Skip to main content
Hamburger Menu
Close
Edisi:
Navigasi ke edisi CNA lainnya di sini.

Iklan

Asia

Menggenjot ekonomi pelangi: Undang-undang pernikahan sesama jenis di Thailand membawa peluang dan tantangan

Disahkannya pernikahan sejenis di Thailand diperkirakan akan membuat negara ini menangguk keuntungan dan peluang ekonomi yang besar dari komunitas LGBTIQ+.

Menggenjot ekonomi pelangi: Undang-undang pernikahan sesama jenis di Thailand membawa peluang dan tantangan

Ilustrasi parade Pride. (iStock)

BANGKOK: Langkah Thailand baru-baru ini yang memberikan perlindungan hukum bagi kaum lesbian, gay, biseksual, transgender, interseks dan queer (LBTIQ+) diproyeksi akan membuat negara ini merengkuh keuntungan pada gelombang 'ekonomi pelangi' dan unggul dalam persaingan dalam memperebutkannya di kawasan Asia Tenggara, demikian kata para ahli.

Rancangan undang-undang (RUU) kesetaraan dalam pernikahan telah mendapatkan persetujuan akhir di Senat Thailand pada Juni lalu. Artinya, RUU ini hanya tinggal mendapatkan persetujuan dari raja dan diumumkan dalam lembaran kerajaan untuk bisa disahkan menjadi undang-undang dalam waktu 120 hari setelah pengumuman.

Di Asia, Nepal dan Taiwan telah terlebih dulu mengesahkan pernikahan sesama jenis. Namun di Asia Tenggara, Thailand akan menjadi yang pertama. Diperkirakan, pernikahan sesama jenis di Thailand akan dilakukan paling lambat akhir tahun ini.

"Saya tidak ingin melebih-lebihkan apa keuntungan yang akan didapat," kata Todd Sears, pendiri dan CEO Out Leadership, platform global yang mendorong kesetaraan dalam perusahaan.

"Unggul dalam perkara ini akan memberikan keuntungan yang saya kira tidak ada yang menyangkanya. Akan ada banyak keuntungan yang diperoleh dari pernikahan (sejenis bagi Thailand)," kata dia.

RUU kesetaraan menghapuskan terminologi spesifik-gender dari undang-undang perkawinan di Thailand. Misalnya, tidak ada lagi sebutan untuk suami, istri, pria atau wanita, dan diganti dengan terminologi yang netral-gender, seperti pasangan atau seseorang.

RUU ini juga mencakup kesetaraan hak bagi pasangan sesama jenis untuk mengadopsi anak, mendapatkan perawatan kesehatan dan warisan.

Kebijakan terbaru ini disebut akan membuat Thailand mulus menunggangi gelombang ekonomi pelangi, dengan proyeksi peningkatan jumlah wisatawan, masuknya sumber daya manusia (SDM) dari demografi dan lokasi yang baru, kesempatan ekspor baru dan terciptanya lingkungan bisnis serta investasi yang lebih ramah.

Suasana parade LGBTQ+ di Bangkok Pride Festival 2024 Celebration Of Love, di jalan Rama 1. (Foto: iStock/kettaphoto)

TALENTA TERBAIK DAN PERLAKUAN TANPA DISKRIMINASI

Thailand memang sudah sejak lama dianggap sebagai destinasi para kaum gay. Sears mengatakan, legalisasi pernikahan sejenis akan semakin meningkatkan reputasi Thailand dan membuat perusahaan-perusahaan yang menjunjung keragaman dan inklusivitas semakin yakin berinvestasi di negara ini.

Perubahan pada UU pernikahan, tambah Sears, akan membuka peluang ekonomi, masuknya SDM baru, dan meningkatkan produktivitas pada ruang kerja yang ada saat ini. 

"Di saat perusahaan-perusahaan memikirkan kemana mereka akan mengembangkan usahanya dan dari mana bisa menarik tenaga kerja bertalenta, hal ini (RUU pernikahan sejenis) menjadi penting.

"Banyak perusahaan telah berfokus pada inklusivitas dan keragaman selama 25 tahun, bukan karena perkara moral, tapi karena mereka tahu cara ini bisa menghadirkan inovasi dan menarik tenaga kerja, dan anggapan itu belum berubah," kata dia.

