Skip to main content
Iklan

Asia

Mengejar klik, menjual rasa sakit: Penindakan tak hentikan kegilaan livestreaming kekerasan di China

Otoritas China terus menindak konten siaran langsung (livestreaming) yang menampilkan kekerasan, meski para ahli mengatakan praktik ini sulit diberantas karena platform media sosial masih memperoleh keuntungan dari tontonan semacam itu.

Mengejar klik, menjual rasa sakit: Penindakan tak hentikan kegilaan livestreaming kekerasan di China

Sejumlah streamer di platform siaran langsung populer China seperti Douyin dan Kuaishou melakukan aksi yang kerap merendahkan martabat demi popularitas daring hingga keuntungan finansial. (Gambar: WeChat/Biro Keamanan Siber Kementerian Keamanan Publik China, BiliBili/都是大棚的瓜)

SINGAPURA: Dalam satu siaran langsung (livestream), seorang pria berulang kali menghantam kepalanya dengan kaleng minuman dari aluminium, sementara para penonton yang terhibur membanjiri layar dengan tanda suka dan beragam hadiah virtual.

Dalam video lain, sejumlah orang saling mencambuki kaki dan punggung dengan sabuk kulit keras serta ranting pohon seiring melonjaknya jumlah penonton yang menyaksikan langsung di internet.

Aksi-aksi kekerasan ini merupakan bagian dari tren mengkhawatirkan di China yang dikenal sebagai “brutality PK” –  bentuk siaran langsung ketika para streamer bersaing di media sosial untuk meraup penonton dan popularitas, sering kali dengan menyakiti atau mempermalukan diri sendiri maupun orang lain.

Istilah PK, singkatan dari Player Kill, awalnya berasal dari dunia gim daring dan merujuk pada aktivitas ringan seperti lomba menyanyi atau saling melontarkan lelucon. Namun, di China, siaran langsung PK kini memiliki konotasi yang jauh lebih gelap.

Di platform video dan siaran langsung populer seperti Douyin dan Kuaishou, sejumlah streamer melakukan aksi berbahaya dan kerap merendahkan martabat demi popularitas daring, bahkan keuntungan finansial.

Dalam video 40 detik yang disaksikan CNA di Bilibili, situs siaran langsung populer China yang mirip dengan YouTube, seorang pria dewasa terlihat berulang kali memukul bokong seorang perempuan yang lebih muda menggunakan sandal.

Video tersebut diberi keterangan “Hukuman karena kalah (pertarungan) PK” dan telah ditonton lebih dari 15.800 kali, menuai puluhan komentar.

“Aku yang cuma menonton bisa merasakan sakitnya,” tulis seorang pengguna, sementara pengguna lain berkomentar bahwa “memukuli bokong itu sudah keterlaluan”.

Otoritas siber China menyebut konten semacam ini “sangat berbahaya” dan telah mengambil langkah penindakan.

Di Provinsi Zhejiang, China bagian timur, 13 orang ditangkap karena menggelar kontes PK yang kasar dan merendahkan martabat untuk menarik kunjungan penonton serta meningkatkan pendapatan.

“Demi perhatian dan hadiah virtual, mereka melakukan aksi-aksi yang sangat berbahaya dan merendahkan martabat di depan kamera,” demikian isi laporan tentang insiden tersebut, diterbitkan media milik negara Global Times pada 30 April.

Di Provinsi Zhejiang, China bagian timur, 13 orang ditangkap karena menggelar kontes PK yang kasar dan merendahkan martabat untuk menarik trafik serta meningkatkan pendapatan. (Foto: WeChat/Biro Keamanan Siber Kementerian Keamanan Publik)

Polisi siber China telah mengambil “tindakan cepat dan terkoordinasi”, kata laporan tersebut, seraya menambahkan bahwa masyarakat didorong untuk “secara sadar menolak konten vulgar dan kekerasan serta segera melaporkan aktivitas ilegal”.

“Para streamer yang memburu perhatian melalui tindakan vulgar dan kekerasan akan menghadapi konsekuensi hukum,” demikian pernyataan Kementerian Keamanan Publik China. Kementerian tersebut juga mengatakan platform media sosial diwajibkan untuk “memperkuat moderasi konten dan menerapkan kebijakan tanpa toleransi terhadap akun-akun yang melanggar aturan”.

“Masyarakat didorong untuk secara sadar menolak konten vulgar dan kekerasan serta segera melaporkan aktivitas ilegal guna bersama-sama menjaga ekosistem daring yang sehat,” kata kementerian tersebut.

“TONTONAN” ATAU MEMICU KEKERASAN?

China telah bertahun-tahun menindak kekerasan di dunia maya, mulai dari menerapkan pembatasan bagi pengguna di bawah umur, seperti jam malam untuk penggunaan internet dan gim, hingga melarang gim yang dianggap mengandung “unsur seksual eksplisit, kekerasan, darah, dan perjudian”.

Meski telah ada peringatan dan tindakan dari otoritas ruang siber, siaran langsung PK terbukti sulit diberantas.

Januari lalu, sepasang suami istri dari Provinsi Yunnan di barat daya China ditahan setelah membuat video kekerasan rumah tangga palsu untuk meningkatkan trafik daring.

Satu video viral memperlihatkan seorang perempuan bermarga Li berusaha melarikan diri dari suaminya yang bermarga Cai. Perempuan itu tertangkap dan dikurung di ruangan kecil.

Dalam video lain, Li terlihat berbalut selimut kotor, duduk di lantai sambil menangis dan memohon agar Cai memberinya makanan.

Menurut laporan media China, pasangan tersebut dikenai “penahanan administratif” selama lima hari karena membuat video rekayasa yang “menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat”.

Cai kemudian mengakui ia sengaja membuat video kontroversial tersebut untuk mendapatkan pengikut. Ia juga mengaku iri pada para selebritas internet yang meraup keuntungan besar dari siaran langsung.

Insiden lain pada 2025 melibatkan empat orang dari Provinsi Jiangxi di China bagian tenggara. Mereka menyiarkan aksi-aksi ekstrem seperti menusukkan paku pada berbagai anggota tubuh, mencambuki diri sendiri dengan sabuk, dan menusuk bibir dengan jarum.

Kelompok tersebut dijatuhi hukuman karena menayangkan “siaran langsung vulgar”.

Konten livestream yang mengganggu dan vulgar “sebagian besar merupakan akibat dari persaingan yang semakin ketat dalam industri siaran langsung China”, kata Xu Jian, seorang lektor kepala dari Deakin University.

“Penonton sudah sangat terbiasa dengan format konvensional seperti pertunjukan bakat dan hiburan, sehingga para streamer PK semakin terdorong untuk menghadirkan aksi yang lebih sensasional dan berlebihan guna menarik perhatian,” ujar Xu.

“SANGAT SULIT” DISENSOR SECARA WAKTU NYATA

Menurut para ahli, banyak streamer PK dapat dengan mudah menghindari sensor dan larangan pemerintah karena memiliki “pemahaman kuat” tentang cara kerja sistem moderasi platform.

“Mereka sering mengandalkan eufemisme, aksi tersirat, atau memindahkan interaksi ke saluran privat untuk menghindari sanksi,” kata Guo Shaohua, lektor kepala dari Carleton College, Minnesota. Menurutnya, sebagian besar platform media sosial menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk moderasi – termasuk dengan menyaring kata kunci untuk memantau dan mengatur konten.

Laporan dari pengguna juga berperan penting dalam menandai konten yang dianggap tidak pantas, kata para ahli.

Menurut Xu dari Deakin University, para streamer yang telah dilaporkan kemungkinan besar akan mendapat “pengawasan lebih ketat” dari pihak platform.

Biasanya, peringatan diberikan terlebih dahulu, dan streamer yang dilaporkan diminta segera “memperbaiki” konten mereka.

“Namun, jika perilaku tersebut terus berlanjut, siaran langsung dapat dihentikan dan akun mereka dapat diblokir sementara atau permanen,” tambahnya.

Menurut Guo, sifat livestream yang “berlangsung secara waktu nyata (real time)” membuat penegakan aturan yang efektif dan menyeluruh menjadi “sangat sulit”.

“Para kreator terus menyesuaikan strategi untuk menghindari deteksi,” ujarnya.

Dalam satu kasus yang menjadi sorotan pada 2023, seorang streamer Douyin bermarga Wang dengan nama akun Bro3000 telah beberapa kali dilaporkan karena meminum Red Bull dan minuman keras China berkadar tinggi, baijiu, dalam jumlah besar – biasanya setelah kalah dalam tantangan minum.

Akun Douyin milik Wang lantas diblokir karena melanggar aturan platform. Namun, ia membuat akun baru dan kembali ke platform tersebut, melanjutkan siaran langsung berupa tantangan minum.

Ia juga menutupi label pada botol alkohol untuk menghindari sistem penyensoran platform. Pada akhirnya, ia meninggal dunia setelah meminum empat botol baijiu dan tiga botol Red Bull.

