Gempa Johor jadi pengingat bahwa Malaysia dan Singapura tidak kebal bencana
Dua gempa ringan yang mengguncang Johor utara pada 24 Agustus lalu terjadi di Zona Sesar Mersing, yang sebelumnya pernah memicu gempa dengan magnitudo di atas 5,0 dan berpotensi terulang di masa depan, menurut pakar.
Foto-foto yang dibagikan di media sosial menunjukkan puing-puing dari plafon yang berjatuhan dan retakan pada dinding sebuah rumah setelah gempa berkekuatan 4,1 skala Richter menghantam Segamat di Johor, Malaysia pada 24 Agustus 2025. (Foto: Facebook/Komuniti Segamat)
JOHOR BAHRU: Dua gempa ringan bulan lalu di Johor menjadi pengingat bahwa Semenanjung Malaysia, Singapura, dan kawasan sekitarnya tidak kebal dari bencana alam, kata para ahli geologi.
Mereka menambahkan, ada preseden gempa di wilayah ini. Pada 1922 terjadi gempa berkekuatan di atas magnitudo 5 dan bisa dirasakan secara luas di Johor. Pada 1948, juga terjadi gempa di dekat Singapura selatan yang merusak sejumlah bangunan.
Para pakar juga menyarankan agar pemerintah memperketat pemantauan untuk memahami lebih baik aktivitas seismik di kawasan ini, serta menyiapkan sistem peringatan dini guna menyampaikan informasi tepat waktu yang bisa menyelamatkan nyawa.
“Gempa (bulan lalu) menjadi pengingat bahwa beberapa sesar di Semenanjung Malaya masih aktif, meski gempa di kawasan ini jarang terjadi,” kata Aron Meltzner, pakar geologi gempa dari Earth Observatory of Singapore, Nanyang Technological University (NTU), kepada CNA.
Pada 24 Agustus lalu, dua gempa mengguncang Johor utara dan guncangannya terasa di beberapa negara bagian Malaysia, termasuk Negeri Sembilan, Melaka, dan Pahang. Warganet mendokumentasikan kerusakan akibat gempa, mulai dari plafon yang ambruk hingga dinding retak.
Gempa pertama bermagnitudo 4,1 terjadi sekitar pukul 06.15, terjadi di 5km sebelah barat kota Segamat pada kedalaman 10km. Guncangan kedua yang lebih kecil, dengan magnitudo 2,8, terjadi pukul 09.00 di 28km barat laut kota Kluang.
Menurut pernyataan Departemen Meteorologi Malaysia (MetMalaysia), kedua gempa tersebut berpusat di dekat Zona Sesar Mersing, salah satu jalur sesar utama di Semenanjung Malaysia. Tidak ada laporan korban jiwa maupun luka akibat gempa tersebut.
RISIKO GEMPA LEBIH KECIL, TAPI ‘BUKAN NOL’
Direktur Jenderal MetMalaysia, Mohd Hisham Mohd Anip, mengatakan kepada CNA bahwa gempa memang kerap terjadi di kawasan ini, namun umumnya hanya berskala kecil dan dampaknya terhadap manusia maupun properti diperkirakan minim.
Ia menjelaskan bahwa Zona Sesar Mersing tidak seaktif jalur sesar di Sabah.
“Berdasarkan catatan aktivitas seismik di Semenanjung Malaysia, magnitudo gempa tergolong lemah dan biasanya tidak melebihi magnitudo 5. Karena itu, guncangan dari zona ini diperkirakan tidak berdampak besar,” ujar Hisham.
Namun, para ahli geologi yang diwawancarai CNA menegaskan insiden bulan lalu menunjukkan bahwa sesar-sesar di kawasan itu masih aktif, dan gempa dengan magnitudo hingga 6 berpotensi terjadi di masa depan.
Zona Sesar Mersing merupakan salah satu jalur sesar utama di Semenanjung Malaysia, selain Bukit Tinggi, Kuala Lumpur, Lebir, Bok Bak, Bentong, dan Lepar.
Para pakar menyebut gempa ini menunjukkan bahwa aktivitas seismik memang terjadi di Semenanjung Malaysia dan kawasan Singapura akibat gerakan tektonik intralempeng.
Mereka menambahkan, kondisi ini bisa terjadi meskipun wilayah tersebut jauh dari Cincin Api Pasifik, tempat pergerakan antarlempeng yang berpotensi memicu aktivitas gempa besar. Zona gempa terdekat berada di Sumatra, sekitar 400km dari Singapura.
Azlan Adnan, anggota Academy of Sciences Malaysia (ASM), mengatakan kepada CNA bahwa lokasi episentrum dua gempa pada bulan lalu memperkuat bukti bahwa sesar tersebut “memang aktif.”
“Arah kejadian juga konsisten dengan pola sesar regional (sekitar barat laut–tenggara), yang mengindikasikan kemungkinan reaktivasi sesar lama,” ujar pakar rekayasa gempa itu.
Ia menambahkan, catatan gempa akibat sesar utama di Semenanjung menunjukkan guncangan dengan magnitudo hingga 5 memang terjadi secara berkala, dan bahkan magnitudo 6 meski jarang terjadi.
“Dengan mempertimbangkan Zona Sesar Mersing, yang panjangnya bisa mencapai setidaknya 20 km, jika terjadi pergeseran penuh, gempa hingga magnitudo 6,5 bisa terjadi. Artinya, kemungkinan gempa yang lebih besar memang ada,” kata Azlan.
Ahli geologi Wei Shengji dari Asian School of Environment, Nanyang Technological University (NTU), mengatakan kepada CNA bahwa ada preseden gempa signifikan di Johor, yakni dua guncangan pada 1922. Gempa tersebut tercatat bermagnitudo 5,0 dan 5,4, dengan yang pertama berpusat dekat Zona Sesar Mersing dan yang kedua di dekat Bentong Suture.
“Ada kemungkinan gempa yang lebih besar terjadi di masa depan, karena peristiwa besar (seperti pada 1922) memang pernah terjadi. Gempa 1922 juga terasa luas hingga Singapura,” ujarnya.
Sementara itu, Aron Meltzner menuturkan bahwa pada Desember 1948 terjadi gempa di dekat Singapura selatan, yang guncangannya dirasakan luas di Geylang, Bukit Timah, Pulau Sentosa, dan bahkan dilaporkan merusak sebuah rumah di Chinatown.
“Karena guncangan pada 1948 mirip dengan yang dirasakan masyarakat (pada Minggu), gempa 1948 kemungkinan juga bermagnitudo sekitar 4, hanya lokasinya jauh lebih dekat ke Singapura. Ini membuktikan bahwa gempa bisa terjadi di Singapura juga, meski jarang,” kata Meltzner.
Sementara itu, pemerhati lingkungan Renard Siew, penasihat perubahan iklim di Centre for Governance and Political Studies (Cent-GPS) menambahkan bahwa perubahan iklim berpotensi memperburuk frekuensi gempa di masa depan, meski secara tidak langsung.
Merujuk studi di India dan Taiwan, ia menjelaskan bahwa peningkatan curah hujan akibat perubahan iklim memengaruhi interaksi tanah dan lapisan bumi, sehingga memicu lebih banyak aktivitas seismik di wilayah tertentu.
“Perubahan iklim tidak secara langsung menyebabkan gempa, tapi jelas dapat memperkuat kondisi yang meningkatkan risiko seismik,” ujar Siew.
PEMANTAUAN JADI KUNCI MEMAHAMI AKTIVITAS SEISMIK
Para geolog menekankan bahwa pemerintah di kawasan ini sebaiknya mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk memahami aktivitas gempa guna mengurangi risiko terhadap keselamatan publik.
Azlan dari ASM menilai situasi di koridor Mersing–Segamat saat ini “serius” dan pemerintah setempat perlu mempertimbangkan pemasangan lebih banyak seismometer serta jaringan akselograf strong-motion di bagian selatan Semenanjung Malaysia untuk merekam guncangan di lokasi sebenarnya.
Azlan menambahkan, jalur komunikasi ke publik juga harus terintegrasi dengan pembaruan dari MetMalaysia, serta perlu lebih banyak audit bangunan dan infrastruktur vital untuk memastikan sesuai dengan kode bangunan.
Meltzner dari NTU mengatakan peningkatan pemantauan aktivitas seismik—baik di Malaysia maupun Singapura—akan membantu ilmuwan memahami lebih baik potensi bahaya di Semenanjung Malaya.
Namun, ia memperingatkan bahwa sistem peringatan dini yang benar-benar efektif harus disesuaikan dengan kebutuhan kawasan, dan membangun sistem yang andal bisa memakan waktu bertahun-tahun.
“Di California, butuh lebih dari dua dekade untuk mengembangkan sistem itu, dan sampai sekarang pun masih belum sempurna,” ujar Meltzner.
Para pakar juga khawatir akan dampak gempa terhadap jaringan perkeretaapian di kawasan, terutama ketika Malaysia tengah memperkuat infrastruktur rel melalui proyek East Coast Rail Link (ECRL) dan proyek kereta berkecepatan tinggi lainnya.
Azlan menjelaskan bahwa sistem transportasi publik seperti Electric Train Service (ETS) Malaysia, yang saat ini beroperasi dari Kluang di Johor tengah hingga Padang Besar di perbatasan Thailand, harus diperiksa setiap kali terjadi gempa di dekat jalurnya.
Wei dari NTU menekankan bahwa guncangan kuat dan deformasi tanah akibat gempa “selalu menjadi ancaman bagi infrastruktur,” termasuk rel kereta.
Azlan memperingatkan bahwa dampak gempa terhadap tanah bisa mengganggu geometri jalur rel. Selain itu, komponen seperti bantalan jembatan, sambungan ekspansi, dan peralatan listrik juga berisiko terganggu.
“Operator harus memiliki standar prosedur operasi (SOP) pascagempa, termasuk inspeksi visual/pengukuran geometri otomatis, batas percepatan maksimum untuk pembatasan kecepatan, serta pemasangan instrumen pada jembatan panjang,” kata Azlan, yang juga menjabat wakil presiden Malaysian Structural Steel Association.
“Mengingat jalur (ETS) ini hampir selesai dibangun … pemasangan akselograf pada struktur utama koridor ini akan menjadi langkah berbiaya rendah dengan dampak besar, yang mendukung pengembangan desain seismik sekaligus operasional di masa depan,” tambahnya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.