Balap F1 kembali ke Sepang, Malaysia bidik lonjakan wisata
Para pengamat menyarankan Malaysia mengombinasikan tiket balapan dengan pengalaman budaya dan kuliner untuk memperkenalkan negara itu sebagai destinasi wisata unggulan.
Max Verstappen dari Red Bull berupaya menyalip Lewis Hamilton dari Mercedes saat Formula 1 Grand Prix Malaysia di Sirkuit Internasional Sepang pada 1 Oktober 2017. (Foto arsip: Reuters/Lai Seng Sin)
KUALA LUMPUR: Sejak 1999, warga Malaysia Kevin Lee hampir tak pernah melewatkan balapan Formula 1, setidaknya lewat siaran televisi. Ia bahkan berhasil membujuk istrinya untuk tetap di rumah pada hari jadi pernikahan mereka pada 2016 agar ia bisa menyaksikan balapan penutup musim di Abu Dhabi.
Karena itu, ketika pada Minggu (26/7) dipastikan Grand Prix akan kembali digelar di Sirkuit Sepang untuk pertama kalinya dalam hampir satu dekade, pria 37 tahun itu langsung bertekad mendapatkan tiket balapan pada 4 Oktober.
Seri Malaysia akan menggantikan Grand Prix Bahrain yang dibatalkan akibat konflik di Timur Tengah yang pecah pada Februari.
"Saya sangat antusias. Banyak warga Malaysia tidak pernah menyangka bisa menyaksikan era baru Formula 1 hadir di Sepang," kata Lee kepada CNA.
"Dalam beberapa tahun terakhir, banyak hal berubah di Formula 1 ... dan sekarang semakin banyak orang yang mengikutinya. Jadi menurut saya suasananya akan sangat berbeda dibanding saat Sepang terakhir kali menjadi tuan rumah balapan pada 2017."
Lee merujuk pada serial dokumenter Netflix "Drive to Survive" yang tayang perdana pada 2019 dan mengikuti perjalanan satu musim penuh Formula 1. Serial yang ditonton jutaan orang itu memicu lonjakan minat terhadap olahraga yang sebelumnya dianggap sebagai ajang balap dengan penggemar yang terbatas.
Lee, yang bekerja di bidang pemasaran kinerja (performance marketing), memperkirakan, Sirkuit Sepang akan dipenuhi penonton mengingat minat terhadap Formula 1 terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, ajang tersebut juga akan menggerakkan perekonomian melalui belanja di sektor kuliner, hiburan, dan merchandise selama akhir pekan balapan. Sepang memiliki kapasitas hingga 130.000 penonton.
Ia mengaku sudah mendengar hotel-hotel di sekitar sirkuit mulai penuh dipesan. Sejumlah merek juga mulai memanfaatkan euforia tersebut dengan mengunggah ilustrasi mobil Formula 1 berbalut corak khas (livery) mereka di media sosial.
"Saya rasa ajang ini memang akan memberikan manfaat ekonomi, apalagi Malaysia tidak menanggung biaya penyelenggaraannya," ujarnya.
Lee juga mendesak Malaysia segera meningkatkan fasilitas di Sirkuit Sepang sebelum balapan digelar serta memastikan proses penjualan tiket berjalan lancar bagi semua orang.
"Kalau benar-benar ingin memaksimalkan peluang emas yang diberikan kepada kita ini, keramahan khas Malaysia harus menjadi yang utama. Kita harus menyambut para pengunjung sebaik mungkin dan memastikan mereka mendapatkan pengalaman yang berkesan."
CNA telah menghubungi Asosiasi Hotel Malaysia dan Asosiasi Agen Tur dan Perjalanan Malaysia untuk meminta tanggapan.
KESEMPATAN YANG TAK TERDUGA
Spekulasi merebak pekan lalu bahwa Malaysia berpeluang menjadi tuan rumah balapan Formula 1 pada Oktober menggantikan Bahrain, setelah seri di negara Teluk itu dibatalkan pada awal musim ini.
Malaysia dilaporkan menjadi kandidat terkuat karena Sirkuit Sepang masih mengantongi sertifikasi Grade 1 dari Federasi Otomotif Internasional (FIA), syarat wajib untuk menggelar balapan Formula 1.
Lokasi Malaysia yang berdekatan dengan Singapura juga dinilai menguntungkan dari sisi logistik karena seri berikutnya dijadwalkan berlangsung di negara-kota itu pada akhir pekan berikutnya.
Pada Minggu, Formula 1 yang dimiliki Liberty Media mengumumkan bahwa balapan di sirkuit dekat Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) itu resmi akan digelar dengan nama "Gulf Air Bahrain Grand Prix in Malaysia".
Pada hari yang sama, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan melalui media sosial bahwa kerja sama tersebut mencerminkan "persahabatan yang telah lama terjalin" antara Malaysia dan Bahrain, sekaligus menegaskan kembali kemampuan Malaysia menjadi tuan rumah ajang internasional berskala besar.
Kementerian Pemuda dan Olahraga Malaysia juga menyatakan, balapan tersebut diperkirakan akan memberikan manfaat ekonomi yang "signifikan" melalui sektor pariwisata, investasi, dan berbagai kegiatan ekonomi yang terkait dengan olahraga.
Malaysia menghentikan penyelenggaraan Formula 1 setelah 2017 karena biaya yang terus meningkat dan manfaat ekonomi yang semakin menurun. Pada 2025, Menteri Pemuda dan Olahraga saat itu Hannah Yeoh mengatakan, pemerintah tidak berencana membawa kembali ajang tersebut karena biaya penyelenggaraannya yang tinggi serta banyaknya balapan Formula 1 di kawasan.
Yeoh memperkirakan, biaya penyelenggaraan yang harus dibayarkan kepada Liberty Media mencapai sekitar RM300 juta (Rp1,32 triliun) per tahun. Kontraknya umumnya berlaku selama tiga hingga lima tahun, dengan total komitmen dana antara RM900 juta hingga RM1,5 miliar (Rp3,96 triliun hingga Rp6,59 triliun).
Pada Senin, Anwar memastikan Bahrain bersedia menanggung biaya registrasi dan penyelenggaraan yang nilainya sangat besar. Malaysia hanya perlu mengeluarkan hingga RM16 juta (Rp70,35 miliar) untuk perbaikan ringan di Sirkuit Sepang.
"Jadi, pada dasarnya kita menjadi tuan rumah tanpa mengeluarkan biaya. Bayangkan saja," kata Anwar dalam pidato di Negeri Sembilan. Ia menambahkan, Malaysia akan menjadi "sorotan dunia".
Para analis mengatakan kepada CNA bahwa Malaysia diperkirakan meraup sekitar RM500 juta (Rp2,2 triliun) dari sektor pariwisata. Perkiraan itu mengacu pada data resmi saat negara tersebut terakhir kali menggelar Formula 1 pada 2017, yang menarik sekitar 200.000 wisatawan mancanegara.
"Akhir pekan balapan akan membuat hotel-hotel di Klang Valley penuh, mendongkrak permintaan di restoran dan sektor transportasi, serta biasanya meningkatkan belanja selama tiga hingga empat hari," kata Profesor Ekonomi Pariwisata Universiti Teknologi MARA (UiTM) Selangor, Mohd Hafiz Hanafiah.
"Saya yakin Malaysia akan menikmati lonjakan belanja wisatawan di sektor penerbangan, perhotelan, makanan dan minuman, transportasi, serta ritel. Ini benar-benar menjadi sumber pendapatan pariwisata yang bernilai dengan risiko rendah karena tidak perlu membayar biaya penyelenggaraan."
Namun, mengingat Sirkuit Sepang berada cukup jauh dari pusat wisata utama Kuala Lumpur—sekitar 1,5 jam perjalanan dari pusat kota—para analis menyarankan penyelenggara menawarkan paket tiket yang dipadukan dengan akomodasi, belanja, atraksi budaya, dan wisata domestik agar pengunjung tinggal lebih lama. Dengan begitu, manfaat ekonominya juga dapat dirasakan masyarakat di wilayah sekitar.
Menurut para pengamat, jika pengalaman yang ditawarkan mampu meninggalkan kesan kuat dan menarik minat besar, Malaysia berpeluang kembali mengamankan tempat permanen di kalender Formula 1. Kalaupun itu tidak terwujud, para penggemar internasional diyakini akan terdorong kembali berlibur ke Malaysia.
Jake Abdullah, pemilik agensi pemasaran Malaysian Dynamic Media, mengatakan, ia yakin wisatawan mancanegara yang belum pernah berkunjung ke Malaysia akan "datang karena balapannya, lalu pulang sambil membicarakan makanannya".
"Saya benar-benar yakin sebagian besar dari mereka akan kembali lagi. Bedanya, lain kali mereka akan membawa lebih banyak orang dan tinggal lebih lama," katanya kepada CNA.
"Itulah yang seharusnya menjadi fokus utama Tourism Malaysia. Formula 1 bukan sekadar sebuah ajang. Selama tiga hari, ini adalah alat promosi paling murah sekaligus paling ampuh yang pernah dimiliki negara ini, dan biaya eksposur medianya bahkan ditanggung pihak lain."
MINAT MENINGKAT, TANTANGAN MASIH MENANTI
Tanda-tanda meningkatnya antusiasme terhadap balapan ini sudah mulai terlihat.
Pada Minggu, akun Instagram bojomalaysia, yang kerap membagikan rekomendasi kuliner dan aktivitas di Malaysia, mengunggah bahwa antrean pembelian tiket sudah mulai terbentuk meski informasi resmi belum diumumkan. Unggahan itu meraih lebih dari 7.000 tanda suka dan 5.000 kali dibagikan, meski banyak warganet meragukan kebenaran informasinya.
Sebagian besar perbincangan di grup media sosial Formula 1 di Singapura dan Malaysia yang dipantau CNA berfokus pada orang-orang yang berlomba-lomba memesan akomodasi di dekat Sepang bahkan sebelum penjualan tiket dibuka.
Pengecekan CNA di situs tiga hotel yang berada dekat Sirkuit Sepang menunjukkan seluruh kamar telah habis dipesan untuk periode 1 hingga 5 Oktober. Sementara itu, sebuah hotel di dekat KLIA yang masih tersedia pada tanggal tersebut mematok tarif hampir RM1.000 (Rp4,4 juta) per malam untuk satu kamar, sekitar empat kali lipat dari harga normal.
"Yang saya khawatirkan adalah soal harga. Kalau tarif dinaikkan tiga kali lipat selama empat malam, kita mungkin menang akhir pekan ini, tetapi kehilangan reputasi. Tamu yang merasa diperas akan bercerita di internet, dan internet tidak mudah memaafkan," kata Jake.
"Tolong buat paket. Menaikkan tarif kamar bisa dilakukan siapa saja. Yang jarang dilakukan adalah menawarkan paket tiga malam lengkap dengan transportasi, makanan, dan pengalaman lokal yang berkesan kepada penggemar yang baru pertama kali datang ke sini. Di situlah sebenarnya keuntungan berada."
Hafiz sependapat. Ia mendorong pelaku industri pariwisata menawarkan paket menginap di Kuala Lumpur yang dipadukan dengan pengalaman tambahan seperti wisata budaya ke Melaka yang kaya akan warisan sejarah.
"Di sinilah nilai ekonominya benar-benar bisa berlipat. Ini kesempatan menampilkan slogan 'Malaysia Truly Asia' sekaligus mempromosikan Visit Malaysia 2026," ujarnya.
"Sirkuit ini berada cukup jauh dari Kuala Lumpur. Jadi, kalau wisatawan tidak diarahkan untuk berkunjung ke kota dan destinasi lain, sebagian besar pengeluaran mereka hanya akan berputar di sekitar sirkuit selama beberapa hari, lalu berhenti."
Meski pada balapan 2017 tersedia bus antar-jemput dari Kuala Lumpur ke Sirkuit Sepang, sebagian penonton mengeluhkan kemacetan parah. Jake berharap konektivitas menuju dan dari ibu kota bisa ditingkatkan.
Tantangan itu juga muncul karena etape Putrajaya Tour de Langkawi—yang melintasi ibu kota administratif Malaysia di antara Kuala Lumpur dan Sepang—serta Standard Chartered Kuala Lumpur Marathon sama-sama digelar pada 4 Oktober, bertepatan dengan balapan Formula 1.
"Saya ingin melihat sistem transportasi yang benar-benar lancar, karena tidak ada yang ingin menghabiskan akhir pekan senilai RM7.500 (Rp33 juta) dan berujung terjebak macet selama dua jam," kata Jake.
Jake memperkirakan, Malaysia dapat meraup belanja wisatawan sebesar RM450 juta hingga RM600 juta (Rp1,98 triliun hingga Rp2,64 triliun) dari ajang yang berlangsung selama tiga hari itu. Namun, menurutnya, angka tersebut akan sangat bergantung pada harga tiket, kemudahan wisatawan mancanegara mendapatkan tiket, kapasitas hotel, serta seberapa merepotkan perjalanan menuju sirkuit.
Meski Anwar mengisyaratkan harga tiket akan dibuat lebih terjangkau bagi warga Malaysia, Chief Executive Officer Sirkuit Internasional Sepang Azhan Shafriman Hanif mengatakan kepada kantor berita Bernama pada Selasa bahwa Bahrain akan menentukan harga tiket sekaligus menerima seluruh hasil penjualannya.
Pada Formula 1 Grand Prix Malaysia 2017, harga tiket berkisar RM58,68 (Rp257.999) untuk kategori Hillstand K2 hingga RM613,68 (Rp2,7 juta) untuk Main Grandstand, sehingga menjadi salah satu balapan Formula 1 dengan tiket paling terjangkau di dunia, menurut laporan media lokal saat itu.
Saat ditanya berapa harga tiket yang dianggap wajar untuk balapan 2026, penggemar Formula 1 asal Malaysia Lee Seng Foo mengatakan kepada CNA, "Semurah mungkin," meski ia mengakui bersedia "merogoh kocek sedikit lebih dalam".
"Soalnya ini bisa jadi hanya sekali seumur hidup. Bisa saja saya tidak akan pernah lagi melihat Formula 1 balapan di Sepang selama hidup saya," kata pria 38 tahun yang bekerja di industri media olahraga itu.
Di dunia maya, CNA juga menemukan sejumlah unggahan dari penggemar yang sudah berencana menghadiri Grand Prix Singapura dan kini mengubah jadwal penerbangan serta memperpanjang masa tinggal mereka agar bisa sekaligus menonton balapan di Malaysia dalam rangkaian dua balapan berturut-turut (double header).
Pada akhirnya, Jake mendesak pemerintah federal Malaysia mengukur dampak ekonomi dari ajang tahun ini dan mempublikasikan hasilnya. Menurutnya, data tersebut akan menjadi "bahan promosi terbaik yang pernah kita miliki" untuk mengembalikan Sepang sebagai tuan rumah tetap Formula 1.
"Kalau nanti artinya kita harus kembali membayar RM300 juta (Rp1,32 triliun), saya rasa itu layak dipertimbangkan. Yang ingin saya bicarakan adalah nilai yang didapat, bukan sekadar harganya. Oktober nanti akan memberi jawabannya," tambahnya.
UJIAN PENENTU KEMBALINYA F1 KE SEPANG
Ajang pada Oktober akan menjadi "ujian penentu" bagi masa depan Formula 1 di Malaysia, kata Hafiz dari UiTM.
"Tujuan utama menggelar satu balapan tanpa biaya ini adalah mengumpulkan bukti sebelum memutuskan kerja sama jangka panjang. Menurut saya, di situlah letak keunggulan kita," ujarnya.
Namun, Profesor Bisnis Olahraga Internasional di Victoria University, Australia, Hans Westerbeek, mengingatkan bahwa akan "sulit" memaksimalkan dampak ekonomi ajang tersebut mengingat waktu persiapannya yang sangat singkat.
Meski begitu, ia yakin para pemangku kepentingan, termasuk perusahaan minyak nasional Petronas yang menjadi sponsor tim Mercedes-AMG Formula 1, ingin melihat Grand Prix Malaysia kembali digelar secara permanen.
"Semua orang tahu serial Netflix seperti Drive to Survive telah membuat Formula 1 jauh lebih populer di kalangan kelompok penonton yang sebelumnya tidak tertarik," kata Westerbeek kepada program Asia Now CNA.
"Dengan begitu, Malaysia pada dasarnya bisa membuka lembaran baru setelah era 2017, memulai lagi dengan bekal pengetahuan, minat, dan tentu saja investasi jangka pendek yang lebih besar untuk meraih manfaat jangka panjang."
Penggemar Formula 1 asal Malaysia, Lee Seng Foo, masih menyimpan kenangan manis saat menyaksikan Grand Prix Sepang 2012. Ia mengenangnya sebagai "balapan hujan yang kacau" tetapi sangat menyenangkan.
"Saya rasa saya mewakili semua orang yang berharap bisa kembali merasakan pengalaman khas Sepang, yaitu balapan yang berlangsung dalam kondisi kering dan basah. Tapi jangan sampai hujannya terlalu deras hingga balapan harus dihentikan dengan bendera merah," katanya.
Ia berharap para pembalap maupun penggemar bisa menikmati balapan yang seru dan berkesan sehingga mendorong semua pihak terkait duduk bersama untuk membahas secara serius peluang Sepang kembali menjadi tuan rumah tetap Formula 1.
"Kembalinya Formula 1 untuk satu kali balapan bisa membangkitkan lagi antusiasme masyarakat. Kalau sukses, ajang ini berpotensi membuka jalan bagi Liberty Media dan pemerintah Malaysia untuk mengembalikan Sepang sebagai tuan rumah tetap di kalender Formula 1," ujarnya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.