Skip to main content
Iklan

Asia

Potensi gempa megathrust 30 tahun ke depan di Jepang naik hingga 82%

Dalam 1.400 tahun terakhir, gempa megathrust di Palung Nankai terjadi setiap 100 hingga 200 tahun. Gempa besar terakhir yang tercatat terjadi pada tahun 1946.

Potensi gempa megathrust 30 tahun ke depan di Jepang naik hingga 82%

Kerusakan setelah sebuah gempa dan tsunami di Jepang. (Foto arsip: iStock/MasaoTaira)

17 Jan 2025 02:17PM (Diperbarui: 17 Jan 2025 02:23PM)

TOKYO: Kemungkinan terjadinya gempa megathrust di Jepang dalam 30 tahun mendatang telah sedikit meningkat, dengan probabilitas mencapai 75 persen hingga 82 persen, kata sebuah panel pemerintah pada Kamis (16/1) dilansir dari kantor berita AFP.

Guncangan berkekuatan magnitudo 8 hingga 9 tersebut berpotensi memicu tsunami kolosal, menewaskan ratusan ribu orang, serta menyebabkan kerugian miliaran dolar, menurut para pakar.

Komite Riset Gempa Bumi menyatakan bahwa mereka telah meningkatkan perkiraan probabilitas dari 74 persen hingga 81 persen sebelumnya.

Hal ini berkaitan dengan gempa megathrust subduksi di sepanjang Palung Nankai, sebuah cekungan bawah laut sepanjang 800km sejajar dengan garis pantai Jepang yang menghadap Samudra Pasifik.

Palung tersebut adalah lokasi Lempeng Laut Filipina yang “menunjam” (subducting) atau perlahan-lahan bergerak masuk ke bawah lempeng benua yang ditempati Jepang.

Saat kedua lempeng bergerak, keduanya terjebak dan menimbun energi dalam jumlah besar. Ketika akhirnya lepas, pelepasan energi yang besar itu dapat memicu gempa bumi dahsyat.

Dalam 1.400 tahun terakhir, gempa megathrust di Palung Nankai terjadi setiap 100 hingga 200 tahun, menurut markas besar Promosi Riset Gempa Bumi pemerintah Jepang.

Gempa besar terakhir yang tercatat terjadi pada tahun 1946.

“Sudah 79 tahun sejak gempa terakhir, dan kemungkinan terjadinya gempa berikutnya meningkat setiap tahun sekitar 1 persen,” ujar seorang pejabat Sekretariat Komite Riset Gempa Bumi kepada AFP.

Menurut perkiraan pemerintah pada tahun 2012, pulau-pulau kecil di lepas pantai utama dapat terendam oleh gelombang tsunami dengan ketinggian lebih dari 30m.

Wilayah padat penduduk di pulau utama Honshu dan Shikoku dapat diterjang gelombang raksasa hanya dalam beberapa menit.

Pada Agustus tahun lalu, Badan Meteorologi Jepang (JMA) untuk pertama kalinya mengeluarkan imbauan gempa megathrust berdasarkan aturan yang dibuat setelah gempa bumi dan tsunami dahsyat Tohoku tahun 2011.

JMA menyatakan bahwa kemungkinan terjadinya gempa besar di sepanjang Palung Nankai lebih tinggi dari biasanya setelah gempa bermagnitudo 7,1 yang melukai 15 orang.

Imbauan tersebut dicabut kembali setelah satu minggu, tetapi sempat menyebabkan kelangkaan beras dan bahan pokok lainnya karena masyarakat bergegas menambah stok darurat.

Pada tahun 1707, seluruh segmen Palung Nankai pecah secara bersamaan, memicu gempa bumi yang masih tercatat sebagai gempa paling kuat kedua di Jepang.

Gempa tersebut – yang juga menyebabkan letusan terakhir Gunung Fuji – diikuti oleh dua gempa besar lainnya di Nankai pada tahun 1854, kemudian dua kali lagi pada tahun 1944 dan 1946.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/AFP/jt

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan