak tenang saat mengakui hasil pemilu yang menunjukkan Partai Rakyat kecil kemungkinan menjadi “partai nomor satu” dan karena itu tidak akan membentuk pemerintahan.

“Sebelumnya kami sudah menyampaikan bahwa Partai Rakyat tidak akan memberikan suara bagi calon perdana menteri dari Bhumjaithai, sehingga sekarang kami siap berada di barisan oposisi,” ujarnya.

Ia juga menyerukan kepada warga Thailand yang memilih Partai Rakyat agar “tidak kehilangan harapan”.

Selain itu, Natthaphong mendesak seluruh partai politik yang terpilih masuk pemerintahan untuk menepati janji-janji yang mereka sampaikan kepada publik selama masa kampanye.

REFERENDUM KONSTITUSI

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Thailand, referendum nasional digelar bersamaan dengan pemilihan umum pada Minggu.

Artinya, setiap pemilih menerima tiga surat suara pada hari itu—dua untuk pemilihan umum dan satu untuk referendum nasional.

Jika referendum disetujui, parlemen yang baru terpilih akan memperoleh mandat untuk menyusun konstitusi baru. Jika tidak, konstitusi 2017 yang disusun di bawah pemerintahan militer setelah kudeta 2014 akan tetap berlaku.

Berdasarkan hasil Komisi Pemilihan Umum hingga pukul 23.30 waktu setempat, dengan 31 persen suara telah dihitung, sekitar 59 persen pemilih mendukung penyusunan konstitusi baru, sementara 32 persen menolaknya.

Thailand telah memiliki 20 konstitusi sejak berakhirnya monarki absolut pada 1932, dengan sebagian besar perubahan terjadi setelah kudeta militer.

Jika pemilih mendukung penyusunan piagam nasional baru, pemerintah dan para anggota parlemen dapat memulai proses amandemen di parlemen, dengan dua referendum tambahan diperlukan untuk mengesahkan konstitusi baru.

Berbicara dalam konferensi pers pada Minggu malam, ketua Partai Rakyat Natthaphong Ruengpanyawut mendesak seluruh 500 calon anggota parlemen untuk “menghormati keputusan rakyat”, merujuk pada hasil referendum yang kemungkinan besar mendukung referendum.

Collapse

PEMILIH INGINKAN EKONOMI LEBIH BAIK, BERANTAS PENIPUAN

Lebih dari 50 juta warga Thailand memenuhi syarat untuk memberikan suara pada Minggu. Sekitar 2 juta di antaranya telah mencoblos lebih awal dalam pemungutan suara pendahuluan pada 1 Februari.

Isu-isu utama yang mengemuka selama kampanye pemilu mencakup biaya hidup, pemulihan ekonomi, dan reformasi politik.

Tempat pemungutan suara dibuka pukul 08.00 dan ditutup pukul 17.00 pada Minggu. Para pemilih mengatakan kepada CNA bahwa setelah bertahun-tahun ketidakpastian politik dan kondisi yang rapuh, mereka berharap pada masa depan yang bebas korupsi, ekonomi yang lebih baik, serta “lebih sedikit penipu”.

Berbicara pada Minggu di daerah pemilihannya di Kota Buriram, Thailand timur laut—yang juga menjadi markas Partai Bhumjaithai—Anutin mengatakan ia berharap terjadi rekonsiliasi antarpelaku politik.

“Saya mendoakan semua partai yang bertarung dalam pemilu ini dan semoga kita bisa melupakan hal-hal yang telah berlalu,” kata Anutin.

“Saya mungkin pernah berselisih dengan beberapa pihak, jadi izinkan saya menggunakan kesempatan ini untuk memohon maaf kepada semua orang.”

Di Bangkok, Natthaphong mengatakan kepada wartawan bahwa ia tetap optimistis terhadap prospek partainya.

Saat tempat pemungutan suara ditutup dan penghitungan suara dimulai, badai petir besar melanda ibu kota Thailand sekitar pukul 19.00 waktu setempat pada Minggu.

Laporan tambahan oleh Izzah Aqilah Norman dan Savanna Tai.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan