Banjir bandang di Nepal tewaskan sedikitnya 165 orang, tidak tercatat ada WNI
Banjir bandang dahsyat yang membawa air, bebatuan, dan lumpur menyapu habis desa-desa di perbatasan Himalaya.
Foto udara menunjukkan bangunan tertutup lumpur setelah banjir bandang di Trishuli, Distrik Nuwakot, Nepal, 26 Agustus 2026. (FOTO: REUTERS/Stringer)
KATHMANDU: Banjir bandang dahsyat yang menerjang wilayah perbatasan Himalaya sisi Nepal pada Rabu (26/8) pagi waktu setempat telah menewaskan sedikitnya 165 orang dan menyapu habis beberapa desa.
Dalam berbagai video yang beredar di media sosial, terlihat aliran deras banjir air beserta lumpur dan bebatuan menerjang bangunan bertingkat di Nepal, membuat warga berlarian menyelamatkan diri.
Mobil-mobil dan bus terlihat dengan mudahnya terguling dan terseret arus. Gelombang air menerjang desa-desa dan kota-kota di sepanjang aliran dua sungai - Bhote Kosi dan Trishuli.
Warga setempat Raju Bhadel, 56, menceritakan saat menerima telepon dari saudara iparnya yang tengah dilanda kepanikan.
"Mereka menangis dan mengatakan, seluruh rumah mereka tersapu. Tiga anggota keluarga berhasil diselamatkan, tetapi saudara laki-lakinya masih hilang," katanya.
Laporan awal menunjukkan bahwa banjir bandang dipicu oleh longsor yang terjadi akibat gempa, ujar menteri luar negeri Nepal Shisir Khanal dalam pernyataannya ke parlemen.
Sekitar 403 wisatawan - 341 di antaranya warga asing - tidak diketahui keberadaannya selama beberapa jam setelah bencana melanda, menurut Kementerian Kebudayaan, Pariwisata, dan Penerbangan Sipil Nepal. Di antara wisatawan yang hilang terdapat warga India, Australia, Inggris, Malaysia, Belanda, Portugal, Afrika Selatan, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.
Kepolisian Nepal menyatakan telah menemukan 157 jenazah setelah "banjir dahsyat", sementara para petugas berupaya mengevakuasi keluarga-keluarga di daerah rawan banjir ke tempat aman.
Korban tewas lainnya sebanyak tiga orang dilaporkan berada di Gyirong, China, pusat perlintasan perbatasan Tibet. Sebanyak 265 orang lainnya hilang di perbatasan China, seperti diungkapkan media pemerintah.
Pejabat pemerintah Tibet mengerahkan hampir 800 petugas pencarian dan 150 kendaraan, serta anjing pelacak dan perahu cepat untuk membantu upaya penyelamatan, menurut kantor berita resmi China, Xinhua.
Di daerah yang dilanda bencana, tim penyelamat menerobos lumpur dan endapan untuk mencari korban selamat setelah banjir menimbun lantai-lantai bawah bangunan bertingkat.
"Desa-desa dan kawasan pasar musnah seluruhnya," kata David Fisher, kepala delegasi Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) untuk Nepal.
IFRC mengatakan, pihaknya mengirimkan bantuan darurat, termasuk selimut, perlengkapan P3K, tandu, dan kantong jenazah.
TIDAK ADA KORBAN WNI
Kementerian Luar Negeri Indonesia mengatakan, informasi sementara menunjukkan tidak ada korban dari warga negara Indonesia. Kemlu menyebutkan, tercatat ada 45 WNI di Nepal yang mayoritas berdomisili di Kathmandu dan bekerja di sektor perhotelan.
Kemlu juga mengatakan, Kedutaan Besar RI di Dhaka, Bangladesh, terus memantau apakah ada WNI yang berada di Nepal sebagai wisatawan, khusus yang melakukan pendakian.
"KBRI Dhaka mengimbau agen perjalanan yang memberangkatkan WNI ke Nepal untuk segera menyampaikan informasi mengenai keberadaan dan kondisi WNI, terutama yang sedang melakukan perjalanan/pendakian," ujar Direktur Perlindungan WNI Kemlu RI Heni Hamidah, dalam pernyataannya.
Heni juga mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia melalui KBRI di Beijing, China, dan Dhaka, mengimbau WNI untuk meningkatkan kewaspadaan, mengikuti arahan otoritas setempat, menghindari wilayah terdampak, serta memantau informasi melalui sumber resmi.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.