El Nino Super ancam Asia Tenggara hingga tahun depan, apa dampaknya?
El Nino Super bisa menyebabkan kekeringan, panas ekstrem, dan merusak sektor pertanian. Pemerintah negara-negara Asia Tenggara berupaya mengantisipasinya, tapi para pakar mengatakan bahwa banyak kekurangan di sana-sini.
Asia Tenggara bersiap menghadapi musim yang panas dan kering pada 2026 hingga 2027. (Foto: CNA/Jack Board)
BANGKOK: Surachai Parunram tahu sesuatu yang besar dan mengkhawatirkan akan datang. Petani padi dan tebu berpengalaman dari timur laut Thailand itu telah bertahun-tahun menghadapi cuaca tak menentu dan kejadian ekstrem yang mengganggu musim tanamnya.
Namun, apa yang menanti sepanjang tahun mendatang - "El Nino Super" yang diperkirakan membawa panas hebat dan kekeringan di seluruh Asia Tenggara - membuatnya semakin khawatir.
"Iklim sekarang benar-benar tidak bisa diprediksi. Sebentar panas, lalu hujan," kata pria berusia 55 tahun itu.
Selama lebih dari setahun, ia telah bersiap dan beradaptasi menghadapi periode cuaca yang sulit di usaha tani kecilnya di Nakhon Ratchasima. Di antaranya dengan mengganti tanaman dan mulai beternak hewan yang lebih tahan kekeringan seperti babi hutan.
"Saya khawatir. Kami tidak tahu harus menghasilkan apa karena setiap petani punya utang, dan kami tidak tahu dari mana pendapatan akan datang ketika tidak ada air untuk bertani," kata Surachai.
Asia Tenggara bersiaga menghadapi apa yang menurut para ahli berpotensi menjadi salah satu El Nino terkuat yang pernah tercatat.
El Nino, yang ditandai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di wilayah tropis Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, biasanya membuat suhu semakin tinggi dan gelombang panas berlangsung lebih lama, memberikan tekanan dan kesulitan bagi penduduk perkotaan, pertanian, dan pasokan air.
"Kita tak pernah mengalami situasi seperti ini sebelumnya. El Nino Super memang pernah terjadi, tetapi saat itu suhu bumi belum mencapai tingkat seperti sekarang," kata Seree Supratid, Direktur Climate Change and Disaster Center di Rangsit University.
"Peristiwa ini terjadi ketika bumi sudah menghangat sekitar 1,4 hingga 1,5°C, yang berarti dampaknya pasti akan jauh lebih parah," katanya.
Menurut Ming Yi, ilmuwan iklim fisik di National University of Singapore, pelabelan "super" memang bukan klasifikasi ilmiah resmi, namun digunakan untuk menunjukkan tingkat keparahannya, yakni "kondisi ekstrem ketika suhu laut melonjak jauh di atas normal".
Menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), El Nino terbaru ini telah terbentuk di Pasifik.
Pemodelan WMO menunjukkan El Nino akan menguat dengan cepat. Suhu permukaan laut di salah satu wilayah utama Pasifik khatulistiwa diperkirakan rata-rata sekitar 2°C di atas normal pada Juli hingga September. El Nino biasanya mencapai puncaknya antara November dan Februari.
Simulasi model saat ini menunjukkan Asia Tenggara berpotensi menghadapi kondisi yang bahkan melampaui peristiwa 1997-1998 yang memecahkan rekor, kata Ming.
Saat itu, kekeringan parah melanda kawasan, memicu kebakaran hutan dan lahan gambut besar-besaran di Indonesia yang membuat negara-negara tetangga diselimuti kabut asap pekat dan menyebabkan kerugian ekonomi miliaran dolar.
Kali ini, Thailand menghadapi risiko besar terhadap pertanian dan waduk, serta dari panas ekstrem dan meningkatnya kebutuhan listrik.
Dampaknya terhadap produksi pangan, perikanan, tenaga air, kebakaran dan mata pencaharian juga berisiko meluas ke kawasan Mekong dan sekitarnya, termasuk Kamboja, Laos, Vietnam, dan Myanmar.
"Dampak kekeringan besar terakhir yang kami alami terjadi pada 2019-2020. Karena kali ini merupakan El Nino Super, saya memperkirakan tingkat keparahannya akan meningkat - bukan hanya dua kali lipat, tetapi berpotensi meningkat secara eksponensial, meski tidak ada yang bisa memprediksi angka pastinya," kata Areeya Obidiegwu, asisten profesor di Departemen Ekonomi Pertanian dan Sumber Daya Kasetsart University.
Curah hujan di Thailand akan sangat terdampak tahun depan, kata Seree. Setelah El Nino Super mencapai puncaknya, dampak terkuat akan terasa dalam empat hingga enam bulan berikutnya.
"Ketika musim panas tiba di Thailand, suhu pasti akan melonjak," katanya. "Setelah pertengahan tahun depan, hujan lebat akan kembali, dan berpotensi cukup parah hingga memicu banjir dengan periode ulang 100 hingga 200 tahun," katanya, berdasarkan pemodelannya yang memperkirakan kondisi akan kembali lebih basah.
Meski musim hujan diperkirakan terlambat, hujan yang turun bisa berupa "bom hujan" akibat badai yang merusak - hujan sangat deras dalam waktu singkat dan turun secara lebih tidak menentu serta terkonsentrasi, kata Sonthi Kochawat, pakar lingkungan dan kesehatan di Thai Environmental Scholars Association.
Pemanasan iklim dapat memperparah dampak El Nino karena laut dan atmosfer yang lebih hangat meningkatkan kelembapan dan energi yang dapat memicu cuaca ekstrem, termasuk hujan lebat.
Indonesia dan Malaysia menghadapi risiko yang lebih besar dalam sektor pertanian serta akibat kebakaran dan kabut asap, sementara berkurangnya curah hujan dapat menekan pertanian, pasokan air, dan pembangkit listrik tenaga air di Filipina. Singapura tidak terlalu terpapar kekeringan pertanian, tetapi tetap rentan terhadap panas ekstrem, kabut asap lintas batas, dan kenaikan biaya impor pangan.
Di negara-negara tersebut, dampaknya dapat dengan cepat merembet dari lahan pertanian dan waduk sampai ke pengeluaran rumah tangga. El Nino mengancam produksi komoditas utama kawasan, termasuk beras dan minyak sawit, yang berpotensi mendorong kenaikan harga pangan, membebani konsumen yang sudah menghadapi tekanan ekonomi.
Kondisi iklim yang akan datang akan semakin memperparah tekanan ekonomi akibat krisis energi yang tengah berlangsung di Asia Tenggara, kata Ming.
El Nino dapat secara bersamaan menghantam komoditas utama seperti beras dan minyak sawit, yang berarti negara-negara dapat menghadapi penurunan produksi dalam negeri sekaligus kenaikan harga impor dari kawasan. Saat El Nino kuat melanda pada 2015-2016, produksi beras Asia Tenggara turun secara signifikan.
El Nino juga dapat mendorong inflasi harga bagi konsumen di Indonesia dan Filipina naik hampir dua poin persentase, menurut riset Bloomberg Economics berdasarkan peristiwa sebelumnya, terutama akibat kenaikan harga pangan seiring berkurangnya hasil panen.
Di seluruh kawasan, kenaikan suhu laut kemungkinan akan menyebabkan pemutihan karang secara luas, yang merugikan ekosistem laut dan sektor pariwisata terkait, kata para ahli, seperti yang terjadi dalam peristiwa ekstrem sebelumnya.
STRATEGI UNTUK BERTAHAN
Mengingat El Nino adalah fenomena cuaca yang dapat diperkirakan sebelumnya, pemerintah di seluruh kawasan telah bersiap menghadapi kondisi yang akan datang.
Pemerintah dapat memainkan peran penting dalam mengurangi dampak El Nino Super, kata Ming, melalui langkah-langkah seperti menerapkan pengelolaan sumber daya air yang lebih efektif, memberikan insentif untuk penggunaan tanaman tahan kekeringan, dan memberikan subsidi asuransi tanaman.
Pemerintah Indonesia menyatakan, telah mendistribusikan sekitar 100.000 pompa air, merehabilitasi sekitar 900.000 hektare jaringan irigasi, dan menyalurkan benih tahan kekeringan.
Pada Senin, pemerintah mengumumkan telah mengerahkan satuan tugas lintas lembaga untuk mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah meluas hingga sekitar 107.000 hektare, guna mencegah kabut asap berdampak pada negara-negara tetangga.
Di Filipina, infrastruktur irigasi tengah diperluas. Kongres negara itu juga mendorong berbagai lembaga untuk menyusun kerangka kesiapsiagaan nasional terpadu yang mencakup petani, perikanan, ketahanan pangan, dan air sebelum kekeringan memburuk.
Kabinet Thailand telah memerintahkan berbagai lembaga untuk secara khusus bersiap menghadapi kondisi parah, dengan fokus pada ketersediaan air untuk rumah tangga, pertanian dan industri, perencanaan pertanian, serta cadangan darurat.
Namun, para ahli dan petani seperti Surachai mempertanyakan apakah kesiapan di lapangan sudah memadai. Sebagai pengelola kelompok usaha masyarakat, ia sangat menyadari bahwa komunitas petani di sekitarnya, di salah satu sentra pertanian Thailand, belum siap.
"Kadang saya harus duduk dan bicara terus terang dengan mereka, meyakinkan bahwa kekeringan akan datang. Petani jarang percaya karena informasi dari pemerintah tidak jelas. Informasi yang tidak konsisten membuat petani kehilangan kepercayaan kepada semua pihak. Jadi mereka berspekulasi (dengan tetap menanam)," katanya.
"Petani bukannya tidak punya pengetahuan; mereka punya kearifan sendiri. Mereka hanya membutuhkan dorongan tentang bagaimana memanfaatkan sumber daya yang mereka miliki untuk menghidupi keluarga, dan pemerintah perlu membantu mewujudkannya," tambahnya.
Sonthi mengatakan, pemerintah harus segera mendorong petani untuk beradaptasi dengan menghentikan sementara penanaman padi di luar musim dan beralih ke tanaman yang membutuhkan lebih sedikit air seperti kedelai atau kacang hijau, sekaligus mendorong pembuatan kolam penampungan air di lahan pertanian.
Menurut Areeya, dukungan aktif untuk adaptasi belum cukup menjadi prioritas politik di Thailand. Kebijakan iklim sering kali berfokus pada mitigasi gas rumah kaca dan riset yang sulit menghasilkan dampak nyata di lapangan.
"Kami berinvestasi besar-besaran dalam riset dan mengembangkan banyak aplikasi pertanian, tetapi pelaksanaannya tidak terkoordinasi," katanya.
Seree mengaku khawatir pemerintah Thailand masih belum memiliki langkah dan kesiapan yang jelas untuk membantu petani di lapangan.
"Jika petani terus menanam padi dalam kondisi kekeringan parah, mereka menghadapi risiko kerugian yang sangat besar. Namun, jika mereka tidak menanam, hasil panen tidak akan mencukupi kebutuhan dalam negeri dan ekspor," katanya.
Akan tetapi, Thailand tidak sendirian dalam mempersiapkan diri menghadapi tekanan iklim yang membayangi. Menurut Mekong River Commission (MRC), badan antarpemerintah untuk kerja sama di Cekungan Mekong Hilir, sistem untuk mengantisipasi dan mengoordinasikan respons terhadap kekeringan di seluruh Cekungan Mekong telah jauh lebih baik sejak kekeringan parah terkait El Nino dalam satu dekade terakhir.
Seorang juru bicara MRC mengatakan kepada CNA bahwa pemantauan, pertukaran data, dan koordinasi pengelolaan sumber daya air di antara negara-negara anggota MRC - Thailand, Laos, Kamboja, dan Vietnam - telah meningkat.
Meski mekanisme tersebut tidak dapat mencegah kekeringan akibat El Nino ekstrem, mekanisme itu dapat memberi pemerintah peringatan lebih dini dan kemampuan lebih besar untuk mengelola air yang semakin terbatas lintas negara, kata MRC.
MRC kini mengandalkan data yang hampir real-time dari sekitar 80 stasiun pemantauan, data sepanjang tahun dari stasiun Jinghong di China, serta data operasional dari 13 bendungan PLTA utama. Pada tahap selanjutnya, kerja sama ini akan diperluas dari sekadar berbagi data bendungan menjadi koordinasi pengoperasian bendungan.
Di tingkat nasional, pemerintah Vietnam tengah mempersiapkan berbagai skenario kekeringan, kekurangan air, dan intrusi air laut di Delta Mekong. Penyimpanan air tawar menjadi prioritas di wilayah selatan yang rentan, disertai pemantauan dan rencana pengelolaan pasokan air seiring berlangsungnya musim kemarau.
Pejabat Kamboja telah memompa air dari sungai dan kanal ke sawah yang sudah terdampak di Provinsi Pursat, di bagian barat negara itu, dengan memanfaatkan infrastruktur irigasi yang tersedia untuk melindungi tanaman.
SIAPA PALING MENDERITA
Menurut CARE (Cooperative for Assistance and Relief Everywhere), organisasi kemanusiaan global, yang membuat peristiwa ini sangat berbahaya adalah dampaknya terjadi di tengah berbagai kerentanan yang sudah ada, seperti kemiskinan dan ketimpangan.
El Nino akan memperparah berbagai masalah, termasuk tingginya harga pangan, tekanan ekonomi, pengungsian, rantai pasok yang rapuh, dan berkurangnya pendanaan kemanusiaan, kata organisasi itu kepada CNA.
El Nino besar yang diperkirakan terjadi kali ini "sangat mengkhawatirkan" karena datang ketika kerawanan pangan sudah tinggi dan sumber daya kemanusiaan berada di bawah tekanan berat, kata Ram Das, Direktur CARE Bangladesh.
Artinya, banyak keluarga hanya memiliki sedikit kemampuan tersisa untuk menghadapi kondisi tersebut, katanya.
Bagi jutaan perempuan dan anak perempuan, El Nino berisiko memperparah krisis pangan yang sudah ada. Menurut perkiraan CARE, 172,3 juta perempuan dan anak perempuan di negara-negara yang diperkirakan paling terdampak sudah terancam kerawanan pangan, bahkan sebelum kekeringan berkepanjangan dan panas ekstrem yang menekan hasil panen, pendapatan, dan pasokan pangan.
"Yang sudah kami lihat di lapangan adalah perempuan dan anak perempuan sering kali menjadi kelompok pertama yang merasakan dampak kerawanan pangan terkait iklim. Perempuan sering kali harus menghadapi dampaknya, mencari cara untuk mencukupkan sumber daya rumah tangga sekaligus menjaga ketahanan pangan keluarga mereka," kata Reiza Dejito, Direktur CARE Filipina.
Secara global, Program Pangan Dunia (WFP) Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan dalam pernyataan pada 5 Agustus bahwa kondisi El Nino dapat membuat hingga 49 juta orang lainnya mengalami kelaparan akut pada akhir tahun depan.
Seiring meningkatnya panas ekstrem, pemerintah juga akan menghadapi tantangan untuk melindungi jutaan orang yang bekerja dan tinggal di kota-kota yang semakin terdampak tekanan panas.
El Nino bukan satu-satunya faktor yang menambah panas. Di perkotaan, pembangunan pesat selama bertahun-tahun telah mengurangi vegetasi dan membuat semakin banyak lahan tertutup bangunan, jalan, serta permukaan lain yang menyerap panas.
Beton dan aspal menyerap panas pada siang hari sebelum melepaskannya setelah matahari terbenam, sehingga mengurangi kesejukan yang biasanya terasa pada malam hari. Efek pulau panas perkotaan ini kini terjadi bersamaan dengan pemanasan iklim, yang meningkatkan suhu secara umum serta memperbesar kemungkinan dan tingkat keparahan panas ekstrem.
Dalam jangka pendek, untuk melindungi penduduk perkotaan yang terpapar, Seree menyerukan protokol keselamatan wajib seperti waktu istirahat bagi pekerja luar ruangan, mengingat risiko sengatan panas diperkirakan meningkat "drastis" sepanjang tahun depan.
Di Singapura, pekerja yang melakukan pekerjaan fisik berat di luar ruangan harus mendapat waktu istirahat setidaknya 10 menit setiap jam ketika pengukuran tekanan panas mencapai ambang batas tertentu, aturan yang pertama kali diberlakukan pada 2023.
Selain itu, Seree menyarankan agar perbaikan tata kota jangka panjang dipercepat, seperti memperluas ruang hijau, mendorong pemasangan panel surya di atap, dan meningkatkan infrastruktur drainase perkotaan secara keseluruhan.
Di lahan pertaniannya, Surachai terus mencoba berbagai cara dalam bertani; menanam jenis tanaman tertentu pada waktu tertentu, menyisihkan lahan untuk menampung air, mencoba teknologi baru, serta bekerja selaras dengan alam alih-alih melawannya.
"Kita membutuhkan strategi untuk bertahan hidup dengan air sebagai faktor utama," katanya. "Dan kita harus belajar bagaimana memanfaatkan pemanasan global untuk keuntungan kita."
Laporan tambahan oleh Jarupat Karunyaprasit
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.