Datang bawa pacul, menanti dipilih: menyelami nasib pekerja gig yang kian menjamur di China
Ribuan "pos pekerja gig" yang didukung pemerintah bermunculan di China, jadi pintu untuk lowongan pekerjaan kasar berupah rendah. Dalam seri pertama ini, CNA membahas bagaimana para pekerja berusia lanjut dan tidak memiliki pekerjaan tetap terpaksa terjun ke bidang ini.
Para pekerja berdesakan di balik pagar besi di sebuah “pos pekerja gig" di Xinqiao, kota kecil di pinggiran Shanghai. Lokasi yang didukung pemerintah ini menjadi titik perekrutan buruh harian untuk pekerjaan jangka pendek dan serabutan. (Foto: CNA/Bong Xin Ying)
SHANGHAI: Menjelang fajar di Xinqiao, kawasan di pinggiran barat daya Shanghai, China, ratusan orang berkumpul di depan sebuah bangunan sederhana sambil berdesakan di balik pagar besi.
Sebagian besar berusia 50-an hingga 60-an tahun. Mereka berdiri rapat dalam gelap, diterangi lampu neon terang dari pintu masuk serta cahaya jingga redup dari lampu jalan di sekitarnya.
Para pria dari kerumunan itu kebanyakan membawa sekop dan cangkul bergagang kayu. Sementara, para perempuan membawa tas berisikan perlengkapan kebersihan dan lap. Sebagian lainnya mengenakan helm proyek kuning.
Itu adalah peralatan kerja yang mereka bawa sendiri.
Di atas pintu masuk, terpampang papan besar bertuliskan “pos pekerja gig", atau dalam bahasa Mandarin disebut “ling gong yi zhan”.
Tempat ini merupakan satu dari sekitar 9.000 lokasi serupa yang didukung pemerintah di seluruh China, berdasarkan data yang dirilis Dewan Negara pada akhir 2025.
Sebagian besar dibangun dalam tiga tahun terakhir sebagai bagian dari upaya besar-besaran pemerintah Beijing untuk menata sektor tenaga kerja gig. Pos-pos ini difungsikan sebagai titik perekrutan para pekerja gig, yaitu tenaga kerja yang dipekerjakan untuk tugas atau proyek dengan durasi jangka pendek tanpa ikatan kontrak tetap.
Keberadaan pos-pos ini bertujuan untuk menciptakan keteraturan di salah satu segmen pasar tenaga kerja gig yang sangat besar dan terfragmentasi di China. Berdasarkan data resmi, jumlah pekerja di sektor ini telah melampaui 240 juta orang, atau sekitar 30 persen dari total angkatan kerja China.
Namun, pos-pos ini juga menjadi penampungan bagi orang yang tidak mampu mendapatkan pekerjaan yang stabil, yang jumlahnya semakin bertambah. Mereka adalah pekerja konstruksi yang terdampak krisis properti hingga buruk pabrik yang di-PHK akibat otomatisasi atau relokasi industri.
Bagi banyak dari mereka, pekerjaan gig bukan soal fleksibilitas, melainkan pilihan yang tersisa. CNA berbincang dengan para pekerja di pos-pos ini untuk mengetahui bagaimana mereka akhirnya berada di sana — dan apa harapan mereka akan masa depan.
“PEKERJAAN PALING BERAT, DENGAN UPAH PALING RENDAH”
Xu, 66, termasuk di antara mereka yang menunggu pekerjaan datang di pos pekerja gig Xinqiao.
Setiap pagi ia ikut mengantre, berharap mendapat pekerjaan apa pun yang tersedia, mulai dari menata taman, membersihkan sampah, menggali parit, hingga menanam pohon.
Menurut peneliti pasar tenaga kerja dan para pekerja sendiri, sebagian besar orang yang mengantre di sana tidak memiliki sertifikasi keterampilan.
Para pekerja terampil seperti teknisi listrik, tukang las, atau tukang kayu bisa memperoleh 400 hingga 500 yuan (Rp1 juta - Rp1,3 juta) per hari, kata mereka. Namun, pekerja terampil jarang datang ke pos tersebut karena biasanya mereka mendapatkan pekerjaan lewat grup WeChat atau dari rekomendasi mulut ke mulut.
Orang-orang yang berada di pos pekerja gig kebanyakan menjual tenaga mereka.
“Pekerjaan paling kotor, paling berat, dengan upah paling rendah,” kata Xu, yang hanya bersedia menyebut nama marganya.
“Di China, cuma orang seusia kami yang masih mau melakukan pekerjaan seperti ini. Anak muda tidak akan menyentuhnya. Ini lapisan paling bawah dari buruh migran.”
Xu datang ke Shanghai dari Zhoukou di Provinsi Henan sekitar satu dekade lalu, setelah menghabiskan 20 tahun bekerja di pabrik di kampung halamannya.
Di usianya sekarang, bekerja di pabrik bukan lagi pilihan, kata Xu. Ia menggambarkan bagaimana batas usia perekrutan kini turun menjadi sekitar 40 hingga 45 tahun. Di saat yang sama, ia juga ingin memiliki fleksibilitas untuk bisa pulang kapan saja jika ada urusan keluarga. Selama empat hingga lima tahun terakhir, ia rutin datang ke pos pekerja gig ini.
Pada hari yang bagus, Xu bisa menghasilkan 200 yuan (Rp519 ribu). Namun, kadang penghasilannya hanya 180 yuan (Rp467 ribu) atau bahkan 160 yuan (Rp415 ribu). Ia juga pernah tidak mendapatkan pekerjaan selama tiga hingga lima hari berturut-turut. Sementara biaya sewa tempat tinggal saja mencapai 50 yuan (Rp130 ribu) per hari.
“Mau dapat kerja atau tidak, mau punya penghasilan atau tidak, 50 yuan sehari itu pengeluaran minimum hanya untuk bisa bertahan hidup,” ujarnya kepada CNA.
Saat matahari mulai terbit di lokasi Xinqiao, sejumlah van memasuki area tersebut dan para mandor turun untuk mengamati kerumunan. Mereka meneriakkan jenis pekerjaan yang tersedia serta jumlah pekerja yang dibutuhkan.
Sebagian pekerja sebenarnya sudah mendapat pekerjaan sejak malam sebelumnya, setelah lebih dulu menghubungi mandor melalui WeChat. Mereka datang hanya untuk menunggu dijemput.
Sementara bagi yang lain, proses pemilihannya sangat bergantung pada penampilan fisik, mereka yang terlihat lebih muda dan kuat biasanya dipilih lebih dulu, kata Xu. Para pekerja yang terpilih lalu naik ke dalam van sambil membawa peralatan kerja mereka. Kendaraan itu kemudian pergi meninggalkan lokasi. Mereka yang tidak terpilih tetap berdiri di balik pagar.
Saat itu pukul lima pagi. Xu memutuskan menunggu satu jam lagi.
“Kalau para bos sudah mendapatkan orang yang mereka cari dan pergi … ya sudah.”
PILIHAN TERBATAS, TEKANAN MENINGKAT
Di tempat lain di Shanghai, di Jalan Shangchuan, Pudong, diterapkan model lain dari pos pekerja gig.
Lokasi ini adalah pusat layanan pekerja gig yang dikelola pemerintah, fasilitas indoor yang lebih besar, menyediakan layanan pencocokan kerja publik, bersama agen tenaga kerja swasta. Tu Keliang mengelola salah satu agen tersebut, sebuah toko kecil penyalur tenaga kerja di tempat itu.
Bisnis Tu adalah mencocokkan pekerja dengan pekerjaan di pabrik dan sektor jasa, mengenakan biaya agen sebesar 300 yuan (Rp779 ribu)—hanya dibayar jika pekerja diterima.
Jumlah pencari kerja yang datang langsung turun drastis dibanding tahun sebelumnya, kata Tu. Menurutnya, tingginya biaya hidup di Shanghai menjadi penyebab utama. Dengan penghasilan rata-rata 6.000 yuan (Rp15,5 juta) per bulan, pekerja biasanya hanya memiliki sisa kurang dari separuh setelah membayar sewa tempat tinggal, makan, dan kebutuhan sehari-hari.
Padahal, untuk bisa memperoleh 6.000 yuan per bulan, pekerja dengan upah harian 160 hingga 200 yuan (Rp415 ribu–Rp519 ribu) harus bekerja hampir tanpa henti. “Dan itu artinya benar-benar memforsir tenaga,” kata Tu.
Pabrik-pabrik yang dulu memiliki karyawan tetap kini beralih ke pekerja per jam, ujar Tu, seraya berkelakar bahwa asuransi sosial itu mahal.
Perusahaan cenderung menyesuaikan rekrutmen mereka sesuai kebijakan, kata Tu, hanya mengambil pekerja saat ada permintaan dan tidak merekrut ketika pekerjaan sepi.
“Setelah batch (pekerja) ini selesai (bekerja) – lalu apa?” katanya. Para pekerja kemungkinan besar akan kembali ke pos dan menunggu lagi, tanpa kepastian kapan pekerjaan berikutnya datang, tambah Tu.
Ada juga tembok usia. Menurut Tu, perusahaan umumnya tidak menerima pekerja di atas usia 45 tahun, bahkan jika mereka memiliki sertifikasi keahlian.
“Ketika pekerja muda masuk bahkan ke sektor yang ambang batasnya rendah, maka tingkat persaingan akan meningkat,” kata Zhao Litao, peneliti senior di Institut Asia Timur Universitas Nasional Singapura (EAI), kepada CNA.
“Karena mereka sering lebih mudah beradaptasi atau lebih kuat secara fisik, mereka membuat pekerja yang lebih tua tidak dilirik.”
Saat perbincangan berlangsung di pusat layanan pekerja gig itu, seorang pria berusia 47 tahun datang mencari pekerjaan sebagai teknisi listrik. Ia mengaku telah bekerja di proyek konstruksi sejak usia 19 tahun, memiliki sertifikasi resmi, dan baru saja berhenti dari pekerjaannya di Pelabuhan Yangshan karena tak lagi kuat menjalani shift malam.
Hampir bersamaan, seorang perekrut masuk untuk mencari teknisi listrik bagi sebuah gedung perkantoran. Ia melihat pencari kerja tersebut lalu menggelengkan kepala. “Usianya agak terlalu tua,” katanya. “Lebih bagus kalau sekitar 34 atau 35 tahun.”
Beberapa menit kemudian, seorang perempuan berusia 38 tahun dengan pendidikan terakhir SMP datang mencari pekerjaan.
Tu menawarkan beberapa pilihan — pabrik elektronik dan perusahaan otomotif — tetapi semuanya memiliki syarat tertentu. Ada perusahaan yang hanya menerima pekerja di bawah 35 tahun. Ada pula yang menetapkan batas usia maksimal 40 tahun untuk perempuan.
“Saya pernah bekerja di semua tempat itu. Saya tahu kondisi di dalamnya,” kata perempuan tersebut, sambil menambahkan bahwa ia ingin mencari pekerjaan yang “cocok”, tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Ia sebelumnya keluar karena kondisi kerja yang tidak sesuai, dan kini berharap bisa mendapatkan gaji yang lebih baik.
Tu menyarankannya untuk menurunkan ekspektasi dan bersikap realistis. Menurutnya, kondisi pasar tenaga kerja sudah berubah.
“Sekarang gaji ada di kisaran 6.500 hingga 7.000 yuan (Rp16,9 juta hingga Rp18,1 juta) di perusahaan yang bagus. Jangan berharap bisa mendapat bayaran seperti beberapa tahun lalu,” kata Tu.
“Siapa yang tidak mau gaji lebih tinggi? Kami juga mau begitu. Tapi sekarang memang sudah tidak bisa — itu masalahnya.”
Seorang kurir makanan yang kebetulan berada di kantor itu ikut menanggapi ucapan perempuan tadi.
“Saya sudah mencari sejak tahun lalu sampai sekarang, tapi belum juga menemukan pekerjaan yang cocok,” katanya.
“Jangan cuma mengejar uang. Di sini bukan tempat untuk mencari uang puluhan juta.”
MENATA TENAGA KERJA INFORMAL
Pasar perekrutan tenaga kerja informal sebenarnya sudah lama hadir di sudut-sudut jalan di China selama puluhan tahun. Namun, upaya formalisasi dalam skala sebesar ini baru terjadi belakangan, bersamaan dengan menyusutnya sektor-sektor yang sebelumnya banyak menyerap buruh migran berkeahlian rendah.
Jumlah pekerja migran lintas provinsi juga terus menurun, dari 78,67 juta orang pada 2014 menjadi 68,4 juta orang pada 2024, menurut survei tahunan pekerja migran dari Biro Statistik Nasional China.
Pengelola pos dan peneliti tenaga kerja mengatakan kepada CNA bahwa jumlah pekerja yang datang ke pos pekerja gig meningkat dibanding beberapa tahun sebelumnya, dengan profil yang relatif seragam: mayoritas adalah buruh migran berusia lebih tua — laki-laki berusia akhir 50-an hingga 60-an, serta perempuan usia pertengahan 40-an hingga 60-an; sebagian besar tidak memiliki pendidikan setelah jenjang sekolah menengah.
Sun Zhongwei, profesor di South China Normal University yang meneliti pasar tenaga kerja China, mengatakan setidaknya ada empat kelompok utama yang akhirnya datang ke pos pekerja gig.
Mereka adalah petani yang mencari pekerjaan saat musim paceklik; pekerja gig yang memang sejak lama hidup dari pekerjaan serabutan; pekerja konstruksi yang kehilangan pekerjaan akibat krisis sektor properti; serta buruh pabrik yang di-PHK karena otomatisasi atau relokasi pabrik ke provinsi pedalaman dengan biaya lebih murah.
“Jumlah pekerja di sektor gig sebenarnya memang selalu besar,” katanya kepada CNA. “Tapi banyak orang yang kita lihat sekarang sebelumnya bekerja di sektor konstruksi.”
Pembangunan pos pekerja gig secara nasional didorong oleh serangkaian kebijakan pemerintah pusat.
Pada 2022, pemerintah pusat pertama kali menginstruksikan pemerintah daerah untuk membangun pos pekerja gig yang terstandarsisasi menggunakan dana bantuan ketenagakerjaan.
Arahan lanjutan pada 2023 dan 2025 mendorong standardisasi serta mewajibkan pasar pekerja gig menyediakan layanan gratis tanpa memandang status hukou — sistem registrasi rumah tangga di China yang mengklasifikasikan penduduk sebagai warga desa atau kota, dan selama ini menentukan akses terhadap layanan publik seperti kesehatan, pendidikan, dan perumahan berdasarkan lokasi pendaftaran seseorang.
Laporan kerja pemerintah nasional 2026 juga menjanjikan perluasan cakupan jaminan sosial bagi pekerja fleksibel. Sementara itu, sejumlah pemerintah provinsi seperti Beijing dan Heilongjiang secara eksplisit memasukkan pembangunan pasar pekerja gig sebagai prioritas kebijakan.
“Pos pekerja gig pada dasarnya membuat sebagian infrastruktur pasar tenaga kerja ditanggung secara sosial — mulai dari pencocokan kerja, dukungan kesejahteraan, hingga tempat penampungan sementara — sementara perusahaan tetap menikmati fleksibilitas tenaga kerja,” kata Zhao dari EAI.
Menurut survei terhadap lebih dari 6.000 perusahaan di 22 provinsi yang dilakukan Pusat Riset Pembangunan Dewan Negara pada 2023 dan 2024, hampir sembilan dari 10 perusahaan di China memanfaatkan pekerja gig terutama untuk menekan biaya.
Shanghai memiliki 10 pos pekerja gig yang tersebar di sedikitnya lima distrik. Yang terbaru, pos Pujiang di Distrik Minhang, dibuka pada April 2025.
Berdiri di area seluas sekitar 1.200 meter persegi, fasilitas tersebut menggabungkan layanan pencarian kerja, pelatihan keterampilan, kantor bantuan hukum, hingga asrama tempat pekerja bisa menginap gratis selama tiga hingga tujuh hari.
“Kalau ada orang datang mencari kerja, saya berusaha mencarikan pekerjaan secepat mungkin,” kata Yu Xuandong, sekretaris cabang Partai yang mengelola pos Pujiang.
Serikat pekerja yang dibentuk di sana dirancang untuk mendampingi pekerja mulai dari mencari pekerjaan, bekerja, terkena PHK, lalu kembali mencari kerja lagi.
Namun dalam praktiknya, jumlah pekerja yang benar-benar terserap di Pujiang masih terbatas. Dari sekitar 5.000 orang yang mendaftar pada tahun pertama operasional pos tersebut, sekitar 2.400 telah dipertemukan dengan calon pemberi kerja.
Tetapi hanya sekitar 500 orang yang benar-benar mulai bekerja, baik di pekerjaan gig, pekerjaan jangka pendek, maupun posisi jangka panjang.
Yu menilai rendahnya angka tersebut sebagian disebabkan skala perusahaan mitra yang masih terbatas, dan sebagian lagi karena kondisi ekonomi secara umum.
Di pusat Jalan Shangchuan di Pudong, platform milik pemerintah menyediakan layanan pencocokan kerja gratis, ruang mediasi, hingga apartemen bersama bagi pekerja migran yang datang tanpa bekal apa pun.
“Tujuannya membantu mereka melewati tekanan keuangan yang paling mendesak terlebih dahulu,” kata salah satu staf, Chen Mei. “Begitu mereka sudah punya pemasukan, mereka bisa mengambil keputusan yang lebih baik.”
APA YANG TERUNGKAP DARI LEDAKAN SEKTOR INI
Para analis mengatakan pasar pekerja gig fisik menjadi tempat bermuaranya limpahan tenaga kerja fleksibel, ketika pekerjaan berbasis aplikasi yang dulu mudah dimasuki — seperti kurir makanan dan layanan taksi online — kini sudah terlalu padat.
Zhao dari EAI menggambarkan situasi ini sebagai pola “penggeseran berantai”.
“Pekerja yang lebih tua tersingkir dari pabrik, lalu dari sektor konstruksi, dan sekarang bahkan menghadapi tekanan di pasar tenaga kerja informal,” katanya.
Menurut Zhao, pos pekerja gig membuat kelompok ini lebih terorganisasi, sekaligus mengalihkan perhatian kebijakan kepada kelompok yang selama ini nyaris tak terlihat karena sorotan publik lebih tertuju pada pengangguran usia muda.
Sun dari South China Normal University mengatakan para pekerja di pos pekerja gig fisik pada dasarnya tidak ikut terserap dalam gelombang digitalisasi yang mengubah banyak sektor ekonomi gig lainnya.
Menurut Sun, upaya pemerintah daerah membangun platform pencocokan kerja digital bagi kelompok ini sejauh ini belum berhasil.
Ia menjelaskan banyak pekerja berusia lebih tua tidak terbiasa menggunakan platform digital, sementara pemberi kerja yang membutuhkan buruh harian biasanya juga tidak punya waktu untuk mendaftarkan lowongan secara online.
Karena itu, proses pencocokan harus terjadi secara langsung dan cepat di lokasi — dan di situlah fungsi pos pekerja gig.
“Ada pekerjaan ini, kerja seperti ini, mau ambil tidak? Satu hari, dua hari, bayar sekian. Kalau mau, langsung berangkat,” kata Sun. “Tidak ada proses pencarian sebelumnya.”
Bagi para pekerja di pos pekerja gig, ancaman paling nyata bukanlah pengangguran, melainkan cedera kerja.
Berdasarkan data 2024 dari Administrasi Jaminan Kesehatan Nasional China yang dipublikasikan pada Juli 2025, sistem asuransi kesehatan dasar China telah mencakup 95 persen populasi. Sebagian besar pekerja gig setidaknya memiliki skema perlindungan warga pedesaan — mencakup pensiun dan layanan kesehatan yang dibayarkan di provinsi asal mereka.
Namun, hampir tidak ada yang memiliki asuransi kecelakaan kerja di tempat mereka bekerja. Sun menjelaskan regulasi ketenagakerjaan China mensyaratkan adanya hubungan kerja formal untuk mendapatkan perlindungan kecelakaan kerja, sementara buruh harian kasual tidak memenuhi syarat tersebut. Akibatnya, kelompok ini secara struktural terpinggirkan dari sistem perlindungan itu.
Banyak pekerjaan gig bahkan hanya berlangsung setengah jam, seperti mengangkut batu bata, membersihkan puing, atau memindahkan furnitur.
Menurut Sun, pemberi kerja merasa tidak ada alasan membeli asuransi untuk pekerjaan sesingkat itu.
“Seluruh prosesnya mungkin cuma setengah jam,” katanya. “Mereka tidak akan membeli asuransi untuk itu.”
Xu, buruh migran yang mencari pekerjaan fisik di pos Xinqiao, menjadi salah satu contohnya. Ia tidak memiliki jaminan sosial di Shanghai. Tidak punya kontrak kerja. Tidak ada iuran pensiun.
Sebenarnya ada opsi bagi pekerja untuk membayar sendiri asuransi sosial pegawai di Shanghai sebagai pekerja fleksibel. Namun mereka harus menanggung porsi iuran perusahaan sekaligus iuran pribadi.
Bagi orang yang berpenghasilan 200 yuan (Rp519 ribu) per hari tanpa kepastian apakah besok masih ada pekerjaan, Sun mengatakan hal itu ibarat “meminta orang yang hidupnya kembang-kempis untuk menabung”.
Program percontohan asuransi kecelakaan kerja, yang awalnya menyasar pekerja platform seperti kurir pengantar makanan, telah mencakup 23,25 juta orang di 17 provinsi hingga Oktober 2025, menurut laporan Dewan Negara.
Pemerintah mengumumkan pada Maret bahwa program itu akan diperluas secara nasional. Namun para pekerja di pos pekerja gig fisik, yang tidak terikat dengan platform mana pun, sebagian besar masih berada di luar jangkauan perlindungan tersebut.
Sun mengatakan kerangka hukum dan kelembagaan yang ada saat ini untuk melindungi para pekerja tersebut masih “kosong”.
“Keinginan mereka untuk bekerja harus dihormati — hak mereka untuk bekerja tidak bisa begitu saja dicabut atau dibatasi,” katanya.
“Tetapi perlindungan selama mereka bekerja perlu diperkuat.”
Tanpa perlindungan, seluruh risikonya ditanggung sendiri oleh pekerja.
“Sebagian pekerja lansia hanya menahan sakit dan tidak mencari perawatan medis,” kata Sun. “Kondisinya kemudian memburuk. Ada juga yang sampai kehilangan nyawa.”
Skema pensiun perkotaan di China mensyaratkan akumulasi iuran minimal 15 tahun. Pekerja berusia 50-an hingga 60-an dengan riwayat pekerjaan yang terputus-putus umumnya tidak memenuhi syarat.
Ketika mereka sudah tidak lagi mampu melakukan pekerjaan fisik serabutan, banyak yang akhirnya kembali ke desa. Mereka hidup dari pensiun warga desa sekitar 100 hingga 200 yuan per bulan (Rp260 ribu hingga Rp519 ribu) dari negara, ditambah hasil bertani seadanya dan bantuan anak-anak mereka, jika ada.
“Kita harus mengakui bahwa pos-pos ini lebih baik dibanding alternatif sebelumnya, yakni sudut jalan yang dingin dan serba tidak resmi,” kata Zhao dari EAI.
“Setidaknya ini menjadi perbaikan nyata dalam kehidupan sehari-hari orang-orang yang sebelumnya benar-benar tidak memiliki perlindungan.”
Ia menambahkan, ekonomi yang ditopang para pekerja ini memang nyaris tak terlihat, tetapi sangat penting.
“Kontribusi para pekerja berusia tua ini sering diremehkan. Padahal tanpa mereka — dan tanpa pos-pos yang mengorganisasi tenaga kerja ini — layanan dasar dan pemeliharaan kota-kota di China bisa berhenti berjalan.”
Baik Zhao maupun Sun menilai pos pekerja gig tidak akan mampu mengubah arah besar pasar tenaga kerja China.
“Sistem jaminan sosial China masih dirancang untuk pasar tenaga kerja era industri yang bertumpu pada pekerjaan tetap,” kata Zhao.
“Pos pekerja gig tidak menyelesaikan akar masalahnya, tetapi membantu mengelola dampaknya.”
Namun, pola ini kemungkinan tidak akan bertahan ketika generasi muda mulai menua, kata Sun dari South China Normal University.
Menurutnya, generasi yang lahir pada 1990-an dan 2000-an kemungkinan tidak akan mau mengantre di tempat seperti ini ketika mereka tua nanti.
“Mereka mungkin cukup hidup dari pensiun seribuan yuan dan pergi memancing,” ujarnya.
Tetapi generasi pekerja saat ini — yang lahir dalam keterbatasan dan terbiasa bekerja keras — akan terus bekerja selama tubuh mereka masih mampu, kata Sun.
“Etos kerja dan gaya hidup hemat mereka tidak berubah,” katanya. “Bekerja sudah menjadi naluri.”
Saat matahari terbit di pos pekerja gig Xinqiao, kerumunan mulai menipis dan sebagian besar van sudah pergi, meski sekitar 100 pekerja masih tetap mengantre.
Hari itu, Xu tidak terpilih untuk bekerja.
Ia mengambil peralatan kerjanya lalu berjalan kembali ke kamar kontrakannya di bangunan tepat di sebelah pos tersebut. Tanpa rencana apa pun untuk sisa hari itu, Xu mengatakan ia hanya akan mencuci pakaian, bermain ponsel, lalu tidur.
“Jangankan 200 yuan,” katanya sambil melihat kerumunan pekerja gig yang tidak terpilih perlahan bubar.
“Nasib saya memang cuma orang yang dapat seratus sekian yuan.”
Besok pagi, ia akan datang mencoba peruntungan lagi.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.