Skip to main content
Iklan

Asia

Usai perang Iran, bagaimana China dan India memainkan peran di Timur Tengah?

Kekuatan-kekuatan baru di Timur Tengah tidak akan membangun pengaruh melalui kekuatan militer seperti yang selama ini dilakukan Amerika Serikat, kata para analis dalam konferensi tahunan Middle East Institute.

Usai perang Iran, bagaimana China dan India memainkan peran di Timur Tengah?

Sebuah bendera Iran tergeletak di tengah reruntuhan sebuah gedung Universitas Teknologi Sharif, yang rusak akibat serangan, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Teheran, Iran, 7 April 2026. (Foto: West Asia News Agency via Reuters/Majid Asgaripour)

Perang Iran memang telah mengubah dinamika di Timur Tengah, namun para analis menyatakan, peran Amerika Serikat yang telah lama menjadi kekuatan dominan di kawasan itu tidak akan tergantikan oleh China maupun India.

Sebaliknya, Timur Tengah diperkirakan akan memasuki fase baru dengan keseimbangan kekuatan yang lebih kompleks, tambah mereka.

Meski diperkirakan tetap menjadi pemain penting di kawasan, para ahli menilai pengaruh negara-negara dengan kekuatan yang tengah bangkit itu akan lebih banyak diwujudkan melalui diplomasi dan kemitraan ekonomi, alih-alih kehadiran militer seperti yang selama ini identik dengan AS.

"Jangan berharap akan muncul aktor eksternal baru yang memainkan peran serupa dengan yang selama ini dijalankan Amerika Serikat atau negara-negara Eropa," kata Kabir Taneja, Direktur Eksekutif Observer Research Foundation (ORF) Middle East, lembaga kajian kebijakan yang berbasis di Dubai.

Taneja menyampaikan hal itu dalam diskusi panel pada konferensi tahunan Middle East Institute (MEI) pada pertengahan Juni lalu. MEI merupakan lembaga riset otonom yang berada di bawah National University of Singapore (NUS).

Konferensi tahun ini mengusung tema "After the Iran War: The Global Geopolitical and Economic Fallout" (Setelah Perang Iran: Dampak Geopolitik dan Ekonomi Global).

Dalam panel bertajuk "External Powers and the New Middle East Reality", para pakar membahas dampak konflik tersebut terhadap pengaruh negara-negara besar, termasuk AS, China, dan India.

Tangkapan layar dari siaran langsung video yang menampilkan diskusi panel dalam konferensi tahunan Middle East Institute, pada 23 Juni 2026.

MENGUJI KETERLIBATAN CHINA

Dalam diskusi panel tersebut, Jonathan Fulton, lektor kepala di Zayed University mengatakan, konflik Iran menjadi ujian bagi keterlibatan China di Timur Tengah.

"China selama ini mengedepankan pendekatan yang berfokus pada ekonomi di kawasan, dan strategi itu efektif ketika situasi stabil. Namun, pendekatan itu belum tentu berhasil saat kawasan dilanda gejolak," kata Fulton, yang meneliti hubungan China dengan Timur Tengah.

Dalam beberapa tahun terakhir, China memperluas pengaruhnya di Timur Tengah melalui kerja sama di bidang energi, perdagangan, investasi, dan diplomasi, termasuk menjadi penengah dalam pemulihan hubungan diplomatik antara Arab Saudi dan Iran pada 2023.

Timur Tengah juga semakin penting bagi Beijing. Menurut Columbia University Center on Global Energy Policy, yang mengutip analisis terhadap data bea cukai China, sekitar separuh impor minyak mentah China dalam satu dekade terakhir berasal dari kawasan tersebut.

Fulton mengatakan, kehadiran China di Timur Tengah terus meningkat setelah Beijing menyadari bahwa ketidakstabilan di kawasan itu dapat mengganggu kepentingan ekonomi dan ketahanan energinya.

Ia menambahkan, keterlibatan China menjadi lebih sistematis sejak peluncuran Belt and Road Initiative pada 2013, yakni strategi global Beijing di bidang pembangunan infrastruktur dan investasi. Meski demikian, fokus utamanya tetap pada kerja sama ekonomi dan pembangunan.

Menanggapi pertanyaan mengenai apakah konflik Iran menunjukkan keterbatasan peran China sebagai aktor keamanan, panelis lain sekaligus pakar kebijakan luar negeri China, Yun Sun, mengatakan, persoalannya bukan apakah Beijing akan berperan, melainkan seperti apa bentuk peran tersebut.

Perang Iran pecah pada 28 Februari setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke Teheran, yang memicu aksi balasan dan memperluas eskalasi di kawasan. Konflik yang berlangsung selama berbulan-bulan itu telah menewaskan ribuan orang, sebagian besar warga Iran, serta mengguncang pasar global.

China berulang kali menyerukan gencatan senjata segera dan kembali ke jalur diplomasi, sembari mengkritik aksi militer yang berisiko memperluas konflik.

"China tidak akan melakukan intervensi militer dan juga tidak berencana mengerahkan pasukan di kawasan," kata Yun, yang merupakan peneliti senior sekaligus Direktur Program China di Stimson Center, lembaga kajian yang berbasis di Washington.

"Namun, itu bukan berarti China tidak ingin memainkan peran."

AS selama ini menjadi mitra keamanan utama bagi banyak negara di Timur Tengah. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara di kawasan itu semakin berupaya mendiversifikasi kemitraan mereka dengan kekuatan lain, termasuk China dan India.

Yun mencontohkan peran China dalam memediasi pemulihan hubungan Arab Saudi dan Iran. Namun, ia menekankan bahwa menjadi fasilitator kesepakatan berbeda dengan menjadi penjamin pelaksanaannya.

"Itu adalah peran yang sama sekali berbeda, karena menjadi penjamin berarti harus memikul tanggung jawab untuk memastikan kesepakatan tersebut benar-benar dijalankan," ujarnya.

Meski demikian, Yun mengatakan Beijing mulai menunjukkan keinginan untuk memainkan peran yang lebih besar dalam urusan keamanan di Timur Tengah. Ia menunjuk dukungan China terhadap upaya mediasi Pakistan antara AS dan Iran, serta serangkaian keterlibatan diplomatik dengan negara-negara di kawasan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi di Beijing, China, dalam foto yang dirilis pada 6 Mei 2026 ini. (Foto: Seyed Abbas Araqchi via Telegram/Foto yang disediakan via Reuters)

Sejak awal Maret, Menteri Luar Negeri China Wang Yi telah menggelar sejumlah pembicaraan tingkat tinggi dengan para mitranya di Timur Tengah, termasuk membahas isu keamanan kawasan.

"Ini merupakan langkah yang memang dirancang untuk menunjukkan keterlibatan China yang lebih besar dalam keamanan Timur Tengah. Jadi, ini juga akan menjadi realitas baru bagi kawasan," kata Yun.

MINAT INDIA KIAN BESAR

Sementara itu, Taneja dari ORF Middle East mengatakan, India berupaya mempertahankan otonomi strategisnya di Timur Tengah dengan menjalin hubungan dengan berbagai pihak, termasuk negara-negara Teluk, Israel, dan Iran.

Timur Tengah merupakan mitra ekonomi penting bagi India, yang memasok sebagian besar kebutuhan energinya serta menjadi tempat tinggal jutaan warga negara India, terutama di negara-negara Teluk.

"India tidak memandang Timur Tengah sebagai satu kesatuan. Hubungannya dengan kawasan ini lebih banyak dibangun melalui kerja sama bilateral dengan hampir semua negara di sana," ujarnya. Menurut Taneja, pendekatan New Delhi didorong oleh berbagai kepentingan, mulai dari ketahanan energi, hubungan ekonomi, hingga strategi kawasan.

Presiden Uni Emirat Arab, Mohamed bin Zayed Al Nahyan, menyambut Perdana Menteri India, Narendra Modi, dalam kunjungan resmi di Bandara Kepresidenan, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada 15 Mei 2026. (Foto: Ryan Carter/Kantor Kepresidenan UEA/Disediakan melalui REUTERS)

Taneja mencontohkan hubungan India dengan Uni Emirat Arab sebagai bukti semakin besarnya keterlibatan New Delhi di Timur Tengah. Menurut dia, hubungan ekonomi kedua negara berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.

"Ada komitmen yang nyata. Dari sisi ekonomi dan bisnis, momentumnya juga terus menguat," ujarnya.

Namun, Taneja menegaskan bahwa menguatnya kemitraan tersebut tidak boleh dimaknai sebagai tanda bahwa India ingin mengambil alih peran keamanan yang selama ini dijalankan negara-negara Barat.

"Apakah India bisa menjadi penyedia keamanan? Lihat saja kondisi geografis kami," katanya, seraya menyinggung tantangan keamanan yang dihadapi India terkait Pakistan dan China sebagai negara tetangga.

Meski begitu, Taneja mengatakan, India tetap menjalin hubungan dengan berbagai pihak di kawasan. Menurutnya, hal itu mencerminkan bagaimana negara-negara kini menavigasi dinamika Timur Tengah yang semakin kompleks, di mana hubungan antarnegara tidak lagi terbagi secara tegas ke dalam blok-blok yang saling bersaing.

"Semua hubungan itu memiliki keseimbangannya masing-masing," katanya.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da/ar

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan