'Seperti kiamat lumpur': Banjir maut sisakan kengerian bagi warga Nepal
Sepekan setelah banjir dahsyat menerjang lembah-lembah Himalaya di Nepal, ribuan orang masih hilang dan tim penyelamat terus mencari penyintas. CNA menemui keluarga yang masih menanti kabar orang-orang tercinta serta warga yang kini menghadapi kehancuran kampung halaman mereka.
Seorang pria berjalan di tepi Sungai Trishuli di tengah kerusakan luas akibat banjir di Devighat, Nepal. (Foto: CNA/Jack Board)
DEVIGHAT, Nepal: Dari dataran yang lebih tinggi di Bidur, skala kehancuran akibat banjir mematikan di wilayah pegunungan Nepal terlihat jelas.
Di bawah sana, jalur kehancuran membentang dari pegunungan tinggi. Bantaran sungai di Distrik Nuwakot, sekitar 60km di selatan perbatasan Nepal dengan China, terkikis habis.
Rumah-rumah yang sebelumnya berdiri di kawasan itu lenyap tanpa jejak.
“Ini seperti kiamat lumpur,” kata seorang warga sambil berjalan melewati kubangan lumpur.
Sedikit lebih dari sepekan lalu, kawasan ini merupakan lembah subur di kaki Pegunungan Himalaya, dengan sawah berundak, kota-kota di tepi sungai, dan lereng hijau yang curam. Kini, air berwarna gelap terus mengalir deras di Sungai Trishuli, bercampur batu dan puing.
Banjir bermula jauh di hulu di Tibet pada 26 Agustus, ketika runtuhan besar batu dan es gletser mengirim air serta puing menerjang lembah-lembah sempit menuju Nepal. Arus tersebut memasuki Nepal melalui Distrik Rasuwa sebelum bergerak ke selatan mengikuti aliran Sungai Bhote Koshi dan Trishuli.
Kekuatan banjir mengubah jalur sungai yang sebelumnya menghubungkan berbagai komunitas pegunungan menjadi lintasan bencana. Jalan dan jembatan tersapu, proyek pembangkit listrik tenaga air terendam, sementara permukiman di hilir tertimbun.
Sepekan kemudian, kawasan itu masih diliputi duka dan kehilangan, sementara pihak berwenang menghadapi operasi penanganan yang rumit di medan yang sebagian besar sulit ditembus.
Otoritas Nasional Pengurangan Risiko dan Penanggulangan Bencana Nepal mengatakan 987 jenazah telah ditemukan dan 3.916 orang masih hilang hingga Selasa (1/9) pagi. Sebanyak 11.814 orang telah diselamatkan.
Operasi di lapangan masih mencakup pencarian penyintas sekaligus evakuasi korban meninggal. Tim penyelamat belum kehilangan harapan untuk menemukan lebih banyak orang dalam keadaan hidup.
Harapan terbesar mungkin berada di bawah pegunungan. Lebih dari 600 pekerja pembangkit listrik tenaga air dikhawatirkan terjebak di bawah tanah, di sejumlah terowongan yang terkonsentrasi di wilayah utara Bidur.
Bencana tersebut menerjang salah satu pusat industri pembangkit listrik tenaga air Nepal yang berkembang pesat. Sejumlah pembangkit dan proyek yang masih dibangun membentang di sepanjang lembah sungai yang curam. Beberapa di antaranya rusak akibat banjir.
Dalam beberapa hari terakhir, tim penyelamat menggunakan peledakan dan penggalian untuk membuka akses ke terowongan-terowongan tersebut, dengan harapan para pekerja selamat dari terjangan awal banjir dengan berlindung di ruang pembangkit bawah tanah.
Para insinyur dilaporkan memompa udara ke dalam terowongan.
Satu tim sempat berhasil masuk ke salah satu terowongan, tetapi kemudian keluar setelah tidak menemukan siapa pun di lokasi.
Di sebuah pangkalan militer di Bidur yang kini menjadi pusat operasi udara menuju zona bencana di wilayah utara, kerumunan orang terus menunggu sambil berharap mendapat kabar tentang anggota keluarga mereka yang hilang.
Di luar kota tersebut, infrastruktur jalan dan jembatan telah hancur total.
Paarvati Shrestha dari Kathmandu masih mencari suaminya, seorang pedagang yang belum terdengar kabarnya sejak banjir menerjang kawasan perbatasan tempat ia bekerja. Menurut Shrestha, suaminya kemungkinan sedang dalam perjalanan menuju China pada pagi hari saat banjir terjadi. Namun ia masih berharap sang suami sempat menyelamatkan diri.
“Seorang sepupu dari Bidur yang mengenali suami saya dari tatonya mengatakan dia berhasil melarikan diri bersama orang-orang lain ke hutan,” katanya.
Perempuan berusia 45 tahun itu mengatakan tentara memintanya terus memeriksa daftar nama dan foto untuk mengetahui apakah suaminya telah ditemukan, hidup ataupun meninggal.
“Kami sudah berhari-hari menunggu sampai tidak bisa makan atau tidur. Jadi kami meminta tim penyelamat berusaha semaksimal mungkin,” katanya.
Jaringan seluler terganggu di sejumlah wilayah terdampak, sementara akses menuju beberapa komunitas masih sulit.
Shyam Kumar Pun juga sangat menantikan kabar tentang saudara laki-lakinya yang hilang.
Saudaranya bekerja sebagai operator mesin di pelabuhan perbatasan Rasuwagadhi.
Pun, 33, terbang dari Pokhara ke Bidur dan telah menunggu berhari-hari tanpa kabar.
“Kalau dia masih hidup, dia pasti akan menghubungi kami lewat telepon,” katanya.
“Kami berpikir mungkin dia sudah meninggal, tetapi kadang kami bertanya-tanya apakah dia berada di luar jangkauan sinyal atau ponselnya mati. Kami masih punya sedikit harapan bahwa dia masih hidup.”
Saat ia berbicara, suara helikopter terus terdengar di udara, mengirimkan bantuan dan membawa kembali penyintas.
Bagi mereka yang menunggu kabar orang tercinta, harapan dan kesedihan datang silih berganti.
JENAZAH DALAM LUMPUR
Di kota kecil Devighat yang tak jauh dari sana, sebuah ekskavator mulai menggali di sekitar salah satu rumah yang runtuh di dekat sungai. Tim penyelamat bersiaga bersama anjing pelacak.
Setelah beberapa saat, mereka menemukan sesuatu. Namun yang ditemukan adalah jenazah lain, menambah jumlah korban meninggal yang terus meningkat.
Warga mengatakan kepada CNA bahwa mereka melihat jenazah berada di atas atap rumah segera setelah banjir.
Beberapa hari kemudian, bau kematian masih terasa kuat di kawasan itu. Drone berkapasitas angkut besar terbang di atas kawasan tersebut, membawa tandu dan kemudian kantong jenazah melintasi medan yang kini sulit dilalui kendaraan.
Kehidupan di komunitas tepi sungai ini seakan membeku, tertahan di tengah lumpur. Sepeda motor ditinggalkan dalam kondisi tertutup lumpur. Barang-barang pribadi berserakan.
Meski demikian, sebagian warga mulai kembali ke rumah mereka untuk menyelamatkan apa pun yang mungkin masih tersisa.
Dua pria di lantai atas sebuah rumah yang dipenuhi lumpur berhenti sejenak dari pekerjaan menyekop lumpur dan puing. Mereka memandang jauh, memikirkan apa saja yang telah hilang.
Devighat menghadapi proses pemulihan yang panjang. Bagi keluarga yang kehilangan rumah, muncul persoalan yang lebih panjang: di mana mereka akan tinggal setelah masa tanggap darurat berakhir.
Menurut Palang Merah, lebih dari 93.000 orang diperkirakan terdampak di seluruh wilayah bencana.
Di sebuah sekolah setempat, ratusan orang ditampung dan mendapat makanan serta kebutuhan sehari-hari. Dengan suhu sekitar 35 derajat Celsius dan kelembapan tinggi akibat musim hujan, para pengungsi tampak tidak nyaman, duduk di pagar dan berteduh di bawah kanopi.
Kondisi tersebut juga memunculkan risiko baru. Layanan kesehatan terganggu di berbagai kawasan terdampak, sementara kekurangan obat-obatan dan padatnya tempat penampungan sementara menimbulkan kekhawatiran akan munculnya penyakit di tengah para penyintas yang sudah kelelahan.
Pejabat setempat mengatakan belum ada rencana pasti mengenai langkah selanjutnya ketika sekolah harus kembali digunakan untuk kegiatan belajar atau bagaimana menyediakan tempat tinggal yang lebih layak bagi para pengungsi.
Prachanda Babu Rai, yang mengoordinasikan tempat penampungan darurat di Shree Chandrajyoti Secondary School, mengatakan pembicaraan dengan pemerintah daerah sedang berlangsung untuk mencari solusi.
“Saya ingin meminta bantuan para donatur. Kami membutuhkan seng untuk atap, tenda, dan perlengkapan lain yang bisa digunakan untuk membuat tempat penampungan,” katanya.
Niru Neupane, 51, merupakan salah satu warga yang kini kehilangan tempat tinggal.
“Awalnya rumah kami mulai bergetar, kemudian saya melihat bongkahan batu besar mengalir deras ke hilir. Saya berlari dari atap rumah menuju bangunan tetangga yang letaknya lebih tinggi, lalu naik ke jalan,” katanya.
Di tepi sungai, tak ada lagi yang tersisa dari rumahnya. Hamparan lumpur tebal dan labil membuat kawasan tersebut sulit dijangkau.
“Setelah berhasil menyelamatkan diri, saya melihat rumah saya hanyut terbawa sungai. Tiba-tiba pandangan saya seperti kosong ketika sadar saya sudah tidak punya apa-apa lagi.”
Suaminya meninggal dunia hanya enam pekan sebelum banjir. Kini, setelah kehilangan rumah dan menyaksikan komunitasnya hancur, Neupane mengatakan kesedihannya begitu besar hingga ia berharap dirinya ikut terbawa banjir.
“Saya sudah tidak punya apa-apa lagi,” katanya.
“Kami tidak punya tempat untuk pergi, makanan juga tidak banyak, bahkan pakaian ganti pun tidak ada. Apa lagi yang bisa saya katakan?”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.