Panen lebih banyak, emisi lebih sedikit? Lab Singapura uji cara baru tanam beras di Indonesia
Produksi beras telah lama diketahui sebagai penyumbang emisi global. Ilmuwan Singapura saat ini tengah menguji coba metode-metode baru untuk mengurangi tingkat emisi sekaligus mendorong penghasilan petani dengan hasil panen yang lebih baik.
Ilmuwan Singapura dari Temasek Life Sciences Laboratory tengah bekerja sama dengan petani di Indonesia, Laos, dan India untuk mendorong hasil padi sekaligus menekan emisi gas (Foto: CNA/Ili Mansor)
Sejak kecil, Kasno, 55, sudah bekerja di sawah milik kedua orang tuanya di daerah Grobogan, Jawa Tengah, Indonesia.
Artinya, dia paham betul bagaimana proses tanam padi telah mengalami perubahan sepanjang dekade terakhir.
Pemanfaatan mesin telah meringankan proses yang dulunya menguras tenaga mulai dari membajak, memanen, hingga menggiling, sekaligus menutupi kekurangan tenaga kerja akibat anak-anak petani bermigrasi ke kota demi pekerjaan yang lebih layak.
Prinsip-prinsip tradisionalnya sebenarnya masih sama, yaitu "menurut cara nenek moyang", seperti menjaga sawah agar tetap tergenang dari saat menanam hingga memanen.
Namun, itu bertahan sampai September tahun lalu saat Kasno dan sekitar 170 petani padi lainnya di Indonesia mencoba cara bertani baru sebagai bagian uji coba skala besar yang diprakarsai oleh Temasek Life Sciences Laboratory (TLL) Singapura.
Ilmuwan TLL, dibantu dengan mitra-mitra lokal, menyosialisasikan kepada para petani tentang metode baru seperti campuran pupuk baru, varietas padi yang tahan terhadap perubahan cuaca, dan metode pengairan baru yang dikenal sebagai pengairan basah kering (AWD/alternate wetting and drying).
"Biasanya satu hektare menghasilkan sekitar enam atau tujuh ton beras. Berkat proyek TLL ini, terjadi peningkatan sekitar delapan atau sembilan ton," terang Kasno saat CNA Today menyambangi sawah padi pada bulan April lalu.
Para petani segera dapat melihat dampak positifnya, mengingat jumlah air dan pupuk yang dibutuhkan berkurang karena menggunakan metode tersebut. Pada saat yang sama, TLL juga menyasar target yang lebih tinggi, yaitu mengurangi emisi gas metana dari proses produksi beras.
DAPATKAH PRODUKSI BERAS MENGURANGI EMISI GAS METANA?
Sebagai gas rumah kaca, metana 27-30 kali lebih kuat daripada karbon dioksida, dan produksi beras sudah lama dikenal sebagai salah satu penyumbang emisi global.
Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan produksi metana tahunan mencapai sekitar 600 juta ton dan 60 persen di antaranya berasal dari aktivitas manusia.
Dari total tersebut, pemeliharaan hewan ternak seperti kambing atau domba menyumbang sekitar 32 persen, disusul oleh produksi beras sekitar 8 persen.
Decarbonising Rice Project TLL meraih penghargaan lingkungan pada ajang Giving to Amplify Earth Action Awards yang digelar oleh Forum Ekonomi Dunia (WEF) pada Januari tahun lalu.
Sekarang proyek tersebut berada dalam tahap uji coba skala besar, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di Laos dan India. Sejauh ini, semua menunjukkan hasil yang positif berupa peningkatan hasil padi dan pengurangan dampak lingkungan.
Peter Chia, Pejabat Eksekutif Utama (CEO) TLL, menyampaikan bahwa sebagai titik awal, timnya "mengutamakan petani-petaninya".
Alih-alih mendesak para petani untuk menerapkan metode asing hanya untuk mengendalikan iklim, dia menyampaikan bahwa fokus TLL adalah meningkatkan taraf hidup petani dengan menaikkan kualitas panen dan pendapatan mereka sekaligus mengurangi sarana produksi, sehingga tabungan lebih banyak dan sawah lebih produktif.
"Pengendalian iklim (dan) pengurangan emisi itu hanya bonus saja, dan itu dampak dari apa yang dapat diwujudkan oleh sains."
BANYAK BERAS, SEDIKIT EMISI
Beras merupakan komoditas pokok dari separuh populasi dunia dan diperkirakan permintaan akan bertambah 30 persen pada tahun 2050. Hal ini menjadikannya semakin penting untuk menemukan cara meningkatkan produksi beras sekaligus menekan jejak karbon yang dihasilkan olehnya.
Dr Ramachandran Srinivasan, senior investigator utama dan kepala proyek, mengatakan: "Bagaimana caranya mengendalikan dampak lingkungan sekaligus mengisi piring jutaan orang? Itu salah satu target kami."
Tanaman padi dapat tumbuh di lahan yang digenangi air dan itu menjelaskan mengapa petani biasa menggenangi lahan padinya dengan air, antara lain agar gulma tidak merajalela.
Namun, hal ini menciptakan kondisi tanah rendah oksigen, sehingga mikroba dapat mengurai zat organik, kemudian menghasilkan gas metana, lalu menguar saat menanam padi.
Metode AWD mempersingkat durasi kondisi minim oksigen dalam genangan air, sehingga mengurangi produksi metana.
Ini bukan satu-satunya faktor pengurang metana dalam metode budidaya padi rendah karbon TLL.
Sebagai contoh, genetik tanaman padi memiliki peranan. Dr Yin Zhongchao, peneliti utama senior dalam Decarbonising Rice Project, menjelaskan bahwa akarnya memproduksi sekresi organik yang menjadi sumber makanan mikroba dalam air dan mengeluarkan gas metana.
Pada saat yang bersamaan, oksigen dalam sistem akar juga dapat menekan produksi metana. Dengan demikian, pengembangbiakan dan pemilihan varietas padi yang benar dan memiliki lebih banyak oksigen dalam sistem akarnya dapat mengurangi produksi metana.
Dr Srinivasan menyebutkan bahwa varietas padi lokal yang sudah ada, digunakan di seluruh daerah di Laos, Indonesia, dan India dalam uji coba skala besar guna memastikan hasil relevan dengan kondisi pertanian dan praktik setempat.
"Varietas Beras Temasek yang dikembangkan TLL juga dimasukkan ke dalam uji coba di Laos dan Indonesia beserta dua varietas lokal pilihan untuk memungkinkan evaluasi komparatif dalam kondisi lahan yang sama," imbuhnya.
Selain itu, manajer proyek Dr Goh Phuay Yee menerangkan bahwa penggunaan pupuk racikan khusus dalam jumlah yang tepat dengan mikronutrisi tambahan juga akan membantu meningkatkan hasil padi.
"Sebagai paket yang mencakup keseluruhan, TLL memandang ini sebagai sebuah solusi untuk memberikan pendapatan yang baik bagi petani dan pada saat yang bersamaan juga, memitigasi emisi gas rumah kaca dan perubahan iklim," kata Dr Goh.
Meskipun metodologi dasar TLL serupa di seluruh lokasi uji coba, mereka melakukan penyesuaian untuk mengakomodasi perbedaan kondisi tanah dan cuaca di tiap negara.
Hasilnya sebagian besar positif di ketiga tempat.
Emisi gas rumah kaca dan penggunaan air berkurang sekitar sepertiga di seluruh lokasi, sementara hasil padi meningkat sekitar 6 persen di Indonesia, 10 persen di India, dan 25 persen di Laos.
TAKUT GAGAL
Selain AWD, metode lain yang disebut dengan irigasi tetes berpotensi dapat mengurangi produksi gas rumah kaca dari pertanian padi secara lebih signifikan.
"Kami menemukan 86 persen emisi metana berkurang dengan menggunakan irigasi tetes dibandingkan dengan AWD sebesar 50 persen, tanpa adanya perubahan pada tingkat hasil panen," kata Dr Kins Varghese dari TLL.
"Namun yang menjadi masalah dan perbedaan besar, adalah biayanya. Di Indonesia, biayanya mencapai US$10.000 (Rp178 juta) untuk diterapkan pada area satu hektar dibandingkan dengan AWD yang mencapai US$10," sebutnya.
Maka, biaya tinggi menjadi penghalang bagi petani untuk menerapkan langkah pengairan alternatif yang lebih hijau.
Dalam konteks yang lebih luas, tim menilai bahwa mengajak para petani untuk ikut serta menjadi tantangan terbesar mereka yang harus dihadapi agar bisa sampai ke titik uji coba tersebut.
Mengingat sebagian besar petani padi di Indonesia adalah petani kecil, maka perlu mengajak lebih dari 100 petani untuk ikut serta guna mencapai target lahan seluas 100 hektar.
"Kebanyakan petani di sini masih tradisional. Kami biasa menggunakan metode warisan nenek moyang kami," kata Kasno. "Biasanya, kami takut kalau digantikan caranya akan membuat hasil panen menurun atau gagal."
"Tapi timnya mau ketemu kita, menjelaskan bagaimana cara mereka dapat membantu. Musyawarahnya sampai satu, dua bulan sebelum kita mencapai mufakat."
Yang membantu TLL di lapangan adalah perusahaan teknologi pertanian Rize. Perusahaan ini memiliki jaringan petani padi yang luas di Indonesia dalam proyek ini.
Dr Sheetal Sharma dari Rize menyampaikan bahwa satu cara untuk meyakinkan petani adalah dengan menunjukkan bahwa uji coba skala kecil sebelumnya pernah berhasil.
Yang membuat petani seperti Kasno sepakat adalah penyelenggara proyek menyediakan benih padi, pestisida, dan pupuk bagi petani untuk memulai penggarapan.
Hal ini sejatinya membantu meminimalisasi risiko di awal dan hasilnya jelas.
"Pada panen-panen sebelumnya, kami biasanya melihat sebagian beras ini lama-kelamaan menguning. Tapi dengan cara baru dan pupuk khusus ini, semua jadi hijau," terang Kasno.
Supardi, Kepala Desa Jatilor, tempat Kasno dan beberapa petani lainnya tinggal, juga bekerja sama dengan Rize untuk mengajak petani lain untuk turut mendukung program tersebut.
"Di musim panen pertama (yang menggunakan cara baru), terlihat ada peningkatan jelas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, bukan cuma hasil panennya tapi kualitas tanaman dan bijinya juga," ujar Supardi.
Saat CNA TODAY mengunjungi persawahan tersebut, beberapa ilmuwan dan petani menunjukkan bagaimana tanaman padi yang dirawat dengan metode TLL lebih hijau dan terlihat lebat daripada yang ditanam oleh petani lain di petak lahan di sebelahnya dengan cara tradisional.
"Awalnya tentu saja sulit untuk membuat petani-petani yakin karena tidak ada hasil yang bisa dilihat," kata Supardi. "Setelah melihatnya, petani lain tidak cuma terbuka, tetapi juga optimis untuk mencoba cara baru itu."
Proyek ini berbuah manis bagi TLL karena proyek tersebut berlanjut ke tahap uji coba berikutnya pada tahun depan dan tampaknya akan memperluas skala produksi agar mencapai produksi 50.000 ton beras. Pada akhirnya, mereka berharap dapat mencapai satu juta ton.
DEKARBONISASI SEMUA PANGAN
Aliansi Filantropi Asia (PAA), inisiatif Temasek Trust dan salah satu sponsor Decarbonising Rice Project, berharap beras emisi rendah tersebut dapat diterima luas oleh masyarakat.
"Kami ingin memastikan bahwa beras ramah iklim, (yang) tidak terlalu membahayakan lingkungan, akhirnya bisa dibeli di supermarket," kata CEO PAA, Shaun Seow.
Rize juga mendaftar ke platform jaringan registri nasional Indonesia untuk kredit kompensasi karbon, kata Dr Sheetal, dan hal itu diharapkan dapat semakin meningkatkan pendapatan petani.
"Begitu selesai, kami ingin menyalurkan sekitar 70 persen pendapatan yang kami hasilkan dari kredit kepada petani."
CEO TLL, Chia menyebutkan bahwa keberhasilan Decarbonising Rice Project tidak lepas dari kegigihan para ilmuwan dalam mengerjakan riset, kuatnya jaringan mitra yang saling bahu-membahu memecahkan "masalah-masalah sulit", serta kesamaan visi bahwa manfaat jangka panjang sudah "semestinya kembali kepada masyarakat".
Menurutnya hal ini bisa diperluas, bukan hanya untuk budidaya padi, tetapi juga budidaya tanaman lain dan perairan.
Perihal signifikansi proyek seperti ini di Singapura, Dr Srinivasan mengatakan: "Singapura, meskipun merupakan negara non-agrikultural, punya posisi kuat sebagai pusat bioteknologi regional, inovasi agropangan, dan riset agrikultural yang berkelanjutan."
Kolaborasi dan kemitraan multisektor seperti proyek ini, menurutnya, menciptakan sistem pangan regional yang lebih stabil dan berkelanjutan bagi konsumen di Singapura, dan juga membuka pintu bagi negara tersebut untuk membina hubungan dagang yang lebih kuat dengan negara produsen beras di seluruh Asia.
Sementara itu, petani padi yang setuju dengan program ini merasa senang karena dapat menjadi orang pertama yang ikut dalam upaya ramah lingkungan tersebut.
"Kami semua senang. Kami banyak belajar dari proses ini, belajar cara baru yang membantu memperbaiki panen kami," kata Kasno.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.