Skip to main content
Iklan

Asia

Biro jodoh di China kebanjiran permintaan di tengah krisis pasangan bagi 30 juta pria

Seiring kian rumitnya proses mencari pasangan, para profesional muda di China mulai mencari bantuan untuk menavigasi dunia percintaan. Serial CNA Chinese Matchmakers mengikuti perjalanan mereka dan para pakar percomblangan yang membantu mereka menampilkan diri, mulai dari pertemuan pertama yang penuh kecanggungan.

Biro jodoh di China kebanjiran permintaan di tengah krisis pasangan bagi 30 juta pria

Upacara pernikahan di China. Pendaftaran pernikahan di negara ini menurun hingga sekitar separuh dibandingkan satu dekade lalu.

CHENGDU: Di atas kertas, Zhao Xiangjie, 33, memiliki keunggulan untuk urusan mencari pasangan di China.

Ia manajer produk teknologi informasi dengan penghasilan 300.000 yuan (Rp800 juta) per tahun, memiliki apartemen di Chengdu, dan orangtuanya memiliki apartemen lain yang saat ini kosong. Ia memiliki mobil, aktif menjaga kebugaran, dan berasal dari keluarga yang mapan.

Ketika ia bertemu dengan mak comblang Jiang Ping, 43, perempuan itu langsung menanyakan hal yang paling mendasar. Setelah melihat Zhao juga "cukup tampan", ia bertanya: "Kenapa kamu masih lajang?"

Zhao menimpali: "Orang-orang suka bercanda bahwa mereka yang seharusnya tidak lajang justru semuanya masih sendiri!"

Namun, yang ia alami justru tidaklah aneh. Dalam masyarakat yang telah lama menganggap pernikahan sebagai salah satu tonggak penting kehidupan, banyak pria muda di China kesulitan menemukan pasangan.

Di usia 33 tahun, Zhao Xiangjie kesulitan menemukan pasangan.

Jumlah pendaftaran pernikahan menurun. Hanya 6,76 juta pasangan yang menikah pada 2025 atau sekitar separuh dari jumlah pernikahan pada 10 tahun lalu.

Kebijakan satu anak selama beberapa dekade dan preferensi terhadap anak laki-laki juga menimbulkan ketimpangan: ada 30 juta lebih banyak laki-laki dibandingkan perempuan.

Bagi pemuda seperti Zhao, pencarian pasangan kian kompetitif dan penuh ketidakpastian. Makin banyak dari mereka beralih kepada mak comblang, profesi ratusan tahun yang kini berkembang menjadi industri modern yang menawarkan pendampingan personal, pelatihan pendekatan, serta berbagai acara pertemuan.

Di berbagai kota dan daerah, para profesional usia 20-30-an mendaftar ke layanan pencarian pasangan atau bergabung dalam berbagai livestream untuk bertemu calon pasangan.

Serial dua bagian CNA, Chinese Matchmakers, mengikuti beberapa pria ini, serta para mak comblang yang membimbing mereka, mengungkap alasan semakin banyak pria muda mencari bantuan, dan memberikan gambaran bagaimana ekspektasi dalam percintaan telah berubah.

MENGAPA CINTA SUSAH DATANG

Bagi banyak pria muda, kesulitan bermula dari minimnya kesempatan bertemu perempuan. Menurut satu mak comblang di Shanghai, Meng Weili, 38, jadwal kerja yang padat kerap membatasi para lajang untuk bersosialisasi, sehingga lingkaran pergaulan mereka terbatas pada rekan kerja dan kawan yang itu-itu saja.

Itulah yang dialami "Cong", insinyur berusia 33 tahun dengan jam kerja yang panjang. "Kita bisa bertemu lebih banyak orang lewat mak comblang," kata Cong, yang menolak mengungkapkan nama aslinya. "Dalam beberapa hal, cara ini lebih efisien."

Di biro jodoh milik Meng, pertemuan pertama antara klien biasanya berlangsung sekitar 30 menit, agar terfokus dan tidak buang-buang waktu jika mereka yang dicomblangkan merasa tidak cocok. Mak comblang menyeleksi profil dan mengatur perkenalan, sehingga klien dapat bertemu beberapa kandidat dalam waktu singkat.

Namun, dengan jumlah perempuan yang lebih sedikit dalam pasar pencarian pasangan, mereka sering kali lebih selektif. Ekspektasi meningkat, dan si pria harus memenuhi standar finansial tertentu.

"Cong" bersama mak comblangnya, Meng Weili.

Sun Guanle, 54, seorang mak comblang di Zhucheng, Provinsi Shandong, mengatakan, perempuan kini mengharapkan pasangannya bermobil dan memiliki "apartemen tanpa cicilan" dengan sedikitnya tiga kamar tidur.

Selain itu, pekerjaan di perusahaan milik negara—dengan penghasilan "setidaknya 12.000 yuan (Rp32 juta)" per bulan, ditambah "tunjangan besar dan dana pensiun yang baik"—dianggap ideal.

Namun, salah satu kliennya tidak memenuhi harapan tersebut: Sun Guoxu, 31, seorang penjual mesin perkakas, hanya berpenghasilan 78.000 yuan per tahun dan masih mencicil hunian.

Dua perempuan dari kencan buta pertamanya menolak bertemu kembali dan tidak menerima permintaannya untuk terus berkomunikasi melalui aplikasi pesan WeChat.

"Dulu, klien saling menghargai satu sama lain," kata mak comblangnya. "Sekarang semua mencari yang prospek masa depannya bagus. Semua mau menikah dengan yang statusnya lebih tinggi dan enggan berjuang hingga bertahun-tahun."

Pasangan di China.

Sebagian pria juga mempersempit pilihan mereka sendiri melalui berbagai ekspektasi pribadi. Kepada mak comblang, mereka menyebutkan syarat usia lebih muda, penampilan menarik, dan sifat mudah bergaul. Latar belakang pendidikan juga dinilai penting sebagai tanda kecerdasan dan kecocokan.

"Untuk menikah dengan orang yang belum terlalu dikenal, pendidikan yang baik bisa jadi semacam jaminan," kata Cong yang mencari pasangan berusia di bawah 28 tahun dan pengertian.

Dalam praktiknya, semua itu membuat sebagian pria melewatkan calon pasangan yang sebenarnya sesuai.

Chen Yukun, 29, pegawai negeri dari Provinsi Jiangxi yang menyebutkan kecerdasannya sebagai daya tarik terbesarnya — dan menggambarkan dirinya pribadi yang "membumi" — menolak beberapa profil yang disarankan karena menurutnya kurang menarik atau kurang langsing.

Chen Yukun memutuskan menolak beberapa profil yang disarankan Jiang Ping, mak comblangnya.

Jiang, mak comblang Chen, mempertanyakan apakah ia patut bersikap seselektif itu sementara ia tidak memiliki properti dan gajinya relatif rendah.

"Perempuan mana yang memilih kecerdasan ketimbang uang?" tanya Jiang, menyoroti kesenjangan antara ekspektasi Chen dan kenyataan dalam pencarian pasangan masa kini.

MEMBANTU PRIA MEMAHAMI PEREMPUAN

Kualifikasi baik pun tidak menjamin keberhasilan. Zhao, misalnya, memenuhi banyak ekspektasi finansial. Namun, menurut mak comblangnya, tantangannya terletak pada memahami keinginan perempuan. Para mak comblang berupaya menjembatani kesenjangan ini.

Berperan sebagai konselor sekaligus mentor, mereka melatih bagaimana klien menampilkan diri dan dipersepsikan, membimbing mereka melalui tiap tahap perkenalan, serta memberikan nasihat, dorongan, atau kata-kata keras jika diperlukan.

Di Shanghai, Meng mengatur agar klien pemalu seperti Cong bertemu calon pasangan dalam suasana cenderung santai — di kantor biro jodohnya — dan langsung menerima masukan setelahnya. "Orang introvert butuh banyak bimbingan serta suasana yang familiar," katanya.

Pertemuan semacam ini memberi ruang bagi klien untuk belajar dari kesalahan. Dalam salah satu pertemuan awal, misalnya, Cong bertanya tentang hubungan romantis masa lalu seorang perempuan yang lantas menjadi defensif, dan percakapan pun terhenti.

Selanjutnya, Cong disarankan untuk memilih topik yang lebih aman di awal. Meng meyakinkannya bahwa kegagalan di awal tidak perlu terlalu dipikirkan.

"Mungkin itu hal yang sensitif baginya. Memang disayangkan," kata Meng. "Kalau memang tidak cocok, lanjut ke yang berikutnya. Tidak perlu dipikirkan terus."

Meng di mejanya, berbicara dengan klien.

Para mak comblang juga melatih klien agar tidak terburu-buru. Ketika Chen bersiap untuk pertemuan pertama, ia dinasihati untuk fokus membangun kedekatan, bukan langsung mengambil kesimpulan.

"Target dari pertemuan pertama adalah pertemuan lanjutan," ujar Jiang kepada Chen.

"Jangan habiskan empat atau lima jam di pertemuan pertama lalu berpikir sudah menemukan 'jodoh'. Dari pengalaman saya, koneksi seperti itu biasanya tidak berujung pada pertemuan lanjutan."

Bimbingan berlanjut ketika hubungan mulai berkembang. Ketika Zhao berhasil mendapatkan pacar tetapi hubungan mereka mulai bermasalah, ia kembali meminta bantuan Jiang. Setelah meninjau pesan-pesan mereka, Jiang mengatakan Zhao sepertinya terlalu bersemangat.

"Kalau kamu makin cemas, dia pun akan makin menjauh," ujar Jiang, mengingatkan Zhao untuk sedikit menahan diri. Ia juga menyarankan agar Zhao membahas ketegangan terkait uang dan ekspektasi gaya hidup secara langsung. "Jangan takut kehilangan," tambahnya.

Jiang membimbing Zhao terkait pesan-pesan yang ia kirim kepada perempuan yang sedang dekat dengannya.

Hubungan mereka akhirnya berakhir setelah perempuan itu mengatakan ia sebenarnya tidak menyukai Zhao; ia sekadar menyukai perlakuan baik Zhao kepadanya.

Jiang dapat mengenali pola serupa dalam hubungan semacam itu. "Jika kamu mencari hubungan yang nyaman dan dekat, kamu tidak bisa hanya mendasarkan pilihan pada penampilan," jelasnya.

Sebagian besar tugasnya adalah mengkalibrasi ekspektasi. Ketika Zhao mengatakan ia menginginkan pasangan dengan profesi guru atau dokter, Jiang mengingatkannya agar tidak berekspektasi istri dengan pekerjaan semacam itu akan mengurus keluarga sepenuhnya.

"(Guru dan dokter itu) waktu kerjanya juga panjang," ujarnya. "Pekerjaan-pekerjaan itu tidak semudah yang kamu bayangkan."

Di Distrik Changle, Fujian — wilayah dengan 109 pria untuk tiap 100 perempuan — mak comblang Jiang Xiaoling memiliki klien dengan daftar keinginan yang panjang. Namun, pria itu kesulitan menjelaskan apa yang bisa ia tawarkan.

"Tipe perempuan yang dia incar," ujarnya, "sudah memiliki semua yang mereka butuhkan."

Mendorong klien untuk menghadapi ketidaksesuaian tersebut bisa membuat kikuk. Namun, para mak comblang mengatakan, pria perlu memahami bagaimana mereka dipandang oleh perempuan yang ingin mereka pikat.

Menurut salah satu praktisi: "Kadang-kadang yang dibutuhkan hanyalah menyadarkan mereka."

FORMAT BARU, NAMUN TEKANAN KIAN BESAR

Ketika peluang tidak seimbang, tidak semua orang bisa menemukan pasangan. Namun, berbagai format baru mulai memperluas akses.

Sebagian mak comblang kini mengadakan livestreams dan ruang obrolan daring. Para lajang dapat memperkenalkan diri kepada audiens yang lebih luas, juga langsung menjawab pertanyaan, memungkinkan mereka dilihat oleh jauh lebih banyak calon pasangan ketimbang cara biasa.

Klien yang datang juga semakin muda. Sebagian dari mereka menyadari betapa sulitnya mencari pasangan; sebagian lainnya didorong, atau bahkan didaftarkan, oleh orangtua mereka.

"Ada kesadaran, makin cepat mereka mendatangi kami, makin besar peluang mereka, terutama bagi perempuan," kata satu mak comblang. "Usia muda dan penampilan menarik adalah modal terbesar mereka."

Namun, meski pria dapat bertemu perempuan lebih muda melalui layanan perjodohan, perubahan norma sosial justru membuat ketimpangan gender kian jomplang.

Jiang Ping sendiri, meski sudah aktif di industri perjodohan sejak 2010, belum menikah. Ia juga meninggalkan tradisi dengan memilih membesarkan seorang anak seorang diri. "Pernikahan itu pilihan. Tidak semua orang harus menikah," katanya.

"Sejak memiliki anak di luar pernikahan menjadi sesuatu yang dapat diterima, teman-teman saya berkata kepada saya, 'Nona Jiang, kamu benar-benar mendahului zaman.'"

Putri Jiang Ping membacakan satu bab dari buku pelajaran bahasa Inggrisnya kepada sang ibu.

Berbagai kebijakan mulai mencerminkan perubahan tersebut. Di Provinsi Sichuan, pemerintah kini memberikan kepada ibu tunggal dan anak-anak mereka sejumlah tunjangan yang sebelumnya hanya diberikan kepada pasangan menikah.

Namun, bagi pria seperti Zhao, ekspektasi tradisional masih kuat. Saat makan malam reuni Tahun Baru Imlek, keluarganya kembali menanyakan kehidupan pribadinya dan target pernikahan. Ia pun menjawab: "Berhentilah menekanku."

Namun, sulit bagi orangtuanya untuk terus bersabar.

"Saya khawatir sekali sampai rambut saya rontok dan beruban," kata ibunya yang berusia 60 tahun. "Beberapa teman bertanya-tanya, kami bikin kesalahan apa. Cucu-cucu mereka sudah umur empat atau lima tahun."

Ayahnya yang berusia 64 tahun menambahkan: "Di pedesaan, tempat kami berasal, semua orang harus menikah. ... Seberapa pun suksesnya karier seseorang, dia tidak akan pernah dianggap benar-benar sukses kalau belum menikah."

Pernikahan di China dipandang bukan hanya sebagai tonggak penting dalam kehidupan, tetapi juga ukuran keberhasilan seseorang.

Semakin lama pencarian Zhao berlangsung, semakin kecil pula peluangnya. Namun, ia masih berharap suatu hari nanti dapat membangun keluarga.

"Mimpi saya itu punya satu anak laki-laki, satu anak perempuan, satu kucing, dan satu anjing," ujarnya. "Sulit hidup sendirian."

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan