FOKUS: Ekonomi ruang udara rendah, ambisi baru China yang belum juga lepas landas
China tengah gencar mendorong kebijakan menjadikan drone dan taksi terbang bagian dari kegiatan bisnis sehari-hari. Namun, kemajuan yang tidak merata dan aturan yang belum matang berisiko menggagalkan ambisi tersebut.
China sedang gencar mendorong penggunaan drone dan taksi udara sebagai bagian dari kegiatan bisnis sehari-hari. Namun, tantangan besar menghalangi ambisi besarnya. (Ilustrasi: CNA/Rafa Estrada)
SHENZHEN: Pada siang hari yang lembap di Pusat Konvensi Internasional Yanzi Lake, Shenzhen, gambaran akan masa depan dunia penerbangan seakan telah berubah rupa, bukan lagi jet ramping yang mewah, tetapi lebih sederhana dari itu: sebuah skuter lipat.
Startup lokal Hope Loong memamerkan purwarupa “motor terbang” buatannya, sebuah kendaraan roda tiga dengan baling-baling tersembunyi. Kendaraan ini dirancang untuk bisa melaju di jalanan biasa, atau terbang di udara selama beberapa menit untuk menghindari kemacetan.
“Kami berfokus lebih dulu pada kualitas produk,” kata CEO perusahaan itu, Pan Dewu. “Regulator akan menyesuaikan seiring kematangan produk kami. Kami akan terus melakukan uji coba, mengumpulkan data keselamatan, dan menyerahkannya kepada otoritas terkait.”
Ini merupakan potret kecil namun signifikan dari tumbuh pesatnya ekonomi ruang udara rendah di China, sebuah dorongan kebijakan untuk menjadikan drone, taksi terbang, dan penerbangan berkecepatan rendah lainnya sebagai bagian dari kegiatan bisnis sehari-hari.
Potensi manfaatnya sulit diabaikan: mengurai kemacetan, mempercepat pengiriman barang, serta membuka peluang layanan baru di berbagai sektor mulai dari pariwisata hingga kesehatan.
Namun ambisi Beijing menjadikan sektor ini mesin pertumbuhan baru tumbuh lebih cepat daripada kerangka aturannya. Sementara inovasi terus melaju, otoritas memilih berhati-hati dan menempatkan keselamatan di atas kecepatan.
Hampir dua tahun sejak inisiatif ini dimulai, hasilnya pun belum merata. Meski puluhan zona uji coba telah beroperasi, hanya sedikit yang benar-benar mencapai tahap komersial.
Menurut analis, dorongan China di sektor ruang udara rendah mencerminkan tarik-menarik antara ambisi dan kehati-hatian—menguji seberapa cepat negara itu dapat mewujudkan visinya secara nyata dan berkelanjutan.
Emerson Xu, CEO perusahaan konsultan mobilitas udara canggih NexAvian yang berbasis di Singapura, mengatakan para produsen China masih berusaha menyeimbangkan efisiensi biaya dengan standar keselamatan yang ketat.
“Negara-negara Barat memiliki keunggulan lebih dari satu abad dalam belajar lewat penerbangan, kegagalan, dan perbaikan, sementara China mencoba memadatkan proses pembelajaran itu dalam hitungan tahun,” ujarnya kepada CNA.
“Tapi dengan fokus nasional dan kecerdikan insinyurnya, saya yakin China pada akhirnya akan mampu menyusul, bahkan melampaui, dengan memanfaatkan pengalaman global tersebut.”
AMBISI SETINGGI LANGIT
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan ekonomi ruang udara rendah?
Secara sederhana, istilah ini mencakup seluruh kegiatan komersial yang berlangsung di ruang udara dengan ketinggian di bawah 1.000 meter dan bisa diperluas hingga 3.000 meter, meliputi operasi drone pengantaran, penerbangan wisata, penyemprotan tanaman, pengiriman kargo, hingga misi bantuan bencana.
China telah menetapkan sektor ini sebagai prioritas nasional.
Untuk pertama kalinya, ekonomi ruang udara rendah dimasukkan dalam Laporan Kerja Pemerintah pada Maret 2024, ketika Beijing berjanji mengembangkan “mesin pertumbuhan baru” di langit bersama kecerdasan buatan (AI) dan “industri masa depan” lainnya.
Komitmen itu dipertegas lewat Rencana Lima Tahun ke-15, cetak biru pembangunan China yang disahkan dalam pertemuan politik terbaru.
Rencana tersebut menempatkan ekonomi ruang udara rendah, atau dikong jingji dalam bahasa Mandarin, sebagai industri strategis di samping sektor lain seperti kedirgantaraan dan energi baru—istilah payung Beijing untuk energi terbarukan dan energi bersih.
Administrasi Penerbangan Sipil China (CAAC) memperkirakan nilai ekonomi ruang udara rendah akan mencapai 1,5 triliun yuan (Rp3.519 triliun) pada akhir tahun ini dan 3,5 triliun yuan (Rp8.205 triliun) pada 2035.
Tiga puluh wilayah di seluruh negeri telah memasukkan industri ini dalam rencana kerja mereka.
Provinsi Guangdong muncul sebagai pusat peluncuran utama berkat basis industrinya yang kuat, koordinasi regional yang solid, dan dorongan kebijakan sejak dini. Provinsi manufaktur di selatan China ini mengklaim memiliki lebih dari 15.000 perusahaan yang terkait dengan ekonomi ruang udara rendah—hampir sepertiga dari total nasional.
Tiga kota utama, yaitu Guangzhou (ibu kota provinsi), Shenzhen, dan Zhuhai, menjadi penggerak pertumbuhan, didukung oleh kota-kota satelit seperti Foshan, Dongguan, dan Huizhou.
Guangzhou, tempat berdirinya perusahaan lokal terkemuka EHang, menjadi tuan rumah bagi pesawat eVTOL (electric vertical take-off and landing/pesawat listrik terbang dan mendarat secara vertikal) penumpang pertama di China yang mendapat sertifikasi untuk penggunaan komersial. Pesawat itu melayani penerbangan wisata jarak pendek di bawah pengawasan regulator.
Di pusat teknologi Shenzhen, pemerintah kota bergerak dari wacana ke aksi. Kota itu berencana membangun lebih dari 1.000 rute penerbangan dan 1.200 lokasi lepas landas pada 2026, dengan hampir tiga perempat ruang udara di bawah ketinggian 120 meter sudah dibuka.
Keterbukaan tersebut menjadikan Shenzhen zona uji coba paling aktif di China, melampaui Shanghai dan Chengdu, dengan koridor penerbangan yang melintasi kawasan industri, destinasi wisata, dan jalur pesisir.
Ambisi itu sejalan dengan berbagai insentif. Awal bulan ini, Shenzhen meluncurkan salah satu kebijakan paling besar di China, menawarkan hadiah 15 juta yuan (Rp35,2 miliar) untuk setiap eVTOL penumpang bersertifikat, serta insentif tambahan bagi operator drone berdasarkan volume penerbangan dan pembukaan rute baru.
Kota itu juga memiliki fasilitas seperti Shensi Lab, laboratorium pertama di China yang membantu perusahaan menguji pesawat di bawah kondisi angin dan efek pulau panas buatan untuk memperkuat data keselamatan sebelum memperoleh izin operasi.
Di sebelah barat, Zhuhai telah membuka jalur uji coba taksi udara helikopter yang menghubungkan kota-kota di wilayah Greater Bay Area, yaitu klaster ekonomi di selatan yang mencakup Hong Kong, Makau, dan sembilan kota di Provinsi Guangdong. Jalur ini memangkas waktu perjalanan antarkota dari tiga jam melalui jalur darat menjadi sekitar 30 menit.
Sementara itu, kota-kota lain seperti Hefei, Tianjin, dan Chengdu tengah mengembangkan proyek percontohan khusus yang berfokus pada manufaktur, sertifikasi, serta uji terbang publik di sektor ruang udara rendah.
China juga mulai menyiapkan sumber daya manusia untuk mendukung lepas landasnya sektor ini.
Pada Agustus lalu, Kementerian Pendidikan menerima pengajuan dari 120 universitas untuk membuka program studi “teknologi dan rekayasa ruang udara rendah”, menyusul 23 institusi yang sudah mendapat persetujuan tahun sebelumnya.
Angkatan pertama memulai kuliah pada September tahun lalu di universitas seperti Nanjing University of Aeronautics and Astronautics dan Anhui University di Hefei, dengan fokus pada kendali penerbangan, manajemen lalu lintas udara, serta sistem jaringan untuk operasi ruang udara rendah di masa depan.
Para pengamat industri menilai kecepatan perkembangan sektor ini mencerminkan kombinasi antara kemajuan nyata dan dorongan kebijakan pemerintah.
“Sekitar 60 persen merupakan kemajuan komersial nyata, dan 40 persen sisanya dipicu kebijakan,” ujar Kenneth Goh, direktur manajemen kekayaan pribadi di UOB Kay Hian.
Ia mengingatkan bahwa antusiasme kebijakan juga membawa risiko, menyinggung sektor kendaraan listrik dan tenaga surya yang sempat mengalami “kelebihan investasi dan duplikasi” setelah sukses di awal.
“Ketika Beijing menyebut sesuatu sebagai ‘mesin pertumbuhan baru’, pemerintah daerah berbondong-bondong membangun klaster, sering kali menggandakan kapasitas,” ujarnya kepada CNA.
“Teknologinya matang dan bisnisnya menguntungkan, tetapi investasi infrastrukturnya masih dipanaskan oleh kebijakan. Ini bukan proyek jangka pendek, melainkan arah pembangunan hingga 2035.”
MENGHADAPI TURBULENSI
Meski kemajuannya pesat, jalur penerbangan ruang udara rendah China masih dihadang berbagai tantangan.
Salah satunya adalah regulasi, yang dinilai masih tertinggal dari laju inovasi, menurut analis dan pelaku industri.
Aturan yang berlaku saat ini untuk penerbangan pesawat tanpa awak hanya mencakup drone yang digunakan dalam logistik, pembuatan film, dan inspeksi.
Adapun eVTOL penumpang dan pengangkut kargo berat berada di bawah kewenangan Administrasi Penerbangan Sipil China (CAAC), yang mewajibkan sertifikasi kelaikan udara dan izin operator penuh, sebuah proses yang menurut perusahaan dapat memakan waktu bertahun-tahun.
“Kerangka hukum masih berusaha mengejar ketertinggalan,” kata Helen Wong, pengacara investasi dan korporasi yang berbasis di China, kepada CNA.
Ia menambahkan bahwa pengawasan terbagi antara militer, otoritas penerbangan sipil, dan pemerintah daerah. Persetujuan penerbangan sementara bisa memakan waktu hingga dua minggu, sementara penerapan aturan yang tidak konsisten menimbulkan kondisi yang disebutnya sebagai “satu provinsi, satu kebijakan”.
China sedang merevisi Undang-Undang Penerbangan Sipilnya untuk pertama kalinya dalam 30 tahun dengan menambahkan aturan baru guna mendukung pesatnya pertumbuhan ekonomi ruang udara rendah.
Draf rancangan pada Juni 2025 menyerukan pengawasan terpadu, manajemen ruang udara yang lebih cerdas, dan standar keselamatan yang lebih ketat, meski belum ada jadwal penerapan perubahan tersebut.
Pilar utama revisi itu mencakup optimalisasi alokasi ruang udara rendah, pembangunan sistem nasional untuk manajemen penerbangan dan kelaikan udara bagi drone serta eVTOL, dan dorongan inovasi dalam manufaktur pesawat serta infrastruktur untuk mendukung operasi yang aman dan dapat dikembangkan secara luas.
“Tidak cukup hanya memikirkan kendaraan terbang atau aturan penerbangannya,” ujar perwakilan EHang, He. “Kita juga harus mempertimbangkan bagaimana semuanya terintegrasi dengan lalu lintas darat, sistem kereta, bahkan pergerakan pejalan kaki.”
Pertimbangan itu sangat relevan bagi “motor terbang” buatan Hope Loong, yang oleh CEO-nya, Pan Dewu, digambarkan sebagai kendaraan hibrida—setidaknya untuk saat ini.
“Harus realistis, teknologi penerbangan belum sepenuhnya matang. Anda tidak akan menggunakannya untuk transportasi udara rutin. Saat ini fungsinya untuk penerbangan singkat, keadaan darurat, atau menghindari kemacetan beberapa menit di dalam kota. Ketika tidak terbang, kendaraan ini seharusnya bisa digunakan di darat,” ujarnya.
Menurut analis dan lembaga riset yang berafiliasi dengan pemerintah, kemajuan teknologi justru menjadi tantangan baru bagi ambisi China di sektor ruang udara rendah.
Meski China unggul di segmen drone konsumen, eVTOL untuk penumpang masih bergantung pada chip, sensor, dan sistem kendali penerbangan impor—ketergantungan yang memperlambat proses sertifikasi dan meningkatkan biaya, menurut pelaku industri.
Laporan tahun 2025 tentang ekonomi ruang udara rendah yang diterbitkan oleh China Electronics Information Industry Development Research Institute menyebut daya tahan baterai dan ketergantungan pada teknologi inti sebagai hambatan utama dalam memperluas skala industri.
Namun pada akhirnya, faktor penentu utama tetap keselamatan. Regulator menegaskan bahwa aspek ini harus benar-benar terjamin sebelum industri ruang udara rendah bisa berkembang sepenuhnya.
Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) telah menetapkan prinsip “tiga prioritas”: kargo lebih dulu daripada penumpang, pemisahan sebelum integrasi, dan wilayah pinggiran sebelum kawasan perkotaan.
“Keselamatan adalah prasyarat utama bagi pengembangan ekonomi ruang udara rendah,” kata juru bicara komisi tersebut, Li Chao, pada April lalu.
Para pakar dan pelaku industri juga mengatakan bahwa keselamatan berjalan beriringan dengan kepercayaan publik, terutama ketika perusahaan mulai melirik operasi penumpang di langit kota yang padat.
Menurut pelaku industri, regulator telah “mengendurkan tempo” setelah gelombang uji terbang pada 2022–2023, dan pedoman internal saat ini membatasi penerbangan penumpang baru sampai setidaknya 2026.
“Sistemnya masih sangat baru dan belum sepenuhnya siap, sementara regulator memiliki pola pikir garis merah—mereka khawatir perusahaan akan bergerak terlalu cepat tanpa jaminan keselamatan yang memadai,” ujar He dari EHang kepada CNA.
“Bahkan jika teknologi dan kebijakan sudah siap, masyarakat tetap membutuhkan waktu untuk mempercayai moda penerbangan baru ini. Tanpa transparansi terkait keselamatan atau asuransi, sulit bagi industri muda seperti ini untuk mendapat kepercayaan penuh,” tambahnya.
Sejumlah insiden turut memperkuat sikap hati-hati tersebut. Pada September lalu, dua pesawat eVTOL XPeng AeroHT bertabrakan di udara saat latihan untuk Changchun Airshow, dan salah satunya terbakar ketika mendarat.
Beberapa hari kemudian, influencer China Tang Feiji meninggal di Sichuan setelah pesawat ultraringan yang dikemudikannya jatuh saat siaran langsung. Analis mengatakan kedua insiden itu menunjukkan benturan antara inovasi dan aspek keselamatan.
“Di Barat, keselamatan diperoleh melalui pengalaman terbang,” kata Xu dari NexAvian, yang saat ini bekerja sama dengan sejumlah klien di China, kepada CNA.
“Namun pendekatan China berbeda… pemerintah justru lebih dulu panik sebelum Anda sempat melakukannya.”
PERLAHAN TAPI PASTI
Untuk saat ini, penerapan komersial masih berfokus pada penggunaan praktis di darat, dengan drone pertanian dan industri menjadi sektor yang paling matang.
Di Qinhuangdao, Provinsi Hebei, drone kini mengangkut hasil panen dari lereng pegunungan yang dulu hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Sementara di Xinjiang bagian selatan, 21 drone penyemprot “bersayap besi” melakukan penyemprotan defolian secara presisi sebelum panen kapas—meningkatkan efisiensi dua kali lipat dibandingkan mesin konvensional.
DJI, perusahaan asal Shenzhen yang menjadi salah satu pelopor inovasi drone di China, mengatakan kepada CNA bahwa kebijakan pemerintah kini mulai menyusul kemajuan yang telah dibangun sektor swasta selama bertahun-tahun.
“Kami telah menghabiskan lebih dari satu dekade untuk menguji keandalan dan keselamatan dalam kondisi nyata, mulai dari penyemprotan tanaman dan patroli jaringan listrik hingga pemadaman kebakaran dan penyelamatan darurat,” ujar juru bicara DJI.
“Di kota, perizinan masih ketat, tetapi di wilayah pedesaan dan kawasan industri, penerapan teknologinya berkembang pesat.”
Menurut Goh dari UOB Kay Hian, justru penggunaan yang “terlihat membosankan” dalam keseharian saat ini menjadi sumber pendapatan utama.
“Jenis penggunaan ini memberikan hasil langsung dan menjadi dasar bagi ambisi yang lebih besar di masa mendatang,” ujarnya.
Namun jalan menuju keberhasilan komersial yang lebih luas masih belum merata, dengan sejumlah perusahaan rintisan belum memperoleh keuntungan karena masih menjalani proses sertifikasi yang panjang.
Salah satunya adalah ZD Space X, startup asal Guangzhou yang telah menginvestasikan sekitar 30 juta yuan (Rp70,4 miliar) dan masih berada pada tahap uji coba menuju sertifikasi.
“Sebagian besar perusahaan di sektor kami belum mencetak laba pada tahap ini. Itu mencerminkan fase perkembangan industri saat ini,” kata CEO ZD Space X, Ma Xiao, kepada CNA.
Ia menekankan bahwa sektor pariwisata dan kargo untuk sementara menjadi skenario paling realistis, meski ia percaya “dorongan ekonomi yang sebenarnya” pada akhirnya akan datang dari operasi penumpang.
Di tengah lanskap industri seperti ini, prioritas bisnis mulai bergeser dari tahap uji coba menuju ketahanan jangka panjang.
Menurut pelaku industri, sejumlah perusahaan yang semula berfokus pada penerbangan penumpang kini mengalihkan arah ke rute wisata dan pengangkutan kargo karena proses perizinannya lebih mudah dan risikonya lebih rendah.
Wakil Presiden EHang, He, mengatakan program uji coba semacam itu penting untuk membangun kepercayaan. Perusahaan tersebut kini mengoperasikan penerbangan wisata jarak pendek di Guangzhou dan Hefei.
“Area wisata memberi kami ruang tengah yang lebih aman,” ujarnya. “Kegiatan ini menghasilkan pendapatan nyata dan masukan langsung, sekaligus membantu regulator menyempurnakan kebijakan sebelum penerbangan diperluas ke wilayah udara perkotaan.”
Perusahaan lain, Movector X yang berbasis di Beijing, kini fokus pada drone ruang udara rendah dengan kapasitas angkut sekitar 150kg. Sebagian besar pesanan datang dari sektor logistik dan operasi penyelamatan darurat.
“Penerbangan penumpang harus menunggu aturan kelaikan udara dan keselamatan benar-benar siap,” kata Ma Ning, kepala pemasaran Movector X, kepada CNA.
Ia menambahkan bahwa penerbangan kargo dapat memperoleh izin operasi hanya dalam satu hari, sementara sertifikasi penumpang bisa memakan waktu bertahun-tahun.
Beberapa perusahaan mulai belajar dari pengalaman pesaing. “Fengfei Aviation beralih dari layanan penumpang ke kargo dan mendapat sertifikasi dalam waktu kurang dari setahun,” ujar Ma Xiao dari ZD Space X.
“Kami mengikuti langkah itu.”
Sementara menunggu izin, perusahaan yang masih berada pada tahap pendanaan pertama ini meluncurkan program pelatihan pilot drone berlisensi untuk menghasilkan pemasukan tambahan.
“Pelatihan memberi kami arus kas sekaligus menyiapkan tenaga terampil,” kata Ma Xiao. “Mereka inilah yang nantinya akan mengoperasikan eVTOL kargo dan penumpang dengan aman setelah regulasinya siap.”
PEMBERHENTIAN BERIKUTNYA: ASIA TENGGARA
Sambil membuka ruang udara domestik secara bertahap, perusahaan-perusahaan China mulai menjajaki peluang di langit luar negeri.
Beberapa perusahaan mengatakan kepada CNA bahwa mereka telah menerima permintaan dari Indonesia untuk layanan penerbangan jarak pendek antarpesisir yang mengangkut penumpang dan barang.
Pasar ini menjanjikan tetapi masih terbatas. Data industri mencatat Indonesia menguasai sekitar 4 persen dari total armada helikopter di Asia Pasifik, mencerminkan besarnya potensi pasar sekaligus keterbatasan dalam tingkat kesiapan.
Asha Wadya Saelan, pendiri Asosiasi Sistem dan Teknologi Nirawak Indonesia serta Chief Operating Officer BETA-UAS, perusahaan pengembang dan produsen kendaraan udara tanpa awak, mengatakan ekspor harus dimulai secara bertahap.
“Ekspor perlu dilakukan per fase. Uji coba dan kargo menjadi langkah awal, sementara layanan penumpang baru bisa dimulai setelah Indonesia memvalidasi sertifikat dan ekosistem daratnya siap,” ujarnya kepada CNA.
Kerangka regulasi di Indonesia sudah memungkinkan pemberian otorisasi khusus bagi pilot selagi operator membangun pengalaman. “Keberhasilan akan bergantung pada kesesuaian sertifikasi, kesiapan operator, dan integrasi antara manajemen lalu lintas nirawak dengan sistem kendali udara konvensional,” tambahnya.
Di Thailand, EHang telah meluncurkan proyek Advanced Air Mobility (AAM) “sandbox” bersama Otoritas Penerbangan Sipil Thailand dan mitra lokal, zona uji untuk sistem transportasi udara generasi baru yang menggunakan pesawat listrik atau hibrida.

Uji coba berlangsung di Bangkok, dengan rencana ekspansi ke Pattaya, Koh Larn, Phuket, dan Koh Samui.
Perusahaan menyebut pendekatan luar negeri ini selaras dengan strategi hati-hati di dalam negeri, di mana layanan baru dijalankan setelah ada cukup data operasional. “Kami terbang di bawah pengawasan, mengumpulkan bukti, lalu membangun kepercayaan,” ujar seorang eksekutif kepada CNA.
Analis menilai ekspansi ke luar negeri bukan sekadar urusan penjualan. Seperti dijelaskan Xu dari NexAvian, memperkenalkan kategori kendaraan baru membutuhkan proses pembelajaran lokal yang mencakup faktor cuaca, kemampuan pemeliharaan, dan penerimaan publik.
Bagi perusahaan China, rute awal di Asia Tenggara berfungsi ganda sebagai laboratorium hidup—tempat untuk menyempurnakan prosedur, melatih kru, dan menyelaraskan sertifikasi—sementara di dalam negeri, pendekatan “kargo dan wisata lebih dulu” tetap menjadi prioritas.
Singapura memainkan peran koordinatif dalam merancang pedoman kawasan untuk taksi udara dan drone.
Otoritas Penerbangan Sipil Singapura (CAAS) pertama kali mengusulkan pedoman bersama itu pada November 2023. Materi acuan kemudian dikembangkan bersama oleh CAAS dan 23 mitra regional, dan diadopsi pada Juli tahun ini.
“Kelompok ini juga akan menyerahkan materi acuan tersebut ke Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) untuk menjadi rujukan adopsi global,” ujar CAAS dalam pernyataan pada 17 Juli.
Namun, pengembangan sektor ruang udara rendah di Singapura juga menghadapi hambatan.
Pada 2023, perusahaan Jerman Volocopter menunda peluncuran taksi udara di kawasan Marina Bay karena kekurangan pendanaan.
Perusahaan itu kemudian mengajukan kebangkrutan pada Desember 2024 sebelum direorganisasi di bawah Diamond Aircraft Group Austria, bagian dari Wanfeng Auto Holding Group asal China.

Xu menjelaskan bahwa dalam transaksi aset seperti ini, perjanjian lama otomatis batal kecuali diperbarui, sehingga Singapura kemungkinan harus mencari mitra baru untuk melanjutkan uji coba taksi udara.
Meski begitu, menurut Xu, kekuatan kelembagaan dan posisi strategis Singapura menjadikannya tempat uji yang ideal bagi sektor yang tengah berkembang ini.
Teknologi AAM dan ekonomi ruang udara rendah diperkirakan akan menjadi salah satu agenda utama dalam Singapore Airshow 2026.
MASA DEPAN YANG CERAH?
Secara global, perlombaan mengembangkan ekonomi ruang udara rendah masih dalam tahap pembentukan.
Di Amerika Serikat, pemerintahan Donald Trump telah melonggarkan pembatasan bagi drone komersial untuk terbang di luar jangkauan pandang operator, langkah yang diharapkan mempercepat integrasi drone ke dalam sistem ruang udara nasional.
Otoritas penerbangan AS, Federal Aviation Administration (FAA), menyetujui lebih dari 27.000 penerbangan semacam itu pada 2023, naik tajam dari hanya 1.300 pada 2020.
Di Eropa, regulator tengah berupaya menyelaraskan standar sertifikasi eVTOL di lima negara dengan target penyelesaian pada 2027.
Sementara itu, Dubai mulai menyiapkan koridor udara khusus untuk layanan taksi terbang yang dijadwalkan diluncurkan pada 2026.
Wilayah Osaka di Jepang juga telah mengumumkan rencana rute eVTOL yang menargetkan 2028 dan seterusnya. Kota tersebut bahkan telah menggelar demonstrasi penerbangan pada pameran internasional Expo 2025 awal tahun ini.
Menurut analis, jalur pengembangan industri di China lebih terkoordinasi.
“Setiap pihak menanggapi seruan langsung dari kepala negara,” ujar Xu dari NexAvian, seraya mencatat bahwa kecepatan pendekatan dari atas ke bawah itu juga bisa menyebabkan jeda ketika regulator memperketat pengawasan.
He dari EHang menjelaskan peta jalan empat tahap pengembangan industri: uji coba awal, layanan penumpang massal dengan tarif terjangkau, operasi rutin di seluruh kota, dan akhirnya operasi berskala besar yang aman. Ia memperkirakan perusahaannya akan memasuki tahap kedua pada 2026, seiring bertambahnya kota yang memperoleh izin operasi komersial.
Pertaruhannya besar bagi China.
Keberhasilan dalam mengembangkan ekonomi ruang udara rendah dan mewujudkan potensi komersial bernilai triliunan yuan dapat membantu China menghadapi permasalahan dalam negeri, mulai dari lesunya belanja konsumen dan meningkatnya pengangguran muda hingga tantangan demografis jangka panjang.
Namun dampaknya melampaui batas negara. Dari penetapan standar sertifikasi hingga restrukturisasi rantai pasok baterai, avionik, dan sistem lalu lintas udara, dorongan Beijing berpotensi memengaruhi bagaimana generasi berikutnya dari penerbangan ruang udara rendah berkembang di seluruh dunia.
Meski prospeknya besar, jalan menuju realisasi masih panjang. Pelaku industri memperkirakan dibutuhkan waktu satu hingga dua tahun lagi sebelum pesawat kargo berukuran menengah mendapat sertifikasi penuh, dan sedikitnya tiga hingga lima tahun sebelum penerbangan penumpang dapat diperluas melampaui rute uji coba terbatas.
Bagi pengusaha seperti Pan Dewu dari Hope Loong, masa tunggu itu sudah menjadi bagian dari model bisnisnya.
“Saya tidak bisa menunggu dua atau tiga tahun hingga sertifikasi penuh sebelum mulai menjual,” ujarnya.
“Karena itu, kami terus melakukan uji terbang dan menyerahkan data kepada regulator, sambil menjaga arus kas lewat layanan sewa dan demonstrasi.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.