Identitas mereka dibangun dari kebohongan, kini anak adopsi Korea Selatan mencari kebenaran
Karena tuntutan dan stigma, lebih dari 200.000 anak Korea diterbangkan ke luar negeri. Program One "Orphan" Every Hour mengikuti kisah para anak adopsi dalam menyusun kepingan masa lalu, bertemu kembali dengan saudaranya yang terpisah, serta membongkar kebenaran tentang asal-usul mereka.
Momen saat kakak beradik, Chase Malmgren dan Mary Bowers, anak adopsi asal Korea, bertemu di Amerika Serikat untuk pertama kalinya pada 2024.
STOCKHOLM/DALLAS/SEOUL: Lagu anak-anak Korea diputar. Terdengar suara perempuan dalam rekaman puluhan tahun.
Anna Samuelsson tidak mengenali suara anak itu. "Rasanya seperti anak orang lain," jawabnya. "Ini bukan saya."
Tetapi itu suaranya saat berusia lima tahun dan saat itu, dia baru tiba di Swedia dari Korea Selatan. Sekarang, anak itu merasa asing. Bahasa ibunya hilang. Ingatannya samar.
Catherine Harned paham dengan perasaan ini. Saat dia tiba di Texas saat berusia tujuh tahun, dia hanya bisa bahasa Korea. "Begitu tiba di Amerika, saya ditekankan untuk bicara bahasa Inggris," ingatnya.
Selang beberapa tahun, dia kehilangan bahasa Korea dan juga kehidupan-kehidupan sebelumnya.
Harned dan Samuelsson adalah kakak beradik kandung, yang diadopsi selang beberapa minggu di panti asuhan yang berbeda pada 1974 di Seoul. Mereka terpisah antar benua, tanpa mengetahui kabar satu sama lain.
Mereka termasuk di antara 200.000 anak Korea Selatan yang diadopsi keluarga di luar negeri, puluhan tahun setelah Perang Korea berakhir. Mayoritas dari mereka dilabeli secara sepihak sebagai "anak yatim piatu".
"Penetapan status yatim piatu sepenuhnya dilakukan demi mempermudah pemindahan anak-anak, dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan kondisi nyata yang dialami anak tersebut," terang Eleana Kim, profesor antropologi dan kajian Asia-Amerika di Universitas California, Irvine.
Adopsi internasional menjadi jalan keluar dari tekanan sosial oleh stigma anak bayi blasteran dan ibu yang tidak menikah, hingga kemiskinan dan modernisasi yang cepat. Masalah ini juga dipengaruhi oleh faktor permintaan dari negara-negara Barat, di mana anak-anak yang dapat diadopsi cenderung sedikit.
Pada tahun 1970-an, anak-anak yang diadopsi lintas negara, yang sebagian besar dari Korea Selatan, jumlahnya setara dengan 1 hingga 2 persen bayi baru lahir di Swedia.
Di Amerika Serikat (AS), pemeluk agama Kristen evangelis memandang bahwa adopsi "mempercepat menuju kerajaan Tuhan", begitu kata penulis dan peneliti Soojin Chung dari Princeton Theological Seminary.
Namun, kisah anak-anak tersebut sering kali disederhanakan atau ditulis ulang agar lebih mudah diterima: mulai dari narasi penelantaran, penyelamatan, hingga pemberian kehidupan yang layak.
Akan tetapi, banyak anak adopsi yang berhasil menemukan catatan yang tidak sesuai, dokumen yang tidak lengkap, narasi yang berulang-ulang, bahkan nama orang tua yang tidak ada.
Tahun lalu, Komisi Rekonsiliasi dan Kebenaran (TRC) Korea Selatan menemukan bahwa program adopsi yang berlangsung puluhan tahun ini ternyata sarat akan penipuan, termasuk pemalsuan catatan dan kasus anak-anak yang salah status sebagai yatim piatu.
Beberapa bulan kemudian, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mengeluarkan pernyataan minta maaf secara terbuka kepada anak adopsi beserta keluarganya. Dia mengakui bahwa negara tersebut memiliki andil dalam apa yang dia sebut sebagai "pelanggaran hak asasi manusia yang tidak berkeadilan."
Melalui postingan Facebook-nya, dia menyatakan bahwa dia merasa "sangat sedih" saat memikirkan "kecemasan, rasa sakit, dan kebingungan" yang dialami banyak dari mereka, serta berjanji memberikan dukungan bagi anak adopsi yang hendak menelusuri asal-usul mereka.
Bagi banyak orang, pencarian itu seharusnya dilakukan sejak dulu. Di berbagai benua, anak-anak adopsi berusaha menemukan kepingan yang hilang, mencari keluarga kandung, dan memahami jati diri yang selama ini tumbuh di atas rasa kehilangan.
Dari Swedia hingga ke AS dan kemudian kembali ke Korea Selatan, Program One "Orphan" Every Hour CNA mengikuti kisah perjalanan mereka yang berusaha menyusun kepingan masa lalu dan menghadapi pihak-pihak yang telah memisahkan mereka dari masa lalu mereka.
KEBOHONGAN MASA LALU
Mary Bowers dari dulu percaya bahwa dirinya anak yatim piatu. Akte kelahirannya tertulis demikian, tanpa nama ayah-ibu yang tertera. "Saat saya keluar dari perkuliahan, saya minta sertifikat adopsi saya," kenangnya.
Itu pertama kalinya saya melihat dua nama, ibu dan ayah saya tertera dalam berkas saya."
Semakin dalam dia cari, semakin samar informasi latar belakang mengenai dirinya. Menurut catatan, ibu Bower tidak tahu bahwa dia hamil hingga hubungannya berakhir, dan dia tidak sanggup secara finansial untuk membesarkan seorang anak.
Namun ketika Bowers membandingkan dokumennya dengan milik anak adopsi lainnya dari agensi yang sama, dia menemukan narasi yang diulang sebanyak "puluhan kali".
"Kata per kata mirip sekali," ujarnya. "Jadi saya tidak tahu bagaimana cerita sebenarnya."
Kemudian pada tahun 2024, dia mendapati bahwa ternyata, dia punya adik kandung: Chase Malmgren, diadopsi di Utah sejak bayi, 23 tahun setelah Bowers. Akan tetapi, catatan adopsi adiknya justru mengundang lebih banyak pertanyaan.
Orang tua angkatnya diberitahu bahwa ibunya sudah menikah dan suaminya kehilangan usaha truknya serta keluarganya mengalami kesulitan finansial.
Setelah menjalani kencan satu malam dengan seorang pebisnis, dia hamil dan terpaksa menyerahkan anak itu demi menjaga martabat keluarganya. Narasi ini dipaparkan secara lengkap. Tapi tidak sesuai dengan yang Bowers dapat.
Bagi orang lain, kebenaran itu meyakitkan.
Madeleine Bjork dulu percaya bahwa dia dilepaskan ke tempat adopsi karena kesulitan hidup pasca perang, meskipun dia lahir 30 tahun setelah Perang Korea berakhir.
Ketika dia berjumpa dengan keluarga kandungnya, pandangannya berubah. Ayah-ibunya tidak lagi menikah. Ayahnya dikenal kasar dan meninggalkan rumah saat dia masih berusia dua bulan, dan ibunya kesulitan untuk membesarkannya.
Dia diserahkan ke panti asuhan oleh neneknya tanpa seizin ibunya. Ketika ibunya mencoba merebutnya kembali, semua sudah "terlambat" karena dokumen adopsi telah ditandatangani.
"Saya jadi kepikiran, apalagi informasi ini baru saya dapat setelah saya punya anak," jelas Bjork sembari menahan isak tangis.
Waktu saya bertemu dengannya, dia terlihat seperti sudah melalui banyak penderitaan. Saya merasa banyak dari penderitaannya bermula dari masalah ini"
Dalam kasus yang lebih ekstrim, tidak ada izin sama sekali. Han Tae-Soon menjadi ibu kandung pertama yang menggugat agensi adopsi terbesar di Korea Selatan, Holt Children's Services, dan pemerintah. Dia kehilangan putrinya yang masih berusia empat tahun.
"Mereka merebut putri saya di saat anak saya main di depan rumah saya. Mereka culik anak saya," tegas Han. "Setelah tujuh bulan di panti asuhan, dia diadopsi di Amerika.
"Dia dulu sempat berpikir kalau dialah yang telah menjual anaknya."
Sepengetahuan Phillip Pellouchoud, kisahnya tidak begitu berbeda. Diadopsi di Colorado pada 1971 melalui agensi Holt, dia sudah bertahun-tahun mencari asal-usulnya.
Satu-satunya catatan tentang masa kecilnya hanyalah sebuah nama dalam buku besar milik Centre for Lost Children, tanpa ada keterangan mengenai bagaimana dia bisa berada di sana. "Apa karena ibu tidak menikah? Apa karena perceraian?" dia bertanya-tanya.
Kim Do-Hyun, presiden organisasi nirlaba KoRoot, yang mendampingi anak adopsi kembali ke Korea Selatan untuk menelusuri asal-usulnya, berpendapat bahwa Pellouchoud tampaknya tidak akan mendapatkan jawaban yang jelas mengingat "tidak adanya catatan maupun petunjuk".
"Kami tidak yakin kalau biasanya orang tuanya yang menyerahkan anaknya ke (Centre for Lost Children). Polisi bisa saja menyerahkan anak-anak terlantar di jalanan (ke pusat tersebut)," kata Kim.
"Sebaiknya tindakan pertamanya adalah (mencari) orang tuanya. Tapi saat itu, semua tidak dilakukan secara serius."
Malah, anak-anak dapat dinyatakan dapat diadopsi tanpa investigasi lebih lanjut. Belum lagi, insentif uang memiliki andil juga. "Jadi bukan sekadar abai, (melainkan) murni kriminal," kata Kim. "Agensi adopsi dapat menghasilkan uang dalam jumlah besar – satu anak setara dengan gaji tahunan seseorang."
Hasilnya adalah sistem yang catatan-catatannya tidak lengkap, tidak benar, atau hilang sepenuhnya.
DONGENG YANG BUKAN MILIK MEREKA
Apa pun masalah yang hendak diatasi dengan mengirim anak-anak tersebut ke Barat, hasilnya tidak berakhir seperti yang diimpikan. "Hampir tiap hari kamu diingatkan kalau kamu berbeda," kata Samuellsson.
Orang cenderung berkata, "Harusnya kamu bersyukur. Beruntung kamu tinggal di Swedia."
Bjork diyakinkan kalau menjadi orang yang berbeda "tidak ada pengaruhnya." Namun baginya, pengaruhnya ada. "Mungkin sampai saya 13 tahun, saya kepingin jadi seperti orang lain," tuturnya. "Dulu saya kepingin sekali punya rambut pirang dan mata biru."
Sebagian mendapat stereotipe ras yang kentara. Malmgren ingat bagaimana dia pernah dipanggil "mata ular" saat kecil, sedangkan Harned ingat ibu angkatnya mengatakan bahwa rambutnya seperti "sarang tikus" yang panjang dan hitam.
Joel Peterson, anak blasteran, menghadapi kedua stigma tersebut. Seingatnya, semasa kecilnya di Korea Selatan, orang-orang kerap "menjauhkan anak-anak mereka" dan memanggil ibu Peterson dengan julukan wanita murahan. Dia juga menjadi korban rundungan dan dipukul oleh anak-anak lainnya.
Stigma itu tidak berhenti setelah ia diadopsi oleh sebuah keluarga di Minnesota pada usia tujuh tahun pada 1970.
"Saya diasingkan dan diolok-olok dan dijahili dan dirundung hanya karena saya orang Korea, orang Asia, jadinya saya berupaya keras untuk menghilangkan logat saya," begitu dia mengingatnya.
Banyak anak adopsi menginternalisasi narasi berbahaya mengenai mengapa mereka dilepaskan. "Mungkin ibumu memang wanita murahan" juga stigma yang sering Bowers dengar dan itu melekat pada diri anak-anak adopsi Korea hingga tahun 1980-an.
Kemudian, hilangnya momen masa kecil bersama yang tidak dapat mereka peroleh kembali.
Bowers sempat terbang jauh ke Korea Selatan untuk mencari kakaknya. Pada akhirnya mereka bertemu pada 2024 dan Bowers diam-diam menyadari bahwa dia telah melewatkan banyak.
"Meskipun Chase dan saya akhirnya bertemu kembali, ... ikatan itu sudah tidak ada lagi.
"Ada rasa bersalah karena banyak momen yang dilewatkan," ungkapnya sembari meneteskan air mata, "Saya takkan sempat lagi mengajarinya naik sepeda ataupun menonton drama sekolahnya."
Sambil membangun kembali hubungan di antara mereka, Bowers bercerita bahwa karena rasa takut yang menghantui pikirannya, dia merasa harus membuktikan bahwa dirinya layak menjadi kakaknya.
"Sifat saya yang cerewet dan supel ini seperti semacam reaksi trauma," ungkapnya. "Sebagian karena (harapan) jika saya mampu membuktikan bahwa saya berarti, maka saya takkan ditinggalkan. Kamu tak bisa meninggalkan saya begitu saja."
Pada 2022, dia mengajukan gugatan ke Komisi Rekonsiliasi dan Kebenaran (TRC) dan memenuhi tujuh dari 50 lebih kategori pelanggaran hak asasi manusia, termasuk hak atas identitas, keluarga, negara, dan akses informasi.
Di saat adopsi dipandang menyenangkan, banyak anak adopsi Korea berkata lain dengan pengalaman yang dialaminya. "Rasanya kamu seperti dongeng bagi orang-orang," kata Samuelsson, "tapi tidak bagi kita."
MENELUSURI ASAL-USUL
Di tengah pencarian akan jawaban, Pellouchoud baru-baru ini pergi ke Korea Selatan untuk mengunjungi beberapa agensi adopsi, pusat masyarakat, dan juga kantor polisi.
"Saya sudah menjalani semua tes DNA," ungkapnya. "Sekarang saya ingin berbuat satu hal, dan akan saya selesaikan. Apapun yang terjadi maka terjadi."
Dengan bantuan CNA, dia berjumpa dengan Bu Chung-ha, sosok di balik Holt Children's Services pada tahun 1970-an dan kemungkinan telah memproses kasusnya beserta ribuan lainnya secara pribadi.
Namun Pellouchoud diberitahu bahwa keputusan adopsi tidak diambil di Korea Selatan tetapi di kantor-kantor AS atau Perancis, di mana anak-anak ini dipasangkan dengan keluarga-keluarga di sana.
KoRoot juga membantunya mengakses dokumen yang menunjukkan nama lahirnya, Park Won-il, dan ternyata dia baru berusia tiga tahun ketika penjaga toko mengantarkannya ke Centre for Lost Children.
Akan tetapi, ketika dia menunjukkan dokumen itu ke agensi pemerintah, dia dijelaskan bahwa dokumen tersebut milik orang lain yang memiliki nama yang sama tanpa penjelasan lebih lanjut. Tidak ada catatan lain mengenai dua setengah tahun pertama kehidupannya.
Untuk sekarang, dia tidak melanjutkan pencariannya, kecuali ada kecocokan DNA yang membawanya pada petunjuk lainnya.
Sementara Samuelsson, dia tengah mencari keluarga kandungnya, namun pencariannya terhenti. Adik perempuannya, yang memiliki kehidupan di AS, enggan membantunya dan tidak ingin mengingat kembali masa lalu.
"Saya sudah tidak ada hasrat lagi untuk mencari tahu, sama sekali," tutur Harned. "Di sinilah rumah saya."
Malmgren juga merasa ragu, tapi karena alasan berbeda. Dia khawatir tentang "apa yang terjadi jika kita berhasil berjumpa dengan orang tua kita." Saat ditanya apakah dia takut mendapati kenyataan bahwa mereka ternyata membuangnya, dia menjawab: "Ya, itu salah satu ketakutan saya."
Tahun lalu, komisi Swedia menganjurkan pemberhentian operasi adopsi internasional usai membongkar praktik penipuan, kekerasan, dan ilegal yang terjadi selama puluhan tahun.
Di tahun yang sama, Korea Selatan akhirnya melarang adopsi melalui agensi swasta. Negara tersebut saat ini berencana untuk mengakhiri praktik adopsi luar negeri menjelang tahun 2029.