Skip to main content
Iklan

Asia

95 persen mikrodrama China buatan AI, ancaman bagi sineas?

Lebih dari 95 persen mikrodrama baru di China pada kuartal I 2026 dibuat dengan AI, padahal setahun sebelumnya nyaris nol. CNA berbincang dengan para pelaku utama industri tentang babak baru tersebut.

95 persen mikrodrama China buatan AI, ancaman bagi sineas?

Sutradara asal Berlin, Mark Wachholz, memperlihatkan gambar yang ia buat dengan AI untuk film pendek yang digarapnya bersama rekannya, sutradara China Hou Zuxin, di Festival Film Internasional Shanghai. (FOTO: CNA/Tan Wen Lin)

SHANGHAI: Mark Wachholz ingin menjawab pertanyaan yang mulai dihadapi banyak sineas: Bisakah penonton menilai sebuah film apa adanya, tanpa terpengaruh fakta bahwa film itu dibuat dengan kecerdasan buatan (AI)?

Sutradara asal Berlin itu menghabiskan waktu sebulan bekerja sama dengan Hou Zuxin, sutradara China yang sebelumnya belum pernah menggunakan AI, untuk membuat sebuah film pendek dengan bantuan AI.

"Bisakah kita menjembatani keduanya ... sehingga orang tidak lagi melihatnya sebagai film AI, melainkan sekadar film?" kata Wachholz kepada CNA.

Pertanyaan itulah yang kini mulai dihadapi industri film China. AI tak lagi sekadar menjadi pelengkap, tetapi mulai menjadi bagian dari arus utama produksi konten, mulai dari drama vertikal berdurasi 90 detik hingga film layar lebar.

Namun, di balik perubahan cara film dan tayangan televisi diproduksi, AI juga mulai menggeser sejumlah pekerjaan, mengubah keterampilan yang dibutuhkan para sineas, sekaligus memicu perdebatan apakah teknologi ini kelak mampu menyamai kreativitas dan kedalaman emosi dalam bercerita.

Storyboard film pendek berbantuan AI dipamerkan di Shanghai Film Art Centre dalam Festival Film Internasional Shanghai ke-28 pada 15 Juni 2026. (FOTO: CNA/Tan Wen Lin)

DARI PINGGIRAN MENUJU ARUS UTAMA

Sekilas perubahan itu terlihat di Festival Film Internasional Shanghai (Shanghai International Film Festival/SIFF) yang digelar pada akhir Juni.

Tahun ini, festival tersebut memperkenalkan program AI Backlot yang memasangkan sineas konvensional dengan kreator AI untuk membuat film pendek berbantuan AI dalam waktu satu bulan. Wachholz dan Hou menjadi salah satu pasangan peserta.

Sutradara China Hou Zuxin (kiri) dan sineas asal Berlin Mark Wachholz (kanan), yang dipasangkan untuk membuat film pendek berbantuan AI dalam program AI Backlot di Festival Film Internasional Shanghai ke-28. (FOTO: CNA/Tan Wen Lin)

Di industri film China, AI kini semakin menjadi bagian dari proses produksi sehari-hari.

Sejumlah perusahaan hiburan terbesar di China secara terbuka mengakui pesatnya perkembangan AI di industri ini.

CEO raksasa layanan streaming iQiyi, Gong Yu, memperkirakan, film panjang yang sepenuhnya dibuat dengan AI bisa muncul paling cepat pada musim panas tahun ini. Dalam lima tahun ke depan, menurutnya, lebih dari separuh film dan tayangan televisi unggulan juga berpotensi dibuat dengan AI. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancaranya dengan media bisnis China Entrepreneur yang terbit pada Mei.

Pada April, Chairman Tencent Video juga mengumumkan bahwa perusahaannya telah merampungkan drama panjang berkualitas tinggi yang dibuat dengan AI.

Menurut media lokal Yicai, ia menggambarkan AI sebagai kekuatan baru yang tengah mengubah industri film dengan merombak rantai produksi konten. Tim kreatif kecil kini bisa menghasilkan karya yang sebelumnya membutuhkan kru besar, sekaligus membuat persaingan semakin ketat dan standar kualitas semakin tinggi.

Pada bulan yang sama, Administrasi Film Nasional China memberikan izin edar bagi film panjang pertama yang dibuat dengan AI untuk diputar di bioskop. Film fiksi ilmiah berdurasi 90 menit produksi Bona Film Group itu diklasifikasikan sebagai film animasi.

Namun, dampak AI paling terasa justru di industri mikrodrama, serial berbiaya rendah berformat vertikal yang telah ditonton miliaran kali oleh masyarakat China. Nilai pasar mikrodrama bahkan untuk pertama kalinya melampaui pendapatan tahunan box office China pada 2024, dan tahun ini diperkirakan menembus 120 miliar yuan (Rp318 triliun).

Sekitar 128.000 mikrodrama dirilis di China pada kuartal I 2026, hampir empat kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut laporan China Netcasting Services Association yang dirilis pada April, lebih dari 95 persen di antaranya, atau sekitar 122.000 judul, dibuat sepenuhnya dengan AI.

Artinya, mikrodrama tersebut dihasilkan sepenuhnya oleh AI tanpa menggunakan kamera maupun aktor, bukan produksi live-action yang sekadar memanfaatkan AI sebagai alat bantu.

Setahun sebelumnya, jumlahnya nyaris nol.

Cuplikan mikrodrama buatan AI yang menampilkan anjing, diunggah di Instagram. (FOTO: Instagram/jjgbadago)

PENDUKUNG AI

Bagi para pendukungnya, daya tarik AI sangat jelas: teknologi ini menjanjikan proses produksi film dan serial televisi yang jauh lebih cepat dengan biaya jauh lebih murah.

Dengan AI, tim yang hanya terdiri dari lima hingga 10 orang kini dapat menyelesaikan satu serial mikrodrama dalam waktu dua pekan hingga satu bulan. Jauh lebih singkat dan dengan kebutuhan tenaga kerja yang jauh lebih sedikit dibandingkan produksi live-action sejenis.

Menurut Junjun, produser di sebuah perusahaan yang berbasis di Beijing yang beralih dari produksi live-action menjadi khusus memproduksi mikrodrama AI, biaya membuat satu serial mikrodrama AI sekitar 100.000 yuan (Rp265 juta), mulai dari persetujuan naskah hingga tayang, dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari satu bulan.

Junjun meminta agar hanya nama depannya yang digunakan dan nama perusahaannya tidak disebutkan karena ia tidak berwenang berbicara kepada media.

Sebagai perbandingan, menurut laporan media China, satu serial mikrodrama live-action berlatar kostum menghabiskan biaya sedikitnya 300.000 hingga 500.000 yuan (Rp796 juta hingga Rp1,33 miliar) dan membutuhkan waktu produksi dua hingga tiga bulan.

Bagi Wang Ze, sutradara lulusan Shanghai Vancouver Film School, AI telah membuka kemungkinan-kemungkinan baru.

Terpilih mengikuti ajang film AI di SIFF, Wang menyelesaikan film pendek animasi berdurasi tujuh menit dalam waktu sekitar 10 hari. Jika dibuat dengan cara konvensional, proyek itu membutuhkan waktu produksi jauh lebih lama serta kru yang tidak ia miliki."Dulu, membuat film membutuhkan biaya dan banyak tenaga," katanya kepada CNA. "Sekarang saya bisa memanfaatkan AI untuk membuat film yang saya inginkan seorang diri."

Namun, Wang menilai AI juga menaikkan standar bagi para kreator. Menurutnya, sutradara kini dituntut memahami sinematografi, storyboard, pencahayaan, hingga penataan artistik.

Wang Ze (kanan) dan Li Xinxin (kiri) di Festival Film Internasional Shanghai pada Juni 2026. Wang, lulusan Shanghai Vancouver Film School, membuat film pendek animasi berdurasi tujuh menit bersama Li dengan bantuan AI dalam waktu sekitar 10 hari. (FOTO: CNA/Tan Wen Lin)

Bagi Wachholz, sineas asal Berlin itu, daya tarik utama AI adalah akses yang lebih terbuka. Menurutnya, industri film selama ini memiliki begitu banyak hambatan untuk dimasuki, dan AI membantu menurunkan hambatan tersebut.

"Orang yang tidak bisa menggambar tetapi punya ide bagus kini bisa menciptakan gambar."

Sementara itu, Hou, sutradara China yang berpasangan dengan Wachholz di SIFF, hingga kini masih lebih banyak menggarap film live-action.

Ia masih menyutradarai film layar lebar, dokumenter, dan iklan. Baginya, AI bukan pengganti proses pembuatan film, melainkan sekadar alat bantu produksi.

Menurut Hou, AI bisa menutup keterbatasan anggaran atau waktu. Misalnya, membuat gambar pembuka sebuah garis pantai ketika klien tidak memiliki biaya untuk melakukan pengambilan gambar di lokasi tersebut.

Belajar mengarahkan model AI, kata Hou, hanyalah keterampilan baru yang perlu dikuasai, sama seperti saat berkomunikasi dengan aktor, penata warna, atau penata suara.

"Ini hanya menambah pilihan alat yang bisa kita gunakan," katanya kepada CNA. "Yang paling penting adalah tahu apa yang ingin kita buat."

Proses produksi film pendek berbantuan AI yang dibuat Mark Wachholz dan Hou Zuxin dalam program AI Backlot di Festival Film Internasional Shanghai pada Juni 2026. (FOTO: CNA/Tan Wen Lin)

Meski berasal dari latar belakang berbeda, para sineas ini memiliki pandangan yang sama: AI bisa mengubah cara film dibuat tanpa harus menggantikan kreativitas manusia.

Sutradara senior Huang Jianxin, yang memimpin sekolah film Universitas Xiamen sekaligus menjabat Ketua Beijing Film Association, merangkum pandangan itu dalam satu prinsip sederhana.

"Semakin canggih alatnya, semakin penting peran penilaian manusia," ujarnya di SIFF. "Jangan mengkultuskannya, jangan pula menganggapnya sebagai ancaman, dan jangan takut kepadanya."

KONSEKUENSI AI

Namun, efisiensi yang ditawarkan AI juga membawa konsekuensi. Karena produksi kini membutuhkan lebih sedikit orang, editor, figuran, dan anggota kru lain yang pekerjaannya dapat diotomatisasi menjadi pihak yang paling dulu merasakan dampaknya.

Sejumlah media China melaporkan perlambatan di industri tersebut, yang mereka nilai diperparah oleh kehadiran AI di tengah pasar yang memang sudah kelebihan pasokan.

Survei media teknologi dan perdagangan Ebrun menemukan lebih dari 60 persen kru produksi live-action di sektor mikrodrama tak lagi beroperasi setelah libur Festival Musim Semi. Laporan itu menyebut AI "bukan penyebab utama, melainkan pukulan terakhir" bagi industri yang sudah tertekan akibat membanjirnya judul baru dan dihentikannya subsidi dari platform.

Harian ekonomi 21st Century Business Herald melaporkan, bayaran aktor papan menengah turun hingga separuhnya, sementara pekerjaan di balik layar, mulai dari pencahayaan, kostum, hingga fotografi, juga banyak yang hilang.

Media berbasis di Shanghai, The Paper, melaporkan pada Mei bahwa kru produksi yang sebelumnya membuka lowongan untuk pemain kini justru mencari tenaga untuk posisi terkait AI.

Junjun mengatakan, perubahan itu sudah terasa di lapangan. Tim penyunting yang dulu terdiri dari lima hingga enam orang kini cukup satu orang saja karena AI menghasilkan video yang sebagian proses penyuntingannya sudah selesai.

Menurutnya, sebagian editor kini beralih menjadi "generation artist", atau “choukashi”—istilah yang diambil dari gim gacha untuk menyebut proses menghasilkan banyak batch gambar lalu memilih hasil yang layak digunakan.

Dampaknya bahkan lebih besar bagi para aktor yang terikat kontrak dengan perusahaannya.

"Peran yang bisa mereka ambil sekarang memang jauh lebih sedikit."

Seorang pengguna memasukkan perintah untuk membuat konten AI melalui Hailuo AI, platform pembuatan konten AI multimodal milik MiniMax, pada 14 Juni 2026. (FOTO: CNA/Tan Wen Lin)

Aktor Bi Zhiqiang merasakan langsung dampak perubahan itu. Ia telah bekerja di Hengdian, pusat produksi drama di China, sejak pindah dari Shandong pada 2021.

Dua tahun lalu, pekerjaan datang tanpa henti.

"Kalau saya ingin syuting, saya bisa syuting terus," katanya kepada CNA.

"Bahkan, dalam sehari, banyak kru menawarkan pekerjaan, tetapi saya hanya bisa menerima satu."

Namun, tawaran mulai berkurang setelah Tahun Baru Imlek tahun ini. Hari-hari tanpa pekerjaan, yang sebelumnya nyaris tak pernah ia alami, kini menjadi hal biasa.

Sekarang, kata Bi, kru produksi hanya menghubunginya satu atau dua kali dalam sebulan.

Penurunan permintaan itu terjadi bersamaan dengan melonjaknya jumlah drama yang dibuat dengan AI. Bi menolak mengungkapkan pendapatannya sebelum dan sesudah perlambatan tersebut.

Wakil Dekan School of Drama, Film and Television di Communication University of China, Sun Bin, menuturkan, AI telah mengubah cara drama diproduksi secara permanen. Menurutnya, yang terjadi bukan sekadar tren sesaat yang akan berlalu, melainkan perombakan menyeluruh terhadap model produksi industri.

Sun menyebut, figuran di Hengdian, kru pencahayaan dasar, kru set berbiaya rendah, dan operator penyuntingan sebagai profesi yang pertama kali terdampak.

Sebaliknya, menurut Sun, peran-peran kreatif justru akan semakin bernilai. Sutradara, penulis naskah, dan profesi lain yang mengandalkan penilaian artistik dinilai lebih kecil kemungkinannya tergeser dibanding pekerjaan produksi tingkat dasar.

BATASAN AI

Meski berkembang sangat pesat, para pelaku industri mengatakan AI masih kesulitan mengatasi sejumlah tantangan paling mendasar dalam pembuatan film.

Aktor sekaligus kreator konten Wu Hankun pernah bereksperimen menggunakan AI untuk mengolah ulang adegan yang diperankan aktor sungguhan. Menurutnya, ada sesuatu yang hilang dalam proses itu.

"Beberapa detail dari akting manusia memang tidak bisa direproduksi."

Junjun juga menemukan keterbatasan serupa. Berdasarkan pengalamannya, AI "hampir tidak memiliki pemahaman soal orientasi ruang", sehingga kesinambungan visual sering terganggu dan posisi karakter bisa berubah-ubah.

Namun, menurutnya, kelemahan itu tidak terlalu terlihat dalam format vertikal. Karena bidang gambar lebih sempit, perhatian penonton cenderung tertuju pada wajah karakter, bukan latar belakang yang kadang tampak tidak konsisten.

Sun Bin dari Communication University of China mengatakan AI memang sudah unggul dalam menciptakan dunia-dunia imajinatif dan memproduksi konten dalam skala besar. Namun, teknologi itu masih kesulitan menandingi ekspresi manusia yang penuh nuansa.

"AI tidak punya kehidupan. Tidak mengenal suka, marah, ataupun sedih," katanya. "Semua emosinya hanya tiruan dari data."

Konten AI yang dibuat berdasarkan perintah (prompt) dalam program AI Backlot pada Festival Film Internasional Shanghai ke-28 di Shanghai Film Art Centre, diambil pada 14 Juni 2026. (FOTO: CNA/Tan Wen Lin)

Bi juga memiliki pandangan serupa.

"AI mungkin tahu apa itu jatuh cinta, tetapi AI tidak pernah merasakan jatuh cinta," katanya.

Meski begitu, Bi tidak yakin AI akan sepenuhnya menggantikan profesinya.

"AI mungkin bisa menggantikan sebagian aktor... tetapi untuk aktor yang lebih berpengalaman, dalam waktu dekat akan sulit menggantikannya."

Bi berencana tetap berkarier sebagai aktor, meski banyak teman dan rekan kerjanya mulai beralih ke bidang lain.

Han Lichen, sutradara di sebuah studio yang memproduksi konten sepenuhnya dengan AI, mengatakan, membanjirnya film pendek AI saat ini hanyalah "produk lini perakitan yang tidak memiliki inti maupun isi".

"AI hanya bisa membantu menghasilkan visual yang menarik," katanya kepada CNA. "Intinya tetap ada pada manusia."

Han Lichen, sutradara di sebuah studio yang memproduksi konten sepenuhnya dengan AI, mengatakan "intinya tetap ada pada manusia". (FOTO: CNA/Tan Wen Lin)

Wakil Presiden Senior sekaligus Kepala Ilmuwan AI iQiyi, Xie Danming, mencontohkan tantangan tersebut lewat adegan seorang gadis berlari di pantai, berhenti, lalu menoleh ke belakang.

Menurutnya, AI mampu menghasilkan setiap adegan dengan meyakinkan. Namun, ketika adegan-adegan itu disusun menjadi satu rangkaian, perbedaan kecil pada cuaca, pencahayaan, bahkan gerakan ombak dapat membuat hasil akhirnya terasa tidak alami.

Pada Maret, iQiyi menyatakan bahwa meski AI sudah mampu membuat video berdurasi 30 detik, "menciptakan cerita panjang dengan kualitas drama dan film profesional masih menjadi tantangan bagi industri."

Biaya juga masih menjadi kendala, meski AI dikenal mampu memangkas ongkos produksi.

Wang mengatakan, menyempurnakan hasil AI hingga jejak manipulasinya tidak lagi terlihat bisa berarti "melipatgandakan kebutuhan komputasi", mengacu pada besarnya daya pemrosesan yang dibutuhkan.

Kebutuhan komputasi tambahan itu ikut mendorong naiknya biaya produksi. Menurut Wang, menghasilkan karya yang memenuhi standar profesional "sebenarnya tidak semurah yang dibayangkan banyak orang".

APA SELANJUTNYA?

Saat ditanya seperti apa industri film dalam lima tahun ke depan, sebagian besar narasumber tidak yakin gelombang konten yang sepenuhnya dibuat dengan AI, khususnya mikrodrama, akan menjadi masa depan industri.

Mereka justru memperkirakan AI akan semakin menyatu dalam produksi film dan serial konvensional, sementara konten yang sepenuhnya dibuat dengan AI akan tetap terkonsentrasi pada format berbiaya rendah dengan volume produksi tinggi.

Xie mengatakan, saat ini sudah ada dua model yang berjalan.

Untuk genre yang sangat bergantung pada produksi digital, seperti animasi, tayangan anak, dan adaptasi manga, seluruh proses produksi dapat dilakukan dengan AI. Tim manusia berperan sebagai "sutradara AI" yang mengawasi naskah, visi artistik, dan penyuntingan akhir.

Sebaliknya, untuk drama live-action berskala besar, AI lebih banyak berfungsi sebagai alat efek visual yang lebih canggih.

"Dalam proyek seperti ini, tim manusia, proses syuting live-action, dan kamera tetap menjadi inti utama," kata Xie.

Meski lebih dari 95 persen mikrodrama baru di China kini diperkirakan dibuat dengan AI, Sun dari Communication University of China mengatakan, angka itu tidak mencerminkan kualitas sebenarnya.

Menurutnya, sebagian besar hanyalah karya murah dengan pola yang itu-itu saja, sebuah "masa transisi yang kacau" yang pada akhirnya akan tersisih seiring regulasi yang makin ketat dan selera penonton yang terus berkembang.

Bahkan, angka penontonnya pun tidak bisa dijadikan patokan. Tanpa mengungkapkan rinciannya, Junjun mengatakan, mikrodrama AI produksi perusahaannya memang sedikit lebih banyak ditonton dibandingkan produksi live-action.

Namun, menurutnya, hal itu bukan karena kualitasnya lebih baik.

Sebagian besar penonton, katanya, tertarik karena rasa penasaran. Mereka mengklik karena tahu konten itu dibuat dengan AI dan ingin melihat sejauh mana kemampuan teknologi tersebut.

Junjun juga menilai penonton cenderung lebih memaklumi kekurangan dalam karya AI dibanding kesalahan yang dibuat sineas manusia. Di sisi lain, kualitas sebagian mikrodrama live-action juga sudah begitu rendah sehingga karya AI hanya perlu melampaui standar yang tidak terlalu tinggi.

"Mungkin, kualitasnya baru mencapai tingkat dasar, tetapi itu saja sudah terasa lebih menarik daripada video biasa," kata Junjun.

Sun mengakui, teknologi mungkin akan terus mengubah cara film diproduksi.

"Namun, inti dari seni film akan selalu manusia, cerita, emosi, dan nilai-nilai," katanya.
 

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan