Skip to main content
Iklan

Asia

Pelarian ke desa: Mengapa para pemuda China meromantisasi kehidupan perdesaan

Tekanan hidup, ketidakpastian ekonomi, dan meningkatnya biaya hidup mendorong makin banyak anak muda perkotaan di China meromantisasi kehidupan di perdesaan lewat media sosial. Namun, para ahli mengingatkan realitanya jauh lebih rumit.

Pelarian ke desa: Mengapa para pemuda China meromantisasi kehidupan perdesaan

Dong Meihua, yang lebih dikenal di dunia maya sebagai Dianxi Xiaoge, menampilkan kehidupan desanya yang tampak ideal sekaligus mempromosikan cita rasa khas Yunnan melalui video-videonya di YouTube. (FOTO: Facebook/Dianxi Xiaoge)

YUNNAN: Di sebuah halaman yang diterangi cahaya matahari dan dipenuhi tanaman, seorang perempuan duduk bersandar di kursi goyang bambu sambil menyeruput teh.

Rumah berusia seabad itu memiliki halaman tradisional bergaya yi ke yin, yang dibangun dari batu bata dan batu alam, serta umum dijumpai di sejumlah wilayah di Provinsi Yunnan, China barat daya.

Ruang yang tenang itu luasnya bahkan tak sampai lebih dari 2 meter persegi. Namun bagi Zheng Junyu, 34, itu sudah lebih dari cukup.

Mantan presenter Kunming Broadcasting Corporation itu meninggalkan pekerjaannya pada 2025 demi mencari ritme hidup yang berbeda.

Menurut Zheng, gairahnya terhadap dunia jurnalistik perlahan memudar. Bahkan, ia nyaris tak mampu membayar biaya parkir di tempat kerjanya. Ia merasa seperti "katak yang direbus perlahan".

Kini, ia menjalani kehidupan yang "tenang dan bebas" di perdesaan Yunnan, kehidupan yang menurutnya menjadi miliknya sendiri.

"Saat angin bertiup, halaman ini terasa seperti negeri impian," ujar Zheng dalam video yang diunggah di Xiaohongshu pada 13 April. Akunnya kini memiliki lebih dari 328.000 pengikut.

"Di antara genteng dan batu bata, hari-harimu berjalan lebih lambat. Rasanya, makin sederhana hidup, makin mudah pula merasa puas."

Bagi banyak anak muda yang memantengi media sosial Xiaohongshu sepulang kerja, konten seperti milik Zheng semakin menarik perhatian.

Konten itu menyentuh kerinduan yang kian besar akan sesuatu yang sering terasa langka di kota-kota besar China: ruang, ketenangan, dan kesempatan untuk memperlambat ritme hidup.

"Rasanya seperti kembali ke masa lalu," tulis pengguna bernama Vicky Wang di kolom komentar salah satu video Zheng.

Pengguna lain, Mao Jiuqi, menyebutnya sebagai "kehidupan ideal".

"Sebuah halaman kecil dengan seekor anjing dan kucing, serta tabungan jutaan yuan," tulisnya.

"Aku suka desain rumahmu dan ikan koi di kolammu," komentar pengguna bernama Lei Lei, seraya menambahkan bahwa "berbaring di atas tatami sambil makan semangka merupakan impianku".

"Sekarang jadi ingin berkunjung ke Yunnan."

REVITALISASI PERDESAAN

Urbanisasi pesat di China selama bertahun-tahun ditandai dengan perpindahan besar-besaran penduduk dari desa ke kota.

Namun, statistik resmi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan arus balik yang cukup signifikan. Fenomena ini didorong kombinasi tekanan ekonomi, berbagai inisiatif pemerintah, dan perubahan aspirasi gaya hidup.

Data yang dirilis pada 2025 menunjukkan lebih dari 12 juta orang telah kembali ke perdesaan untuk memulai usaha, menciptakan industri baru dan model bisnis inovatif, menurut kantor berita pemerintah Xinhua.

Daya tarik kehidupan perdesaan juga tumbuh seiring menguatnya pembahasan di masyarakat mengenai kelelahan akibat tekanan hidup dan ketidakpastian ekonomi di perkotaan, menurut para pakar.

Vivianne Zhang Wei, seorang etnografer yang menghabiskan setahun berkeliling perdesaan China, mengungkapkan banyak anak muda meninggalkan kota-kota tingkat pertama seperti Beijing dan Shanghai dengan beragam latar belakang.

Menurut Zhang, tren ini mungkin bukan hanya terjadi di China, tetapi "di China ada sejumlah aspek yang unik". Salah satunya adalah upaya pemerintah melalui strategi revitalisasi perdesaan.

Diluncurkan pada 2017, strategi tersebut bertujuan memodernisasi sektor pertanian dan perdesaan China pada 2035, sekaligus menarik kembali kaum muda berpendidikan dan talenta ke kota-kota kecil serta provinsi di perdesaan.

Namun, menurut Zhang, kebijakan pemerintah hanya salah satu faktor. Banyak kaum muda perkotaan di China yang pindah ke perdesaan juga "didorong oleh kelelahan dan kekecewaan" di tengah biaya hidup yang terus naik, tingginya pengangguran usia muda, dan lesunya pasar kerja.

"Kehidupan desa yang berjalan lambat menjadi penawar yang mereka bayangkan," ujar Zhang.

Media sosial juga turut memperkuat daya tarik tersebut.

Berdasarkan data resmi yang dikutip Xinhua dalam laporannya pada 26 Februari, jumlah kreator Douyin yang kembali menetap di kampung halaman di perdesaan sepanjang setahun terakhir telah melampaui 130.000 orang.

Dalam periode yang sama, lebih dari 1,36 miliar video bertema perdesaan diunggah ke platform tersebut. Sementara itu, jumlah kreator berusia di bawah 30 tahun meningkat 45 persen secara tahunan pada 2025.

Sementara itu, Kuaishou, platform video pendek populer lainnya, memiliki lebih dari 140 juta pengguna yang tertarik pada pertanian, perdesaan, dan petani hingga Oktober 2025, menurut laporan tabloid milik pemerintah People's Daily pada 14 Mei 2026.

Laporan itu, yang juga mengutip data Kementerian Perdagangan China, menyebut platform e-commerce utama telah menayangkan lebih dari 4 juta siaran langsung bertema pertanian sepanjang 2025.

"Pada 2025, nilai penjualan ritel daring di wilayah perdesaan China untuk pertama kalinya melampaui 3 triliun yuan (sekitar Rp7.800 triliun)," demikian bunyi laporan tersebut.

Vlogger China Dianxi Xiaoge kerap menampilkan aneka kuliner khas Yunnan dalam video-videonya. (FOTO: Facebook/Dianxi Xiaoge)

Daya tarik kehidupan perdesaan

Kreator konten asal Sichuan, Li Ziqi, meraih popularitas berkat berbagai videonya yang diproduksi dengan cermat, menampilkan kehidupan perdesaannya di sekitar Mianyang, kota yang dikenal sebagai pusat industri elektronik sekaligus lokasi sejumlah lembaga riset bergengsi.

Video-videonya tentang bertani, memasak, dan mengolah kayu, termasuk membuat berbagai kerajinan tradisional, furnitur, hingga kertas, telah ditonton jutaan kali.

"Warganet menyukai videoku karena ada sesuatu yang beresonansi dengan mereka," kata Li dalam wawancara dengan sebuah majalah pada 2020. "Itu adalah kehidupan yang didambakan banyak orang."

"Aku ingat pernah membuat video tentang pembuatan kue bulan tradisional. Banyak penggemar berkomentar mereka sudah lama tidak melihatnya, sehingga membangkitkan kenangan bersama," tambahnya.

Kreator konten perdesaan lain yang juga populer adalah Dong Meihua, yang lebih dikenal jutaan pengikutnya di dunia maya sebagai Dianxi Xiaoge.

Dong mulai menjadi vlogger pada 2016 dan bekerja di sebuah perusahaan rintisan lokal hingga ayahnya jatuh sakit.

"Dulu saya membuat video yang menarik perhatian, seperti menggoreng ulat bambu atau makan daging mentah, supaya penonton mengingat saya di antara banyak vlogger lain," ujarnya dalam wawancara dengan China News Service pada 2024.

Dengan lebih dari 12 juta pelanggan di YouTube, video-videonya yang juga dibagikan di Instagram, TikTok, dan Facebook mendokumentasikan kehidupan perdesaan. Pemandangan pegunungan hijau yang rimbun dan hamparan ladang yang luas kerap menjadi latar, sekaligus menampilkan aneka kuliner khas daerah.

Dalam video YouTube terbarunya yang diunggah pada 18 Juni, Dong mencari jamur liar di hutan sekitar desanya lalu membuat berbagai saus khas menggunakan buah-buahan hutan, cabai, kedelai hitam fermentasi, dan rempah-rempah.

"Memang seperti itulah kenyataannya," katanya, menggambarkan kehidupan desa sebagai sesuatu yang "damai dan hangat".
 

Collapse

WAJAH BARU PERDESAAN

Bagi banyak kaum muda perkotaan di China, pindah ke perdesaan kini tidak lagi berarti harus mengorbankan berbagai kenyamanan modern.

Dalam beberapa tahun terakhir, infrastruktur di perdesaan China berkembang pesat. Jalan yang lebih baik, akses internet yang luas, serta kondisi tempat tinggal yang semakin layak membuat kehidupan di desa kian memungkinkan, menurut para pakar.

Qian Forrest Zhang, lektor kepala sosiologi di Singapore Management University (SMU), menunjuk sejumlah wilayah di Delta Sungai Mutiara, Delta Sungai Yangtze, dan sekitar Chengdu sebagai contoh kawasan perdesaan yang kini menjadi alternatif menarik dibanding kehidupan di kota.

Warga di sana umumnya menikmati rumah yang lebih luas, lingkungan yang lebih hijau, dan akses ke berbagai fasilitas modern, sambil tetap berada dalam jarak tempuh menuju kota-kota besar.

"Itulah sebabnya orang sekarang pindah ke perdesaan dengan berbagai alasan, mulai dari pensiun, berlibur, bekerja, hingga mencari gaya hidup alternatif," kata Zhang.

Sebuah rumah di sebuah desa di luar Kota Hangzhou, China. (FOTO: Qian Forrest Zhang)

Sebagian lainnya merupakan pekerja nomaden digital yang tertarik pada kemungkinan bekerja dari jarak jauh sambil menikmati ritme hidup yang berbeda.

Biaya hidup di perdesaan China juga jauh lebih rendah, kata profesor keuangan di Cheung Kong Graduate School of Business, Zhou Chunsheng.

Menurutnya, biaya perumahan, yang biasanya menjadi salah satu pengeluaran terbesar bagi penduduk perkotaan di China, jauh lebih ringan bagi mereka yang kembali tinggal di rumah keluarga di perdesaan.

Data dari Biro Statistik Kota Beijing menunjukkan bahwa pada kuartal I 2026, pengeluaran warga perkotaan untuk perumahan jauh lebih besar dibandingkan warga perdesaan. Pengeluaran per kapita untuk perumahan di kalangan warga perkotaan mencapai 5.391 yuan, sedangkan di perdesaan sebesar 2.299 yuan.

"Tinggal di perdesaan juga berarti kebutuhan dasar hidup dapat terpenuhi dengan tekanan yang relatif kecil. Kamu punya tempat tinggal dan cukup uang untuk membeli mobil sederhana," kata Zhou.

"Jika kamu tidak memiliki ambisi karier yang besar atau tidak merasakan tekanan persaingan yang sangat ketat di kota, perdesaan tentu menjadi tempat yang memungkinkanmu mempertahankan penghidupan yang layak."

Pada saat yang sama, perdesaan China saat ini sudah sangat berbeda dari kehidupan penuh kerja keras yang mungkin masih diingat generasi yang lebih tua.

Mekanisasi dan kemajuan teknologi telah mengubah sektor pertanian, membuat aktivitas bertani tidak lagi terlalu mengandalkan tenaga fisik sekaligus meningkatkan kualitas hidup di banyak wilayah perdesaan.

Pariwisata juga membuka sumber pendapatan baru.

"Misalnya, banyak desa yang berkembang menjadi tujuan wisata kini memiliki kafe, toko roti, dan berbagai fasilitas bergaya perkotaan yang memenuhi imajinasi wisatawan kota tentang kehidupan desa," kata Zhang dari SMU.

Di Xuexiang, desa wisata di Provinsi Heilongjiang yang terkenal dengan pemandangan musim dinginnya, peningkatan infrastruktur jalan dan pengembangan sektor pariwisata telah mengubah kawasan tersebut menjadi destinasi wisata sepanjang tahun, menurut pejabat setempat.

Xuexiang

Selama melakukan perjalanan di Provinsi Sichuan, etnografer Zhang melihat warga desa menambah penghasilan melalui homestay dan penjualan hasil bumi setempat.

Kedatangan wisatawan tidak hanya membawa manfaat ekonomi, tetapi juga menumbuhkan kembali apresiasi generasi muda terhadap kampung halaman mereka.

"Sejumlah anak muda yang saya ajak bicara juga mengatakan mereka semakin menghargai berbagai kelebihan kampung halaman mereka," ujar Zhang.

"Meski sebagian besar belum melihat kemungkinan untuk memperoleh penghidupan yang layak di sana saat ini, mereka berharap hal itu bisa terwujud di masa depan."

DI BALIK FANTASI KEHIDUPAN DESA

Meski demikian, para ahli mengingatkan agar gambaran kehidupan perdesaan di media sosial tidak disamakan dengan kenyataan.

"Pada dasarnya, wisatawan dari kota hanya berpindah ke lokasi perdesaan untuk menikmati jenis konsumsi yang serupa, tanpa benar-benar melihat sisi pertanian dari kehidupan desa," kata Zhang dari SMU.

Media sosial memang dipenuhi video dan unggahan tentang kebun sayur yang asri serta homestay yang indah. Kehidupan desa pun tampak seperti penawar bagi tekanan hidup di kota. Namun, menurut Zhou, tinggal sepanjang tahun di kota kecil atau desa sangat berbeda dengan sekadar berkunjung saat akhir pekan.

Seorang petani di Desa Hongqi, Kota Nanchong, Provinsi Sichuan, China, pada April 2025. (FOTO: Vivianne Zhang Wei)
Kreator konten asal Sichuan, Li Ziqi, meraih popularitas berkat video-video yang digarap dengan cermat tentang kehidupan pedesaannya di luar Kota Mianyang. (GAMBAR: YouTube/李子柒Liziqi)

Banyak warga kota menikmati ketenangan di perdesaan, tetapi "belum tentu bisa beradaptasi" jika harus tinggal di sana secara permanen karena perbedaan akses terhadap hiburan, layanan kesehatan, pendidikan, dan lapangan pekerjaan, kata Zhou.

Ia menyoroti masih terbatasnya lapangan kerja berkualitas dan sekolah yang baik di banyak wilayah perdesaan, serta kesenjangan yang masih ada dalam layanan dan fasilitas kesehatan.

Zhou menambahkan, meski semakin banyak desa dan kota kecil telah memiliki klinik serta fasilitas kesehatan dasar, layanan medisnya masih jauh berbeda dibandingkan kota-kota besar.

Zhang dari SMU juga mengatakan banyak desa telah berkembang menjadi destinasi wisata dengan kafe, toko roti, dan berbagai usaha gaya hidup lainnya.

Akibatnya, wisatawan kerap hanya melihat versi kehidupan desa yang telah dikurasi dengan cermat, sementara tetap jauh dari pekerjaan pertanian yang berat dan masih menjadi penopang kehidupan banyak masyarakat perdesaan.

2026-05-15t095437z 1 lynxmpem4e0pc rtroptp 3 schroders-china

Di dunia maya, sebagian orang yang tumbuh besar di perdesaan menolak gambaran ideal tentang kehidupan bertani.

Seorang pengguna Xiaohongshu bernama Quail menggambarkan bertani sebagai pekerjaan yang sangat menguras tenaga dan jauh dari pemandangan indah yang sering muncul di media sosial.

"Tangan melepuh saat mencangkul, tangan terluka saat memanen gandum, dan kulit terasa seperti akan mengelupas karena terik matahari," tulisnya.

Pengguna lain, WW, menyampaikannya dengan lebih terus terang.

"Bertani itu melelahkan dan penghasilannya tidak besar. Mereka yang memang berasal dari perdesaan tidak akan pernah mendambakan kehidupan desa."

Pengguna bernama Miss Pink Rabbit mengatakan mereka yang mendambakan kehidupan desa yang ideal sebenarnya adalah orang-orang yang ingin memiliki cukup uang dan waktu luang.

"(Yang mereka inginkan) adalah menanam sayur dan buah untuk dikonsumsi sendiri, bukan mencari nafkah dari bertani."

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da(ps)_

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan