Skip to main content
Iklan

Asia

Musim panas penuh cuaca ekstrem: Bagaimana pemanasan yang lebih cepat di China mengubah pola cuaca

Banjir, badai dahsyat, dan suhu yang terus meningkat menjadi tanda bahwa negara dengan daratan luas ini memanas lebih cepat dibandingkan rata-rata global, kata para ahli.

Musim panas penuh cuaca ekstrem: Bagaimana pemanasan yang lebih cepat di China mengubah pola cuaca

Seorang warga mengendarai skuter listrik melintasi jalan yang tergenang air setelah hujan lebat yang disebabkan oleh Topan Bavi di Wenzhou, Provinsi Zhejiang, China, pada 12 Juli 2026. (Foto: REUTERS/Go Nakamura)

SINGAPURA: Mulai dari dua tornado yang menerjang sebagian wilayah Provinsi Hubei di China bagian tengah, hujan deras dan banjir besar yang memaksa lebih dari 260.000 orang mengungsi dari rumah mereka serta menyebabkan ribuan ular lepas dari peternakan di Guangxi, hingga gelombang panas yang menyengat di berbagai wilayah, China dihantam rentetan cuaca ekstrem dalam beberapa pekan terakhir.

Para ilmuwan mengatakan, kondisi cuaca yang semakin tidak menentu ini terjadi seiring laju pemanasan di negara tersebut yang lebih cepat daripada rata-rata global.

Berdasarkan “Blue Book on Climate Change” yang dirilis Badan Meteorologi China (China Meteorological Administration/CMA) pada 2 Juli, suhu rata-rata tahunan China meningkat sebesar 0,31 derajat Celsius per dekade dalam periode 1961 hingga 2025. Angka itu lebih tinggi dibandingkan laju kenaikan suhu rata-rata global pada periode yang sama.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa suhu rata-rata China pada 2025 menjadi salah satu dari dua tahun terpanas sejak pencatatan nasional dimulai pada 1901. Selain itu, wilayah utara mengalami pemanasan lebih cepat dibandingkan selatan, sementara wilayah barat memanas lebih cepat daripada timur.

Luasnya wilayah daratan China menjadi salah satu alasan mengapa negara itu memanas lebih cepat dibandingkan rata-rata dunia, kata Profesor Benjamin Horton dari City University of Hong Kong (CityUHK), yang juga menjabat sebagai Dekan School of Energy and Environment.

"Daratan memanas lebih cepat dibandingkan lautan," ujarnya.

"Karena China merupakan daratan kontinental yang sangat luas, negara ini mengalami pemanasan yang lebih kuat dibandingkan rata-rata global."

Menurut Horton, laju pemanasan menjadi faktor penting karena masyarakat, infrastruktur, ekosistem, dan perekonomian memerlukan waktu untuk beradaptasi secara bertahap.

"Yang menjadi kekhawatiran bukan lagi sekadar musim panas yang semakin panas," katanya.

"Dasar kondisi iklim itu sendiri berubah begitu cepat sehingga kejadian ekstrem yang dulu dianggap langka kini mulai menjadi hal yang biasa."

DARI TOPAN DAN TORNADO HINGGA GELOMBANG PANAS

China mengalami peningkatan baik dari sisi frekuensi maupun intensitas cuaca ekstrem.

Otoritas meteorologi pada 19 Juli mengeluarkan peringatan hujan lebat untuk wilayah selatan, menyusul peringatan sebelumnya mengenai risiko banjir bandang di daerah seperti Chongqing dan Yunnan, serta potensi evakuasi darurat di wilayah-wilayah rawan, menurut Reuters.

Longsor yang dipicu hujan deras di Chongqing pada 17 Juli menewaskan delapan orang. Tim penyelamat hingga kini masih mencari 34 orang yang masih hilang.

Otoritas perkeretaapian juga menghentikan sementara sejumlah perjalanan kereta penumpang di jalur Shanghai-Kunming pada 19 Juli akibat hujan deras, lapor stasiun televisi pemerintah CCTV.

Di Guangxi, otoritas hidrologi di Kota Baise melaporkan permukaan beberapa sungai naik antara satu hingga tiga meter dalam kurun 24 jam terakhir, menurut CCTV.

Sepanjang 2025, sebanyak 11 dari 27 topan yang terbentuk di kawasan Pasifik barat laut dan Laut China Selatan mendarat di China, menurut CMA.

Awal Juli ini, Topan Maysak menghantam Provinsi Hainan sebelum bergerak ke Guangxi, yang mengalami kerusakan paling parah.

Hingga 9 Juli, pejabat setempat mengonfirmasi sedikitnya 39 orang tewas akibat topan tersebut, menurut laporan media pemerintah China.

Sementara itu, dua tornado yang menerjang sebagian wilayah Hubei pada 6 Juli menewaskan sedikitnya 11 orang dan melukai ratusan lainnya.

Kesaksian para korban menggambarkan dahsyatnya bencana tersebut. Seorang pria berusia 30 tahun tersapu keluar dari apartemennya di Kota Huanggang dan kemudian dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan darurat.

Warga lain menceritakan bagaimana mereka hanya bisa menyaksikan orang-orang terangkat ke udara, sementara jendela dan atap bangunan beterbangan.

"Semuanya terjadi hanya dalam tiga sampai lima menit, tetapi dampaknya benar-benar menghancurkan," kata seorang warga.

Polisi paramiliter mengevakuasi warga dengan perahu karet melalui daerah yang tergenang banjir akibat hujan yang dibawa oleh topan Maysak, di Nanning, Daerah Otonomi Zhuang Guangxi, China, 6 Juli 2026. (Foto: REUTERS)

Namun, para ilmuwan menegaskan bahwa badai dahsyat seperti itu hanyalah salah satu wujud dari tren yang lebih luas.

Gelombang panas diperkirakan melanda sejumlah wilayah China bulan ini. Pada 14 Juli, pemerintah mengeluarkan peringatan nasional pertama tahun ini mengenai risiko kesehatan akibat panas.

Shanghai mencatat suhu 37 derajat Celcius pada 15 Juli, sementara suhu di beberapa wilayah barat laut China diperkirakan mencapai 44 derajat Celsius, menurut pejabat setempat.

Prakiraan CMA juga menunjukkan suhu di Kota Chengdu, ibukota Provinsi Sichuan, berkisar 37 hingga 38 derajat Celsius pertengahan Juli ini.

Foto dan video yang diunggah di platform Xiaohongshu memperlihatkan sebagian area bawah tanah Metro Chengdu ditutup sementara agar warga dapat beristirahat dan menghindari udara panas serta kelembapan yang menyengat.

Foto dan video yang diunggah di Xiaohongshu memperlihatkan beberapa bagian stasiun bawah tanah Metro Chengdu yang dibatasi agar para penumpang dapat beristirahat dan melepas lelah akibat kelembapan dan panas yang menyengat. (Foto: Xiaohongshu/杨眼眼)

Di Provinsi Shanxi, sebuah kompleks permukiman memasang sistem penyemprot kabut bertekanan tinggi yang mampu menurunkan suhu permukaan antara lima hingga delapan derajat Celsius hanya dalam beberapa menit.

Menurut China National Radio, sistem tersebut dipasang sejak 2024 dan dioperasikan selama musim panas untuk melayani seluruh delapan gedung di kompleks tersebut.

Setiap gedung dilengkapi lebih dari 200 nosel penyemprot bertekanan tinggi di atap sehingga menghasilkan kabut yang membantu melepaskan panas dari udara sekitar.

Horton mengatakan, “urbanisasi dan fenomena pulau panas perkotaan (urban heat island)” turut memperburuk suhu tinggi dan kelembapan.

"Perluasan kota yang sangat cepat, banyaknya permukaan beton, dan berkurangnya vegetasi membuat kawasan perkotaan jauh lebih panas dibandingkan daerah pedesaan di sekitarnya, terutama saat terjadi gelombang panas," ujarnya.

Orang-orang yang menyewa kayak di Liangmahe, Beijing, China, pada 21 Juni 2026. (Foto: CNA/Hu Chushi)

Di Shenzhen, tingkat kelembapan saat ini “tergolong tinggi” dan pemerintah kota meningkatkan kewaspadaan terhadap kasus sengatan panas (heatstroke).

Otoritas setempat memperingatkan bahwa cuaca panas saat ini dapat "secara signifikan meningkatkan risiko sengatan panas yang parah" sehingga aktivitas luar ruangan seperti mendaki gunung tidak disarankan.

Layanan darurat mengatakan mereka menerima hampir 40 panggilan permintaan bantuan antara 1 hingga 12 Juli dari warga yang mengalami risiko sengatan panas akibat suhu yang menyengat.

Dalam pernyataan di WeChat, Shenzhen Emergency Medical Centre menyebut menerima 19 panggilan terkait sengatan panas hanya pada 11 Juli.

MENGUJI TARGET IKLIM CHINA

Dalam pidatonya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) September lalu, Presiden Xi Jinping menyampaikan, China berencana menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 7 hingga 10 persen di bawah tingkat puncaknya pada 2035.

China, yang masih sangat bergantung pada batubara, merupakan penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia setelah melampaui Amerika Serikat pada 2006.

Pada 2021, Beijing menetapkan target ganda untuk mencapai puncak emisi karbon dioksida pada 2030 dan menjadi netral karbon pada 2060.

Selain menekan emisi, China juga berencana meningkatkan kapasitas energi angin dan surya serta menaikkan porsi energi nonfosil dalam konsumsi energi domestik menjadi lebih dari 30 persen, kata Xi.

"Transformasi menuju pembangunan hijau dan rendah karbon adalah tren zaman," ujar Xi, seraya mengkritik "sejumlah negara" yang menurutnya justru bergerak berlawanan dengan transisi energi bersih global.

"Komunitas internasional harus tetap berada di jalur yang benar, mempertahankan keyakinan yang teguh, tindakan yang konsisten, dan upaya yang tidak surut," tambahnya.

Horton mengatakan, China “layak mendapat apresiasi atas kemajuan nyata” dalam memenuhi komitmen iklimnya. Namun, negara itu tetap menjadi penghasil emisi gas rumah kaca tahunan terbesar di dunia, sementara batubara masih memainkan peran penting dalam ketahanan energi dan pembangunan industri.

"Kemajuannya nyata, tetapi besarnya emisi yang masih berlangsung juga nyata," ujarnya.

Menurut Horton, keberhasilan jangka panjang akan sangat bergantung pada "seberapa cepat perluasan energi terbarukan mampu menghasilkan penurunan emisi absolut secara berkelanjutan".

Seorang pria terpantul di panel surya selama ajang SNEC PV Power Expo di Shanghai, China, pada 24 Mei 2023. (Foto: EPA/ALEX PLAVEVSKI)

Ia menambahkan bahwa China perlu terus memperluas penggunaan energi terbarukan dan sistem penyimpanan energi, sekaligus mengurangi ketergantungan pada batubara.

Selain itu, negara tersebut juga dapat mengurangi dampak kenaikan suhu dengan meningkatkan efisiensi bangunan dan perencanaan kota, misalnya dengan membangun pusat pendinginan, atap hijau, hutan kota, serta penggunaan material yang memantulkan panas.

"China tidak lagi menghadapi persoalan iklim yang baru akan terjadi di masa depan," kata Horton.

"China kini sedang mengelola persoalan iklim yang sudah terjadi saat ini."

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/ar(ew)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan