Skip to main content
Iklan

analisis Asia

China akan gelar KTT SCO terbesar, ajang pencitraan atau ada hasil konkret?

Ajang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Shanghai Cooperation Organization (SCO) akan digelar di China pada 31 Agustus hingga 1 September mendatang. Menurut pengamat, rivalitas antarnegara bisa menghambat terciptanya hasil konkret.

 

China akan gelar KTT SCO terbesar, ajang pencitraan atau ada hasil konkret?

Presiden Rusia Vladimir Putin berjabat tangan dengan Presiden China Xi Jinping pada peringatan 80 tahun Hari Kemenangan atas Nazi Jerman pada Perang Dunia II, di Moskow, Rusia, 9 Mei 2025. (Foto: Sputnik/Mikhail Metzel/Pool via REUTERS)

BEIJING: Di tengah perang yang berkecamuk di beberapa negara dan tatanan global yang kian rapuh, China akan menjadikan KTT Shanghai Cooperation Organization (SCO) ajang untuk menunjukkan perannya sebagai pemelihara stabilitas dan pengusung multilateralisme. 

Menurut para pengamat, China juga akan menempatkan dirinya sebagai penyeimbang terhadap sikap Amerika Serikat yang semakin unilateral.

SCO akan dihadiri oleh negara-negara kekuatan besar yang berperang atau tengah bersitegang, termasuk Rusia, Iran, India, Pakistan dan China. KTT yang akan diadakan di Tianjin pada 31 Agustus hingga 1 September ini akan menjadi ajang SCO terbesar yang pernah digelar selama ini.

Meski KTT ini akan memberikan China panggung besar untuk mendorong visinya tentang dunia multikutub dan menegaskan klaim kepemimpinan globalnya, namun pengamat memperingatkan perpecahan di dalam tubuh anggota SCO akan melemahkan kesan tersebut, sehingga berisiko membuat pertemuan itu cuma ajang pencitraan dan retorika tanpa hasil konkret.

Diadakan untuk pertama kalinya di China sejak 2018, KTT SCO di Tianjin kali ini diperkirakan dihadiri lebih dari 20 kepala negara dan 10 pemimpin organisasi internasional.

Daftar tamu mencakup Presiden Rusia Vladimir Putin, Perdana Menteri India Narendra Modi, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, serta Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

KTT tahun ini juga akan menonjol karena dihadiri perwakilan tingkat tinggi dari Asia Tenggara.

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, Presiden Indonesia Prabowo Subianto, dan Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh dijadwalkan hadir langsung, bersama para pemimpin dari Kamboja, Laos, dan Myanmar.

KTT BERSKALA BESAR, SARAT SIMBOLISME

Dibentuk pada 2001, SCO adalah pengembangan dari "Shanghai Five", sebuah forum yang diciptakan pada pertengahan 1990-an oleh China, Rusia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, dan Tajikistan untuk menyelesaikan sengketa wilayah dan membangun kepercayaan di wilayah perbatasan.

Dalam dua dekade berikutnya, SCO berkembang dengan 10 anggota, dengan tambahan Uzbekistan, India, Pakistan, Iran, dan yang terbaru Belarus. Forum ini juga memiliki Afghanistan dan Mongolia sebagai pengamat, serta 14 mitra dialog mulai dari Turki dan Sri Lanka hingga Kamboja dan Myanmar.

Bagi pemerintah Beijing yang menjadi tuan rumah, KTT SCO tahun ini adalah soal skala dan visibilitas. Menurut pengamat, dengan menggelar KTT ini besar-besaran, China ingin menunjukkan pengaruh, daya tarik, dan kemampuan untuk menghimpun kekuatan di tengah iklim global yang bergejolak.

“Ketika Rusia atau India yang menjadi tuan rumah di masa lalu, KTT SCO relatif sederhana. Sekarang, China mengerahkan sumber daya diplomatik jauh lebih besar untuk acara ini,” kata Lin Minwang, wakil dekan Institut Studi Internasional Universitas Fudan, kepada CNA.

Ia menambahkan bahwa simbolisme juga penting, mengingat SCO adalah satu-satunya organisasi internasional yang dinamai dari sebuah kota di China — Shanghai.

“Itu adalah sebuah keistimewaan yang menjelaskan mengapa Beijing secara konsisten memberi perhatian khusus pada forum ini dan penyelenggaraannya,” ujar Lin.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov (kiri tengah) dan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi (kanan tengah) berpose untuk foto bersama para pejabat lainnya selama pertemuan Dewan Menteri Luar Negeri Organisasi Kerja Sama Shanghai di Tianjin, China, pada 15 Juli 2025. (Foto: Layanan Pers Kementerian Luar Negeri Rusia)

Pada saat yang sama, para pengamat mengatakan China ingin memanfaatkan KTT ini untuk menekankan komitmennya terhadap multilateralisme dan perannya sebagai penopang stabilitas global, sebuah antitesis dari Amerika Serikat yang dinilai semakin bertindak secara sepihak.

Alejandro Reyes, peneliti senior di Centre on Contemporary China and the World, University of Hong Kong (HKU), mengatakan bahwa China ingin membingkai KTT SCO sebagai alternatif dari jejaring dan platform buatan Barat. 

“Ketika AS terlihat sedang memutus hubungan dengan banyak negara, China justru menciptakan semakin banyak kerangka kerja baru, lebih banyak koalisi yang terwujud sukarela,” ujarnya kepada CNA.

Situasi geopolitik saat ini, dari perang di Ukraina dan Timur Tengah hingga meningkatnya perang tarif yang dipicu kebijakan AS, bisa memberi daya tarik lebih besar pada pesan Beijing di dalam SCO, kata para pengamat.

China terakhir kali menjadi tuan rumah KTT SCO pada 2018, bertepatan dengan masa jabatan pertama Presiden AS Donald Trump (2017–2021). Di kepemimpinan pertama Trump itu, ketegangan antara AS dan China memang meningkat, namun gejolak global masih relatif lebih kecil dibanding saat ini.

“Organisasi yang beranggotakan 10 negara ini mungkin akan lebih terbuka dari biasanya, mengingat adanya konflik militer yang melibatkan Iran dan Rusia, serta strategi tarif Amerika Serikat,” kata Jonathan Ping, dosen di Bond University, kepada CNA.

Selain KTT tersebut, parade militer China untuk memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II juga akan jadi pantauan, terutama karena dihadiri para pemimpin SCO. Kehadiran mereka pada parade akan jadi gambaran adanya pergeseran aliansi dan kedalaman hubungan diplomatik dengan Beijing.

Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China mengikuti latihan menjelang parade militer untuk menandai peringatan 80 tahun berakhirnya Perang Dunia Kedua, di Beijing, China, 20 Agustus 2025. (Foto: Reuters/Maxim Shemetov /File Photo)

DIPLOMASI DALAM SOROTAN

Di luar skala dan simbolismenya, para pengamat mengatakan ujian sebenarnya dari KTT SCO terletak pada interaksi di antara para pemimpin dan bagaimana China mengelola kepentingan yang saling silang di dalam forum yang keanggotaannya meluas dan beragam ini.

Negara anggota, negara pengamat dan mitra dialog dari SCO sudah mencakup hampir setengah populasi dunia, seperempat luas daratan di Bumi dan seperempat PDB global.

"Perluasan keanggotaan SCO menjadikan forum ini unik sekaligus pelik," kata Reyes dari HKU. Dia mengatakan SCO telah menjadi sebuah forum langka yang membuat negara-negara yang bertikai duduk di satu meja, seperti China, Rusia, India, Pakistan dan Iran.

"Pertanyaan yang perlu diajukan adalah - apa dinamika antara Rusia dan China, apa dinamika antara China dan India, dan bagaimana anggota lainnya bersikap di ekosistem semacam ini?"

Interaksi yang paling dinantikan dalam KTT SCO di Tianjin, kata para pengamat, adalah antara Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Putin dan Perdana Menteri India Narendra Modi.

Bagi Rusia, KTT ini jadi ajang untuk menunjukkan bahwa mereka tidak terisolasi secara diplomatik meski sedang berperang dengan Ukraina. 

Sementara, kata pengamat, China menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan: di satu sisi menegaskan kembali kemitraan strategis ‘tanpa batas’ dengan Rusia, tapi di sisi lain menghindari kesan mendukung perang antara Rusia dan Ukraina.

Mengingat kondisi tersebut, para pengamat tidak berharap banyak akan hasil konkret dari KTT tersebut. "China dan Rusia akan bertindak sangat hati-hati," kata Reyes.

“Persahabatan tanpa batas cuma retorika, bukan kenyataan.”

Adapun bagi India, pertemuan ini bisa membuka ruang untuk mengkalibrasi ulang hubungan dengan China setelah bertahun-tahun terlibat ketegangan, meskipun kemitraan strategisnya dengan AS masih terus menguat.

Kehadiran PM Modi dalam KTT SCO akan jadi yang paling disorot. Pasalnya, ini adalah kunjungan pertamanya ke China dalam tujuh tahun terakhir setelah KTT SCO 2018. Pada 2020, hubungan bilateral kedua negara membeku usai bentrokan berdarah di perbatasan Lembah Galwan.

Para pengamat mengatakan, kehadiran Modi menunjukkan adanya perubahan perhitungan oleh India dan niatan China untuk menjadikan SCO sebagai panggung dialog.

“KTT ini memberi China kesempatan langka untuk menampilkan persatuan dan berpotensi menyelesaikan sengketa lama,” kata Ping dari Bond University.

Ping juga mengatakan, China bisa mengambil peluang dari ketegangan antara AS dan India akibat tarif Trump.

Per 27 Agustus, AS menggandakan tarif barang-barang dari India hingga 50 persen, menambah gesekan dalam hubungan kedua negara. Pemerintah Trump mengatakan, tarif tinggi ini adalah hukuman karena India terus membeli minyak dari Rusia yang disebut telah membiayai perang di Ukraina.

“Upaya Amerika Serikat memangkas pendapatan minyak Rusia dari India, ditambah sengketa terbaru Pakistan dengan India, memberi peluang bagi para diplomat China untuk mengonsolidasikan pengaruh dengan merapat ke India,” kata Ping.

Sebagai tanda lain mencairnya hubungan, China dan India baru-baru ini sepakat membuka kembali penerbangan langsung — yang ditangguhkan sejak pandemi COVID-19 pada 2020 — serta mempererat hubungan bisnis.

Kendati demikian, Lin dari Universitas Fudan mengatakan bahwa setiap pemulihan hubungan China–India di KTT kali ini kemungkinan akan berlangsung secara hati-hati dan bersyarat. Pasalnya ada perbedaan aliansi strategis serta keraguan India untuk sepenuhnya bersikap anti-Barat.

Presiden China Xi Jinping dan Perdana Menteri India Narendra Modi bertemu di sela-sela KTT BRICS di Kazan, Rusia, 23 Oktober 2024. (Foto: China Daily via Reuters)

AJANG SOLIDARITAS DAN KEPEMIMPINAN CHINA

SCO kerap menampilkan kesatuan lewat pernyataan bersama yang disusun dengan cermat agar dapat menutupi perbedaan antaranggota. Para pengamat menilai tahun ini pun tidak akan berbeda.

Dalam jumpa pers 22 Agustus lalu, Wakil Menteri Luar Negeri China Liu Bin mengatakan para pemimpin dalam KTT SCO diperkirakan akan mengadopsi strategi pembangunan 10 tahun dan mengeluarkan pernyataan bersama untuk menandai peringatan 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II serta berdirinya PBB.

Mereka juga akan menandatangani perjanjian untuk memperkuat kerja sama di bidang keamanan, ekonomi, dan pertukaran antarmasyarakat, sekaligus menetapkan arah jangka panjang perkembangan forum tersebut, tambah Liu.

Namun, para pengamat mengatakan kemajuan nyata akan sulit dicapai mengingat adanya kontradiksi di antara anggota forum.

Saat ini SCO memiliki total 26 negara sebagai anggota, pengamat, atau mitra dialog. Menurut pengamat, perluasan keanggotaan malah membuat situasi semakin pelik.

“Dokumen yang benar-benar substantif … tidak mudah untuk disahkan,” kata Lin. “Yang biasanya muncul hanyalah teks konsensus yang isinya sangat umum, luas, dan hambar tanpa fokus yang jelas,” tambahnya.

“Selama ini SCO memang telah menggelar banyak pertemuan di berbagai level, tapi sering kali hanya menghasilkan capaian terbatas. Itu sudah mencerminkan tantangan yang dihadapi forum ini dalam menunjukkan efektivitasnya.”

Meski begitu, Lin meyakini perbedaan di dalam forum ini tidaklah mustahil untuk diatasi. “Perselisihan memang ada, tapi bisa dikelola melalui konsultasi dan tawar-menawar,” ujarnya.

Reyes dari HKU mengatakan SCO tetap “sulit digambarkan sebagai organisasi yang koheren”. Ia mencatat bahwa sejak perang Ukraina meletus pada awal 2022, forum ini mengurangi latihan militer gabungannya.

"Kemungkinan memang disengaja, karena Rusia — yang sedang berperang dengan Ukraina — adalah anggota. Beijing berhati-hati agar tidak terlihat seolah bersekutu secara militer dengan Rusia pada saat ini,” katanya, seraya menambahkan bahwa kelompok ini tidak bisa disamakan dengan aliansi formal seperti NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara).

Nilai SCO justru terletak pada pencitraan dan sifat inklusifnya, kata Reyes.

“China sedang menciptakan alternatif, sebuah tatanan dunia yang lebih longgar, di mana intinya adalah jejaring dan interaksi yang bersifat timbal balik,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa keluasan ini memungkinkan China menampilkan SCO sebagai platform bagi Global South, meski dampak praktisnya terbatas.

Global South adalah istilah untuk negara-negara berkembang yang lebih miskin, memiliki tingkat ketimpangan pendapatan lebih tinggi, dan harapan hidup lebih rendah.

Namun, ambisi Beijing tidak mudah diwujudkan, terutama karena SCO terus melakukan ekspansi keanggotaan. Semakin banyak anggota, semakin banyak isu yang diperdebatkan, ujar Ping dari Bond University.

“(Hal itu juga bisa) melemahkan momentum organisasi dan memunculkan pertanyaan tentang kegunaan regionalisme.”

Di luar aspek pencitraan, China tengah mendorong agar SCO memperluas agenda, menandai keinginan untuk menggeser fokus dari keamanan ke bidang yang juga mencakup kerja sama ekonomi, inovasi teknologi, dan pertukaran antarmasyarakat.

Menurut pejabat tinggi China, agenda KTT nanti akan mencakup konektivitas infrastruktur, energi hijau, inisiatif ekonomi digital, kerja sama keuangan — termasuk pembahasan pembentukan Bank Pembangunan SCO — serta kecerdasan buatan (AI), kesehatan masyarakat, beasiswa, dan pertukaran budaya.

“Peralihan strategis dari kerja sama yang berfokus pada keamanan menuju tata kelola regional yang komprehensif akan menandai evolusi SCO menjadi platform pembangunan dan inovasi, dengan China sebagai pemimpinnya,” kata Ping.

Namun, mewujudkan ambisi tersebut akan jauh lebih rumit dibanding mengoordinasikan isu keamanan.

“Itu melibatkan jauh lebih banyak aktor, tidak hanya penyedia keamanan seperti militer dan polisi, serta hilangnya kesempatan dan penerimaan terhadap model ala China,” kata Ping.

Meski begitu, hasil yang bersifat simbolis pun masih tetap berarti bagi China, tambahnya.

“KTT ini memperkuat narasi global Partai Komunis China tentang pembangunan damai dan kemakmuran bersama, sekaligus narasi domestiknya tentang membangun kembali bangsa China.”

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan