Skip to main content
Iklan

Asia

Meninggalkan 'mangkuk nasi besi': Mengapa kini marak pemuda China pilih kerja fleksibel

Sekitar satu dari tiga pekerja di China kini bekerja secara fleksibel, kebanyakan adalah anak-anak muda yang ingin lebih bebas meski ada pengorbanan. Dalam artikel kedua dari seri gig economy China ini, CNA menyoroti alasan mengapa sektor kerja fleksibel kian diminati.

Meninggalkan 'mangkuk nasi besi': Mengapa kini marak pemuda China pilih kerja fleksibel

Zhao Xiaoyu (kiri) bekerja sebagai “pendamping medis”, membantu pasien menjalani proses pendaftaran, konsultasi hingga pemeriksaan medis. (FOTO: Guangzhou HUGA+ Health Management)

SHENZHEN: Zhao Xiaoyu berada di sebuah rumah sakit yang sibuk di Guangzhou, untuk menemui kliennya hari itu.

Perempuan 25 tahun itu bukan perawat maupun dokter. Ia bekerja sebagai “pei zhen shi” atau pendamping medis, yakni mendampingi pasien dan membantu mereka menjalani proses pendaftaran, konsultasi, hingga prosedur pemeriksaan.

“Saya tertarik karena pekerjaannya fleksibel dan saya juga bisa memakai latar belakang medis saya untuk membantu orang lain,” ujar lulusan keperawatan tersebut.

Menurut Zhao, dibanding pekerjaan kantoran dengan jam kerja yang tetap, profesi ini menawarkan sesuatu yang kini makin diminati anak-anak muda di China: kendali atas waktu.

Zhao menerima pekerjaan lewat platform yang mempertemukan pendamping medis dengan pasien yang butuh bantuan saat berobat ke rumah sakit. Dari pekerjaan itu, ia memperoleh sekitar 6.000 hingga 8.000 yuan per bulan (Rp15,6 juta-Rp20,8 juta).

“Daripada terikat jam kantor dan punya satu jalur karier saja, saya lebih memilih menerima ketidakpastian asalkan punya kendali atas waktu saya sendiri,” katanya.

Zhao adalah bagian dari gelombang pekerja muda China yang beralih ke pekerjaan fleksibel berbasis aplikasi. Mereka tertarik pada kebebasan yang lebih besar, peluang baru di era digital, hingga keinginan meninggalkan budaya kerja korporasi “996” yang melelahkan — istilah untuk pola kerja dari pukul 09.00 hingga 21.00, enam hari seminggu.

Namun, banyak di antara mereka juga harus menghadapi sisi lain dari pekerjaan fleksibel, mulai dari pendapatan yang tidak stabil, perlindungan sosial yang lebih lemah, hingga jalur karier yang tidak menentu.

Para analis menyatakan, perusahaan kini juga menangkap perkembangan tren ini dengan membuat pekerjaan berbasis permintaan. Di saat yang sama, pemerintah China juga bergerak menyesuaikan aturan ketenagakerjaan dan jaminan sosial untuk mengakomodasi perubahan yang dinilai ekonom bisa menjadi wajah baru pasar tenaga kerja dalam jangka panjang.

Sekitar satu dari tiga pekerja di China kini bekerja dalam sektor fleksibel berbasis platform digital, didominasi generasi muda yang mencari otonomi dan peluang baru. (FOTO: CNA/Hu Chushi)

PEKERJAAN FLEKSIBEL

Di China, sektor ini dikenal dengan nama “xin jiuye xingtai” atau “bentuk pekerjaan baru”. Cakupannya sangat luas, mulai dari pengemudi taksi online dan host live stream, hingga pekerja kreatif independen, pengembang jarak jauh, serta layanan khusus seperti pendamping medis.

Data Biro Statistik Nasional China menunjukkan, hingga kuartal ketiga 2025 terdapat sekitar 247 juta orang yang bekerja di sektor tersebut, atau sekitar 30 persen dari total tenaga kerja China. Angka itu naik dari sekitar 200 juta orang pada 2021, mencerminkan pesatnya pertumbuhan sektor ini dalam pasar tenaga kerja China.

Kelompok pekerja muda mendominasi sektor tersebut. Riset Chinese Academy of Labour and Social Security (CALSS), lembaga kajian yang berafiliasi dengan pemerintah China, menunjukkan, pekerja berusia di bawah 24 tahun mencakup lebih dari separuh pekerja fleksibel berbasis aplikasi.

Perubahan ini sangat bertolak belakang dengan gambaran ideal dunia kerja yang telah lama dianut di China.

Selama beberapa dekade, jalur karier ideal di China dianggap cukup jelas: mendapat pekerjaan tetap, terutama di pemerintahan atau perusahaan besar, lalu membangun karier yang stabil dan terprediksi. Konsep ini lama dikenal sebagai “mangkuk nasi besi” atau iron rice bowl — pekerjaan jangka panjang dengan keamanan kerja.

Namun, model tersebut mulai goyah seiring meningkatnya tekanan di pasar tenaga kerja.

Tahun ini, jumlah lulusan universitas yang masuk ke pasar kerja mencetak rekor baru, sementara persaingan untuk pekerjaan kantoran tradisional juga semakin ketat.

Secara umum, pekerjaan fleksibel terbagi dalam dua kategori: pekerjaan berbasis lokasi dan pekerjaan berbasis cloud atau daring.

Pekerjaan berbasis lokasi mengharuskan pekerja hadir secara fisik, misalnya mengemudi untuk taksi online atau kurir makanan.

Sementara itu, pekerjaan berbasis cloud dapat dilakukan sepenuhnya secara daring melalui platform digital, mulai dari livestreaming dan pembuatan konten digital hingga layanan berbasis pengetahuan seperti coding dan desain.

Laporan yang dirilis pada Maret oleh Institute for Economic and Social Research Universitas Jinan bersama platform rekrutmen Zhaopin, berdasarkan data perekrutan 2025, menunjukkan lowongan kerja untuk pekerjaan fleksibel naik 15,1 persen dibanding tahun sebelumnya. Jumlah pencari kerja di sektor tersebut juga meningkat 11 persen.

Dekan Institute for Economic and Social Research Universitas Jinan sekaligus penulis utama laporan tersebut, Feng Shuaizhang, menggambarkan fenomena ini sebagai perpaduan antara kerja berbasis aplikasi dan kerja fleksibel, di mana pekerja pada dasarnya menjadi “bos” bagi diri mereka sendiri.

“Pekerjaan fleksibel berbasis aplikasi menghidupkan kembali bentuk-bentuk kerja lepas yang sebelumnya berada di pinggiran,” kata Feng kepada CNA.

Para analis menilai, platform digital berhasil menghubungkan permintaan yang tersebar dengan para pekerja individu dalam skala besar, sehingga pekerjaan serabutan yang sebelumnya tidak menentu kini menjadi sumber penghidupan yang lebih layak.

Unggahan jasa seperti perawatan hewan peliharaan hingga teman bermain game online menjadi bagian dari bentuk pekerjaan baru yang bermunculan di platform media sosial China. (FOTO: Xiaohongshu, Xianyu)

Para ekonom menilai perubahan ini bukan hanya didorong pekerja, tetapi juga perusahaan yang mulai mengubah cara distribusi pekerjaan.

Guangzhou HUGA+ Health Management, platform yang mempertemukan pasien dengan pendamping medis lepas seperti Zhao, mencatat lonjakan permintaan sejak akhir 2022 hingga awal 2023. Kenaikan itu terjadi ketika kunjungan rumah sakit melonjak tajam setelah China meninggalkan kebijakan nol-COVID, sementara banyak anak yang sudah dewasa tidak bisa mendampingi orangtua mereka karena pekerjaan dan jarak.

Manajer umum platform tersebut, Huang Binchang, mengatakan, keberadaan pekerja fleksibel memungkinkan lonjakan permintaan itu tetap bisa dilayani.

“Sebagai platform, kami bisa merespons cepat di jam-jam sibuk dan menarik tenaga profesional berpengalaman yang mungkin tidak dapat bekerja dengan jam tetap,” ujarnya.

Zhang Chenggang, lektor kepala di Capital University of Economics and Business, Beijing, yang meneliti bentuk-bentuk pekerjaan baru, mengatakan, perusahaan kini semakin beralih ke model kerja berbasis tugas.

“Perusahaan semakin menyalurkan pekerjaan ke pasar dalam bentuk tugas, bukan posisi kerja tetap,” katanya kepada CNA.

“Aplikasi kemudian menghubungkan tugas-tugas itu dengan pekerja sehingga permintaan dan tenaga kerja bisa dipertemukan dengan lebih efisien.”

MENGAPA ANAK MUDA TERTARIK

Bagi Li Shuai, meninggalkan pekerjaan penuh waktu bukan keputusan yang diambil secara tiba-tiba.

Pria 33 tahun itu telah bekerja di bidang fotografi dan produksi video selama beberapa tahun sebelum perlahan membangun jaringan klien sendiri. Pada 2021, ia merasa siap meninggalkan pekerjaan tetap.

Kini, Li bekerja sebagai videografer independen. Jadwal kerjanya berubah-ubah tergantung proyek yang datang, dengan periode sibuk yang kemudian diselingi masa lebih sepi.

“Pendapatan saya naik turun seperti zigzag,” katanya. “Ada bulan-bulan yang jauh lebih sibuk dibanding lainnya.”

Namun bagi Li, fleksibilitas justru menjadi daya tarik utama.

“Saya bisa mengatur jadwal sendiri, beban kerjanya tidak terlalu berat, dan dibanding pekerjaan penuh waktu, waktu saya merasa lebih berharga,” ujarnya.

Profesor ekonomi sekaligus wakil dekan National School of Development di Universitas Peking, Zhang Dandan, mengatakan, banyak pekerja fleksibel pada dasarnya bekerja layaknya “bos kecil”.

“Mereka menentukan sendiri kapan dan di mana bekerja, lalu menggunakan tenaga mereka sendiri untuk menghasilkan pendapatan,” katanya kepada CNA.

Videografer lepas Li Shuai mengatakan, bekerja secara independen memberinya kendali lebih besar atas jadwal dan beban kerja. (FOTO: Li Shuai)

Fleksibilitas semacam ini sangat berbeda dengan keterikatan dalam pekerjaan penuh waktu tradisional.

Berdasarkan aturan ketenagakerjaan nasional, pekerja penuh waktu di China umumnya hanya mendapat jatah cuti tahunan berbayar selama lima hingga 10 hari, tergantung masa kerja.

Saat libur panjang di China, jutaan orang biasanya bepergian secara bersamaan hingga membuat tempat wisata dan jaringan transportasi dipadati penumpang.

Bagi Li, bekerja secara mandiri membuatnya bisa beristirahat kapan saja dan menghindari keramaian musim liburan.

“Kalau saya ingin libur beberapa hari atau pergi traveling, saya bisa memutuskannya sendiri,” katanya.

Sebagian anak muda di China bahkan mulai mengubah hobi menjadi sumber penghasilan fleksibel.

Bruce Tang, mahasiswa ilmu komputer berusia 24 tahun di Guangxi, bekerja sebagai pendamping perjalanan. Ia ikut bepergian bersama klien sambil membantu menyusun rute, menyetir, hingga mengambil foto.

Awalnya, Tang rutin membagikan perjalanan wisatanya di aplikasi gaya hidup China, Xiaohongshu. Lama-kelamaan, para pengikutnya mulai bertanya apakah ia bisa menemani perjalanan mereka juga. Dari situlah hobinya berkembang menjadi pekerjaan berbayar.

“Menurut saya ini cukup menyenangkan,” kata Tang. “Dari pekerjaan ini, saya bertemu profesor, pengusaha, dan orang-orang dari berbagai industri. Saya jadi mendapat pengalaman dan pengetahuan di luar lingkaran sosial saya sehari-hari.”

Tang mengatakan, ia biasanya memperoleh 500 hingga 1.000 yuan per hari (Rp1,3 juta-Rp2,6 juta). Namun, ia mengaku lebih melihat pekerjaan itu sebagai cara menggabungkan hobi traveling dan bertemu banyak orang baru ketimbang pekerjaan tetap.

“Bagi saya, pengalaman bepergian dan mengurus perjalanan itu sendiri sangat berharga,” ujarnya.

Tang mengatakan dirinya masih belum memutuskan apakah akan menekuni pekerjaan fleksibel setelah lulus kuliah. Ia masih mempertimbangkan berbagai pilihan, termasuk membuat konten daring atau bekerja di sektor pemerintahan yang lebih tradisional.

Bruce Tang bekerja sebagai pendamping perjalanan saat berada di Delingha, Provinsi Qinghai, pada Agustus 2025. (FOTO: Bruce Tang)

Sebagian lainnya tertarik oleh peluang baru yang lahir dari platform digital dan kecerdasan buatan (AI).

Andrew Liu, pengembang perangkat lunak berusia 29 tahun, meninggalkan karier di perusahaan internet di Shanghai dua tahun lalu untuk menekuni pekerjaan jarak jauh membuat agen AI.

“Generasi kami cenderung melihat pekerjaan sebagai sesuatu yang bisa dirancang sebagai bagian dari gaya hidup, bukan sekadar pekerjaan atau identitas tetap,” katanya.

Sistem kerja jarak jauh juga membuka peluang di luar China.

“Dulu pendapatan Anda mungkin hanya bergantung pada satu pasar,” kata Liu, yang kini tinggal di Lishui, Provinsi Zhejiang.

“Sekarang pendapatan bisa datang dari pasar global.”

Liu mengatakan kepada CNA bahwa saat ini ia menghasilkan sekitar 400.000 hingga 500.000 yuan per tahun (Rp1,04 miliar-Rp1,3 miliar), lebih tinggi dibanding sekitar 300.000 yuan per tahun (Rp780 juta) saat masih bekerja kantoran.

Di sejumlah wilayah di China, pemerintah daerah bahkan mulai mendorong konsep “perusahaan satu orang”, yakni ketika pelaku usaha memanfaatkan alat berbasis AI untuk menjalankan bisnis yang sebelumnya membutuhkan tim kecil, termasuk untuk pekerjaan coding, pemasaran, hingga layanan pelanggan.

Cheng Cheng, pendiri komunitas 52Hz Digital Nomad Community di Provinsi Zhejiang, mengatakan ia melihat semakin banyak profesional muda mencoba pola kerja alternatif sejak 2025.

Menurutnya, banyak anggota komunitas itu sebelumnya bekerja di perusahaan internet atau bidang teknologi. Kini, sebagian membuat tools AI untuk influencer maupun klien luar negeri, sementara yang lain membangun bisnis online secara mandiri.

“Ada rasa cemas sekaligus antusias,” kata Cheng. “AI mengganggu pekerjaan tradisional, tetapi juga menciptakan peluang baru.”

Komunitas 52Hz Digital Nomad Community di Provinsi Zhejiang melihat semakin banyak profesional muda mencoba pola kerja alternatif sejak 2025. (FOTO: 52Hz Digital Nomad Community)

Para analis menilai perubahan teknologi memperluas jenis pekerjaan yang bisa dilakukan secara mandiri, terutama karena layanan digital kini semakin mudah diberikan lintas negara.

Lektor Kepala Antropologi Budaya di Hong Kong Polytechnic University (PolyU), Zhan Yang, mengatakan, apa yang kini sering disebut sebagai “bentuk pekerjaan baru” pada dasarnya adalah versi digital dari pola kerja informal yang sudah lama ada di China.

Ia menjelaskan, pekerjaan sementara dan serabutan sebenarnya sudah lama menjadi bagian dari pasar tenaga kerja China, terutama di kalangan pekerja migran. Yang berubah sekarang adalah skalanya.

“Meningkatnya keinginan untuk lebih bebas dan punya kendali lebih besar atas jadwal kerja mencerminkan perubahan nilai di kalangan pekerja muda,” kata Zhan.

Namun, ia menambahkan bahwa keinginan akan fleksibilitas sering kali tetap berjalan beriringan dengan pencarian stabilitas, karena banyak anak muda masih mengincar pekerjaan aman di sektor pemerintahan.

MENYESUAIKAN DENGAN REALITAS BARU DUNIA KERJA

Meningkatnya pekerjaan fleksibel juga membawa ketidakpastian baru.

Para analis mengatakan pekerja lepas dan pekerja gig kerap tidak memiliki pendapatan stabil, tunjangan dari perusahaan, maupun jalur karier yang jelas.

“Pekerjaan seperti ini bisa membuat perjalanan karier seseorang menjadi lebih terpecah-pecah,” kata profesor Universitas Peking, Zhang Dandan. “Hal itu juga bisa membuat perencanaan jangka panjang menjadi lebih sulit.”

Ia juga menyoroti bahwa banyak perusahaan platform tidak berfungsi layaknya pemberi kerja tradisional.

“Karena itu, para pekerja menandatangani perjanjian layanan, bukan kontrak kerja, sehingga hubungan kerjanya jauh lebih longgar,” katanya kepada CNA.

Akibatnya, banyak pekerja tidak otomatis mendapat manfaat yang biasanya ditanggung perusahaan, seperti asuransi sosial, cuti berbayar, maupun jaminan kerja, meski pekerja fleksibel tetap dapat mengikuti skema asuransi sosial secara mandiri.

Di lapisan bawah sektor ini, pendapatan pekerja juga relatif rendah. Survei CALSS tahun 2025 menemukan hampir 80 persen pekerja fleksibel berbasis platform berpenghasilan 2.000 yuan (Rp5,2 juta) atau kurang per bulan. Angka itu berada di bawah median pendapatan bulanan siap belanja di China yang mencapai sekitar 3.019 yuan pada 2025 (Rp7,8 juta), berdasarkan data resmi.

Bagi Li, beralih menjadi pekerja lepas memberinya kebebasan dan penghasilan lebih tinggi. Namun, ada konsekuensi yang harus ditanggung, termasuk membayar sendiri hampir 1.800 yuan per bulan (Rp4,68 juta) untuk iuran jaminan sosial, asuransi kesehatan, dan dana perumahan yang biasanya ditanggung perusahaan.

Pengalaman Li mencerminkan tantangan lebih besar yang dihadapi banyak pekerja fleksibel.

“Banyak pekerja fleksibel atau berbasis aplikasi berada di wilayah abu-abu regulasi, sehingga akses terhadap asuransi sosial, layanan kesehatan, tunjangan pengangguran, dan bentuk perlindungan lainnya masih terbatas atau tidak jelas,” kata Zhan dari PolyU.

Livestream e-commerce resmi diakui sebagai profesi di China sejak Juli 2020. (FOTO FILE: Reuters/Casey Hall)

Pemerintah mulai menggulirkan berbagai langkah untuk menutup celah tersebut.

China pada 27 April mengeluarkan pedoman baru berupa rencana 12 poin yang meningkatkan perlindungan bagi pekerja gig serta pengawasan yang lebih ketat terhadap algoritma platform digital.

Langkah-langkah itu mencakup sistem pembayaran upah yang lebih adil, peningkatan jaminan sosial, serta transparansi yang lebih besar dalam mekanisme pembagian pekerjaan oleh platform.

Dalam agenda politik “Dua Sesi” pada Maret lalu, pemerintah Beijing juga mengumumkan penghapusan hambatan registrasi rumah tangga atau “hukou” yang sebelumnya menghalangi pekerja fleksibel untuk ikut dalam skema pensiun dan asuransi kesehatan pekerja di kota tempat mereka bekerja.

Menteri Sumber Daya Manusia dan Jaminan Sosial Wang Xiaoping berjanji akan “menenun jaring perlindungan hak yang lebih rapat” bagi pekerja di sektor pekerjaan baru.

Pemerintah juga memperluas cakupan asuransi kecelakaan kerja secara nasional tahun ini, terutama bagi pengemudi layanan transportasi online, kurir makanan, dan pekerja logistik.

Secara lebih luas, pemerintah juga mulai menerapkan siklus pembayaran iuran jaminan sosial yang lebih fleksibel — memungkinkan pembayaran bulanan, triwulanan, atau tahunan agar sesuai dengan pendapatan pekerja yang tidak menentu. Selain itu, pusat mediasi satu pintu juga dibentuk untuk mempercepat penyelesaian sengketa ketenagakerjaan.

Profesor Universitas Peking Zhang Dandan mengatakan, perubahan kebijakan ini juga mencerminkan realitas fiskal yang lebih luas.

“Ketika bentuk pekerjaan baru terus berkembang, jumlah pekerjaan formal tradisional justru relatif menyusut … artinya semakin sedikit orang yang berkontribusi pada sistem jaminan sosial yang ada,” katanya.

“Memperluas cakupan akan membantu memasukkan lebih banyak pekerja ke dalam sistem dan memperbesar dana jaminan sosial,” tambahnya, seraya mencatat China menghadapi tekanan dana pensiun yang terus meningkat akibat populasi yang menua.

Lektor Kepala di Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore, Alfred Wu, mengatakan, langkah-langkah tersebut menunjukkan semakin besarnya pengakuan bahwa pekerjaan fleksibel akan menjadi bagian permanen dari pasar tenaga kerja China.

“Tampaknya pekerja maupun pemerintah mulai menerima bentuk pekerjaan baru ini sebagai bagian dari pasar tenaga kerja,” katanya kepada CNA.

Dalam jangka panjang, lanjutnya, meningkatnya pekerjaan fleksibel dapat mengubah sistem ketenagakerjaan China secara lebih luas.

“Hal ini mungkin membutuhkan perubahan sistematis di seluruh pasar tenaga kerja, termasuk perlindungan hukum, jaminan sosial, bahkan cara universitas mempersiapkan mahasiswa untuk dunia kerja.”

Sementara itu, bagi Li sang videografer independen, kehidupan sebagai pekerja lepas masih menjadi pilihan sadar — setidaknya untuk saat ini karena memberinya kebebasan lebih besar atas waktunya dan penghasilan yang lebih tinggi.

“Saya akan mempertimbangkan kembali ke pekerjaan tradisional hanya jika pendapatan saya terus-menerus menjadi tidak stabil," kata dia.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan