Skip to main content
Iklan

Asia

Dari nasi ayam ke raja buah: Hainan wujudkan ambisi durian lokal China

Menghadapi ancaman topan, masa tanam panjang, dan skala produksi terbatas, petani durian Hainan mengandalkan teknologi dan buah premium ketimbang mencoba menyaingi volume produksi Asia Tenggara.

Dari nasi ayam ke raja buah: Hainan wujudkan ambisi durian lokal China

Pedagang buah Qin Chunchang di kiosnya di Hongxingang Fruit Wholesale Market, Sanya, China, 5 Agustus 2026. (FOTO: CNA/Lan Yu)

SANYA, Hainan: Sebuah durian hijau menggantung di pohon di perkebunan.

Pemandangan ini bukan di Thailand, Vietnam, atau Malaysia.

Namun, durian itu tumbuh di Hainan, provinsi paling selatan China yang lebih dikenal dengan pantai dan resor tropisnya.

Iklim hangat membuat pulau ini menjadi lokasi uji coba budidaya durian. Hainan kini memang tengah berupaya membangun industri sendiri untuk menghasilkan salah satu buah impor yang paling diminati di China.

Durian Ri6 yang belum dipanen di sebuah perkebunan durian di Sanya, China, 7 Agustus 2026. (FOTO: CNA/Lan Yu)

China mengimpor 1,87 juta ton durian segar senilai sekitar US$7,5 miliar (Rp133 triliun) pada 2025, rekor tertinggi, lebih dari enam kali volume impor satu dekade sebelumnya. Hampir seluruhnya berasal dari Asia Tenggara.

Menurut Agricultural Trade Promotion Centre China, impor durian melonjak sejak 2018, didorong jalur perdagangan dan transportasi yang semakin cepat serta meningkatnya daya beli konsumen.

Citra durian sebagai buah mewah dan popularitasnya di kalangan influencer China turut mendongkrak permintaan, kata Aris Dacanay, ekonom senior ASEAN di HSBC.

"Terjadi ledakan permintaan durian yang sangat besar. Pada satu titik, pertumbuhannya mencapai sekitar 300 persen dalam setahun," katanya kepada CNA.

Kini Hainan mengincar bagian dari pasar tersebut.

Perkebunan durian yang tengah disiapkan untuk penanaman bibit muda di Lingshui, Hainan, China, 7 Agustus 2026. (FOTO: CNA/Lan Yu)

Namun, membudidayakan durian secara konsisten dalam skala besar masih menjadi tantangan, kata para pakar.

Pohon durian butuh waktu bertahun-tahun untuk berbuah, sementara topan menjadi ancaman besar. Para petani juga masih menguji berbagai teknik dan teknologi baru untuk membudidayakan durian di Hainan.

BERAWAL DARI KETIDAKSENGAJAAN?

Pohon durian sebenarnya sudah ditanam secara sporadis di Hainan sejak 1950-an, kata Feng Xuejie, direktur Tropical Fruit Research Institute di Hainan Academy of Agricultural Sciences, lembaga penelitian pertanian tingkat provinsi.

Namun, budidayanya tak pernah berkembang menjadi industri komersial.

Titik balik terjadi secara kebetulan pada 2014, ketika pemilik perkebunan rambutan di Baoting pergi ke Vietnam untuk mencari bibit manggis, kata Feng.

Seorang pemilik rumah pembibitan di sana memberinya 100 bibit durian dengan harapan dapat membuka pasar buah tersebut di China.

Setelah dibawa ke Hainan, bibit-bibit itu ditanam di sepanjang jalan. Beberapa tahun kemudian, sekitar 40 pohon berhasil berbuah.

Pakar durian Feng Xuejie (kiri) dan pengelola perkebunan rambutan Yu Desheng bersama panen durian pertama perkebunan tersebut di Baoting, Hainan, pada 2019. (FOTO: Feng Xuejie)

Keberhasilan itu menarik perhatian pelaku lain, termasuk Hainan Youqi Agricultural Company.

"Kami berpikir, kalau mereka bisa menanamnya, kami pasti juga bisa," kata Wakil Manajer Umum Zhang Xilai kepada CNA.

Perusahaan itu mulai membudidayakan durian secara besar-besaran di Sanya pada tahun berikutnya dan kini memiliki lebih dari 1.000ha perkebunan durian di Hainan.

"Permintaan durian di pasar domestik sangat besar," kata Zhang.

"Kami melihat industri ini punya potensi dan bisa berkembang menjadi industri baru."

Zhang Xilai, Wakil Manajer Umum Hainan Youqi Agricultural Company, bersama durian yang belum dipanen di perkebunan perusahaan di Sanya, China, 6 Agustus 2026. (FOTO: CNA/Lan Yu)

Yang Guoping, 44, bekerja di sektor konstruksi selama bertahun-tahun sebelum memutuskan beralih bidang.

Tanpa latar belakang pertanian, Yang menghabiskan beberapa tahun berikutnya belajar langsung dari petani dan pakar sebelum memutuskan membuka perkebunan durian sendiri di bawah Hainan Ningnong Agricultural Technology, tempat ia menjabat sebagai manajer umum.

"Saya melihat penjualan durian di China sangat besar, dan ternyata durian bisa tumbuh di sini," kata Yang.

Yang Guoping di perkebunan duriannya di perbukitan Lingshui, Hainan, China, 7 Agustus 2026. (FOTO: CNA/Lan Yu)

Ia juga ingin membudidayakan "durian premium".

"Saya bertekad mencari tempat dengan pemandangan bagus, sumber air, dan bebas polusi," katanya.

Setelah bertahun-tahun mencoba dan gagal, Hainan mulai membudidayakan durian secara komersial dalam skala kecil pada 2023, kata Feng.

"Meski volumenya secara keseluruhan masih sangat kecil, ini menandai terobosan dari nol menjadi ada," tambahnya.

Kini sekitar 3.300ha lahan di provinsi kepulauan itu ditanami durian, setara 4.600 lapangan sepak bola, meski baru 30 persen yang sudah menghasilkan buah.

Di Sanya saja terdapat lebih dari 50 petani dan perusahaan durian, sementara Ledong yang bertetangga memiliki 18, menurut asosiasi industri setempat.

Perkebunan durian juga terus berkembang di Lingshui dan Baoting.

TANTANGAN BUDIDAYA

Di antara deretan pohon durian di perkebunan Youqi Agricultural Company di Sanya, satu pohon tampak mencolok karena miring ke satu sisi.

Zhang Xilai, wakil manajer umum perusahaan, mengatakan, pohon itu miring akibat diterjang topan, menjadi pengingat akan salah satu tantangan terbesar bagi industri durian Hainan yang masih berkembang.

"Anda bisa menanam pohon durian selama lebih dari 10 tahun, lalu satu topan merobohkannya," katanya.

"Atau buah yang dihasilkan selama setahun bisa rontok semua hanya karena satu topan."

Batang pohon durian ditahan dengan tali setelah rusak diterjang topan di perkebunan Youqi Agricultural Company di Sanya, China, 6 Agustus 2026. (FOTO: CNA/Lan Yu)

Berbeda dengan pohon durian di Asia Tenggara yang dapat tumbuh hingga sekitar 20m di perkebunan komersial, petani China sengaja menjaga pohon mereka tetap pendek.

"Begitu tingginya mencapai enam atau tujuh meter, pucuknya kami potong," kata Zhang, merujuk pada teknik pemangkasan bagian atas pohon.

Sejumlah pohon juga dipasangi terpal pelindung untuk mengurangi terpaan angin kencang, katanya.

Perusahaan itu bekerja sama dengan para peneliti dari China Agricultural University untuk menyesuaikan metode budidaya durian tradisional dengan kondisi Hainan.

Cao Shanzhi, 26, merupakan bagian dari tim beranggotakan sembilan peneliti yang melakukan eksperimen terhadap lebih dari 200 pohon di perkebunan durian Youqi di Sanya.

Perbedaan tanah dan iklim membuat metode budidaya dari daerah lain tidak bisa begitu saja diterapkan di Hainan.

Mencari metode yang tepat membutuhkan waktu, kata Cao. Beberapa eksperimen bahkan perlu sedikitnya dua tahun karena siklus pertumbuhan durian yang panjang.

Ketika satu angkatan peneliti pascasarjana lulus, angkatan berikutnya melanjutkan penelitian mereka.

Cao Shanzhi merupakan bagian dari tim beranggotakan sembilan orang yang meneliti pohon durian di Sanya. (FOTO: CNA/Lan Yu)

Pengelolaan air menjadi tantangan lain, kata para pakar. Pohon durian membutuhkan tanah yang lembap agar tumbuh subur, tetapi terlalu banyak air dapat membuat akar terendam dan membusuk.

Di perkebunan baru milik Yang Guoping di perbukitan Lingshui, CNA melihat air dipompa dari kaki bukit menuju tempat penampungan di atas perkebunan.

Dari sana, air dialirkan ke sistem yang mencampurnya dengan pupuk sebelum disalurkan melalui pipa ke bibit-bibit durian di seluruh lereng.

"Satu orang cukup untuk menjalankan seluruh sistem. Saya bahkan bisa mengendalikannya lewat ponsel," kata Yang.

Yang juga bereksperimen menanam durian di rumah kaca agar kondisi pertumbuhannya lebih mudah dikendalikan.

Di Chengmai, ia berencana mengarahkan pertumbuhan pohon durian pada kerangka berbentuk Y yang dirancang untuk menopang cabang dan buahnya.

"Menurut saya, durian cukup mudah ditanam dengan sukses di rumah kaca karena kondisinya bisa dikendalikan," katanya.

"Kalau hujan, saya bisa menutup seluruh rumah kaca."

Bibit durian yang ditanam pada April tumbuh di dalam rumah kaca milik Yang Guoping di Chengmai, Hainan, China, 2 Agustus 2026. (FOTO: Yang Guoping)

Petani lain bereksperimen dengan pengelolaan air bukan hanya untuk melindungi pohon, tetapi juga mengatur waktu berbuah.

Selama tiga tahun, Youqi menguji apakah pengaturan pasokan air dapat membuat pohon berbunga dan berbuah lebih awal agar panen bisa dilakukan sekitar Tahun Baru Imlek.

"Permintaan (saat itu) sangat tinggi dan harganya juga lebih mahal," kata Zhang, wakil manajer umum perusahaan.

"Dengan begitu, kami bisa memaksimalkan keuntungan."

Namun, mencari varietas yang mampu beradaptasi dengan kondisi Hainan menjadi tantangan lain.

Selain musim panas dan cuaca ekstrem seperti topan, curah hujan di Hainan juga sangat bervariasi sepanjang tahun.

Sejak 2011, Hainan Grand Modern Agriculture Development telah menguji lebih dari 60 varietas durian di perkebunannya di Qionghai, yang terletak lebih ke utara dari sentra utama durian di pulau tersebut.

Lebih dari 10 varietas kini sudah berbuah, termasuk Musang King, Monthong, dan Black Thorn, kata Peng Anji, manajer penjualan perusahaan.

"Kami memprioritaskan varietas yang tahan angin, mudah beradaptasi, dan mampu menghasilkan buah secara stabil," tambahnya.

Durian Musang King (kiri) dan Pata Nan yang tumbuh di perkebunan Hainan Grand Modern Agriculture Development di Qionghai. (FOTO: Hainan Grand Modern Agriculture Development)

INVESTASI BESAR, PENANTIAN LAMA

Memandang perkebunannya seluas 34ha di Lingshui, Yang mengatakan kepada CNA bahwa ia berencana menginvestasikan sekitar 30 juta yuan (Rp79,8 miliar) untuk perkebunan tersebut dan infrastruktur pendukungnya.

Ia harus menunggu empat hingga lima tahun sebelum pohon-pohon itu mulai berbuah.

Yang bahkan telah menghabiskan lebih dari 200.000 yuan (Rp532 juta) untuk membangun jembatan yang menghubungkan beberapa bagian perkebunan di perbukitan itu.

Permintaan durian di China "sangat besar", katanya.

"Saya berinvestasi sebesar ini karena sangat yakin dengan industri durian (lokal)."

Perkebunan milik Yang Guoping di perbukitan Lingshui, Hainan, China, yang tengah disiapkan untuk penanaman bibit durian muda, 7 Agustus 2026. (FOTO: CNA/Lan Yu)

Guolian Group, perusahaan pertanian berbasis di Hainan yang berfokus pada budidaya durian, menetapkan salah satu target ekspansi durian paling ambisius di China.

Perusahaan itu menargetkan pembangunan lebih dari 6.700ha perkebunan durian di Hainan dalam tiga tahun ke depan. Guolian juga berencana mengakuisisi kebun milik petani kecil, termasuk yang pohon duriannya sudah berusia tiga hingga empat tahun, kata Zhang Guoqin, CEO perusahaan induknya, Lanjin Group.

Menurut Zhang, petani kerap menghadapi tekanan keuangan selama menunggu pohon durian mulai berbuah.

"Kalau menemukan kebun seperti itu, kami mengakuisisinya," katanya.

Zhang memperkirakan proyek tersebut dapat menghasilkan sekitar 100 juta durian per tahun setelah mencapai puncak produksi.

Pohon durian Monthong berusia lima tahun di perkebunan yang diakuisisi Guolian Group di Baoting, Hainan, difoto pada Juni. (FOTO: Guolian Group)

Pasar yang menggiurkan menarik banyak petani baru, tetapi pelaku industri mengatakan banyak di antara mereka belum berpengalaman membudidayakan durian.

"Kalau persiapannya tidak memadai, investasi bisa berisiko," kata Lang Haibo, Presiden Sanya Durian Association.

Asosiasi itu berupaya mengurangi risiko dengan memberikan pelatihan dan bimbingan teknis, serta mengadakan kunjungan lapangan bagi petani baru.

Asosiasi tersebut juga tengah menyusun standar industri seiring berkembangnya sektor durian.

"Kalau mereka datang meminta saran, kami akan terus terang menjelaskan kelebihan dan kekurangannya ... serta bagaimana menghindari kesalahan yang pernah kami alami," kata Lang.

Seorang pekerja menanam bibit durian muda di perkebunan milik Yang Guoping di perbukitan Lingshui, Hainan, China, 7 Agustus 2026. (FOTO: CNA/Lan Yu)

DURIAN BERTEKNOLOGI TINGGI?

Di fasilitas pengemasan Youqi di Sanya, seorang pekerja asal Thailand mengecek kematangan durian dengan mengetuk buah menggunakan tongkat kecil dan mendengarkan apakah suaranya lebih berongga.

Namun, kini penilaian manusia bukan satu-satunya cara.

Seorang pekerja asal Thailand mengetuk durian untuk mengecek kematangannya dari suara di fasilitas pengemasan Hainan Youqi Agricultural Company di Sanya, China, 6 Agustus 2026. (FOTO: CNA/Lan Yu)

Setiap durian kemudian diperiksa lagi dengan mesin pemindai, mirip seperti pasien yang menjalani pemeriksaan medis.

Dalam hitungan detik, gambar penampang durian yang masih utuh muncul di layar, di antaranya memperlihatkan jumlah ruang yang terisi daging dan proporsi daging yang bisa dimakan, tanpa perlu membelah buah.

Menurut Zhang, alat tersebut juga dapat mendeteksi hama dan masalah lain di dalam buah.

"Kalau durian datang dalam jumlah besar, pekerja bisa lelah. Mesin tidak," tambahnya.

Durian melewati mesin pemindai yang memeriksa kematangan dan kandungan daging buah tanpa membelah kulitnya di fasilitas pengemasan Hainan Youqi Agricultural Company di Sanya, China, 6 Agustus 2026. (FOTO: CNA/Lan Yu)

Guolian Group tengah mengembangkan sistem ketertelusuran dengan memasang cip pada setiap pohon durian yang terhubung ke sistem navigasi satelit BeiDou milik China. Konsumen nantinya dapat memindai kode pada buah untuk mengetahui perkebunan asalnya.

Menurut Zhang, sistem tersebut dapat meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus membedakan durian Hainan dari produk lain seiring berkembangnya budidaya dalam negeri.

Ia mencontohkan anggur Shine Muscat, yang dulu merupakan buah premium di China tetapi harganya anjlok setelah produksinya meluas ke berbagai wilayah.

"Kalau soal biaya, menurut saya teknologi bukan untuk menghemat uang. Kami justru berinvestasi lebih banyak," katanya.

"Tapi dengan teknologi yang terstandardisasi dan sistem pendukung, kami mungkin bisa menekan biaya dan meningkatkan efisiensi."

MEMBESARKAN MIMPI DURIAN CHINA

Dengan segala ambisinya, Hainan kemungkinan tetap sulit menyaingi negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam dalam skala dan produksi durian.

Pembeli memilih durian Monthong impor dari Thailand di sebuah supermarket di Sanya, China, 5 Agustus 2026. (FOTO: CNA/Lan Yu)

Thailand mengekspor lebih dari 826.000 ton durian ke China pada paruh pertama 2026, menurut data bea cukai China. Nilainya menembus 100 miliar baht (Rp53,2 triliun), mencetak rekor baru.

Ekspor durian Vietnam juga tumbuh pesat sejak mendapat akses ke pasar China pada 2022. Tahun lalu, Vietnam menjadi pemasok durian terbesar China berdasarkan volume, mengakhiri dominasi Thailand selama hampir dua dekade.

Kementerian Pertanian Vietnam memperkirakan nilai ekspor durian negara itu akan melampaui US$4 miliar (Rp71 triliun) pada 2026.

Malaysia, yang selama ini lebih banyak mengekspor durian beku ke China, mengirim durian senilai lebih dari US$30,2 juta (Rp536 miliar) ke pasar China daratan pada enam bulan pertama 2026. Nilainya melonjak 342 persen dibanding periode yang sama pada 2025, menurut data bea cukai.

Menurut para analis, produksi durian Hainan masih sangat kecil jika dibandingkan negara-negara Asia Tenggara.

"Kalau memang sudah berdampak, saya belum melihatnya dari angka-angka yang ada," kata Dacanay dari HSBC.

"Skala kami terlalu kecil," kata Feng dari Hainan Academy of Agricultural Sciences. Menurutnya, memperluas perkebunan hingga 20.000ha saja sudah menjadi "pencapaian luar biasa".

Ia memperkirakan lebih dari 660.000ha lahan di kawasan Asia Tenggara sudah ditanami durian.

Karena itu, menurut Feng, Hainan sebaiknya mengembangkan model "kecil tapi berkualitas" ketimbang bersaing dengan negara-negara Asia Tenggara dalam volume produksi.

"Kami hanya bisa menanam varietas yang sesuai di daerah yang tepat, menghasilkan buah berkualitas tinggi, dan menjualnya dengan harga yang baik," katanya.

Di Hongxingang Fruit Wholesale Market di Sanya, pedagang buah Yu Qian mengatakan, ingin menjual lebih banyak durian Hainan, tetapi pasokannya masih terbatas dan tidak stabil.

"Siapa yang tidak mau menjual produk khas daerah sendiri?"

Pedagang buah Yu Qian di kiosnya di Hongxingang Fruit Wholesale Market, Sanya, China, 5 Agustus 2026. (FOTO: CNA/Lan Yu)

Pedagang lain, Shen Junhe, mengatakan, durian Hainan dipasok dalam jumlah jauh lebih sedikit dan tidak menentu dibanding durian impor.

"Pasokan hariannya memang tidak cukup," katanya.

Namun, bagi sebagian konsumen, rasa jauh lebih penting daripada asal durian.

Liu Xudong, wisatawan dari Changchun di Provinsi Jilin, China timur laut, membeli tiga durian selama berlibur di Hainan.

"Saya tidak terlalu pilih-pilih varietas atau asalnya," katanya kepada CNA. "Kalau enak, saya beli."

Pedagang buah Shen Junhe membelah durian Monthong impor dari Thailand untuk pelanggan di Hongxingang Fruit Wholesale Market, Sanya, China, 5 Agustus 2026. (FOTO: CNA/Lan Yu)

Industri durian Hainan masih dalam tahap berkembang dan para pelakunya cenderung saling bekerja sama.

Asosiasi industri kerap mengadakan pertukaran dan pelatihan, sementara petani yang lebih berpengalaman sering berbagi teknik dengan pendatang baru, kata Lang dari Sanya Durian Association.

"Kami tidak benar-benar bersaing satu sama lain. Kami saling membantu," katanya.

Menurut Lang, lahan yang cocok untuk budidaya durian di China terbatas sehingga Hainan saja tidak akan mampu memenuhi permintaan.

Seorang peneliti memeriksa kondisi tanah bibit durian di Tropical Fruit Research Institute, Hainan Academy of Agricultural Sciences, Sanya, China, 7 Agustus 2026. (FOTO: CNA/Lan Yu)

Hainan Youqi Agricultural Company memilih fokus pada kualitas ketimbang bersaing dalam volume atau harga.

"Kami ingin tampil berbeda. Kami hanya menyasar segmen premium," kata Zhang, wakil manajer umum perusahaan.

"Bukan harga kami yang lebih tinggi. Kualitas kami yang lebih tinggi."

Menurut Zhang, Hainan juga punya keunggulan yang sulit ditiru eksportir Asia Tenggara, yakni lokasinya yang dekat dengan konsumen China.

Karena waktu pengiriman lebih singkat, petani China bisa membiarkan durian matang lebih lama di pohon sebelum dipanen.

Durian yang dipetik pagi hari bahkan bisa sampai di meja konsumen pada sore harinya, katanya.

"Itu keunggulan yang sangat besar untuk durian berkualitas tinggi," kata Zhang.

Sementara itu, durian dengan kualitas lebih rendah dapat diolah menjadi produk seperti permen durian dan durian beku-kering, tambahnya.

Para pekerja menyortir durian berdasarkan kualitas di fasilitas pengemasan Hainan Youqi Agricultural Company di Sanya, China, 6 Agustus 2026. (FOTO: CNA/Lan Yu)

Yang berharap perkebunan duriannya kelak bisa menjadi destinasi wisata.

Setelah pohon-pohonnya dewasa, ia berencana menawarkan wisata petik durian dan penginapan seperti di perkebunan durian Malaysia, tempat pengunjung dapat menginap di kabin mewah berbentuk kapsul di atas bukit, lalu memetik dan menyantap durian matang.

Tujuannya adalah membuat durian lokal lebih mudah dinikmati konsumen China.

"Saya rasa sebentar lagi kita akan bisa menikmati durian sepuasnya," katanya.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan