Model kerja sama global baru: Ikrar ASEAN, China dan blok Teluk di KTT bersejarah pertama
Pada KTT perdana ASEAN-Gulf Cooperation Council-China pada hari Selasa (27/5), para pemimpin menyerukan agar kedua kawasan tersebut lebih selaras, meskipun terdapat perbedaan dalam fase pembangunan dan latar belakang peradaban.
Para pemimpin ASEAN-GCC bersama Perdana Menteri China Li Qiang berpose untuk foto selama KTT ASEAN-GCC-China di Kuala Lumpur Convention Center di Kuala Lumpur, Malaysia. (Foto: CNA/Fadza Ishak)
KUALA LUMPUR: Meskipun terdapat perbedaan dalam fase pembangunan dan latar belakang peradaban, para pemimpin negara-negara Asia Tenggara, beberapa negara Teluk, dan negara adikuasa China mengadakan pertemuan pertama yang bersejarah pada hari Selasa (27/5), dengan ikrar untuk membangun model kerja sama baru di tengah-tengah latar belakang lingkungan global yang "semakin kompleks".
KTT perdana Persatuan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN)- Dewan Kerja sama Teluk (Gulf Cooperation Council, GCC)-China diadakan saat ASEAN memulai upaya bersama untuk mendapatkan mitra dagang baru di tengah tarif tinggi yang diancam oleh Amerika Serikat.
Baik China maupun GCC - yang terdiri dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman - telah menjalin kemitraan dengan ASEAN, tetapi ini adalah pertama kalinya blok Asia Tenggara tersebut memperluas mekanisme untuk mencakup organisasi regional dan negara mitra dialog.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, yang sebagai ketua bergilir ASEAN tahun ini telah mendorong pertemuan puncak trilateral, menyebutnya sebagai "babak baru dialog dan kerja sama".
"Saya berharap pertemuan puncak ini akan menjadi babak baru dalam perjalanan ASEAN untuk terlibat secara terbuka, yang menunjukkan apa yang dapat dicapai ketika mitra bekerja sama dalam rasa saling menghormati dan tujuan bersama," katanya dalam sambutan pembukaan di pertemuan puncak tersebut.
"Meskipun keterlibatan dan mekanisme yang ada sudah mapan, format ini menciptakan ruang baru untuk kolaborasi, saat kita mengeksplorasi jalur untuk mensinergikan kekuatan kita."
Selain Anwar, Perdana Menteri China Li Qiang dan Putra Mahkota Kuwait Sheikh Sabah Khaled Al-Hamad Al-Sabah - mewakili ketua GCC - juga menyampaikan sambutan pembukaan sebelum pertemuan puncak tertutup, yang diadakan setelah KTT ASEAN-GCC pada hari Selasa sebelumnya.
MENPERDALAM PENYELARASAN STRATEGIS
Baik Anwar maupun Li mengakui hubungan perdagangan historis antara China serta negara-negara ASEAN dan GCC, dengan menunjuk contoh-contoh seperti Jalur Sutra kuno dan Prakarsa Sabuk dan Jalan (BRI) saat ini.
BRI adalah proyek infrastruktur besar yang dipimpin China, yang diadopsi pada tahun 2013, yang bertujuan untuk menjangkau seluruh dunia.
“China bersedia bekerja sama dengan ASEAN dan GCC untuk sepenuhnya memanfaatkan sinergi satu tambah satu tambah satu yang lebih besar dari tiga, dan menyuntikkan momentum yang kuat ke dalam pembangunan dan kemakmuran bersama ketiga pihak kita,” kata Li dalam sambutan pembukaannya.
Beijing juga bersedia, atas dasar saling menghormati dan perlakuan yang sama, untuk “memperdalam penyelarasan strategis” dengan ASEAN dan GCC, meningkatkan koordinasi kebijakan ekonomi makro, dan mempromosikan kolaborasi industri yang lebih erat, katanya.
“Negara-negara kita berada pada berbagai tahap pembangunan, tetapi saya percaya perbedaan-perbedaan ini bukanlah hambatan untuk kerja sama - sebaliknya, mereka menghadirkan peluang untuk saling melengkapi,” tambahnya.
Li juga menyerukan sebuah model untuk integrasi lintas-peradaban, dengan mengutip bagaimana ketiga wilayah tersebut merupakan rumah bagi peradaban yang beragam dan bersemangat tetapi tetap "hidup berdampingan secara damai di Asia dan berbagi nilai-nilai Asia yang sama tentang perdamaian, kerja sama, keterbukaan, dan inklusivitas".
"Melalui pemahaman yang lebih baik, kita dapat mengelola perbedaan dengan lebih efektif, dan melalui kebijaksanaan bersama, kita dapat memperkuat kerja sama yang saling menguntungkan - bersama-sama menjelajahi jalur baru koeksistensi inklusif di antara peradaban," tambahnya.
Berbicara di KTT tersebut, Sekretaris Jenderal GCC Jassem Al-Budaiwi dari Kuwait mengatakan kelompok Teluk tersebut berbagi dengan mitra Asianya "kepentingan peradaban, sejarah, dan ekonomi bersama di bidang perdagangan, rantai pasokan, energi terbarukan, dan teknologi canggih".
"Pertemuan ini merupakan titik awal untuk kerja sama tripartit yang diperbarui berdasarkan kesamaan dan melayani aspirasi rakyat kita," katanya, seperti dikutip oleh Kantor Berita Kuwait.
Kepentingan bersama ini meliputi penguatan ketahanan pangan dan energi dalam menghadapi "fluktuasi geopolitik", percepatan transformasi digital melalui pembentukan pusat inovasi, menghadapi perubahan iklim dengan berinvestasi pada energi bersih, dan perlindungan kebebasan navigasi dan keselamatan jalur maritim, khususnya di Laut Merah, katanya.
Al-Budaiwi menambahkan bahwa platform baru ini akan memungkinkan negara-negara untuk saling bertukar pandangan tentang isu-isu perdamaian dan pembangunan ekonomi, serta mengonsolidasikan keamanan dan stabilitas regional dan internasional di saat "transformasi tengah berlangsung cepat" di bidang politik, ekonomi, dan lingkungan.
Li sebelumnya mengatakan pada hari Senin bahwa China berharap dapat memperkuat komunikasi dan kerja sama dengan negara-negara ASEAN dan GCC untuk mendorong perdamaian, kemakmuran, dan stabilitas di Asia.
Ia menggaungkan sentimen ini dalam sambutan pembukaannya, dengan mengatakan bahwa kemitraan baru tersebut dapat menciptakan "model kerja sama dan pembangunan global untuk era ini".
"Saat ini, dengan latar belakang lingkungan internasional yang semakin kompleks dan ekonomi global yang lesu, pembentukan KTT trilateral ini menghadirkan peluang untuk terus memperkaya substansi kerja sama kita," katanya.
Total perdagangan komoditas GCC dengan China mencapai hampir US$298 miliar (Rp4,864 trilliun) pada tahun 2023 sementara blok tersebut menyumbang 36 persen dari total impor minyak mentah China tahun itu, menurut angka-angka Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Pada tahun yang sama, perdagangan antara ASEAN dan GCC berjumlah sekitar US$130,7 miliar, menjadikan blok Teluk tersebut sebagai mitra dagang terbesar ketujuh ASEAN.
Sementara itu, China tetap menjadi mitra dagang terbesar ASEAN, dengan perdagangan senilai US$696,7 miliar dan investasi asing langsung senilai US$17,3 miliar pada tahun 2023.
ASEAN mengincar lebih banyak perjanjian perdagangan bebas
Menutup pertemuan puncak ASEAN pertama dari dua pertemuan puncak ASEAN tahun ini, Anwar memuji kemajuan "yang belum pernah terjadi sebelumnya" yang telah dibuat blok Asia Tenggara selama dua hari dalam beberapa isu, termasuk melibatkan lebih banyak mitra dagang di tengah tarif AS.
Namun, ASEAN ingin berbuat lebih banyak lagi, kata Anwar kepada wartawan pada Selasa malam, mengonfirmasi bahwa blok tersebut sedang dalam pembicaraan untuk menandatangani perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan GCC dan sedang menjajaki hal yang sama dengan Uni Eropa.
“FTA dengan GCC, FTA dengan UE, perdagangan intra-ASEAN - semua orang mengakui masih ada yang perlu dilakukan, lebih konkret. Jadi pada bulan Oktober, kami ingin melihat hasilnya,” katanya, mengacu pada KTT ASEAN kedua yang akan diselenggarakan Malaysia pada bulan Oktober.
ASEAN juga telah mencapai “konsensus” tentang bagaimana menanggapi tarif AS, kata Anwar, yang menyatakan bahwa negara-negara anggota dapat melanjutkan negosiasi bilateral dengan Washington tetapi “tidak dengan mengorbankan” anggota ASEAN lainnya.
“Kita dapat melanjutkan keterlibatan bilateral. Tetapi jangan pernah mengorbankan kepentingan orang biasa dan kepentingan ASEAN secara keseluruhan,” katanya.
“Kita berbicara tentang kekompakan, bekerja sama, tetapi dalam hal perdagangan intra-ASEAN, dalam hal membuat keputusan bersama untuk melindungi wilayah kita di ASEAN, dalam masalah geopolitik, terkadang kita tidak selalu berbagi (kekompakan ini).
“Orang-orang memiliki agenda nasional mereka sendiri, tetapi tidak kali ini.”
Masalah pelik dalam ASEAN juga mengemuka, kata Anwar, merujuk pada bagaimana Perdana Menteri China Li Qiang dan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr membahas ketegangan di Laut Cina Selatan, baik melalui Perdana Menteri Malaysia maupun secara langsung satu sama lain.
ASEAN juga telah mencapai konsensus untuk terus melibatkan semua pihak dalam masalah Myanmar, katanya, seraya mencatat bahwa "fokus sekarang" adalah memperpanjang gencatan senjata dan mengizinkan bantuan kemanusiaan untuk terus berlanjut setelah gempa berkekuatan 7,7 skala Richter pada bulan Maret.
"Kami menghargai deklarasi tiga gencatan senjata sementara berturut-turut oleh otoritas di Myanmar dan gencatan senjata unilateral lainnya oleh pemangku kepentingan terkait lainnya," kata para pemimpin ASEAN dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh Malaysia.
"Kami selanjutnya menyerukan perpanjangan berkelanjutan dan perluasan gencatan senjata secara nasional di Myanmar, sebagai langkah awal menuju penghentian kekerasan, dengan tujuan untuk menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif dalam memastikan pengiriman bantuan dan asistensi kemanusiaan."
Terkait penerimaan Timor-Leste sebagai anggota penuh ASEAN, Anwar mengatakan blok tersebut akan melakukan "apa pun yang diperlukan" untuk mewujudkannya pada bulan Oktober, dengan syarat negara tersebut memenuhi "satu atau dua" persyaratan ekonomi.
"Saya tidak mengatakan semua masalah dapat diselesaikan sekarang, tetapi setidaknya ada keterlibatan yang nyata, bermakna, dan positif, dan itulah semangat baru ASEAN," tambah Anwar.
Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Selasa malam sebagai tanggapan atas ketidakpastian ekonomi dan perdagangan global, para pemimpin ASEAN mencatat "terus meningkatnya tindakan sepihak yang berkaitan dengan tarif dan pembatasan perdagangan dan investasi lainnya serta meningkatnya risiko fragmentasi global".
"Kami menekankan tekad terkuat kami untuk bersatu sebagai ASEAN dalam menjaga stabilitas ekonomi, ketahanan, dan lintasan pertumbuhan jangka panjang kawasan ini," kata mereka.
"ASEAN menggarisbawahi bahwa tindakan perdagangan sepihak dan pembalasan bersifat kontraproduktif dan berisiko memperburuk fragmentasi ekonomi global, terutama ketika tindakan ini menciptakan dampak tidak langsung pada ASEAN."
Para pemimpin berjanji untuk lebih memperdalam perdagangan dan investasi internal, meningkatkan Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN Plus Satu dan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP), dan meningkatkan koordinasi internal ASEAN dengan memanfaatkan sepenuhnya mekanisme lintas sektoral yang ada dan Satuan Tugas Geoekonomi ASEAN yang baru dibentuk.
"Untuk tujuan ini, kami menugaskan menteri terkait untuk memantau tantangan ekonomi global saat ini dan berkoordinasi sebagaimana mestinya untuk respons ASEAN yang strategis dan koheren," mereka menambahkan.
Dalam komunike bersama yang juga dikeluarkan Selasa malam yang mencantumkan hasil dan kesepakatan utama tentang berbagai isu pada pertemuan puncak mereka, para pemimpin ASEAN menyatakan "kekhawatiran yang mendalam" atas pengumuman baru-baru ini oleh Amerika Serikat untuk mengenakan tarif sepihak dan "dampak potensialnya terhadap ekonomi kita".
"Ketidakpastian yang timbul dari tarif ini dan potensi pembalasan dapat meningkatkan volatilitas baik dalam arus modal maupun nilai tukar. Kami akan terus terlibat dalam dialog yang jujur dan konstruktif dengan AS, dan berkomitmen untuk tidak mengenakan tindakan pembalasan apa pun sebagai tanggapan terhadap tarif AS," mereka menambahkan.
Anwar mengatakan angka-angka ini menunjukkan "keterkaitan yang ada yang sangat besar serta potensi substansial yang belum dimanfaatkan".
ASEAN, GCC, dan China secara kolektif mewakili gabungan produk domestik bruto sebesar US$24,87 triliun dan populasi sekitar 2,15 miliar, katanya.
“Skala kolektif ini menawarkan peluang besar untuk mensinergikan pasar kita, memperdalam inovasi, dan mempromosikan investasi lintas kawasan,” tambah Anwar.
“Dengan memperkuat kolaborasi di area ini, kita dapat meletakkan dasar bagi pertumbuhan yang stabil, tangguh, dan berkelanjutan.”
Li mengatakan China, ASEAN, dan banyak negara GCC menyumbang sekitar seperempat dari total populasi dan output ekonomi dunia, seraya ia menyerukan pada slide untuk membangun model “keterbukaan lintas kawasan”, mengacu pada potensi ekonomi dan pembangunan untuk “menghubungkan sepenuhnya” ketiga pasar regional.
Ia menambahkan bahwa China dan ASEAN telah menyelesaikan negosiasi mengenai versi 3.0 yang telah ditingkatkan dari perjanjian Kawasan Perdagangan Bebas China-ASEAN.
“Menghubungkan pasar kita sepenuhnya akan melepaskan potensi pembangunan yang sangat besar dan menghasilkan efek skala yang lebih besar lagi,” tambahnya.
ASEAN saat ini memiliki kemitraan dialog dengan 11 pihak: Australia, Kanada, China, Uni Eropa, India, Jepang, Selandia Baru, Korea Selatan, Rusia, Inggris Raya, dan AS.
Para pemimpin ASEAN akan mengadakan pertemuan puncak terpisah dengan para pemimpin mitra dialog ini.
Selain itu, para pemimpin ASEAN juga memiliki pertemuan puncak rutin di bawah mekanisme pertemuan yang dipimpin ASEAN lainnya seperti ASEAN Plus Three (Jepang, Korea Selatan, dan China) dan East Asia Summit (ASEAN dengan delapan negara lainnya).
ASEAN dan GCC mengadakan pertemuan puncak pertama mereka di Arab Saudi pada tahun 2023, dan yang kedua pada Selasa pagi.
KTT ASEAN-GCC-China menandai pertemuan puncak pertama antara ASEAN, salah satu mitra dialognya, dan kelompok multilateral ketiga.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.