Eropa ingin persenjatai Ukraina, tetapi ternyata sulit bikin 'drone' tanpa China
Kyiv mendapat pengecualian dari Uni Eropa untuk membeli komponen drone dari China. Menurut para analis, hal ini menunjukkan besarnya peran Beijing dalam rantai pasok, yang sekaligus memberinya pengaruh strategis.
Sebuah drone tipe 'Vampire' lepas landas pada latihan Brigade Mekanisasi Terpisah ke-93 'Kholodnyi Yar' di sebuah lokasi yang dirahasiakan di Ukraina, 10 Maret 2026, di tengah invasi Rusia. (Foto: EPA/Maria Senovilla)
BEIJING: Di tengah tingginya penggunaan drone oleh Ukraina dalam perang melawan Rusia, upaya Uni Eropa (UE) memasok alat utama sistem senjata (alutsista) ke Kyiv menunjukkan betapa sulitnya memproduksi persenjataan nirawak tanpa komponen buatan China.
Kondisi ini semakin terlihat setelah Komisi Eropa pada April mengizinkan Ukraina menggunakan sebagian pinjaman pertahanan UE bernilai miliaran euro untuk membeli drone dengan lebih banyak komponen dari negara di luar daftar pemasok yang disetujui UE.
Meski pejabat Eropa tidak menyebut China, Financial Times (FT) pada 15 Juli melaporkan, mengutip sumber yang mengetahui keputusan tersebut, bahwa Kyiv mendapat “pengecualian” untuk “membeli komponen drone dari China”.
Para analis mengatakan kepada CNA bahwa keputusan itu mencerminkan kenyataan bahwa Eropa mungkin memiliki keahlian teknis untuk membuat komponen drone, tetapi belum mampu menandingi China dalam memproduksinya dengan cepat, murah, dan dalam skala besar.
Keunggulan China bukan terletak pada satu komponen tertentu, melainkan pada ekosistem manufaktur yang dibangun selama puluhan tahun, kata Hao Nan, peneliti Nuclear Futures di Ploughshares Fund dan Horizon 2045, dua organisasi yang bergerak di bidang riset keamanan nuklir dan risiko strategis.
“Fondasi komersial tersebut kini memiliki nilai strategis karena memberi China kapasitas lebih besar untuk meningkatkan skala produksi, mempercepat pengembangan, dan memengaruhi rantai pasok yang tidak dapat dengan cepat digantikan negara lain, terutama pada masa perang.”
Meski pengaruh China tidak mutlak, Beijing tetap dapat memengaruhi rantai pasok yang sulit digantikan Eropa dalam waktu singkat, di tengah upaya berbagai negara mengurangi ketergantungan mereka, kata para analis.
SAAT ATURAN BERHADAPAN DENGAN REALITAS PERANG
Lebih dari empat tahun sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina, drone telah menjadi andalan kedua pihak di medan perang, digunakan dalam jumlah besar untuk pengintaian maupun serangan.
Drone juga hilang, diganti, dan dimodifikasi dengan sangat cepat, tidak dapat diimbangi oleh kemampuan sistem pengadaan alutsista konvensional. Hal ini menjadi perhatian Komisi Eropa pada 30 Juni lalu dengan mengatakan bahwa militer Ukraina bergantung pada ketersediaan produk-produk penting “dalam jumlah yang tepat dan dalam waktu yang sangat singkat”.
Komisi Eropa menyebut drone sebagai “kemampuan utama” yang memungkinkan Ukraina bertahan menghadapi perang Rusia ketika mengumumkan pembayaran pertama sebesar 3,9 miliar euro (Rp80,3 triliun) pada 30 Juni dalam paket pengadaan drone senilai sekitar 6 miliar euro (Rp123,5 triliun).
Untuk mendukung upaya tersebut, UE pada Februari membentuk Pinjaman Dukungan Ukraina senilai 90 miliar euro (Rp1.852,5 triliun), termasuk sekitar 60 miliar euro (Rp1.235 triliun) untuk pengadaan alutsista. Paket drone senilai sekitar 6 miliar euro (Rp123,5 triliun) itu merupakan tahap pertama dari alokasi pertahanan tersebut.
Skema ini ditujukan untuk memperkuat industri pertahanan Ukraina dan basis industri Eropa dengan pengadaan alutsista yang terutama berasal dari Ukraina, negara anggota UE, dan negara mitra yang disetujui.
Namun, pada 1 April, Komisi Eropa menyetujui permintaan Ukraina untuk mendapat pengecualian dari aturan pengadaan tersebut, sehingga drone yang dibeli melalui program itu boleh memiliki lebih dari 35 persen nilai komponen yang berasal dari negara di luar daftar tersebut.
Komisi Eropa menyatakan, syarat pemberian pengecualian itu terpenuhi setelah Kyiv memberikan informasi yang menunjukkan bahwa produsen Ukraina dan Eropa tidak mampu memasok produk yang dibutuhkan dalam jumlah memadai atau sesuai tenggat yang diperlukan.
Laporan FT pada 15 Juli menyebut keputusan itu “memungkinkan Kyiv membeli sejumlah komponen China yang pasokannya tidak mencukupi di Eropa”, mengutip sumber yang mengetahui keputusan tersebut.
Komponen buatan China yang dimaksud belum diidentifikasi secara spesifik, dan Brussels juga belum mengungkap berapa besar dana UE yang dapat digunakan untuk membelinya.
Namun, hal ini menunjukkan bahwa pemasok Eropa dan Ukraina yang memenuhi syarat masih belum mampu memproduksi cukup komponen drone untuk memenuhi kebutuhan Kyiv di masa perang, meski produksi terus ditingkatkan, kata para analis.
KEUNGGULAN CHINA DALAM RANTAI PASOK
Menurut para analis, hal ini juga menunjukkan betapa kuatnya posisi China di sektor tersebut.
“Setiap drone yang digunakan dalam perang di Ukraina bergantung pada China,” demikian bunyi ulasan yang diterbitkan Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada Desember lalu.
“Mulai dari quadcopter seukuran telapak tangan untuk memandu tembakan artileri hingga amunisi jelajah jarak jauh, hampir setiap sistem nirawak yang digunakan kedua pihak mengandung bahan dan komponen yang berasal dari pabrik dan fasilitas pemurnian di China.”
Keunggulan China bukan terletak pada satu teknologi atau program pemerintah, melainkan pada ekosistem manufaktur yang telah berkembang selama puluhan tahun, kata Andrii Tyndyk, CEO sekaligus salah satu pendiri produsen motor drone Ukraina AeroMotors.
“Di Shenzhen dan pusat manufaktur serupa, sebuah perusahaan dapat memperoleh motor, pengendali kecepatan elektronik, konektor, kamera, baterai, antena, pengendali penerbangan, dan perkakas dari para pemasok yang berada dalam ekosistem industri yang sama,” tuturnya kepada CNA.
Sebagai perbandingan, pemasok di Eropa lebih terfragmentasi, umumnya berproduksi dalam jumlah lebih kecil dan tidak memiliki kepastian permintaan alutsista jangka panjang, kata Tyndyk.
Pelanggan AeroMotors mencakup sejumlah produsen drone Ukraina. Pada Desember 2025, perusahaan itu mengatakan mampu memproduksi sekitar 10.000 motor drone per bulan dan menargetkan peningkatan menjadi 60.000 unit seiring naiknya permintaan, setelah mendapat investasi dari perusahaan modal ventura Swedia Front Ventures.
Hao dari Ploughshares Fund mengatakan, masing-masing komponen mungkin tidak “istimewa secara teknologi” bagi Eropa.
“Namun, ekosistem China yang terintegrasi - mulai dari bahan dan komponen hingga perakitan dan logistik - mampu menghasilkan produk yang andal dengan biaya rendah, dalam jumlah besar dan cepat,” katanya.
Menurut Hao, kemampuan itu dibangun selama puluhan tahun berkat permintaan dari sektor sipil, klaster elektronik yang terpusat, kebijakan industri, persaingan, dan skala ekonomi, bukan melalui strategi rantai pasok militer yang sengaja dirancang.
Kemampuan manufaktur itu semakin penting seiring perang di Ukraina mengubah cara pengembangan dan penggunaan drone, kata Bryce Barros, pakar strategi inovasi pertahanan dan teknologi serta peneliti di GLOBSEC, lembaga think tank di Eropa.
“Teknologi berubah begitu cepat sehingga yang semakin penting adalah memiliki ekosistem yang mampu mendukung pengembangan pesat tersebut, bukan berfokus mengembangkan satu produk atau platform tertentu,” katanya kepada CNA.
PUNYA PENGARUH, TAPI BUKAN BERARTI BEBAS BERTINDAK
Posisi China yang telah mengakar dalam rantai pasok drone memberi Beijing keunggulan yang “lebih bersifat struktural ketimbang transaksional”, kata Hao dari Ploughshares Fund.
“China tidak ingin Eropa menganggapnya membantu Rusia, ataupun Moskow menganggapnya mempersenjatai Ukraina.”
Upaya menjaga keseimbangan ini berlangsung ketika Brussels berulang kali menuduh Beijing membantu menopang upaya perang Rusia dengan memasok barang dan teknologi guna-ganda ke industri militer Moskow, tuduhan yang terus dibantah China. UE telah menjatuhkan sanksi terhadap lebih dari 100 perusahaan dan individu China atas dugaan dukungan terhadap kemampuan militer Rusia.
Beijing mengatakan, pihaknya tetap bersikap objektif dan tidak memihak dalam konflik Ukraina, mendorong perundingan damai, serta menentang sanksi sepihak terhadap perusahaan China.
Menurut Hao, kondisi saat ini tidak sesederhana menjadikan posisi tersebut sebagai alat tawar geopolitik.
Jaringan manufaktur China sangat luas dan tersebar, sementara berbagai komponen mengalir melalui rantai pasok komersial yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan Beijing.
Meski demikian, pembelian yang didanai UE dapat semakin memperkuat posisi pemasok China melalui pesanan yang lebih besar, skala ekonomi, dan potensi “efek ketergantungan pada pemasok”, seperti disebut Hao, sehingga produsen Eropa semakin sulit beralih ke pemasok lain.
Menurutnya, kondisi itu juga memberi Beijing opsi untuk memperketat izin ekspor atau membatasi akses terhadap produk guna-ganda tertentu jika ketegangan politik meningkat.
Beijing sendiri telah menunjukkan kesediaannya memperketat kontrol ekspor terkait drone.
Pada Rabu (5/8), China mengumumkan pembatasan ekspor drone ke Amerika Serikat dan memasukkan enam perusahaan ke daftar hitam sebagai respons atas sanksi perdagangan terbaru Washington.
Namun, seberapa besar pengaruh yang pada akhirnya dimiliki Beijing dari posisi tersebut masih belum jelas, kata para analis.
“Eropa tidak perlu terlalu khawatir bahwa ketergantungannya pada China akan menjadi kerentanan serius,” kata Sun Yun, direktur program China di Stimson Center, lembaga pemikir kebijakan luar negeri yang berbasis di Washington, kepada CNA. Ia mengatakan, kedua pihak kecil kemungkinan berhadapan dalam konflik langsung.
“Namun, ketergantungan itu akan menjadi kerentanan dan memberi China kemampuan untuk memengaruhi agenda serta kebebasan bertindak Eropa,” katanya.
Menurut Hao, upaya menjadikan ketergantungan tersebut sebagai senjata akan “membatasi diri sendiri”. Pembatasan oleh Beijing dapat mendorong Eropa memperketat aturan kandungan lokal, mengambil langkah perdagangan yang lebih tegas, dan mempercepat investasi pada pemasok alternatif, katanya.
Alih-alih sepenuhnya meninggalkan pemasok China, Hao memperkirakan, pasar akan bergerak menuju apa yang disebutnya sebagai “rantai pasok tersegmentasi”.
Menurutnya, sistem militer yang lebih sensitif dan terhubung akan semakin banyak menggunakan komponen dari Eropa atau mitra tepercaya, sementara komponen China yang lebih murah masih dapat digunakan untuk drone sekali pakai yang diproduksi dan hilang dalam jumlah besar.
“Perusahaan China mungkin tetap memiliki peran komersial dalam jangka panjang, tetapi ketergantungan saat ini juga akan mempercepat investasi Eropa dalam produksi di dalam negeri dan Ukraina,” kata Hao.
MEMBANGUN ALTERNATIF BUTUH WAKTU BERTAHUN-TAHUN
Upaya mengurangi ketergantungan Eropa pada pemasok komponen drone China kemungkinan membutuhkan waktu bertahun-tahun, bukan hitungan bulan, kata para produsen dan analis.
Dengan investasi yang memadai dan kepastian permintaan, Ukraina dan Eropa dapat meningkatkan produksi di hampir setiap tahap pembuatan drone, termasuk perakitan akhir, pengujian, penyeimbangan, sistem kendali mutu, dan peralatan darat, kata Tyndyk dari AeroMotors.
Namun, pemerintah dan pembeli alutsista perlu lebih dulu meyakinkan produsen untuk berinvestasi dengan menyediakan pembayaran di muka, pesanan jangka panjang, dan jaminan.
“Kita tidak bisa membangun industri drone yang mandiri dengan mendanai ratusan perusahaan perakitan akhir sementara produsen komponennya kekurangan modal.”
Sejumlah tantangan terbesar bukan terletak pada perakitan komponen jadi, melainkan pada produksi bahan khusus yang digunakan untuk membuatnya. Salah satu contohnya adalah magnet permanen, komponen penting dalam banyak motor listrik drone, kata Tyndyk.
“Memiliki cadangan logam tanah jarang tidak serta-merta bisa menciptakan industri magnet.”
Menurut Tyndyk, produksi magnet permanen berkinerja tinggi juga membutuhkan rantai industri yang mencakup pemurnian bahan tanah jarang dan produksi logam hingga pembuatan serta pengujian magnet khusus.
“Tahap yang paling menuntut secara teknis dan paling penting secara strategis adalah pemurnian, produksi logam, dan pembuatan magnet berkinerja tinggi.”
Menurutnya, fasilitas tersebut membutuhkan kepastian permintaan jangka panjang, modal besar, keahlian teknis, dan investasi bertahun-tahun sebelum dapat berproduksi dalam skala besar.
Tantangan lainnya adalah soal keberlangsungan pengadaan baterai. Barros dari GLOBSEC menyebutnya sebagai “salah satu kendala industri dan teknologi terbesar” dalam rantai pasok komponen drone.
Menurutnya, bahkan ketika baterai diproduksi di luar China, banyak produsen masih bergantung pada mineral penting yang dikuasai China atau kapasitas pengolahan di tahap awal rantai pasok.
“Tidak ada jawaban yang benar-benar jelas untuk mengatasi masalah ini.”
Untuk saat ini, laju diversifikasi akan sangat bergantung pada perkembangan perang, kata Hao dari Ploughshares Fund.
“Operasi berintensitas tinggi yang terus berlangsung akan memaksa Ukraina memprioritaskan jumlah, keterjangkauan harga, dan kecepatan pengiriman dibanding kemandirian rantai pasok,” katanya.
Sementara itu, jika intensitas konflik menurun, produsen Eropa dan Ukraina akan memiliki lebih banyak waktu untuk memilih pemasok, menyesuaikan desain sistem dengan komponen alternatif, dan meningkatkan produksi. Namun, upaya itu tetap membutuhkan investasi berkelanjutan dan komitmen pengadaan jangka panjang, katanya.
Sun dari Stimson Center mengatakan, tidak ada solusi tunggal bagi Eropa.
“Perhitungannya sederhana. Jika Eropa ingin menghindari kerentanan ketersediaan alutsista, mereka harus membangun rantai pasok sendiri, atau rantai pasok yang dapat mereka andalkan,” katanya.
“Namun, biayanya akan lebih tinggi dan tetap tidak sepenuhnya aman karena China juga memproduksi sebagian bahan baku yang masuk ke rantai pasok tersebut. Tidak ada solusi yang sempurna.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.