EVolusi Asia: Menelisik kuasa China atas pasokan baterai lithium dunia
Dalam edisi kali ini dari seri kendaraan listrik di Asia, CNA mengupas dominasi China dalam pemurnian lithium dan apa dampaknya pada rantai pasok global.
Seorang karyawan di jalur produksi di pabrik baterai lithium-ion di Dongguan, Provinsi Guangdong. (REUTERS/Joyce Zhou)
SHENZHEN: Dari jalanan kota-kota di Eropa hingga jalan tol di China dan Amerika Serikat, lalu lintas dunia mulai hilang kebisingannya seiring tergantikannya mobil bensin dengan kendaraan listrik (EV) sebagai upaya menekan emisi karbon.
Di jantung transisi ini terdapat pusat-pusat pemurnian lithium di China. Di dalam pabrik-pabrik kimia China, mineral batuan keras seperti bijih spodumene mentah dan material perantara berbasis air garam (brine) diproses dan diubah menjadi senyawa kelas-baterai yang menentukan apakah baterai EV dapat bertahan delapan tahun, atau mati hanya dalam tiga tahun.
China kini menjadi produsen EV terbesar di dunia, menyumbang sekitar 60 persen dari penjualan global pada 2025, menurut data Benchmark Mineral Intelligence (BMI), lembaga pelaporan harga berbasis di London yang berfokus pada rantai pasok baterai lithium-ion dan EV.
Hampir semua mobil listrik menggunakan baterai lithium, menjadikan logam ini medan persaingan strategis dalam perebutan porsi penjualan EV global.
Namun, para pakar menilai keunggulan tidak hanya terletak pada kepemilikan tambang lithium, melainkan juga pada proses perantara yang kurang dianggap namun sangat penting, yakni kemampuan mengonversi lithium mentah menjadi bahan kimia berkualitas yang digunakan oleh produsen baterai dan mobil.
Australia, AS dan Afrika memiliki cadangan lithium lebih besar dibanding China. Namun, menurut perkiraan BMI, China menyumbang sekitar 60 hingga 70 persen kapasitas dan hasil pemurnian kimia lithium global, khususnya untuk lithium dari batuan keras.
“Dengan demikian, China mendominasi kapasitas konversi (lithium) batuan keras,” kata Luc Braun, analis riset di BMI pakar lithium dan ekosistem pertambangan batuan keras global.
Dominasi tersebut penting karena biaya dan ketersediaan pasokan lithium ditentukan pada tahap pemurnian, menurut para pakar.
“Pada akhirnya, semuanya bergantung pada biaya,” ujar Braun, seraya mencatat bahwa konversi kimia membutuhkan energi besar, tekniknya kompleks, dan sulit dikembangkan di luar klaster industri mapan di China.
"MINYAK PUTIH"
Sering disebut sebagai “minyak putih”, lithium merupakan komponen esensial dalam baterai isi ulang modern yang menggerakkan kendaraan listrik.
Logam lunak berwarna keperakan ini memiliki bobot ringan dan potensi elektrokimia tinggi, memungkinkan pengisian daya cepat serta transfer energi yang efisien, menjadikannya lebih unggul dibanding baterai asam timbal dan alkalin tradisional.
Namun, lithium tidak mudah diperoleh.
Pasokan global lithium terbesar berasal dari dua sumber, yakni batuan keras yang banyak ditambang di Australia dan sebagian Afrika, serta larutan air garam kaya lithium yang diekstraksi dari dataran garam bawah tanah di Amerika Selatan.
Pada 2025, Australia menyumbang sekitar 31 persen produksi lithium hasil tambang, disusul Amerika Selatan 27 persen, China 21 persen, dan Afrika 19 persen, menurut BMI.
“Sebuah tambang menghasilkan batuan atau air garam yang mengandung lithium, tetapi pasokan baterai bergantung pada lithium karbonat dan lithium hidroksida dengan spesifikasi ketat," kata Srinivas Popuri, pakar rantai nilai baterai dan industrialisasi yang menjadi penasihat bagi produsen otomotif, gigafactory, dan investor.
Tahap konversi inilah yang membuat China berperan menjadi penentu.
Setelah konsentrat lithium atau bahan kimia berbasis air garam diproduksi di luar negeri, sebagian besar material tersebut dikirim ke China untuk pemrosesan lanjutan.
Braun dari BMI mengatakan bahwa “sebagian besar produksi kimia lithium (di luar China) berasal dari operasi brine di Amerika Selatan, yang umumnya merupakan fasilitas terintegrasi”, yang berarti produksi mereka bergantung pada bahan baku sendiri dan tidak tersedia untuk mengolah material dari pihak ketiga.
Proses tersebut juga belum sepenuhnya selesai.
Sekitar setengah dari produksi kimia lithium Amerika Selatan ini belum memenuhi standar kelas-baterai dan masih memerlukan pemurnian lanjutan, kata Braun. Material tersebut sering kembali dikirim ke China untuk pemrosesan tambahan.
Lithium batuan keras mengikuti pola serupa, namun dalam skala yang lebih besar.
China sendiri merupakan produsen besar lithium, kata Braun, tetapi “sangat bergantung” pada Australia dan Afrika untuk pasokan bahan baku batuan keras.
Bijih terkonsentrasi dari kawasan tersebut dikirim ke pabrik kimia di China untuk dikonversi menjadi lithium karbonat atau lithium hidroksida.
Meskipun kapasitas pemurnian di luar China telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan China masih mendominasi baik dari sisi produksi maupun kapasitas, dengan banyak proyek baru di wilayah lain beroperasi jauh di bawah kapasitasnya, kata Braun.
Setelah ditingkatkan menjadi bahan kimia kelas-baterai, lithium kemudian masuk ke rantai hilir yang juga terkonsentrasi di China.
Data BMI menunjukkan, China menguasai sekitar 86 persen produksi global material aktif katoda dan sekitar 85 persen manufaktur sel baterai. Dominasi ini memungkinkan baterai bergerak cepat dari pabrik kimia ke kendaraan, sering kali dalam klaster industri yang sama.
Para eksekutif industri mengatakan integrasi ini sangat penting.
Seorang produsen lithium besar asal China yang meminta anonimitas mengatakan kepada CNA bahwa pemurnian menjadi bagian dari ekosistem manufaktur terpadu—tempat pemasok peralatan, insinyur, perusahaan kimia, dan produsen baterai beroperasi berdekatan guna menurunkan biaya dan mempercepat produksi.
Popuri membandingkan pemurnian lithium dengan produksi minyak.
“Penambangan menghasilkan minyak mentah. Pemurnian menghasilkan bensin dan diesel yang memenuhi spesifikasi ketat dan berperilaku konsisten di dalam mesin,” ujarnya.
“Lithium sama seperti itu,” tambahnya.
“Anda mengambil bahan baku yang 'berantakan' lalu mengonversinya menjadi bahan kimia murni … dengan impuritas yang dikendalikan secara ketat dan sifat fisik yang konsisten.”
Bahkan, lanjut dia, perubahan kecil sekalipun dapat memengaruhi kinerja, hasil, dan umur pakai baterai, yang secara langsung menentukan biaya dan keandalan pasokan bagi produsen mobil.
MENGUASAI TITIK PENENTU
Para pakar mengatakan bahwa titik penentu dalam proses pemurnian menjadi jelas terlihat ketika pasokan di pasar menipis, yang menunjukkan mengapa sebagian besar dunia masih bergantung pada China untuk mengubah lithium mentah menjadi bahan baku kelas-baterai.
Kepemilikan tambang juga tetap menjadi hal yang sangat penting.
Untuk keamanan pasokan EV, kepemilikan tambang lithium lebih penting daripada sekadar mengunci pasokan bahan kimia kelas-baterai, kata YJ Lee, direktur sekaligus manajer dana di Arcane Capital Advisors yang berbasis di Singapura.
Ia merujuk pada pengetatan pasokan selama booming EV periode 2019 hingga 2022, ketika harga lithium melonjak dan pasokan menyusut.
“Ketika terjadi defisit yang jelas dan terus membesar serta harga melambung tinggi, bahkan kontrak yang sudah terkunci untuk bahan kimia kelas-baterai pun bisa gagal terpenuhi,” kata Lee kepada CNA.
“Bisa jadi tambang mendapatkan harga lebih tinggi dari konverter lain. Atau konverter memilih membayar penalti kontrak dan menjual produknya di pasar dengan harga jauh lebih mahal, itu bukan hal baru,” ujarnya.
Risiko-risiko tersebut mendorong produsen mobil dan perusahaan baterai bergerak lebih ke hulu, memicu gelombang kontrak pembelian jangka panjang dari tambang serta pengambilan saham.
Namun hal itu tidak mengubah letak hambatan utama dalam sistem.
“Konversi lithium batuan keras menjadi bahan kimia di luar China masih sangat minim,” kata Braun.
“Di sinilah ketidakseimbangan kekuatan dan kapasitas paling timpang terjadi.”
Ketidakseimbangan tersebut tetap ada, terlepas dari bagaimana ia diukur, tambahnya.
“Menurut saya, tidak banyak perbedaan apakah yang dirujuk adalah hasil produksi atau kapasitas—perusahaan di China telah mendominasi keduanya,” ujarnya.
Meskipun proyek pemurnian di AS dan Eropa telah mulai beroperasi, sebagian besar masih tertahan pada tahap awal peningkatan kapasitas produksi, catat Braun.
“Proyek-proyek yang baru mulai beroperasi masih berada dalam fase peningkatan produksi dan produksinya jauh di bawah kapasitas terpasang,” ujarnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, AS dan Eropa meningkatkan upaya untuk memproduksi pemurnian lithium di dalam negeri—didukung oleh subsidi dan kebijakan industri.
Pada awal Januari, Tesla mengumumkan telah memulai operasi di fasilitas pemurnian lithium miliknya di dekat Corpus Christi, kota di Texas selatan—yang dirancang untuk menghasilkan lithium kelas-baterai bagi mobil Tesla.
Pemasok lithium asal Belanda, AMG, mengatakan pada akhir Januari lalu bahwa pihaknya masih mengirim spodumene dari Brasil ke China untuk dikonversi sebelum kemudian dikirim ke Jerman guna diproses menjadi lithium kelas-baterai, menegaskan masih terbatasnya opsi pemurnian di luar China.
Para pakar menilai proyek-proyek tersebut menunjukkan niatan mengurangi ketergantungan pada China, namun kecil kemungkinan akan mengubah dinamika pemurnian global secara signifikan dalam waktu dekat.
“Untuk secara nyata mengurangi ketergantungan pada ekosistem pemurnian China, AS dan Eropa membutuhkan lebih dari sekadar kapasitas terpasang,” kata Popuri.
“Mereka membutuhkan fasilitas yang beroperasi stabil dengan tingkat produksi tinggi—menghasilkan material kelas-baterai yang konsisten, telah lolos kualifikasi produsen utama katoda dan sel baterai, serta didukung kontrak pembelian jangka panjang untuk menopang pembiayaan,” tambahnya.
Meski demikian, perubahan apa pun akan berlangsung secara bertahap, ia mengingatkan, “jangka waktu yang realistis untuk memberikan dampak signifikan adalah akhir dekade 2020-an hingga 2030-an.”
Lee mengatakan tantangan yang dihadapi bersifat struktural. “Yang kita lihat adalah AS dan Uni Eropa berupaya membangun rantai pasok paralel untuk menghindari ketergantungan pada China,” ujarnya.
“Pertama, ini pada akhirnya akan menjadi rantai pasok dengan biaya yang secara struktural lebih tinggi … Kedua, prosesnya akan memakan waktu jauh lebih lama dari yang diperkirakan AS dan Uni Eropa,” tambahnya.
Cengkeraman China dalam pemurnian lithium juga membawa konsekuensi yang kian besar, kata para pakar, seiring fluktuasi harga yang tajam, risiko kelebihan kapasitas, dan meningkatnya biaya regulasi yang mempersulit keputusan investasi di seluruh rantai pasok.
“Ketika harga lithium anjlok, proyek-proyek tertunda dan kapasitas berbiaya tinggi menjadi sulit didanai tanpa dukungan kontrak pembelian jangka panjang yang solid,” kata Popuri.
Lee menggambarkan penurunan terbaru sebagai singkat namun menyakitkan.
“Itu adalah 'paceklik’ lithium yang cukup menyakitkan antara 2023 hingga 2025—namun dalam gambaran besar, periode itu relatif singkat,” kata Lee.
Harga lithium turun hampir 86 persen dari puncaknya pada November 2022 ke titik terendah pada 2024—memaksa perusahaan di seluruh dunia menghentikan operasi tambang.
“Yang terjadi adalah kekurangan modal yang membuat banyak pengembang lithium menunda proyek mereka, sehingga mundur beberapa tahun,” tambahnya.
Konversi lithium merupakan proses kimia yang intensif energi dan menghasilkan limbah serta residu, sehingga kepatuhan lingkungan, perizinan, dan pengolahan limbah menjadi bagian yang semakin penting dalam struktur biaya dan jadwal proyek.
“Hanya ketika pasokan tambang di hulu stabil, rantai industri dapat berkembang secara normal,” kata produsen lithium asal China tersebut—seraya menambahkan bahwa biaya dan kematangan proses di berbagai tahapan memengaruhi harga sekaligus kualitas pasokan.
David Zhang, Sekretaris Jenderal International Intelligent Vehicle Engineering Association di Hong Kong, mengatakan kepada CNA bahwa ekspansi global kapasitas pemurnian lithium dan produksi baterai—terutama ketika kapasitas berkembang di luar China—sedang mendorong penyeimbangan ulang industri, dengan volatilitas dan penyesuaian kapasitas sebagai bagian dari proses tersebut.
“Akan pasti terjadi kelebihan kapasitas dan volatilitas harga,” kata Zhang.
PROSPEK KE DEPAN
Para pakar mengatakan kecil kemungkinannya lithium akan tergantikan dalam waktu dekat, karena sebagian besar desain baterai alternatif masih bergantung pada material ini sebagai komponen utama.
“Saya melihat sangat mungkin lithium tetap menjadi elemen kunci dalam baterai EV selama lima hingga sepuluh tahun ke depan karena bahkan alternatif utama saat ini masih berada dalam keluarga lithium-ion,” kata Popuri.
Alih-alih lenyap, kendala lebih mungkin berpindah dalam ekosistem lithium itu sendiri, ujarnya.
“Yang bisa berubah adalah letak titik hambatannya,” ujarnya. “Kendala bisa berpindah dari proses lithium karbonat ke hidroksida, atau ke bahan perantara lain dan efisiensi produksi—bukan karena lithium-nya hilang.”
Lee mengatakan permintaan lithium juga meluas melampaui sektor EV. “Lithium kini mulai masuk ke banyak produk,” ujarnya.
Namun, harga yang lebih tinggi pada akhirnya dapat mempercepat munculnya alternatif, tambahnya.
“Teknologi berikutnya yang dapat dikembangkan jelas adalah natrium, mengingat kemiripannya dengan proses produksi baterai lithium,” kata Lee.
Para pakar mengatakan teknologi baterai natrium-ion juga berpotensi menguntungkan China, karena dapat diproduksi dengan memanfaatkan lini produksi lithium-ion yang sudah ada, dengan sedikit penyesuaian dalam ekosistem baterai di negara tersebut.
Keunggulan China saat ini kemungkinan masih akan bertahan dalam jangka pendek, namun tidak selamanya, kata Zhang.
“Melihat keunggulannya saat ini, seharusnya tidak menjadi masalah bagi China untuk mempertahankan posisi ini selama lima hingga sepuluh tahun ke depan,” tambahnya.
“Namun, kendalanya akan tetap ada, hanya bergeser saja.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.