Skip to main content
Iklan

Asia

Persaingan AI AS-China kini ditentukan talenta, bukan teknologi

Di luar cip, data, dan daya komputasi, persaingan antara Beijing dan Washington kini semakin ditentukan oleh para peneliti, insinyur, dan pengusaha yang membentuk masa depan teknologi tersebut.

Persaingan AI AS-China kini ditentukan talenta, bukan teknologi

Di luar cip, data, dan daya komputasi, persaingan antara Beijing dan Washington kini semakin ditentukan oleh para peneliti, insinyur, dan pengusaha yang membentuk masa depan teknologi tersebut.

BEIJING: Ketika Will Wang keluar dari Apple di Silicon Valley pada 2018, ia bukan sedang mengincar bekerja di startup teknologi lainnya.

Akan tetapi, ia mencari lokasi untuk membangun perangkat keras.

Lulusan Shanghai Jiao Tong University dan University of California, Berkeley itu sempat bekerja di tim Apple Watch sebelum kembali ke China.

Setelah berkarier di sejumlah perusahaan elektronik konsumen China, termasuk Anker Innovations dan Oppo, ia mendirikan perusahaan rintisan kacamata pintar Even Realities yang berbasis di Shenzhen pada 2023.

Alasannya, kata dia, sederhana.

“Silicon Valley sebenarnya sudah tidak lagi mementingkan pengembangan perangkat keras,” kata Wang kepada CNA. Menurutnya, fokus industri telah bergeser ke perangkat lunak, data, dan kini kecerdasan buatan.

Bagi Wang, China bertaburan insinyur, rantai pasok, dan ekosistem manufaktur yang dibutuhkan untuk mengembangkan perangkat keras AI generasi berikutnya.

“Kalau ingin memimpin di bidang AI, saya harus berada di Silicon Valley,” kata Wang.

“Tapi kalau ingin berinovasi di perangkat keras, saya harus berada di pusat industri perangkat keras.”

Will Wang, pendiri sekaligus CEO Even Realities, berbicara dalam presentasi mengenai teknologi kacamata pintar buatan perusahaannya. (Foto: Even Realities)

Keputusan Wang mencerminkan perubahan yang lebih besar di pusat persaingan AI global.

Selama puluhan tahun, sumber daya manusia atau talenta bebas berpindah antara China dan Amerika Serikat. Namun kini, pergerakan talenta yang dulu lumrah itu semakin rumit.

Di tengah persaingan Beijing dan Washington untuk menjadi pemimpin AI, talenta kini dipandang sebagai aset strategis, sejajar dengan semikonduktor canggih, daya komputasi, dan data.

Pemerintah di kedua negara memperketat pengawasan terhadap alih teknologi, investasi, dan kolaborasi riset. Di saat yang sama, perusahaan-perusahaan berlomba merekrut kelompok kecil insinyur dan ilmuwan terbaik yang mampu mendorong batas kemampuan AI.

Menurut para ahli, persaingan kini bukan lagi sekadar soal siapa yang mampu membangun model AI terbaik, tetapi juga soal di mana para peneliti, pendiri perusahaan, dan insinyur paling berharga di dunia memilih tinggal, bekerja, dan berkarya.

Wawancara CNA dengan para pendiri startup, perekrut, dan peneliti menunjukkan, hasilnya bukan sekadar pembalikan arus talenta dari Amerika Serikat ke China.

Sebaliknya, yang muncul adalah pola yang lebih selektif dan sarat kepentingan politik, yang berpotensi mengubah cara inovasi mengalir di antara dua kekuatan AI terbesar di dunia.

DUA EKOSISTEM AI, KEUNGGULAN BERBEDA

Selama bertahun-tahun, ilmuwan dan insinyur China menempuh pendidikan di universitas-universitas AS serta bergabung dengan perusahaan dan laboratorium riset di Silicon Valley. Dalam banyak kasus, mereka kemudian pulang ke Tanah Air dengan membawa keahlian, jaringan dan pengalaman untuk membangun perusahaan maupun institusi mereka sendiri.

Li Yaqi, asisten peneliti di S Rajaratnam School of International Studies (RSIS) di Singapura yang mengkaji tata kelola AI AS-China dan ekosistem teknologi, menyebut fenomena ini sebagai "sirkulasi talenta", bukan "brain drain" atau pengurasan talenta.

"Keunggulan AI Amerika dibangun oleh institusinya, tetapi ditopang oleh talenta dari seluruh dunia," kata Li kepada CNA.

Talenta yang kembali ke China juga berperan besar dalam membangun ekosistem teknologi negara itu. Tokoh-tokoh seperti ilmuwan komputer asal Taiwan Lee Kai-Fu dan peraih Turing Award Andrew Yao ikut mencetak generasi pengusaha dan peneliti yang kemudian membentuk industri AI China.

Jalur pendidikan juga tetap menjadi penghubung penting. Menurut data Open Doors, China merupakan negara asal mahasiswa internasional terbesar kedua di AS pada tahun akademik 2024-2025.

Selama bertahun-tahun, para peneliti berpindah antara kedua negara. Mereka tidak hanya membawa keahlian teknis, tetapi juga jaringan, budaya riset, dan pengalaman penting.

"Hubungan ini tidak pernah sekadar perpindahan orang," kata Li.

"Hubungan ini melahirkan peneliti, membangun perusahaan, dan membuat kedua pihak tetap saling memahami."

Kelvin Sun, salah satu pendiri platform intelijen talenta DINQ, mengatakan, daya tarik China kini bukan lagi sekadar cerita atau kasus-kasus terpisah.

Semakin banyak peneliti dan eksekutif menduduki posisi senior di perusahaan serta laboratorium China, mencerminkan semakin matangnya ekosistem AI negara itu.

Media China menyoroti sejumlah contoh, termasuk ilmuwan komputer Zhu Songchun yang kembali ke China pada 2020 setelah puluhan tahun bermukim di AS, serta peneliti AI Wu Yonghui dan Yao Shunyu yang tahun lalu masing-masing bergabung sebagai eksekutif senior di ByteDance dan Tencent.

Meski demikian, Sun menilai keputusan talenta AI terbaik untuk memilih tempat bekerja hampir tidak pernah ditentukan oleh satu faktor saja.

"Bagi talenta papan atas, tiga faktor utama adalah gaji, daya komputasi, dan kebebasan riset," katanya kepada CNA.

"Gaji memang menarik orang untuk bergabung, tetapi daya komputasi dan peluang menghasilkan dampak nyata yang membuat mereka bertahan," ujar Sun.

Bagi peneliti elite, akses terhadap sumber daya komputasi menjadi semakin penting karena pengembangan AI kian mahal.

Melatih model AI terdepan membutuhkan modal besar dan perangkat keras khusus. Sumber daya tersebut masih terkonsentrasi di segelintir perusahaan dan laboratorium, sehingga AS tetap unggul dalam hal ini.

Kelvin Sun, salah satu pendiri platform intelijen talenta DINQ, mengatakan, gaji, sumber daya komputasi, dan kebebasan riset masih menjadi faktor utama yang menentukan pilihan talenta AI terbaik dalam memilih tempat bekerja. (Foto: DINQ)

Kawasan Teluk San Francisco masih menjadi pusat dengan konsentrasi talenta AI elite, riset terdepan, dan sumber daya komputasi terpadat yang dibutuhkan untuk melatih model AI canggih.

Namun, di saat yang sama, China kini menawarkan sesuatu yang belum dimilikinya satu dekade lalu: ekosistem teknologi yang kuat dan matang, dengan perusahaan kelas dunia, insinyur berkualitas, serta pasar domestik yang cukup besar untuk mengembangkan dan menguji produk ambisius dalam skala luas.

"Talenta akan pergi ke tempat yang dianggap sebagai masa depan, bukan ke tempat pemerintah menawarkan bayaran paling besar," kata Will Wang.

Wang Li, salah satu pendiri sekaligus kepala operasional Even Realities, mengatakan kepada CNA bahwa para insinyur dan peneliti muda mencari kesempatan untuk mengembangkan produk terdepan dan belajar dari tim terbaik.

"Mereka hanya ingin bekerja di perusahaan terbaik dan paling inovatif, sekaligus berkembang bersama perusahaan itu," ujarnya.

Ada pula yang menilai ekosistem AI di AS dan China kini semakin saling melengkapi, meski ketegangan geopolitik global terus meningkat.

Deng Honghao, salah satu pendiri sekaligus CEO Butlr, perusahaan berbasis di AS yang lahir dari riset di MIT Media Lab, menuturkan, perjalanan kariernya dibentuk oleh kedua ekosistem tersebut.

Lahir dan besar di Beijing, Deng menempuh studi arsitektur di Tianjin University sebelum melanjutkan pendidikan pascasarjana di Harvard University di AS, lalu melakukan riset di MIT.

Ia menegaskan, keputusan talenta untuk memilih tempat berkarier tidak sesederhana memilih antara China atau AS.

"Kedua negara sama-sama memiliki daya tarik yang kuat bagi talenta, sekaligus sumber daya yang dibutuhkan," katanya kepada CNA.

Menurut para pengamat, hasil akhirnya bukanlah konvergensi, melainkan spesialisasi.

AS tetap menjadi tujuan utama bagi mereka yang ingin mengembangkan model AI terdepan, bergabung dengan tim riset elite, dan mengakses pendanaan AI yang besar.

Sebaliknya, China semakin menarik bagi mereka yang berfokus pada perangkat keras, komersialisasi, dan penerapan produk berbasis AI di dunia nyata.

Deng Honghao (kiri) dan Zeng Jiani, pendiri Butlr, perusahaan yang mengembangkan teknologi sensor untuk gedung dan berbagai ruang fisik. (Foto: Butlr)

APAKAH ARUS TALENTA MULAI MELAMBAT?

AS telah memperketat akses China terhadap cip canggih, arus investasi, dan sejumlah layanan terkait AI. Di sisi lain, China juga semakin waspada terhadap kemungkinan teknologi, data, dan talenta strategis berpindah ke luar jangkauan maupun kendalinya.

Aturan baru China mengenai investasi ke luar negeri yang mulai berlaku pada 1 Juli merupakan bagian dari perubahan tersebut.

Regulasi itu memperketat pengawasan terhadap investasi luar negeri yang melibatkan investor China, terutama di sektor sensitif serta transaksi yang berkaitan dengan teknologi, data, dan keamanan nasional.

Salah satu kasus yang menyita perhatian adalah Manus, startup AI yang berakar di China dan pindah ke Singapura tahun lalu sebelum memicu pengawasan regulator di China.

Setelah muncul laporan mengenai kesepakatan antara Meta dan perusahaan tersebut, otoritas China meninjau apakah transaksi itu melanggar aturan investasi.

Dua pendiri Manus juga dilaporkan dicegah meninggalkan China selama proses peninjauan berlangsung.

Kasus itu menunjukkan bahwa batas antara talenta, kepemilikan, dan alih teknologi kini semakin kabur.

Pembatasan visa, kontrol ekspor, peninjauan keamanan nasional, dan pengawasan perjalanan telah menambah ketidakpastian dalam menentukan tempat tinggal dan bekerja. Padahal, keputusan itu sebelumnya lebih banyak didasarkan pada pertimbangan karier.

Li dari RSIS menyebut tren ini sebagai segmentasi.

Peneliti elite, pendiri perusahaan, dan eksekutif mungkin masih memiliki jaringan serta sumber daya untuk berpindah lintas negara. Namun, arus mahasiswa, insinyur tingkat menengah, dan pengusaha rintisan justru bisa menjadi semakin terbatas.

Dampaknya, kata dia, bisa jauh lebih besar daripada sekadar perpindahan talenta dari satu negara ke negara lain.

"Yang berhenti bergerak adalah pengetahuan yang tidak tertulis," ujar Li.

Menurutnya, kerugian yang lebih besar adalah terhambatnya perpindahan intuisi riset, budaya manajemen, pengalaman pengembangan produk, budaya laboratorium, serta pengetahuan informal yang tidak mudah ditransfer melalui makalah ilmiah, paten, atau kumpulan data publik.

Pameran robot di BEYOND Expo di Makau, ajang teknologi tahunan yang mempertemukan startup, investor, dan pelaku industri. Startup AI Even Realities dan Butlr termasuk di antara peserta tahun ini. (Foto: BEYOND Expo)

TALENTA SEBAGAI ASET STRATEGIS

Perubahan dinamika politik seputar talenta juga terlihat dari cara pandang terhadap perpindahan mereka.

Media China semakin sering menyoroti ilmuwan dan peneliti AI lulusan luar negeri yang pulang ke China untuk menduduki posisi senior di perusahaan-perusahaan lokal. Mereka digambarkan sebagai bagian dari upaya mewujudkan ambisi teknologi nasional.

Namun, sejumlah narasumber mengingatkan agar pilihan setiap individu tidak semata-mata dipandang dari sudut geopolitik.

Wang Li dari Even Realities mengatakan, insinyur dan pengusaha muda sebaiknya lebih memprioritaskan proses belajar dan pemecahan masalah, bukan lokasi geografis.

"Mereka tidak perlu mengoptimalkan pilihan berdasarkan lokasi. Yang perlu mereka optimalkan adalah kesempatan belajar, menemukan orang-orang paling berbakat untuk diajak bekerja sama, dan memilih masalah yang benar-benar penting untuk diselesaikan," tuturnya.

Deng dari Butlr berpendapat bahwa persaingan antara AS dan China tidak harus menghilangkan ruang kolaborasi, terutama dalam pengembangan teknologi yang ditujukan untuk menyelesaikan persoalan nyata.

"Teknologi yang tepat untuk manusia seharusnya tidak mengenal batas negara," katanya.

Namun, ketegangan itu mencerminkan perubahan dalam mobilitas talenta teknologi.

Menurut para pengamat industri, perpindahan talenta kini mendapat perhatian lebih besar karena yang dibawa bukan hanya keterampilan, tetapi juga data, jaringan, penilaian teknis, dan pengetahuan kelembagaan.

Arus perpindahan talenta belum benar-benar berhenti, tetapi tidak lagi mengalir sebebas dulu.

Li berpendapat, risiko terbesar bukan sekadar salah satu pihak memperoleh talenta dengan mengorbankan pihak lain.

Risiko yang lebih besar adalah kedua negara semakin kehilangan kemampuan untuk memahami cara pihak lain bekerja.

Mobilitas talenta selama ini menjadi salah satu dari sedikit saluran yang memungkinkan China dan AS saling memahami dari dalam.

Tanpa pertukaran antarmanusia itu, kedua pihak berisiko semakin bergantung pada narasi resmi, pemberitaan media, dan asumsi-asumsi terburuk.

"Risiko yang sebenarnya bukanlah salah satu pihak kalah dalam perlombaan," kata Li.

"Risikonya adalah kedua pihak sama-sama berlari lebih lambat, tetapi menganggap diri mereka sebagai pemenang."

Ketika persaingan AI antara Washington dan Beijing semakin memanas, pertarungannya bukan lagi hanya soal cip, model AI, dan modal.

Semakin lama, persaingan itu justru ditentukan oleh manusia—dan di mana mereka memilih membangun masa depan.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan