Australia tunjuk perempuan pertama sebagai kepala angkatan darat
Untuk pertama kalinya dalam 125 tahun, seorang perempuan memimpin angkatan darat Australia.
Kepala Angkatan Darat Australia yang baru dilantik, Letnan Jenderal Susan Coyle, berpose untuk para fotografer setelah konferensi pers di Gedung Parlemen di Canberra, Australia, pada 13 April 2026. (Foto AAP/Mick Tsikas/via REUTERS)
SYDNEY: Pemerintah Australia pada Senin (13/4) mengumumkan penunjukan Letnan Jenderal Susan Coyle sebagai Kepala Staf Angkatan Darat, menjadikannya perempuan pertama yang memimpin matra tersebut dalam 125 tahun sejarah militer negara itu.
Coyle, yang saat ini menjabat sebagai kepala kapabilitas gabungan, akan mulai bertugas pada Juli 2026 dan menggantikan Letnan Jenderal Simon Stuart yang memasuki masa pensiun.
“Mulai Juli, kita akan memiliki kepala angkatan darat perempuan pertama dalam sejarah 125 tahun Angkatan Darat Australia,” kata Perdana Menteri Anthony Albanese, dikutip Reuters, Senin (13/4).
Penunjukan ini merupakan bagian dari perombakan kepemimpinan Angkatan Bersenjata Australia. Pemerintah juga menunjuk Wakil Laksamana Mark Hammond sebagai Panglima Angkatan Bersenjata Australia yang baru, menggantikan Laksamana David Johnston. Sementara itu, Laksamana Muda Matthew Buckley akan mengambil alih posisi Hammond sebagai Kepala Staf Angkatan Laut.
Menteri Pertahanan Richard Marles menyebut pengangkatan Coyle sebagai tonggak penting dalam sejarah militer Australia.
"Ia akan menjadi perempuan pertama yang memimpin satu matra dalam sejarah Australia dan ini adalah momen yang sangat bersejarah, yang patut dicatat," kata Marles.
Ia menambahkan bahwa pencapaian tersebut memiliki dampak simbolis yang besar.
“Seperti yang dikatakan Susan kepadaku, kamu tidak bisa menjadi apa yang tidak bisa kamu lihat,” ujarnya.
“Prestasi Susan akan sangat berarti bagi para perempuan yang saat ini bertugas di Angkatan Pertahanan Australia dan para perempuan yang berencana untuk bertugas di Angkatan Pertahanan Australia di masa depan.”
Penunjukan Coyle terjadi di tengah upaya militer Australia meningkatkan partisipasi perempuan di jajarannya. Saat ini, perempuan mencakup sekitar 21 persen dari total personel dan 18,5 persen posisi kepemimpinan senior. Militer menargetkan angka partisipasi perempuan mencapai 25 persen pada 2030.
Namun, upaya tersebut juga berlangsung di tengah sorotan terhadap perlindungan perempuan di militer. Pada Oktober 2025, gugatan class action diajukan terhadap Angkatan Bersenjata Australia atas dugaan kegagalan melindungi ribuan personel perempuan dari kekerasan seksual, pelecehan, dan diskriminasi sistematis.
Coyle, 55, memiliki pengalaman lebih dari tiga dekade di militer sejak bergabung pada 1987. Ia pernah memegang berbagai posisi komando senior, termasuk di Afghanistan, Timur Tengah, Timor Leste, dan Kepulauan Solomon.
Saat ini, ia memimpin bidang kapabilitas gabungan yang mencakup siber, antariksa, perang informasi, serta dukungan pertahanan nasional.
Coyle mengatakan, pengalaman lintas bidang tersebut menjadi bekal dalam menjalankan peran barunya.
"Keluasan pengalaman ini memberikan landasan yang kuat bagi tanggung jawab komando dan kepercayaan yang diberikan kepada saya," kata Coyle.
Ia juga menyoroti perubahan dalam representasi perempuan di militer sejak awal kariernya.
"Ada banyak perempuan yang sangat baik yang sedang naik, yang telah bekerja sangat keras, telah menjalani semua jenis penugasan yang tepat dan memperoleh pengakuan," ujarnya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.