Beberapa pekan setelah kematiannya, streamer China lainnya, Huang Zhongyuan, juga meninggal setelah mengonsumsi 10 botol alkohol dalam satu siaran langsung.

Di balik penindakan resmi, para ahli melihat persoalan lebih mendasar: platform-platform media sosial berada di bawah tekanan untuk mengawasi konten berbahaya yang pada saat yang sama juga menghasilkan keuntungan besar.

Sebagian livestreamer memiliki jutaan pengikut.

Para streamer papan atas dilaporkan dapat meraup hingga 40.000 yuan (sekitar US$5.875) per bulan melalui hadiah virtual dan donasi penonton – menciptakan tekanan besar untuk tampil menonjol di tengah persaingan yang kian ketat.

Seorang streamer Douyin bermarga Wang dengan nama akun Bro3000 telah beberapa kali dilaporkan karena meminum Red Bull dan minuman keras China berkadar tinggi, baijiu, dalam jumlah besar – biasanya setelah kalah dalam tantangan minum. (Gambar: BiliBili/hhhhh是也)

“Makin besar trafik yang berhasil diperoleh streamer, makin banyak koin virtual yang mereka terima dalam bentuk tip, dan makin besar pula pendapatan platform,” ujar seorang pelaku industri kepada kantor berita pemerintah China, Xinhua.

Dalam ekonomi siaran langsung China, banyak platform mengambil sebagian dari hadiah virtual yang dikirimkan selama siaran – mengubah tontonan menjadi sumber pendapatan langsung.

Akibatnya, hanya ada sedikit dorongan bagi platform untuk secara agresif menghapus siaran kontroversial, kecuali jika konten tersebut memicu perhatian publik yang lebih luas, kata Wilson Wang dari University of Nottingham Ningbo China (UNNC).

“Yang menjadi perhatian platform siaran langsung adalah apakah Anda cukup terkenal hingga memicu perhatian lebih luas dari masyarakat, yang kemudian memaksa mereka mengambil tindakan.”

“Jika Anda streamer yang tidak terlalu dikenal, biasanya platform tidak akan berbuat apa-apa,” kata Wang.

Menurut Wang, platform juga dapat bersikap “cukup pasif” dalam menerapkan kebijakan pemerintah.

“Mereka tentu memiliki kepentingan untuk memperoleh lebih banyak keuntungan, dan siaran langsung PK yang vulgar ini memang menguntungkan,” ujarnya.

Bagi penonton, daya tariknya sering kali bukan terletak pada kompetisi itu sendiri, melainkan pada tontonan yang tercipta di sekelilingnya.

“Semuanya soal tontonan … Gulat profesional, misalnya,” kata Wang. “Banyak yang tahu itu palsu atau rekayasa. Itu bukan seperti pertandingan tinju yang memang sungguhan, tetapi orang-orang tetap suka menontonnya.”

Menurut Wang, sejumlah penonton bahkan secara terbuka mendorong para streamer untuk menaikkan tingkat hukuman atau kekerasan selama pertarungan PK.

“Ada penonton yang benar-benar berkata: ‘Lakukan yang lebih keras pada dirimu sendiri’,” ujarnya.

“Penonton justru mendorong tindakan semacam itu karena mereka memperoleh semacam rasa pencapaian dari hal tersebut.”

Dalam satu komentar di BiliBili, seorang pengguna bernama akun TeenageRiot mengatakan ia “sekadar menikmati konten murahan” dalam siaran langsung penuh kekerasan.

Pengguna lain, Lin Qiqi, mengkritik platform media sosial karena membiarkan para streamer melakukan hal tersebut.

“Ada banyak pihak berniat buruk yang memperkeruh keadaan (dan menimbulkan) berbagai masalah,” tulis Lin dalam komentarnya.

“Jika tidak ada tindakan untuk mengatur hal ini, (internet) akan jadi semakin mengerikan.”

Sebagian pengguna juga menunjukkan akan selalu ada penonton yang menikmati siaran langsung PK penuh kekerasan.

Sebagian penonton bahkan mulai kebal secara emosional – menunjukkan sikap skeptis terhadap para streamer yang melakukan aksi ekstrem.

Seorang pengguna bernama Beef Claypot Rice mengatakan “tidak ada lagi yang bisa membuatnya terkejut”, terutama ketika melihat para streamer PK mengonsumsi campuran makanan yang menjijikkan di depan kamera.

“Kalau mereka hanya makan lalu muntah, (itu tidak akan) membuat saya terkejut.”

“Nah, kalau mereka makan lalu tidur tanpa muntah, itu baru mantap.”

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan