80 Warga Korea Selatan hilang dalam penculikan dan penyiksaan terkait pusat penipuan Kamboja
Gedung dengan kawat berduri, disebut sebagai tempat disekapnya para pekerja korban perdagangan manusia di kota Sihanoukville, Kamboja, pada penggerebekan polisi tanggal 21 September 2022. (Foto: Reuters/Cindy Liu)
SEOUL: Delapan puluh warga Korea Selatan yang kemungkinan menjadi korban pekerjaan palsu atau pusat penipuan tidak diketahui keberadaannya di Kamboja, ungkap Kementerian Luar Negeri Korea Selatan.
Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri mengatakan bahwa antara Januari dan Agustus tahun ini, 330 warga Korea Selatan dilaporkan hilang atau ditahan di luar kehendak mereka setelah memasuki Kamboja.
Hingga Agustus, "keselamatan sekitar 80 orang belum diverifikasi," ujar seorang pejabat Kementerian Luar Negeri yang dikutip AFP.
Kementerian menambahkan bahwa mereka sedang memeriksa ulang data tersebut dengan data kepolisian di dalam negeri untuk menghindari tumpang tindih.
Meskipun terdapat sekitar 21 kasus penculikan atau penahanan yang melibatkan warga Korea Selatan di Kamboja pada tahun 2023, angka tersebut melonjak sepuluh kali lipat menjadi 221 tahun lalu dan melonjak lagi menjadi 15 kali lipat pada bulan Agustus, ujar anggota parlemen Yoon Hu-duk dalam sidang parlemen.
Kematian seorang mahasiswa Korea di Kamboja baru-baru ini—yang dilaporkan diculik dan disiksa oleh komplotan kriminal lokal—telah mengejutkan Korea Selatan.
TAWARAN PEKERJAAN PALSU
Banyak warga Korea Selatan dikatakan telah tergiur oleh tawaran pekerjaan palsu yang menjanjikan gaji tinggi, menurut pemerintah.
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mengatakan pada hari Selasa bahwa penculikan baru-baru ini di Kamboja menyebabkan "kerugian yang signifikan bagi warga Korea Selatan".
"Jumlahnya tidak sedikit, dan banyak warga negara kami sangat prihatin dengan anggota keluarga, teman, dan tetangga mereka yang telah ditahan di Kamboja," kata Lee dalam rapat kabinet.
"Pemerintah harus segera menerapkan semua langkah yang tersedia untuk menjamin keselamatan warga negara kami," tambahnya.
Kantor Kepresidenan menyatakan bahwa mereka akan mengirimkan tim tanggap gabungan ke Kamboja pada hari Rabu, yang dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri Kedua.
Juru bicara kepresidenan Kim Nam-joon juga mengatakan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan untuk menaikkan tingkat imbauan perjalanan ke Kamboja.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.