China mempercepat integrasi AI ke sistem pendidikan hingga 2035
China meluncurkan rencana nasional untuk mengintegrasikan AI ke seluruh jenjang pendidikan guna memperkuat daya saing di tengah persaingan global.
Ilustrasi pengembangan dan penggunaan kecerdasan buatan (AI). (Foto: iStock/Khanchit Khirisutchalual)
BEIJING: China mempercepat integrasi kecerdasan buatan (AI) ke dalam sistem pendidikan nasional melalui peluncuran rencana aksi “AI+ Education”, di tengah meningkatnya persaingan global dalam teknologi canggih.
Rencana yang diumumkan Kementerian Pendidikan bersama empat lembaga pemerintah lainnya di China ini menargetkan penerapan AI di seluruh jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga pembelajaran sepanjang hayat.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang hingga 2035, yang menempatkan AI sebagai pendorong utama reformasi pendidikan sekaligus fondasi daya saing ekonomi di masa depan.
Pemerintah China menegaskan bahwa perubahan ini tidak sekadar penyesuaian kurikulum, melainkan transformasi sistem pendidikan secara menyeluruh. “Dengan mendefinisikan ulang keterampilan yang dibutuhkan di era modern, kecerdasan buatan memaksa dilakukannya perubahan mendasar dan menyeluruh dalam sistem pendidikan,” demikian pernyataan pejabat pendidikan.
Salah satu fokus utama dalam rencana ini adalah pembangunan infrastruktur AI nasional yang terintegrasi. Pemerintah akan mengonsolidasikan platform komputasi dan jaringan data menjadi layanan terpadu, menggantikan pendekatan proyek lokal yang terfragmentasi.
Secara paralel, China juga menargetkan terbentuknya sistem literasi AI yang merata bagi seluruh masyarakat. “Kami akan mengembangkan sistem literasi kecerdasan buatan yang komprehensif untuk semua jenjang pendidikan dan seluruh lapisan masyarakat,” kata Zhou Dawang dari Kementerian Pendidikan China dikutip South China Morning Post, Senin (13/4).
Dalam implementasinya, pendekatan dilakukan secara bertingkat. Di tingkat pendidikan dasar dan menengah, AI akan diintegrasikan ke dalam kurikulum lokal, termasuk melalui kegiatan ekstrakurikuler dan program pembelajaran lintas disiplin.
Untuk pendidikan tinggi, universitas diwajibkan menjadikan AI sebagai mata kuliah dasar serta mengembangkan program lintas disiplin dan jurusan baru yang selaras dengan transformasi industri berbasis AI.
Sementara itu, pendidikan vokasi diarahkan untuk mengintegrasikan AI ke dalam bidang industri tradisional guna mencetak tenaga kerja yang mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi.
Sedangkan, di sektor pembelajaran seumur hidup, pemerintah menjanjikan akses luas terhadap materi pembelajaran, termasuk kursus mikro dan sertifikasi singkat untuk meningkatkan keterampilan masyarakat.
Reformasi juga menyasar tenaga pendidik. Standar nasional literasi AI bagi guru akan dikembangkan, dengan integrasi pengetahuan AI dalam proses sertifikasi dan pelatihan berjenjang.
China Daily pada Rabu (15/4) melaporkan, sejumlah institusi telah lebih dulu mengadopsi pendekatan ini. Universitas Fudan, misalnya, telah membuka lebih dari 100 mata kuliah terkait AI yang diikuti lebih dari 13.000 mahasiswa, serta meluncurkan 41 program gelar ganda lintas disiplin.
Jin Li, Rektor Fudan University, menuturkan, pihaknya juga telah meluncurkan program gelar ganda pertama di China yang menggabungkan “gelar doktor dalam bidang studi tertentu ditambah gelar magister dalam bidang AI”. Kelompok pertama yang terdiri dari 10 mahasiswa doktoral yang memilih program gelar ganda tersebut semuanya berasal dari bidang jurnalisme dan komunikasi.
Di tingkat sekolah, implementasi juga menunjukkan kemajuan. Di Beijing, seluruh siswa sekolah dasar dan menengah kini mendapatkan setidaknya delapan jam pelajaran AI setiap tahun, dengan tingkat adopsi mencapai 87,7 persen pada akhir 2025.
Li Yi, direktur komisi pendidikan Kota Beijing, mengatakan, pihaknya telah menyusun pedoman kurikulum lokal untuk pendidikan AI di tingkat sekolah dasar dan menengah. “Tim pengajar pendidikan AI” telah dibentuk, yang melibatkan para ahli dari universitas, lembaga penelitian, dan perusahaan teknologi tinggi untuk masuk ke sekolah-sekolah," katanya.
Sementara itu, sebuah sekolah dasar di Shenzhen melaporkan 1.508 siswanya telah menerima pelajaran AI setidaknya sekali setiap bulan sejak 2021.
“Kami mengajarkan anak-anak cara menggunakan model bahasa besar untuk memecahkan masalah, dan yang lebih penting lagi, cara berpikir kritis — yaitu mempertanyakan apakah jawaban AI itu benar dan memverifikasi informasi dari berbagai sumber,” tutur Yao Xiaoying, kepala sekolah sebuah sekolah dasar di Shenzhen.
Melalui langkah ini, China berupaya memastikan seluruh lapisan masyarakat memiliki akses setara terhadap pendidikan AI, sekaligus menyiapkan tenaga kerja yang relevan dengan kebutuhan ekonomi digital di masa depan.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.