"Orang-orang LGBT telah menjadi pertanda dari masyarakat dan budaya yang lebih luas. Jadi perlakuan terhadap kelompok yang tak dianggap ini, kaum minoritas yang kerap kali dipersekusi, telah mengirimkan pesan soal bagaimana perusahaan memperlakukan semua orang."

Sears mengutip penelitian oleh Williams Institute di Amerika Serikat yang menunjukkan munculnya berbagai keuntungan ekonomi setelah dilegalkannya pernikahan sejenis di sebuah negara dan diakuinya keragaman di perusahaan.

"Semua indikator ekonomi yang muncul adalah positif. Semua itu akan terwujud di Thailand setelah mereka melakukan ini (legalisasi pernikahan sejenis), terutama dari perspektif menarik talenta kerja dan inovasi," kata dia.

Dia menjelaskan, produktivitas di sebuah perusahaan biasanya kurang optimal jika tidak memberikan kesempatan kaum LBTIQ+ untuk berpartisipasi penuh, didiskriminasi atau tidak mendapatkan kesempatan promosi.

Sebelumnya, UU pernikahan Thailand dianggap sudah tidak selaras dengan sikap masyarakatnya. Survei pada Juni lalu yang dilakukan North Bangkok University menemukan bahwa 82,5 persen masyarakat Thailand mendukung upaya pemerintah mengesahkan kesetaraan dalam pernikahan.

Namun, masih ada kesenjangan dalam hal perlindungan bagi pekerja LGBTIQ+ dalam lingkungan kerja di Thailand.

Meski undang-undang dan kebijakan yang inklusif telah telah mendapatkan dukungan publik, namun Thailand masih menghadapi tantangan dalam menegakkan perlindungan terhadap pekerja. Laporan PBB pada 2019 bertajuk "Toleran tapi tidak inklusif" menunjukkan "adanya stigma dan diskriminasi, kekerasan dan pengucilan yang terus berlanjut" terhadap kaumv gay.

Laporan itu menemukan bahwa responden LGBT mendapatkan stigma dan mengaku mengalami paling tidak satu bentuk diskriminasi, yang ujungnya akan membendung peluang karier mereka. Kurang dari setengah responden mengaku pernah mendengar soal UU Kesetaraan Gender Thailand yang diluncurkan pada 2015 untuk melindungi seseorang dari diskriminasi gender.

Sepuluh persen dari kaum LGBT dan 32 persen dari wanita transgender mengaku pernah mengalami diskriminasi di pekerjaan mereka sekarang atau sebelumnya, tulis laporan tersebut.

RUU kesetaraan pernikahan tidak serta merta dapat menyelesaikan permasalahan tersebut, tapi dapat menjaga momentum yang telah ada di sektor usaha untuk menjadikan ruang kerja lebih beragam dan adil, kata Jhitsayarat Siripai, lektor kepala di bidang gender dan media di Universitas Teknologi Rajamangala.

Menurut Jhitsayarat, pemerintah Thailand bergerak terlalu lambat dalam isu ini, sementara sektor swasta terbukti lebih proaktif dalam mempromosikan produk-produk terkait LGBTIQ, misalnya asuransi kesehatan pasangan sesama jenis.

"Kita telah melihat banyak perusahaan swasta di Thailand telah mulai mengakui dan menghargai kaum LGBT di ruang kerja, serta melakukan kampanye mendukung kesetaraan," kata dia.

"Hal yang ingin saya lihat setelah ini adalah adanya regulasi tenaga kerja yang mengakui kaum LGBT dalam hal kesehatan dan kesejahteraan di tempat kerja, karena mereka masih menghadapi intoleransi, kekerasan, diskriminasi dan kurangnya peluang untuk dipromosikan."

Kedua pakar di atas mengatakan pemerintah Thailand dan perusahaan swasta mesti menyeimbangkan antara berbuat baik kepada masyarakat dan bersikap pragmatis dalam meraup peluang bisnis.

Selama pelaksanaan Bangkok Pride - perayaan budaya LGBTIQ+ sebulan penuh yang diperingati juga di seluruh dunia setiap bulan Juni - terlihat beberapa perusahaan ingin menunjukkan bahwa brand mereka terlibat di dalamnya. Di antaranya yang menjadi sponsor resmi acara ini adalah Japan Airlines, EVMe dan Agoda.

"Ini adalah sebuah tren dan mereka ingin menjaring generasi muda yang berpotensi menguntungkan bagi perusahaan. Jadi ini adalah situasi yang sama-sama menguntungkan, masyarakat senang, perusahaan juga senang," kata Jhitsayarat.

Perusahaan memang berhak memanfaatkan situasi ini bagi keuntungan bisnis mereka, namun pakar mengatakan kebijakan perusahaan juga mesti ditinjau kembali.

Sears menyinggung soal "Rainbow Washing" - atau dukungan palsu perusahaan terhadap kaum LGBTIQ+ tanpa adanya aksi konkret di internal mereka sendiri-. Menurut Sears, masyarakat harus mencermati apa yang dilakukan perusahaan-perusahaan yang mengaku pendukung LGBT dalam melindungi dan mengayomi karyawan mereka sendiri dalam 11 bulan lainnya, tidak hanya ketika bulan Bangkok Pride.

"Bagaimana mereka memperlakukan karyawan LGBT? Apa yang mereka lakukan untuk mendukung komunitas ini? Bagaimana kebijakan internal mereka? Apakah ada kebijakan anti diskriminasi? Apakah mereka memperjuangkan hak-hak sipil kaum LGBT? Kalau itu semua dilakukan, maka ini bukan rainbow washing," kata dia.

Menurut Sears, karyawan Gen Z tidak hanya semakin penting bagi perusahaan tapi mereka secara umum telah menunjukkan kepedulian terhadap keberagaman, inklusivitas, kesetaraan dan isu iklim. Gen Z adalah mereka yang lahir antara akhir 90-an hingga 2010, generasi setelah millenial.

Pemerintah dan perusahaan yang mengakomodasi Gen Z akan mendapatkan keuntungan besar, kata dia.

Sebuah penelitian di Amerika Serikat pada tahun 2024 oleh Public Religion Research Institute menemukan bahwa hampir 30 persen Gen Z dewasa mengidentifikasi diri mereka sebagai LBTIQ+. Jumlah ini jauh lebih tinggi daripada demografi masyarakat lainnya - tertinggi kedua adalah milenial dengan 16 persen.

Di Thailand sendiri, Gen Z mencakup seperlima dari populasi total negara itu pada 2019 berdasarkan data Badan Statistik Nasional.

Bendera pelangi besar dikibarkan di parade LGBTQ+ di Bangkok Pride Festival 2024. (Foto: iStock/kettaphoto)

SELANGKAH LEBIH MAJU

Bagi Murat Uzel, kehadiran Perdana Menteri Thailand Srettha Thavisin dalam parade Pride tahun ini, dan turut mengibarkan bendera di jalanan, bukanlah rainbow washing. Menurut dia, itu adalah momen penting yang menunjukkan pemerintah Thailand serius dalam mewujudkan inklusivitas.

"Itu luar biasa. Sangat membantu Thailand. Thailand selalu menjadi destinasi yang sangat populer bagi kaum gay. Saya rasa Thailand akan menjadi semakin besar dan lebih baik lagi," kata dia.

Uzel adalah pendiri dan desainer di MP Experiences, sebuah perusahaan pengelola pariwisata mewah di Thailand. Dia memperkirakan 20 persen dari kliennya berasal dari kaum LGBTIQ+. Pasar ini memang tengah berkembang.

Secara global, Thailand menempati ranking ketiga dalam hal pemasukan total dan tertinggi di dunia dalam hal persentase PDB (1,23 persen) dari sektor pariwisata LGBT. Mengingat komunitas LGBT mencakup sekitar 10 persen dari wisatawan global, ada peluang besar untuk mengembangkannya.

"Meloloskan undang-undang ini (pernikahan sesama jenis) semakin meningkatkan citra Thailand dalam strategi pemasaran global, dan mungkin citra negara secara keseluruhan di mata penduduk dunia," kata dia.

"Jika Anda melihat kompetitor regionalnya, Thailand selalu selangkah lebih maju. Thailand benar-benar mendukung pariwisata gay, dan mempromosikan diri sebagai destinasi gay. Itu adalah hal besar."

"Dan ini bukan hanya untuk komunitas gay. Ketika sebuah tempat dianggap ramah terhadap gay, maka orang lain juga akan merasa nyaman. Anda tidak perlu menjadi gay untuk mendukung komunitas atau wisatawan gay. Ini adalah hak asasi manusia," kata dia.

Laporan pada 2023 oleh LGBT Capital - perusahaan manajemen aset dan penasihat bisnis - memperkirakan penghasilan dari sektor pariwisata gay internasional telah menyumbang US$6,5 miliar (Rp100 triliun) bagi perekonomian Thailand pada 2019 sebelum pandemi COVID-19 menghantam.

Sejak 2019, badan pariwisata Thailand telah mengincar wisatawan LGBT dengan kampanye "Go Thai Be Free" yang bisa diartikan "kunjungi Thailand dan temukan kebebasan". Kampanye ini mempromosikan Thailand sebagai destinasi wisata yang menjunjung keberagaman dan menyambut baik kaum LGBT.

"Saya kira ini adalah ide yang bagus. Kelompok ini punya potensi yang besar, mereka biasanya berpendapatan tinggi dan dianggap sebagai wisatawan berkualitas. Jadi ini adalah kesempatan yang menarik," kata Piyachat Puangniyom, ahli manajemen perhotelan di Univesitas Kasem Bundit.

Piyachat mengatakan, ada lebih banyak peluang ekonomi jika pemerintah dan sektor swasta terus memprioritaskan keberagaman dan keterbukaan.

"Bagi kaum LGBT, saya rasa pemerintah mencoba berpromosi lebih banyak dan membuat mereka merasa bahwa mereka penting bagi Thailand, mereka akan datang dan menghabiskan waktu di sini, karena mereka sudah memiliki pandangan positif (tentang Thailand)," kata dia.

"Dolar gay" masih sangat menguntungkan, sehingga pengusaha dan pemerintah akan terus berusaha mendapatkannya, kata Blue Satittammanoon, produser dan pendiri White Party Bangkok, festival dansa Tahun Baru gay terbesar di Asia. 

Blue Satittammanoon, produser dan pendiri White Party Bangkok, percaya akan potensi kekuatan "dolar gay" setelah diloloskannya undang-undang pernikahan sesama jenis di Thailand. (Foto: White Party Bangkok)

Salah satu buktinya, kata Blue, adalah semakin banyak peruashaan yang ingin terlibat dalam perayaan Pride di Thailand pada bulan Juni.

"Saya merasa ada semakin banyak orang yang terlibat dalam Pride. Saya tidak tahu apakah mereka benar-benar mendukungnya atau melihat adanya peluang meraup dolar gay."

"Memang ada keuntungan ekonominya, tapi saya melihat memang seperti inilah umumnya masyarakat Thailand. Kami ramah dan menyambut semua orang, dan itu tertanam dalam budaya kami. Pemerintah Thailand paham itu."

RUU pernikahan sesama jenis memang tidak dapat serta merta menarik lebih banyak wisatawan ke Thailand. Tapi menurut Blue, RUU itu kian memantapkan posisi Thailand sebagai negara tujuan wisata yang ramah-gay.

"Saya merasa kami sudah sampai ke sana. Tapi dengan diloloskannya RUU tersebut, rasanya menjadi semakin sempurna," kata dia.

Pemandangan dari festival tari White Party Bangkok. (Foto: White Party Bangkok)

MENJADIKANNYA SEBAGAI SOFT POWER

Peluang sebenarnya dari mendukung LGBT bagi Thailand adalah menjadikannya sebagai soft power. Salah satu contohnya adalah diselenggarakannya acara seperti White Party di negara-negara lain, seperti Vietnam dan Korea Selatan pada tahun ini.

Blue mengaku akan menyambut baik jika pemerintah mau memberikan dukungan pada acara-acara gay di dalam negeri. Menurut dia, acara ini tidak hanya akan mengundang talenta bermutu ke Thailand, tapi juga meningkatkan citra ke negara lain. Blue memisalkan Singapura yang memiliki strategi menghadirkan bintang seperti Taylor Swift untuk konser secara eksklusif di negara itu pada tahun ini.

"Saya ingin melihat Kylie (Minogue) di Thailand, hadir di White Party Bangkok. Itu mimpi saya," kata dia.

"Sebenarnya ini adalah soft power. Tahun lalu Thailand kedatangan lebih dari 32.000 orang dari 93 negara di seluruh dunia, mereka terbang ke Bangkok untuk menghamburkan uang. Kami menghitung, mereka kemungkinan menyumbang 600 sampai 700 juta baht ke perekonomian negara."

Selain berbagai event, Thailand juga menggenjot segmen hiburan khusus yang kian populer, yaitu dengan produksi serial Y atau sinetron "boys love".

Sinetron yang biasanya mengambil tema percintaan gay ini telah memiliki porsi di lembaga penyiaran Thailand dan meningkatkan apa yang disebut "perekonomian Y".

Departemen Perdagangan Internasional Thailand memperkirakan sinetron ini memiliki nilai pasar hingga lebih dari 1 miliar baht, termasuk peluang pembuatan film komersial di luar negeri, jumpa fans dan acara yang terkait pariwisata.

Genre ini kian populer di Indonesia, Filipina, Taiwan, Jepang dan Amerika Latin. Rumah produksi bisa mengambil keuntungan dari izin penyiaran sinetron mereka di berbagai platfom di seluruh dunia.

RUU pernikahan sesama jenis semakin memantapkan reputasi Thailand sebagai tempat yang menerima semua orang, menambah semangat bagi industri perfilman untuk promosi, kata Krisda Witthayakhomjornet, CEO Be On Cloud, sebuah rumah produksi besar yang telah menciptakan berbagai konten sinetron Y yang sukses, termasuk drama aksi percintaan KinnPorsche dan drama misteri sejarah Man Suang.

"RUU ini membuat masyarakat yakin bahwa ini adalah kekuatan negara ini. Semuanya masuk akal sekarang. Ini (RUU pernikahan sejenis) adalah hasil kerja keras semua orang, dan kami merupakan bagian darinya, saya senang," kata dia.

Dia mengatakan, sinetron yang mereka produksi memuat segala macam hal tentang Thailand, mulai pakaian, makanan, musik dan budaya. Ke depannya, mereka akan menyesuaikan dengan memasukkan soal pernikahan sejenis. Hal ini, kata dia, adalah bentuk dari soft power.

"Di masa lalu, hanya ada satu tempat bagi karakter gay di dunia hiburan, yaitu sebagai tokoh yang konyol. Saya ingat dulu ketika melihat orang berjenis kelamin sama berpegangan tangan, mereka akan dikecam," kata.

"Untuk menciptakan konten yang bagus saat ini, tokoh yang dimunculkan adalah perwakilan dari normalitas dan menunjukkan bahwa cinta semacam ini (sejenis) adalah normal."

Program sinetron Y-lah yang membuat Paolo Rodriguez, seorang desainer UX dari Filipina yang bekerja di Singapura, menjadi penasaran untuk menjelajahi lebih jauh budaya gay di Thailand. Dia lantas rela merogoh kocek dan menghabiskan waktu di negara itu.

Paolo sengaja menghadiri Bangkok Pride bulan lalu, kali pertama parade dan peringatan serupa digelar di Thailand setelah hiatus selama 16 tahun.

"Tahun lalu adalah kali pertama saya melihat semuanya serba pelangi dan menyenangkan, berwarna-warni, semarak dan meriah. Di Thailand, kami merasa lebih aman untuk menjadi diri sendiri," kata dia.

Dia mengatakan pemberlakuan hukum yang melindungi komunitas gay adalah langkah positif, dan dia berharap hal serupa akan ditiru oleh negara-negara lainnya di Asia Tenggara.

"Saya bangga kepada Thailand yang telah menjadi pionir dalam menjunjung hak-hak kaum gay di belahan bumi ini, karena sejarah terkait gay selalu dicetuskan di tempat yang jauh, kebanyakan di negara-negara Barat," kata dia.

"Senang melihat hal itu terwujud di kawasan kita sendiri." 

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini. 

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan

Iklan