Menyaksikan dari udara kehancuran di sepanjang Sungai Trishuli Nepal
Lebih dari sepekan setelah banjir dahsyat menerjang Nepal, sejumlah daerah yang paling parah terdampak masih terputus akses jalannya. CNA terbang dengan helikopter menyusuri Sungai Trishuli untuk melihat skala kehancuran.
Pemandangan dari udara menunjukkan skala kerusakan akibat banjir di Syabru Besi, Nepal, pada 3 September 2026, tempat ratusan rumah hanyut. (FOTO: CNA/Jack Board)
KATHMANDU: Kehancuran akibat bencana terbentang dari satu lembah ke lembah berikutnya.
Lebih dari sepekan setelah banjir dahsyat pada 26 Agustus menerjang Nepal bagian utara dan tengah, belum ada akses jalan menuju desa-desa di dataran tinggi yang luluh lantak. Untuk saat ini, wilayah tersebut hanya bisa dijangkau oleh helikopter.
Untuk menuju ke utara menyusuri Sungai Trishuli, jalur utama aliran banjir, harus terbang melalui rute udara yang sibuk.
Dari udara, skala kerusakannya mengejutkan: berkilo-kilometer wilayah nyaris rata tersapu banjir.
Di setiap kelokan sungai, terlihat kota yang porak-poranda. Pemandangan yang sama di kota-kota berikutnya.
Data terbaru pada Selasa (8/9) mencatat jumlah korban tewas akibat banjir dahsyat di Nepal mencapai 1.357 orang, sementara 5.326 orang masih hilang.
Kawasan ini merupakan salah satu koridor utama pembangkit listrik tenaga air Nepal, tetapi kini porak-poranda.
Curamnya medan dan derasnya sungai-sungai Himalaya telah menarik investasi bernilai miliaran dolar. Proyek, jalan akses, dan kamp pekerja berderet di tepi sungai, sehingga sebagian besar infrastruktur tersebut berada tepat di jalur banjir.
Dari udara, puing-puing beton yang berserakan menjadi lokasi utama upaya penyelamatan di proyek-proyek terowongan sepanjang Sungai Trishuli. Ratusan pekerja diperkirakan masih hidup dan terjebak di bawah tanah.
Waktu bagi tim penyelamat semakin menipis.
Di atas Timure, jenazah masih dievakuasi dari lumpur, lalu diikat ke helikopter untuk diterbangkan ke bagian bawah lembah.
Di dekat perbatasan dengan China, sekitar 60 km di utara Kathmandu, nyaris tak ada lagi tanda bahwa di sini pernah berdiri sebuah desa.
Kota kecil ini berkembang pesat di sekitar Rasuwagadhi, jalur perdagangan darat tersibuk Nepal dengan China, dengan kawasan pabean dan pelabuhan darat yang menangani barang-barang dari Tibet. Banjir menghancurkan infrastruktur tersebut dan memutus akses perlintasan perbatasan.
Sekitar 15 km dari perbatasan ke arah selatan, desa Syabru Besi sampai pekan lalu merupakan pintu gerbang menuju kawasan pendakian Langtang dan tempat persinggahan bagi peziarah serta pelancong yang menuju Tibet.
Kini, helikopter hilir mudik, memasok kebutuhan tim penyelamat Nepal dan India di lapangan.
Di tepi sungai ini dahulu terdapat sekitar 250 rumah dan hotel. Sekitar 80 persen di antaranya kini telah hilang.
Seorang pejabat militer Nepal mengatakan, sekitar 200 warga setempat tewas atau hilang, bersama 400 orang lainnya, termasuk warga asing.
Sebuah kuil Buddha jadi penanda ujung jalan. Sebagian bangunan itu masih bertahan; di dalamnya, kitab-kitab keagamaan dan patung-patung berlumuran lumpur.
Selepas tempat suci itu, yang tersisa hanyalah tepian berlumpur.
Dahsyatnya arus banjir terlihat jelas di tempat ini. Bentang alamnya berubah dan terbentuk kembali.
Para ilmuwan meyakini, bencana bermula di pegunungan tinggi dekat perbatasan Nepal-Tibet, ketika runtuhan es dan bebatuan memicu banjir besar yang membawa serta puing-puing dalam perjalanannya ke hilir.
Penyelidikan untuk mengetahui secara pasti rangkaian peristiwa tersebut masih berlangsung.
Di seberang sungai, operasi lain masih berlangsung di mulut terowongan pembangkit listrik tenaga air. Militer Nepal kemudian mengonfirmasi bahwa dua jenazah ditemukan di lokasi tersebut pada Kamis.
Hampir 900 pekerja pembangkit listrik tenaga air masih belum diketahui keberadaannya usai banjir, sementara pihak berwenang meyakini kemungkinan ada sejumlah penyintas yang terlindung di bawah tanah.
Di beberapa proyek, tim penyelamat meyakini para pekerja mungkin berhasil mencapai bagian terowongan yang tetap kering, dan kemungkinan memiliki akses terhadap udara, air, serta persediaan darurat.
Tantangannya adalah banyaknya puing dalam jumlah luar biasa. Pintu masuk terowongan tertimbun lumpur, batu-batu besar, dan air.
Seorang pejabat militer mengatakan kepada CNA bahwa lubang-lubang sedang digali di titik akses dengan ukuran yang cukup besar untuk menurunkan ekskavator guna membersihkan timbunan yang menghalangi jalan.
Di luar terowongan, harapan menemukan korban selamat semakin menipis. Namun, pihak berwenang menegaskan pencarian dan evakuasi jenazah akan terus dilakukan.
Masalah pelik lainnya adalah identifikasi: dari 1.252 jenazah yang ditemukan, baru 95 yang berhasil diidentifikasi hingga Kamis.
Banyak jenazah ditemukan dalam kondisi rusak parah atau jauh dari lokasi dilaporkan hilang, sehingga pihak berwenang harus mengandalkan DNA dan metode identifikasi forensik lainnya.
Sekitar 4.000 warga yang mengungsi kini tinggal di tempat penampungan sementara. Bantuan makanan telah menjangkau banyak dari mereka, tetapi tantangan kemanusiaan kini berubah.
Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk anak-anak, UNICEF, menyatakan, kerusakan sistem air dan sanitasi serta padatnya tempat penampungan meningkatkan risiko penyakit, dengan sedikitnya 22.000 anak sangat membutuhkan air bersih dan dukungan kebersihan.
Bahkan, setelah akses jalan pulih dan operasi pencarian berakhir, tidak semua orang akan bisa kembali ke rumah.
Air sungai yang keruh masih mengalir deras di sepanjang lembah ini. Arus itu membawa puing dan kematian bagi masyarakat yang telah kehilangan begitu banyak dan mungkin tak akan pernah membangun kembali apa yang hilang.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.