Cara PM Lee menjaga persahabatan dengan empat negara terpenting bagi Singapura, salah satunya Indonesia
Memang ada saja perselisihan pada hubungan bilateral Singapura dengan negara lain, tapi menurut pengamat, Lee Hsien Loong selalu berhasil mendapat solusi yang saling menguntungkan dan memiliki perspektif jangka panjang.
Perdana Menteri Lee Hsien Loong pada KTT AS-ASEAN ke-9, yang diselenggarakan secara daring, pada 26 Oktober 2021. (Foto: Kementerian Komunikasi dan Informasi Singapura)
SINGAPURA: Perdana Menteri Lee Hsien Loong pernah berkata, Amerika Serikat, China, Malaysia dan Indonesia adalah empat negara dengan hubungan bilateral terpenting bagi Singapura.
Hubungan Singapura dengan keempat negara ini memang tidak selalu mulus, ada saja masalah yang muncul di kepemimpinan Lee. Namun menurut pengamat dan orang terdekatnya, Lee selalu bisa mencapai solusi yang saling menguntungkan kedua pihak dan berlangsung secara jangka panjang.
Lee juga pernah blak-blakan soal "fakta pahit" dalam hubungan internasional. "Kekuatanlah yang menentukan negara mana yang berjaya, dan negara mana yang bisa menentukan agenda," kata Lee dalam pidatonya pada S Rajaratnam Lecture tahun 2015.
Pada pidato lainnya di Pawai Hari Kemerdekaan tahun 2016, Lee mengatakan bahwa sebagai negara kecil, Singapura harus memiliki jaringan negara-negara sahabat.
"Negara sahabat di sekitar kita dan juga di antara kekuatan-kekuatan besar di seluruh dunia, bahkan di tempat yang sangat jauh," kata dia. "Selain Malaysia dan Indonesia, hubungan paling penting kita adalah dengan China dan Amerika."
Singapura bisa memajukan kepentingan nasionalnya melalui berbagai cara, kata Lee. Singapura, lanjut dia, bisa menjadi pemain yang aktif dan konstruktif di kancah internasional, menciptakan "tujuan bersama" dengan negara-negara tetangga, dan tetap sukses serta bersatu sebagai sebuah bangsa.
Lee menyerahkan kepemimpinan Singapura kepada Lawrence Wong pada 15 Mei. CNA mengulas bagaimana Singapura di bawah kepemimpinan Lee selama 20 tahun berhasil membangun hubungan yang erat dengan dua kekuatan besar dunia dan tetangga terdekatnya.
PERSAHABATAN YANG ERAT DENGAN AS
Tahun 2016 sudah genap 50 tahun hubungan diplomatik Singapura dan AS terjalin. Untuk memperingatinya, Lee berkunjung ke Washington DC atas undangan presiden AS ketika itu, Barack Obama.
"Ini adalah gestur yang penting. Terakhir kali PM Singapura disambut dengan acara resmi di Gedung Putih adalah 30 tahun lalu ketika Lee Kuan Yew datang pada 1985," kata Lee pada Pawai Hari Kemerdekaan 2016, tidak lama setelah kunjungan dari AS.
Lee mengatakan, kunjungan itu mencerminkan "persahabatan yang hangat dan mendalam" antara Singapura dan Amerika Serikat di berbagai bidang.
"Kunjungan saya juga menjadi sinyal bahwa AS menghormati sahabat dan mitra mereka, serta menghargai dukungan Singapura atas peran AS di Asia Pasifik selama lebih dari 70 tahun pasca-perang, menciptakan kemakmuran melalui perdagangan dan investasi, menjaga keamanan dan stabilitas, membuka kesempatan bagi semua negara di kawasan untuk maju dan bersaing dengan damai," imbuh Lee.
Ashok Kumar Mirpuri, duta besar Singapura untuk AS dari 2012 hingga 2023, mengatakan Singapura dipilih sebagai salah satu negara pertama di Asia yang dikunjungi oleh Wakil Presiden AS Kamala Harris pada Agustus 2021.
Kunjungan Harris terjadi tidak lama setelah AS menarik pasukan dari Afghanistan setelah bertugas selama 20 tahun, perang terlama yang pernah diikuti Negeri Paman Sam. Mirpuri mengatakan, dalam konferensi pers bersama dengan Harris, Lee berbicara soal "keamanan dan stabilitas yang telah diciptakan AS di kawasan, berkat AS yang telah terlibat dalam perang melawan terorisme ini".
"PM Lee membawa perspektif jangka panjang untuk hubungan kedua negara," kata dia, seraya menambahkan bahwa Lee kembali disambut dengan hangat di Washington DC pada Maret 2022.
Lee dan para pemimpin AS selalu "aktif berhubungan", dan "mereka menghargai pemikiran strategis, perhatian dan kebijaksanaan Lee, serta benar-benar merasakan keuntungan berhubungan dengan Singapura", imbuh Mirpuri.
Di bawah kepemimpinan Lee, AS dan Singapura menandatangani Kesepakatan Kerangka Strategis pada 2005. Kesepakatan ini adalah pengakuan bahwa Singapura adalah mitra kerja sama keamanan utama bagi AS.
Pada 2015, kedua negara menandatangani Perjanjian Kerja Sama Pertahanan yang disempurnakan, dan pada 2019 AS dan Singapura memperbarui Nota Kesepahaman tahun 1990 soal akses kepada militer AS di pangkalan udara dan angkatan laut Singapura.
Di bidang ekonomi, pada 2004 Singapura menjadi negara pertama di Asia yang memberlakukan perjanjian perdagangan bebas dengan AS.
Singapura adalah rumah bagi hampir 5.500 perusahaan AS. Dalam kunjungan kerjanya di AS pada Maret 2022, Lee dalam konferensi pers dengan Harris mengungkapkan bahwa jumlah investasi asing langsung AS di Singapura melebihi jumlah investasi AS di China, India, dan Korea Selatan. Selain itu, Singapura juga merupakan investor Asia terbesar kedua di AS.
BERBAGAI PERSELISIHAN KECIL DENGAN CHINA
Berbagai perselisihan kecil kerap muncul dalam hubungan antara Singapura dan China selama 20 tahun terakhir, tapi tidak pernah sampai merusak persahabatan kedua negara, kata Chin Siat Yoon, duta besar Singapura untuk China pada 1998 hingga 2012. Hubungan yang sudah baik dengan China ini, kata Chin, akan diwarisi oleh Lee kepada Wong di kepemimpinan Singapura berikutnya.
Perselisihan pertama kedua negara terjadi pada Juli 2004 ketika Lee melakukan kunjungan tidak resmi ke Taiwan, sekitar sebulan sebelum dia menjadi PM. Juru bicara kementerian luar negeri China menyampaikan bahwa mereka "kecewa berat" dan melancarkan protes, mengatakan kunjungan itu "melukai perasaan 1,3 miliar rakyat China".
Singapura menerapkan kebijakan "Satu China", yang menganggap Taiwan adalah bagian dari China dan menentang perubahan pada status quo. Singapura menjalin hubungan diplomatik dengan China pada 1990, namun dengan syarat program latihan militer dengan Taiwan yang sudah dimulai sejak 1975 masih boleh dilanjutkan.
Perselisihan kedua pada hubungan Singapura dan China terjadi pada 2016 akibat perbedaan pandangan soal sikap Singapura dalam sengketa Laut China Selatan. Menurut Lye Liang Fook, peneliti senior di ISEAS-Yusof Ishak Institute, dalam perselisihan ini China memandang Singapura "terlalu dekat dengan AS".
Klaim China terhadap sebagian besar wilayah di Laut China Selatan tumpang tindih dengan empat negara anggota ASEAN - Filipina, Brunei, Malaysia dan Vietnam. Filipina sempat menyeret China ke pengadilan internasional atas tuduhan pelanggaran Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS). Pada Juli 2016, pengadilan menyatakan bahwa klaim historis China di "sembilan garis putus" tidak sejalan dengan UNCLOS. China menolak keputusan dan vonis pengadilan tersebut.
Lee dalam pidatonya pada Pawai Hari Kemerdekaan 2016, mengatakan bahwa Singapura adalah koordinator untuk Dialog Hubungan ASEAN-China dan karenanya "posisi ini membuat kami duduk di kursi panas karena semua pihak ingin kami sedikit memihak mereka".
Meski Singapura tidak memiliki klaim di Laut China Selatan, namun Lee mengatakan bahwa "banyak hal yang dipertaruhkan dan ada tiga hal yang penting bagi kami, yaitu hukum internasional, kebebasan pelayaran dan persatuan ASEAN".
Pada November 2016, China menahan sembilan kendaraan tempur Terrex milik angkatan bersenjata Singapura selama sekitar dua bulan. Kendaraan itu tengah dalam perjalanan pulang ke Singapura usai menjalani latihan rutin di Taiwan.
Alan Chong, peneliti senior di S Rajaratnam School of International Studies, mengatakan "alasan lengkap dari sisi China" soal penahanan ini tidak diketahui. Namun Chong menduga China ingin mengirim sinyal kepada Singapura dan Tsai Ing-wen, presiden pro-kemerdekaan Taiwan yang baru terpilih ketika itu.
Menurut Lye dari ISEAS-Yusof Ishak Institute, peristiwa itu meski tidak menyenangkan namun "penting karena membuat Singapura dapat menegaskan kepada China bahwa 'terkadang akan ada perselisihan dan kami tetap tegas pada prinsip kami. Kami berharap China mengerti posisi Singapura'".
"Saya kira ini penting untuk menjalin hubungan yang dewasa dan realistis dengan China," kata Lye.
"Tidak ada dua negara dengan kepentingan yang sama persis. Tapi China dan Singapura menghargai hubungan tersebut sehingga tidak ada perselisihan yang tidak bisa diselesaikan," kata Chin menambahkan.
China dan Singapura telah meluncurkan proyek antar pemerintahan: Kawasan Industri Suzhou pada 1994, Sino-Singapura Tianjin Eco-city pada 2008, dan Chongqing Connectivity Initiative pada 2015. Singapura terus mengidentifikasi bidang-bidang yang diminati oleh China, dan menyelaraskannya dengan prioritas pertumbuhan dan pengembangannya sendiri, ujar Lye.
Kedua negara meningkatkan hubungan bilateral menjadi "Kemitraan Berorientasi Masa Depan Berkualitas Tinggi" tahun lalu dan juga menandatangani FTA yang telah ditingkatkan.
Menurut data Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura Desember lalu, Singapura telah menjadi investor asing terbesar di China sejak 2013, dan China telah menjadi tujuan investasi utama Singapura sejak 2007.
Departemen Statistik Singapura menunjukkan bahwa pada 2023, total nilai perdagangan barang Singapura dengan China daratan adalah S$167 miliar. Sedangkan untuk perdagangan jasa, Singapura mengekspor S$33,6 miliar ke Cina daratan dan mengimpor S$35,2 miliar pada 2022.
Chin mengatakan, bidang perekonomian dan jaringan 27 FTA adalah salah satu cara mengukur bagaimana PM Lee mengelola hubungan luar negeri dari sisi hasil yang diperoleh. Selain itu, Lee juga memiliki pemahaman yang mendalam tentang mitra kerja samanya, dalam hal ini China, kata Chin.
Hal ini terlihat di pertemuan perdana Dewan Bersama untuk Kerja Sama Bilateral China-Singapura di Beijing pada Mei 2004. Chin mengatakan, Lee yang ketika itu menjabat wakil perdana menteri bertemu dengan wakil PM China saat itu, Wu Yi. Dalam pertemuan tersebut, Wu memberikan selamat kepada Lee yang akan menjadi PM Singapura berikutnya, kemudian Lee membalasnya dengan berkata: “高处不胜寒.”
Kata berbahasa Mandarin itu adalah kutipan puisi gubahan Su Shi, penyair di era dinasti Song, yang bisa diartikan "sepi saat berada di puncak".
"Fakta bahwa dia bisa mengutip puisi dari penyair era dinasti Song membuat Lee menuai banyak pujian. Wu memberikannya jempol dan masyarakat China memberi aplaus. Hal-hal seperti inilah yang membuat hubungan terjalin," kata Chin.
Chin mengatakan bahwa itu adalah salah satu puisi favorit Lee. "Dia mengagumi Su Shi," kata Chin. "Dia tidak hanya mengerti bahasa China, tapi juga literaturnya."
Lee juga dihormati oleh masyarakat Tiongkok. Dia adalah salah satu dari sedikit sekali pemimpin yang pernah dua kali diundang untuk berpidato di Sekolah Partai Pusat, pada 2005 dan 2012. Sekolah itu adalah lembaga pendidikan bagi kader Partai Komunis China, termasuk para petinggi partai tersebut.
Hubungan Singapura dengan Tiongkok "berkembang" selama Lee menjabat, dan saat ini "cukup baik", kata Chin. "Hubungan ini kuat, substantif, dan terus bergerak maju."
HUBUNGAN SALING MENGUNTUNGKAN DENGAN MALAYSIA
Lee mengatakan bahwa ASEAN telah menjadi landasan kebijakan luar negeri Singapura. Di blok kawasan ini, kata Lee, "kerja sama paling erat adalah dengan tetangga terdekat kita, Malaysia dan Indonesia".
Lee pernah bekerja dengan enam perdana menteri Malaysia dan hubungan dia dengan mereka terjalin konsisten, kata Vanu Gopala Menon, Komisaris Tinggi Singapura untuk Malaysia sejak 2014.
Pada awal kepemimpinannya, Lee menjalin hubungan dengan Abdullah Ahmad Badawi. Lalu hubungan diteruskan dengan Najib Razak dari (2009-2018), Mahathir Mohamad (2018-2020), Muhyiddin Yassin (2020-2021), dan Ismail Sabri Yaakob (2021-2022). Perdana Menteri saat ini adalah Anwar Ibrahim, yang memimpin setelah memenangi pemilu ke-15 Malaysia pada November 2022.
"Kami memiliki hubungan yang erat, sudah berlangsung lama, dan meliputi aspek dengan Malaysia. Bagi Singapura, ini adalah salah satu hubungan bilateral yang paling penting, jika bukan yang terpenting," kata Menon.
Lee selalu "melakukan pendekatan pragmatis dan langsung dalam menangani hubungan bilateral dengan Malaysia", lanjut Menon. Dia juga selalu mengupayakan kerja sama yang saling menguntungkan kedua negara.
Pertemuan PM Singapura dan Malaysia dilaksanakan secara rutin dalam kepemimpinan Lee untuk meningkatkan kerja sama bilateral dan berupaya mencari solusi atas masalah-masalah yang belum terselesaikan, kata Menon.
Pertemuan pada Mei 2010 menjadi pemecah kebuntuan selama 20 tahun dalam masalah terkait Poin Kesepakatan 1990 soal Jalur Kereta Darat Malaya di Singapura. Kedua negara akhirnya sepakat untuk memajukan rencana tersebut dan akan bertemu dua kali lagi.
Pemimpin Singapura dan Malaysia sepakat agar lahan bekas rel kereta dikembalikan ke Singapura, dengan imbalan lahan di Marina South dan Ophir-Rochor yang akan dikembangkan oleh M+S, perusahaan patungan Temasek Holdings dan Khazanah Nasional Malaysia.
Sengketa yang masih belum terselesaikan adalah soal siapa yang akan membiayai pembangunan tiga bidang tanah bekas rel kereta. Akhirnya pemimpin kedua negara sepakat menyelesaikan masalah ini melalui pengadilan arbitrase dan menerima putusannya yang bersifat final dan mengikat.
"(Najib) bekerja secara konstruktif dengan PM Lee untuk menyelesaikan perselisihan yang telah berlangsung lama mengenai lokasi fasilitas karantina imigrasi di stasiun kereta... (serta) sengketa lahan Kereta Tanjong Pagar," ujar Chong.
"Hari ini, warga Singapura bisa melihat bekas lahan Kereta Tanjong Pagar telah menjadi koridor hijau. Kita harus bersyukur bahwa kebijakan luar negeri PM Lee untuk terlibat secara pragmatis dengan Najib Razak membuat masalah semacam ini tidak lagi menjadi ganjalan serius dalam hubungan Singapura dengan Malaysia."
Pada 2003, kedua negara juga memilih untuk membawa sengketa atas klaim Pedra Branca ke Mahkamah Internasional atau ICJ.
Pada putusan ICJ tahun 2008, kedaulatan Pedra Branca diberikan kepada Singapura sementara Middle Rocks - dua klaster bebatuan di selatan pulau tersebut - diberikan kepada Malaysia.
"Bisa dikatakan bahwa perencanaan penyelesaian sengketa ini dimulai oleh pendahulu Lee, tapi tim di pemerintahan Lee harus diberi pujian karena berhasil menuntaskannya melalui keputusan yang logis," kata Chong.
Hubungan Singapura dan Malaysia bukannya bebas masalah, ada beberapa masalah luar biasa yang perlu diselesaikan dan sesekali muncul perselisihan, kata Menon.
Misalnya, pada Desember 2018 ketika Mahathir memimpin Malaysia selama dua tahun, kapal-kapal Malaysia berlabuh di perairan teritorial Singapura di lepas pantai Tuas selama berbulan-bulan hingga awal April 2019.
Masalah kedua negara yang masih belum terselesaikan termasuk di antaranya delimitasi batas maritim, reklamasi Pedra Branca, air, dan wilayah udara. Lee mengatakan pada Oktober lalu setelah bertemu dengan Anwar, bahwa itu adalah masalah-masalah penting dan akan dipertimbangkan solusinya "secara holistik dan konstruktif, dalam konteks yang lebih luas dari hubungan kedua negara secara keseluruhan".
Kedua negara juga tengah terlibat dalam proyek Jalur Rapid Transit System (RTS) antara Woodlands North di Singapura dan Bukit Chagar di Johor Bahru, serta usulan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Johor-Singapura. Proyek ini akan semakin meningkatkan konektivitas dan arus lintas batas orang, barang, dan investasi kedua negara.
Jalur RTS diperkirakan rampung pada 2026. Sementara untuk KEK, telah ditandatangani Nota Kesepahaman pada Januari lalu untuk merancang kesepakatan yang mengikat secara hukum untuk pembangunan kawasan ini.
"Nasib kedua negara saling terkait," kata Menon.
"Jika Malaysia berhasil, maka kedua negara dan kawasan yang lebih luas juga akan makmur. Dalam hal ini, PM Lee selalu fokus pada apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kerja sama dan membawa hubungan bilateral kedua negara ke jenjang yang lebih tinggi."
HUBUNGAN YANG KUAT DENGAN INDONESIA
Kunjungan luar negeri terakhir Lee sebagai Perdana Menteri Singapura adalah bertemu dengan Presiden Indonesia Joko Widodo di Istana Bogor, Jawa Barat, bulan lalu.
"Saya senang dapat menuntaskan kunjungan luar negeri saya dalam beberapa tahun terakhir ini dengan datang ke sini. Sebuah kunjungan yang berkesan dengan caranya sendiri, karena eratnya hubungan antara kedua negara dan pentingnya menjaga persahabatan ini demi kemakmuran dan stabilitas Singapura serta kawasan," kata Lee kepada wartawan.
Jokowi, yang telah melalui dua periode kepemimpinan selama 10 tahun, juga akan lengser pada Oktober tahun ini.
Kedua pemimpin mengakhiri kepemimpinan mereka dengan menuntaskan tiga masalah bilateral yang telah berlarut-larut.
Kedua negara telah menandatangani tiga pakta pada tahun 2022 yang mulai berlaku pada 21 Maret tahun ini. Ketiga pakta itu berkaitan dengan manajemen wilayah udara, kerja sama pertahanan, dan ekstradisi. Lee dan Jokowi menandai pemberlakuan pakta itu dengan saling bertelepon.
Menurut Julia Lau, peneliti senior dan koordinator Program Studi Indonesia di ISEAS-Yusof Ishak Institute, hubungan kedua negara telah "semakin kuat" setelah sempat mencapai "titik terendah" pasca-Konfrontasi.
Konfrontasi adalah konflik yang dimulai di pemerintahan Presiden Soekarno, yang menentang pembentukan Federasi Malaysia yang terdiri dari Singapura, Malaya, Sarawak, dan Kalimantan Utara (Sabah). Konfrontasi ini berakhir pada tahun 1966.
Lee menjabat PM Singapura di masa kepemimpinan dua presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo.
"Fakta bahwa orang ini (Lee) telah memimpin Singapura (selama 20 tahun) dan telah melihat para pemimpin dunia datang dan pergi... membuat dia memiliki kedalaman pengetahuan tertentu - baik secara institusional maupun personal," kata Lau.
Selama 20 tahun menjabat, Lee telah membantu hubungan Singapura-Indonesia mencapai titik yang lebih stabil, imbuh Lau.
Indonesia di bawah kepemimpinan SBY telah melewati masa-masa yang lebih bergejolak, dan bahasa diplomasi yang digunakan oleh kedua negara kini menjadi "jauh lebih positif", kata Lau. "Sekarang ada pencapaian-pencapaian konkret juga."
Menurut Lau, hubungan kedua negara mencapai titik balik usai bencana tsunami Samudera Hindia pada Desember 2004, selang empat bulan setelah Lee menjabat PM.
Singapura ketika itu mengirimkan bantuan kemanusiaan dan mengerahkan angkatan bersenjata mereka ke Aceh untuk melakukan pencarian dan evakuasi korban, memberikan operasi bantuan darurat, dan membantu rekonstruksi.
Pasukan asing lainnya juga ikut membantu, dan "hal ini telah menunjukkan kepada masyarakat Indonesia bahwa tidak mengapa meminta bantuan dan bahwa (mereka) memiliki tetangga yang siap menolong," ujar Lau.
Di bawah kepemimpinan Lee, lanjut Lau, hubungan Singapura dan Indonesia menjadi "jauh lebih dewasa". "Ada rasa saling menghormati dan juga ada pengakuan."
Lau mengatakan, keakraban pemimpin kedua negara juga menular ke pejabat-pejabat di bawahnya. Sekarang, jika sekelompok pejabat Singapura dan Indonesia berkumpul bersama, "Anda akan benar-benar menyaksikan bahwa mereka telah menjadi kawan profesional selama bertahun-tahun dan niat baik yang tulus," kata Lau.
Pada pertemuan kedua pemimpin terakhir, Lee dan Jokowi ditemani oleh para penerus mereka, Wong dan Prabowo Subianto.
"Saya senang Presiden Jokowi dan saya akan menyerahkan hubungan bilateral ini dalam keadaan yang baik kepada para penerus kami," kata Lee, yang akan menjadi Menteri Senior setelah tidak lagi menjabat PM.
Sementara itu, Wong menulis di Facebook: "Saya berharap dapat bekerja sama dengan presiden terpilih Prabowo untuk membangun hubungan yang kuat, dan membawa kemitraan kita ke jenjang yang lebih tinggi lagi."